Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 197


__ADS_3

Bahkan Kediaman mewah yang akan di tempati oleh Sabrina juga Yusuf dalam pengawalan ketat, sehingga lalat pun tidak bisa menembus dan menyakiti mereka.


“ sorry in advance Mr. Cakra. All of this is standard procedure in order to keep the madam and young master safe (maaf sebelumnya tuan Cakra. Semua ini sudah prosedur standar demi menjaga keselamatan nyonya dan tuan muda)” ujar Yohan yang mengerti dan memahami keinginan dari keluarga besar Sabrina.


“well if it's all for the safety of my niece and sister, we understand (baiklah jika ini semua demi keselamatan keponakan dan adikku, kami mengerti)” ujar Araf mengalihkan pandangannya pada Cakra yang menatap sendu ke arah baby Yusuf yang asyik bermain dengan hiasan hijab Sabrina.


“pak lek dan mas Araf ndak usah khawatir. Aku dan Yusuf akan sering berkunjung ke rumah pak lek” ujar Sabrina tersenyum manis, Cakra menghela nafas panjang menatap sambil tersenyum pada ponakannya. Tangan kanannya menyentuh lembut kepala baby Yusuf yang berambut lebat, mata baby gembul itu menatap ke arah Sabrina sambil tangan mungilnya menempel di pipi perempuan cantik itu.


Setelah berpamitan perlahan mobil mewah yang membawa Sabrina dan baby Yusuf meninggalkan pelataran rumah sakit di ikuti oleh mobil body guard lainnya. Cakra dan Araf lalu melangkah masuk dan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai di mana kamar rawat Ningsih berada, pintu lift terbuka lalu mereka bersama- sama melangkah keluar menuju kamar Ningsih. Mereka berdua sejenak terheran saat menatap Wiyasa, Wulan dan Andhini berwajah serius, Cakra dan Araf saling bertatapan lalu serempak melangkah menghampiri mereka.


“mas Arman Kritis” ujar Wiyasa membuat Andhini langsung menatap ke arah suaminya, Wulan juga ikut terkejut saat mendengar ucapan Wiyasa begitu juga dengan Araf juga Cakra.


“apa maksudnya mas?” ujar Cakra membuat Wiyasa dan lainnya serempak menatap ke arah Cakra juga Araf. Wiyasa menghela nafas panjang, dia lalu menatap mereka satu persatu yang menunggu penjelasannya.


Wiyasa lalu menjelaskan apa yang sudah di ceritakan oleh orang tua Arman padanya, diam – diam di balik pintu kamar rawat Ningsih Adiwijaya berdiri termangu di sana mendengar apa yang di bicarakan Wiyasa dengan lainnya.


“Mas Arman dalam kondisi kritis, menurut perkiraan dokter waktunya sudah tidak lama lagi... “ ujar Wiyasa sontak membuat lainnya terdiam seribu bahasa, Wajah mereka terlukis jelas perasaan sedih dan bingung.


****


Sebuah pesawat jet pribadi tengah melintasi daratan Eropa, pria tampan bermata biru tengah fokus menatap layar laptop yang terpampang di hadapannya. Pada layar laptop itu terlihat beberapa file pekerjaan yang harus di tangan dan grafik yang terlihat bergerak dengan stabil, di samping laptop itu tergeletak sebuah foto perempuan cantik berhijab yang tidak lain adalah Sabrina tengah menggendong baby Yusuf.


Pada foto itu terlihat Sabrina tengah menggendong sambil tersenyum cantik ke arah Baby Yusuf, Tangan mungilnya memegangi hidung mancung Sabrina sambil memperlihatkan senyuman ciri khas baby yang mampu meluluhkan hati siapa pun. Sebuah pemandangan hangat yang membuat pria tampan itu memandang penuh kerinduan pada foto itu, senyuman terukir di bibir saat tangan kanannya meraih foto sambil mengelus dengan punggung jari tepat di tengah foto itu.


Senyuman serta paras tampan itu membuat beberapa pramugari yang ada di dalam pesawat jet itu meleleh dan terpesona, mereka bahkan mencuri – curi kesempatan untuk bisa berlama – lama menatap pria tampan yang sudah mencuri serta merampok hati mereka. Jack tengah sibuk menjelaskan beberapa file pekerjaan pada pria tampan itu yang sama sekali tidak memedulikan pekerjaan yang sudah menumpuk tinggi di hadapannya,

__ADS_1


“what do you think boss? ( bagaimana menurut mu bos?) “ ujar Jack mengalihkan pandangannya ke arah pria tampan yang duduk di hadapannya.


Pria tampan itu tidak lain dan tidak bukan adalah Nicholas yang tengah membalas menatap ke arah Jack, tatapannya membuat pekikan kecil di kabin pramugari yang terpesona.


“kyaaaaa.... so handsome... (kyaaaa.... Tampan banget...)”


“ aaahhh... his gaze makes me... Haaaaah (aaaaahhh... tatapannya bikin aku... Haaaaah)”


“ouch... His gaze is so hot, it makes this whole body react with the temperature (aduuh... Tatapannya sangat panas, bikin seluruh tubuh ini bereaksi dengan suhunya)”


Beberapa pramugari menatap ke arah Nicholas dan Jack dengan raut wajah mupeng mereka, pekikan kecil itu sampai di telinga Jack yang langsung melayangkan tatapan tajam dan dingin ke arah para perempuan cantik itu. Bukannya takut para pramugari itu malah semakin histeris dengan sikap ke dua pria tampan itu, Nicholas hanya menanggapi dingin dan lebih fokus pada foto di pegangnya.


“Look.... Look.... They're staring at us, ooooh... (Lihat.... Lihat.... Mereka menatap ke arah kita, ooooh...) “ heboh para pramugari saat di tatap oleh Jack yang hanya menggelengkan kepala serta menghela nafasnya, para pramugari itu sama sekali tidak merasa ketakutan saat Jack melayangkan tatapan tajam.


“boss, what about the decision? If we don't take action first, they can dominate the market first (bos, bagaimana dengan keputusannya? Jika kita tidak mengambil tindakan terlebih dahulu, mereka bisa lebih dulu menguasai pasar)” ujar Jack kembali menjelaskan permasalahan pelik yang perusahaan mereka hadapi.


Raut wajah Nicholas tergambar jelas perasaan dilema yang berkecamuk, dia sudah begitu merindukan kedua orang yang sangat spesial di kehidupannya. Tapi tanggung jawabnya akan perusahaan yang memperkerjakan banyak karyawan harus segera di tangani,


“Alright.... Tell the pilot to change route to Dubai (Baiklah.... Katakan pada pilot untuk mengubah rute ke Dubai ) “ ujar Nicholas sambil mengetim sesuatu di laptop yang ada di hadapannya.


“Dubai?! “ ujar Jack dengan tanda tanya besar di benaknya, Dia berpikir seharusnya mereka terbang kembali ke Australia untuk mengadakan rapat dengan petinggi lainnya.


“we have to meet him first (kita harus menemuinya terlebih dahulu)” ujar Nicholas memperlihatkan layar laptopnya pada Jack, pada layar itu menampilkan foto seseorang yang memiliki layar belakang orang terpenting di kota itu.


Jack mempelajari dan memperhatikan dengan seksama profil detail yang terlampir di sana,

__ADS_1


“Prepare everything (Persiapkan segalanya)” perintah Nicholas pada Jack yang segera menganggukkan kepalanya. Dia segera bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah menuju ke bagian cepat pesawat jet itu, Jack bisa saja menggunakan intercom yang ada di samping tempat duduknya. Namun, dia tahu jika saat ini Nicholas ingin sendiri tanpa siapa pun yang mengganggu.


Tangan Nicolas memegangi foto Sabrina bersama Baby Yusuf, tatapan kerinduan tergambar jelas di mata biru itu.


I'm sorry I have to delay and hold this longing for a while. There are responsibilities that I need to finish first, I want to contact you but.... I think I'd rather meet you in person and hug you with these two hands... (Sayang, maafkan aku harus menunda dan menahan rasa rindu ini untuk sementara waktu. Ada tanggung jawab yang harus aku selesaikan terlebih dahulu, aku ingin menghubungi mu tapi.... Aku ingin bertemu dengan secara langsung dan memeluk kalian dengan kedua tangan ini) gumam Nicholas dalam hati mengalihkan pandangan ke kaca jendela tepat di sampingnya, kilasan bayangan masa di saat dia terbangun di rumah sakit seakan tergambar di kaca itu.


...**********


...


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


mohon maaf karena beberapa waktu yang lalu Author tidak update karya, Lantaran di karenakan Author sedang memikirkan ide - ide cerita.


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2