Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 165


__ADS_3

Ting... Tong... Ting... Tong...


Terdengar suara bel di depan pintu apartemen Raka, pria tampan itu bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah menuju pintu depan. Raka sejenak melihat ke lubang intip untuk melihat siapa yang datang, dari lubang intip itu Raka melihat seorang perempuan yang terus menekan-nekan bel apartemennya.


Raka sama sekali tidak mengenali perempuan itu, dia lalu membuka pintu itu.


“ Kenapa lama sih bukanya?” ujar perempuan itu hendak masuk Ke apartemen Raka, jalan perempuan itu terlihat sempoyongan dari tubuhnya Raka dapat mencium minuman keras. Raka berdiri tepat di tengah pintu menghalangi perempuan itu untuk masuk ke dalam apartemen miliknya.


“maaf nona... Tapi sepertinya anda sudah salah masuk” ujar Raka membuat perempuan itu kesal saat mendengarnya.


“Heh...lo syapa? Main masuk ke apartemen temen gue. Lo mau nyuri ya, ato lo mau berbuat mesum” ujar perempuan itu semakin melantur.


Raka tentu saja tidak terima dengan tuduhan perempuan itu,


“nona, sebaiknya nona pergi dari sini. Selagi saya masih berbaik hati” Raka berusaha menahan amarahnya.


“woi... Lo... Yang.... Mesti pergi. Ini apartemen temen gue... Seenaknya lo....hmmpp... Hik... Hikk...” perempuan itu mabuk berat, kedua tangannya menutup mulut dengan mata yang tidak fokus sama sekali.


“Angel....” terdengar suara perempuan dari depan pintu kamar Raka. Perempuan itu yang ternyata adalah Dewi sekretaris Raka, semenjak dia bekerja di perusahaan Raka. Dia bisa menyewa apartemen yang menjadi impiannya, apartemen Dewi ternyata satu gedung dengan Raka dan Thio.


Apartemen Dewi berada dua lantai di bawah apartemen Thio dan Raka,


“Dewi?!!” Raka terkejut saat melihat sekretarisnya.


“pak Raka?!!” Dewi juga terkejut saat melihat bosnya.


“Angel...?!!” ujar perempuan mabuk yang bernama Angel. Dewi segera memegangi tubuh Angel yang sempoyongan,


“Dia teman mu?!” tanya Raka menatap ke arah Angel dan Dewi.


“i... Iya pak... Dia teman satu apartemen dengan ku. Maaf pak teman saya sudah membuat kekacauan,” Dewi memegangi tubuh Angel.

__ADS_1


“Wi... Apartemen kita di masukin ama maling... Kamu... Cepat panggilin bantuan buat ringkus.... Ini maling..” ujar Angel yang semakin melantur. Dewi terkejut saat mendengar apa yang katakan Angel,


“Angeeel... Kamu ngomong apa? Masak kamu nuduh bos aku maling, kamu itu udah salah masuk apartemen. Ayo sekarang kita kembali” ujar Dewi merangkul kuat bahu Angel.


“nggaaak... dia tuh yang udah... hmmmp... masuk ke apartemen...hmmmp...” Angel menutup mulutnya lagi dengan kedua tangannya. Rasa pening dan mual yang luar biasa mendera Angel, Dewi memegangi Angel agar tidak jatuh. Raka menghela nafas panjang, tangannya merogoh saku untuk mengambil ponselnya.


Dia tampak mengetik sesuatu di layar ponselnya, tidak sengaja dewi yang memegangi Angel melihat layar wallpaper pada ponsel Raka.


Seeeer....


Ada rasa sakit tapi tidak berdarah di rasakan oleh Dewi,


Ternyata pak Raka masih belum bisa melupakan tunangannya, fotonya saja masih terpasang di ponsel itu...gumam Dewi dalam hati merasa sangat sedih. Dia sama sekali tidak pernah menduga akan bertemu Raka bosnya, Dewi tengah menyelesaikan beberapa pekerjaannya mendapat telepon dari Angel.


Nada suara Angel terdengar parau dan melantur, Dewi sudah menebak jika temannya ini habis berpesta di sebuah club hotel ternama di Jakarta. Dewi segera keluar dari apartemen untuk menjemput Angel yang berada di lantai bawah dalam keadaan mabuk, dia melangkah menuju lift dan menekan tombol.


Dewi melihat pada layar atas tombol ternyata lift sedang berhenti di dua lantai di atas lantai apartemennya, dia merasakan perasaan tidak enak melihat angka yang tertera di layar lift itu.


Apa jangan-jangan si Angel ke lantai ini? Tu anak kan kalo mabuk seneng bener buat nyari masalah, bagusan aku liat ke lantai ini dulu gumam Dewi dalam hati langsung masuk ke dalam lift saat pintu lift terbuka lebar.


***


Arman, Indah dan Roy tengah menikmati makanan penutup yang tersedia, tangan kanan Roy tampak mengendurkan dasi yang di kenakan olehnya. Seluruh badannya terasa sangat panas dan terasa sangat tidak nyaman, begitu juga dengan Indah yang tampak gelisah.


Keringat mulai membasahi kening Indah yang berusaha menahan rasa panas dan sesuatu bergejolak di sana. Arman menatap heran ke arah Roy,


“anda tidak apa-apa tuan Roy?” tanya Arman, keningnya berkerut saat melihat sikap Roy yang seperti orang kepanasan.


“iya, saya tidak apa-apa... hanya di sini terasa sangat panas” ujar Roy membuka beberapa kancing kemejanya. Arman menatap ke arah Indah yang duduk di samping kirinya,


“Ma, apa AC di rumah kita rusak?” tanya Arman.

__ADS_1


“nggak.... pa... AC kita... baik... baik hmmm.... saja..” ujar Indah yang tampak berusaha menahan gejolak di dalam tubuhnya, ada sebuah reaksi kimia yang sedang berlaku di dalam tubuh Indah. Dia dapat merasakan gua yang tersembunyi mulai mengeluarkan mata air dan membanjiri sekitar, Indah merasa sangat tidak nyaman.


Arman menatap heran pada istrinya yang bersikap aneh,


“kamu kenapa ma? Apa kamu sakit?” tanya Arman menatap wajah istrinya yang memerah.


“nggak pa, mama hanya... sedikit ... merasa tidak nyaman saja... di perut..hhmmm. Mungkin saus ini terlalu pedas, mama... akan ke kamar kecil.... dulu pa.... permisi..” ujar Indah sudah tidak bisa lagi menahan gelombang dahsyat dalam dirinya.


Indah segera melangkah menuju ke kamar utama, kedua tangannya memegang erat tepian baju berusaha untuk tidak terpancing dengan gelombang tsunami yang membesar. Roy juga merasakan apa yang di rasakan oleh Indah, bulir keringat terlihat jelas di keningnya.


“maaf tuan Roy, sepertinya Indah tidak cocok dengan saus dari steak ini” ujar Arman tersenyum ramah.


“sigh... tidak apa-apa sigh... (menghela nafas berkali-kali) maksud saya tidak apa-apa tuan Arman. maaf di mana toilet yang bisa saya gunakan?” tanya Roy menatap ke arah Arman yang sedang melihat ke arah kamar utama. Arman mengalihkan pandangannya ke arah Roy,


“anda bisa menggunakan kamar tamu, pembantu saya akan mengantar anda ke kamar itu” ujar Arman langsung memanggil salah seorang pembantunya.


“tolong kamu antar tuan Roy ke kamar tamu itu” ujar Arman menunjuk kamar yang berada tepat di samping kamar utama.


“Baik tuan besar, silahkan tuan” pembantu itu dengan sopan mengantar Roy menuju kamar yang di tunjuk, Roy segera masuk ke dalam kamar itu dan langsung menuju kamar mandi.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2