Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 190


__ADS_3

“ Mirah senang ma... hanya saja Mirah.... Mirah takut ma saat oppa Raka melihat mbak Sabrina, dia akan berubah pikiran dan memutuskan membatalkan pernikahan kami”


“astgfirullah... Mirah... Apa – apaan pikiran kamu itu? Seharusnya kamu istigfar dan membuang segala pikiran jelek itu, Kamu sendiri sangat mengenal bagaimana mbak mu Sabrina?!” ujar Wulan merasa kecewa dengan pikiran jelek Asmirah, dia lalu duduk di samping Wulan. Asmirah terdiam dengan kepala tertunduk saat mendengar ucapan Wulan yang duduk di sampingnya.


“Mirah... “ Wulan merangkul pundak putrinya sambil membelai kepalanya.


“maafin Mirah ma... jujur Mirah merasa sangat takut dan tidak percaya diri, apa lagi saat ini mbak Sabrina sudah sendirian dan... “


“Mirah... Sabrina bukanlah perempuan yang seperti kamu pikirkan, coba kamu pikirkan saat mbak mu mengetahui Nicholas sudah tidak ada. Dia bisa saja kembali ke Indonesia dua tahun yang lalu dan menikah dengan Raka, Seharusnya kamu bisa mengerti dan memahami mbak mu” Wulan memberi pengertian. Raut wajah Asmirah masih tampak sedih,


“Mirah tahu bagaimana mbak Sabrina ma, tapi berbeda dengan oppa Raka. Bagaimana jika dia melihat mbak Sabrina dan memutuskan untuk...” ucapan Mirah langsung terpotong saat Anjani tidak sengaja mendengar uapannya.


“Astagfirullah Mirah... kamu kenapa bisa berpikiran jelek tentang mbak Sabrina?! Ndak seharusnya kamu berpikir begitu, harta, jodoh dan maut itu semua sudah di atur oleh Allah. Jika mas Raka adalah jodoh mu, Allah akan memudahkan segala urusan dan menjadikan mas Raka Imam mu dalam berumah tangga. Jika sebaliknya, kamu seharusnya bisa berlapang dada menerima semua ketentuan dari Allah, bukannya menyalahkan mbak Sabrina” jelas Anjani panjang lebar membuat Asmira semakin terdiam.


Sementara itu mobil mewah Sabrina memasuki pelataran rumah sakit dan berhenti tepat di depan pintu masuk, Yohan membuka pintu di sampingnya lalu turun. Dia lalu membuka pintu yang berada tepat di samping Sabrina, kedua tangan Yohan berada di atas kepala Sabrina menghalangi agar kepalanya tidak terbentur.


Semua pengunjung rumah sakit melihat ke arah Sabrina yang datang dengan pengawalan ketat, dalam benak mereka berpikir jika Sabrina adalah orang penting. Mereka tampak membicarakan perempuan cantik yang tengah menggendong bayi gembul, imut dan tampan.


“siapa itu? Artis ya?”


“uuu bayinya imut banget, matanya bikin terpesona”


Terdengar dengungan komentar dari para netijen yang senang melihat Sabrina dan baby Yusuf, beberapa dari mereka ada yang berusaha mengambil foto mereka. Tentu saja hal itu segera di halangi oleh para body guard bawahan Yohan, mereka tidak ingin mengambil resiko apa pun untuk keselamatan Sabrina dan Yusuf.


Yohan segera melangkah menuju pusat informasi untuk menanyakan keberadaan Ningsih, Sabrina bersama Hee Na dan Yusuf menunggu tidak berapa jauh dari sana. Mata Sabrina menatap ke segala arah sambil mengajak Yusuf berbicara, tidak sengaja mata jernih nan cantik itu menangkap sosok yang di kenalnya.


Wiyasa dan Cakra tampak serius berbicara satu sama lain, rona bahagia terlihat jelas di wajah Sabrina yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Bapak dan Pak de nya. Sabrina yang masih menggendong Yusuf melangkah cepat menghampiri dua pria setengah baya di ikuti Hee Na,

__ADS_1


“assalamualaikum bapak,” sapa Sabrina yang berdiri tepat di hadapan Wiyasa dan Cakra, kedua pria itu terhenti sejenak menatap ke arah perempuan yang menyapa mereka.


Mata Wiyasa tampak berkaca - kaca saat menatap Sabrina yang berdiri di hadapannya,


“Waalaikum... salam... Sa... Brina...” Wiyasa termenung sejenak menatap putri yang sudah begitu lama tidak di jumpainya, matanya menatap ke arah bayi dalam gendongan Sabrina yang tengah asyik memainkan mainan plastik miliknya.


“bapak..” Sabrina menghampiri Wiyasa yang langsung memeluknya, air mata kebahagiaan menetes dari mata mereka yang saling melepaskan rindu. Cakra ikut terharu melihat pertemuan bapak dan putrinya, Yusuf yang berada di tengah pelukan merasa gelisah dan rewel.


Wiyasa melepaskan pelukannya menatap ke arah baby yang berada dalam gendongan Sabrina, bayangan wajah Nicholas terlihat jelas di wajah Yusuf dengan mata biru yang turunan dari pria tampan itu.


“dia...” Wiyasa tidak mampu berkata – kata saat melihat cucunya.


“ini Yusuf, pak. Cucunya bapak” ujar Sabrina memperkenalkan baby Yusuf pada Wiyasa.


“assalamualaikum Yusuf... cucunya kakek” sapa Wiyasa tersenyum ramah, baby Yusuf menatap Wiyasa sambil mengemut mainan plastik di mulut mungilnya. Kedua tangan Wiyasa mengarah ke arah Yusuf bermaksud untuk menggendongnya, jari jemari Wiyasa di pegang oleh tangan mungil Yusuf yang langsung di tariknya ke arah mulut.


“pak de” ujar Sabrina menyapa Cakra.


“Sabrina... syukur Alhamdulillah akhirnya kamu kembali. Semua pasti sangat senang saat tahu kamu sudah ada di sini” ujar Cakra perlahan melepaskan pelukan mereka.


“Sabrina juga senang akhirnya bisa pulang, pak de. Aku sudah sangat rindu dengan semuanya, uuppss hampir saja lupa, bapak... Pak de kenalkan ini Hee Na ibu asuh Yusuf” ujar Sabrina memperkenalkan Hee Na pada Wiyasa dan Cakra.


“Hee Na, this is my father and uncle (Hee Na, ini ayah dan paman ku)” ujar Sabrina, Hee Na membungkukkan tubuhnya sedikit memberi hormat pada Wiyasa dan Cakra yang langsung membalas dengan tersenyum ramah.


"hello sir, nice to meet you" sapa Hee na ramah.


Yohan yang sedari tadi memperhatikan mereka segera menghampiri sambil memberi hormat dengan ramah pada kedua pria setengah baya itu,

__ADS_1


“dan ini Yohan pak... bawahan sekaligus tangan kanan Nicholas” ujar Sabrina memperkenalkan Yohan.


“o ya bagaimana dengan kondisi eyang uti?” tanya Sabrina. Raut wajah Cakra dan Wiyasa langsung berubah sendu, Cakra menatap dan memberikan file yang di pegangnya pada Sabrina.


Perempuan cantik itu segera membuka file dan membaca kertas yang ada di dalamnya, Sabrina membaca dengan teliti setiap kata yang tertulis di kertas itu. Mata jernih Sabrina menatap ke arah Wiyasa dan Cakra,


“eyang terkena tumor?!” Sabrina terkejut saat melihat hasil pemeriksaan Ningsih yang baru saja keluar. Cakra menatap Sabrina sambil menganggukkan kepalanya perlahan,


“kami masih menunggu hasil pemeriksaan apakah ini tumor ganas atau jinak...” Cakra menjelaskan pada Sabrina tentang penyakit Ningsih, tidak lupa dia juga menjelaskan apa yang di diskusikan dengan dokter yang menangani Ningsih.


"sebaiknya pembicaraan ini nanti saja di teruskan, kita temui dulu yang lainnya. Mereka semua pasti sudah menunggu kedatangan mu dan cucu ku ini” ujar Wiyasa mengajak Sabrina menuju kamar rawat Ningsih. Sabrina tersenyum manis lalu melangkah beriringan menuju lift, Yohan dan Hee Na mengikuti mereka dari belakang.


Para body guard hendak mengikuti Sabrina dan lainnya, namun langkah mereka terhenti saat Yohan berbicara pada mereka untuk menunggu di lobi rumah sakit. Hanya dua orang body guard yang ikut menemani mereka ke lantai VVIP tempat Ningsih di rawat, selama berada dalam lift Wiyasa mengajak Yusuf bercanda dan berbicara.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2