
Yohan terbatuk-batuk langsung berusaha mengatur nafasnya,
“huk.... huk... Cough... We have to take the madam... Right now, or... huk.. huk... Huk... huk mr's sacrifice... huk.. young is just a waste -sigh... huck... huck.. (huk....huk... Uhuk... Kita harus bawa nyonya... Sekarang juga, atau... huk.. huk... Huk... pengorbanan tuan huk... huk.. muda hanya sia-sia... huk... huk.. )” ujar Yohan terbatuk-batuk. Dia memegangi lehernya yang terasa sakit, tercetak jelas warna kemerahan serupa dengan jari Jack yang tengah menatap sedih ke arah Nicholas.
Tiba-tiba saja....
SSSWWIIIING..... SSSWWIIIING..... SSSWIIIING....
Terdengar dari arah luar apartemen suara dari baling-baling helikopter yang mengganggu telinga, Jack segera memegang senjata miliknya dan mengarahkan ke arah pintu apartemen. Jack dan Yohan tampak bersiap dengan segala kemungkinan yang ada, tapi tiba-tiba saja senjata mereka perlahan turun saat melihat kedatangan John bersama anak buah lainnya. Yohan dan Jack menghela nafas berjamaah merasa lega dengan bantuan yang baru saja datang.
Berita penyerangan Isaac ke apartemen Nicholas sampai ke telinga John, dia segera mengumpulkan anak buahnya dan langsung bergegas menuju apartemen Nicholas. Mata John terbuka lebar saat melihat kondisi Nicholas yang memeluk erat tubuh Sabrina, dia segera menghampiri mereka. Tangannya menyentuh pergelangan tangan kiri Nicholas dan juga memeriksa bagian hidung memastikan jika putranya baik-baik saja.
John tampak lemas mengetahui jika denyut nadi dan hembusan nafas tidak terasa dari Nicholas, matanya terpejam seperti sedang tertidur pulas. Tubuh John hampir ambruk ke lantai segera di pegangi oleh tangan kanan kepercayaan John,
“ Grand Master (tuan besar)” ujar Yohan dan Jack bersamaan menatap sedih dan cemas dengan kondisi John. Raut wajah penyesalan tergambar jelas di wajah Yohan dan Jack karena tidak bisa melindungi Nicholas, John sama sekali tidak menyalahkan mereka. Dengan mata kepalanya dia melihat kondisi Jack dan Yohan yang juga terluka, dia lalu melihat ke arah Sabrina kemudian memeriksa pergelangan tangan yang terasa masih berdenyut.
Yohan menatap ke arah John yang menatap dingin ke arah anak dan menantunya, dari mata tua itu dia melihat amarah, kesedihan dan dendam yang bercampur aduk. Dia harus memberi tahu keadaan Sabrina pada John,
“Grand Master (Tuan besar)” sapa Yohan yang di abaikan oleh John, dia terlihat sedih dan memejamkan matanya.
__ADS_1
“Grand Master(Tuan besar)” ujar Yohan sedikit mengeraskan suaranya, John menatap ke arah Yohan yang berada di samping Sabrina.
“I'm sorry grand master, but young madam is not well. We have to take the young madam to the hospital immediately (maafkan saya Tuan besar, tapi nyonya muda tidak dalam keadaan baik. Kita harus membawa nyonya muda ke rumah sakit segera)” ujar Yohan melihat ke arah punggung Sabrina yang masih mengeluarkan darah. John mengalihkan pandangannya pada punggung Sabrina,
“you guys immediately take my daughter in law to hospital, tell them to save Brina and her baby no matter what. Also tell, I'll pay whatever it costs (kalian segera bawa menantuku ke rumah sakit, katakan pada mereka untuk menyelamatkan Brina juga bayinya bagaimana pun caranya. Katakan juga aku akan membayar berapa pun biaya)” perintah John pada Yohan dan Jack.
“I'm sorry grand Master, but I can't leave the boss and you. They must be on their way here (maaf tuan besar, tapi aku tidak bisa meninggalkan bos dan anda. Mereka pasti sedang dalam perjalanan kemari)” ujar Jack serius, dia tahu jika penyerangan Isaac hanya lah makanan pembuka saja.
Makanan utama dari penyerangan sedang dalam perjalanan menuju gedung apartemen itu, mobil-mobil hitam meluncur cepat menuju gedung apartemen Nicholas. Jack tentu saja tidak ingin meninggalkan tuannya, dia mendapatkan informasi jika pergerakan Isaac ada yang memotori di belakangnya.
John merasa kagum dan salut dengan kesetiaan Jack, hal itu pula yang menjadi pertimbangan baginya untuk menyerahkan keselamatan Sabrina juga bayinya.
“but Grand master .... (tapi tuan besar...)” ucapan Jack terhenti saat Yohan yang langsung berinisiatif membopong tubuh Sabrina, dia sudah tidak ingin membuang waktu lagi. Nyawa Sabrina juga bayinya berada di ujung tanduk dan harus segera mendapat penanganan medis, John menatap ke arah Jack yang ikut berdiri di samping Yohan.
“there is no more time, you guys hurry up to get on the helicopter now.... after Sabrina's condition stabilizes, immediately take her to this address... (sudah tidak ada waktu lagi, kalian secepatnya naik ke helikopter sekarang.... setelah kondisi Sabrina stabil, segera bawa dia ke alamat ini...)” ujar John memberikan secarik kertas yang berisikan sebuah alamat di negara Korea Selatan. Jack hendak menolak perintah tapi John lebih dulu berbicara,
“Jack... surely you know what's going to happen. If I don't survive, I leave everything to you and Yohan. Only the two of you I trust to protect my Daughter-in-law and grandson, always take care of them (Jack... pastinya kamu tahu apa yang akan terjadi. Jika aku tidak selamat, aku serahkan segalanya pada mu dan Yohan Hanya kalian berdua yang aku percayai untuk melindungi menantu dan cucuku, selalu jaga mereka)” ujar John menatap penuh harap pada Jack dan Yohan, sejenak mata tua itu menatap ke arah menantunya yang sudah di bawa pergi oleh Yohan melewati pintu depan apartemen. Dia mengode pada salah seorang anak buahnya, John memerintahkan anak buahnya untuk menemani mereka menaiki helikopter yang terparkir di landasan pacu samping apartemen Nicholas.
“I promise Grand master, I will lay down my life to protect them (aku berjanji tuan besar, aku akan menyerahkan nyawaku untuk melindungi mereka)” ujar Jack penuh keyakinan, dia lalu mengikuti Yohan yang sudah lebih dulu keluar dari apartemen.
__ADS_1
Mereka segera menaiki helikopter itu, Yohan memangku tubuh Sabrina sedangkan Jack memegangi kepalanya yang tertutup hijab. Pilot bergegas menyalakan mesin helikopter, kedua tangannya bergerak lincah di atas tombol-tombol yang ada di hadapan dan di sampingnya.
Baling -baling helikopter itu bergerak cepat dan menghembuskan angin yang cukup kencang. Perlahan helikopter itu mulai mengudara dan melayang pergi menuju ke rumah sakit, terlihat Co-Pilot helikopter berkomunikasi dengan pihak rumah sakit memberi tahu tentang kondisi darurat dari pasien yang tengah mereka bawa.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1