
Arman berdiri dari tempat duduknya lalu melangkah keluar ruangan di ikuti oleh Adelia dengan wajah kusutnya. Thio dan sekretaris Raka menahan tawa melihat Arman juga Adelia pergi begitu saja.
“makanya jangan kecentilan jadi perempuan” sindir keras sekretaris Raka terdengar oleh Thio.
“Dia bukannya kecentilan....”
“Tapi”
“Perempuan Jablai yang terus menerus merasa kurang, perempuan seperti itu berpikir jika semua pria dapat bertekuk lutut dan mengagungkan dia”
Serentak mereka berdua tertawa cukup keras hingga terdengar oleh Adelia yang masih berdiri di depan pintu lift.
“Breng**k lihat saja saat aku berhasil mendapatkan Raka. Mereka semua bakalan aku buat menderita” tekad Adelia, tangannya terkepal kuat merasa geram mendengar ucapan Thio dan sekretaris Raka.
“Papa akan menantikannya” Arman berharap rencana putrinya berhasil, dia bahkan mendukung rencana Adelia untuk merebut Raka.
Pintu lift terbuka Raka melangkahkan kakinya menuju lobby hotel di mana orang ramai berlalu lalang. Matanya mencari-cari sosok yang telah memikat hati dan matanya, mata Raka berhenti di satu titik di mana Sabrina tengah berbicara santun dengan seseorang yang di kenalnya.
Wajah cantik Sabrina, di hiasi hijab di kepalanya membuat hati Raka merasa teduh dan damai. Dia segera menghampiri Sabrina yang masih tampak asyik berbicara dengan kenalannya.
“Assalamualaikum sayang” sapa Raka berdiri tepat di sampingnya. Wajah cantik Sabrina tampak berseri tersenyum manis pada Raka.
“waalaikum salam mas” Sabrina menatap penuh cinta pada Raka begitu pun sebaliknya. Kenalan Sabrina menatap bingung ke arah Raka yang berdiri di samping Sabrina.
“Sabrina, wer ist sie? (Sabrina, dia siapa?)” tanya kenalan Sabrina menatap Raka dari ujung kepala hingga kaki. Sabrina benar-benar melupakan kenalannya saat Raka menyapanya
“opsss, sorry .... ich habe vergessen dich dir vorzustellen. Er ist Raka, mein Verlobter (opsss, maaf.... aku lupa mengenalkan mu padanya. dia Raka tunangan ku)” Sabrina memperkenalkan Raka pada kenalannya.
“Verlobter ... bist du verlobt, Sabrina? und du hast es mir nicht gesagt? (Tunangan..... kamu sudah bertunangan, Sabrina? dan kamu tidak menceritakannya pada ku?)” Kenalan Sabrina berkacak pinggang saat tahu jika Sabrina sudah bertunangan.
“Entschuldigung ... Entschuldigung Alecia, ich habe vor, Sie so schnell wie möglich zu kontaktieren. aber weil es so viel Arbeit gibt, dass es meine Zeit in Anspruch nimmt. (maaf... maaf Alecia, aku berencana untuk menghubungimu secepatnya. tapi karena begitu banyaknya pekerjaan hingga menyita waktu ku)” ujar Sabrina sambil meminta maaf pada Alecia kenalan dan juga sahabatnya yang baru saja Datang dari Jerman.
“Mas Raka ini teman aku baru datang dari Jerman namanya Alecia” Sabrina segera memperkenalkan Alecia pada Raka.
__ADS_1
Raka mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Alecia.
“Hallo Alecia, ich bin Raka. Willkommen in Indonesien ( hi Alecia, aku Raka. selamat datang di Indonesia)” sapa Raka ramah, Sabrina dan Alecia termenung saat mendengar Raka berbicara dalam bahasa Jerman.
“Sprichst du Deutsch?( kamu bisa berbahasa jerman?)” Mata biru Alecia membulat saat mendengar Raka berbicara dalam bahasanya.
“mas Raka bisa bahas Jerman?” Sabrina menatap takjub pada Calon imamnya, matanya yang bulat tampak begitu menggemaskan bagi Raka.
“kebetulan waktu mas kuliah, mas punya teman orang Jerman. Jadi dia yang mengajari mas” Raka tersenyum menatap Sabrina. Ingin rasanya Raka mencubit dan mencium lembut pipi Sabrina yang tampak begitu menggemaskan baginya.
“Ooo...” Sabrina ber “o” panjang mendengar penjelasan Raka. Tidak lupa pula Raka menjelaskan pada Alecia, mereka terlibat percakapan yang seru sehingga Raka benar-benar lupa tentang Arman dan Adelia.
Pintu lift terbuka, Adelia tampak masih begitu kesal dengan ujaran yang sempat di dengarnya. Dia juga penasaran gerangan siapa perempuan yang menjadi pelabuhan di hati Raka.
Arman dan Adelia melangkahkan kaki mereka menuju lobby hotel Arbecio. Di saat bersamaan Raka dan Sabrina yang baru menyelesaikan pembicaraan dengan Alecia, juga melangkah menuju pintu keluar lobi.
Mereka berempat berjalan hampir beriringan, karena masih merasa kesal Arman dan Adelia sama sekali tidak menyadari Hingga....
“Raka... Sabrina...” Alecia kembali memanggil Sabrina. Arman dan Adelia mendengar nama panggilan Sabrina terhenti tepat di depan pintu keluar.
“Ich habe vergessen, dir das zu geben, vergiss nicht, dass du gekommen bist. (aku lupa memberikan ini untuk mu, jangan lupa kamu datang ya.)” ujar Alecia memberikan sebuah undangan pernikahan.
Mata Sabrina berbinar-binar menatap undangan di tangannya, tertulis nama Alecia dan calon suami Alecia yang juga di kenal Sabrina.
“Du wirst Dion heiraten? (kamu akan menikah dengan Dion?)” Tanya Sabrina tersenyum bahagia.
Mata Arman membuka sempurna saat melihat siluet perempuan yang di cintai nya. Perempuan Cantik yang sama sekali tidak pernah bisa dia lupakan.
“Rianti...” Arman menatap ke arah Sabrina. Adelia menatap ke arah Arman saat mendengarnya menyebut nama istri sebelum Indah ibunya.
Arman menggelengkan kepalanya, menyadari jika dia sudah salah mengenali orang. Rianti yang di kenalnya tidak memakai hijab seperti perempuan yang di lihatnya saat ini.
“pa.... sepertinya Adel mendengar seseorang memanggil nama si anak pembawa si*l pada perempuan di samping mas Raka” ujar Adel menyadarkan Arman.
__ADS_1
“apa?!!!” Arman tampak tidak senang, matanya menatap tajam ke arah perempuan yang berdiri di samping Raka.
Sabrina lalu memeluk Alecia mengucapkan perpisahan padanya. Setelahnya Raka dan Sabrina melangkah menuju pintu keluar hotel.
Langkah Sabrina tiba-tiba berhenti saat melihat seorang pria yang sudah berumur berdiri menatap tajam ke arahnya. Walaupun sudah berumur, wajah pria itu sama sekali tidak akan pernah dia lupakan. Wajah pria yang darahnya mengalir di dalam dirinya, Raka sangat terkejut saat melihat Arman dan Adelia berdiri tepat di hadapan mereka.
Tangan Sabrina sebelah kanan menggenggam erat bajunya, tangan kiri di genggaman Raka menggenggam kuat membuat Raka menatap ke arah Sabrina. Tampak jelas di matanya bulir-bulir keringat dingin di dahi Sabrina, dia juga merasakan dingin pada tangan Sabrina dalam genggamannya.
“pa....pa...” Terdengar suara pelan dari Sabrina, walaupun pelan tapi panggilan itu masih dapat terdengar oleh Raka. Mata Arman masih menatap tajam ke arah Sabrina, dia tampak sangat kesal dan marah.
Sudah beberapa hari dia berada di Indonesia, hingga dengan berat hati pergi ke kediaman Adiwijaya untuk mencari informasi tentang keberadaan Sabrina.
Sepertinya dewi fortuna masih memihak ku, susah payah aku mencari informasi si pembawa si*l ini kami malah bertemu di sini. Memudahkan rencana ku untuk membuatnya menjadi jaminan untuk tuan Nicholas gumam Arman dengan senyuman smirk menghias wajahnya. Sabrina bergidik ngeri saat melihat senyuman Arman yang tidak pernah bisa d lupakan nya.
Senyuman yang selalu di tampilkan nya saat merasa puas menyiksa Sabrina. Arman dan Adelia menghampiri Raka yang senantiasa berada di samping Sabrina. Wajah cantik itu berubah pucat pasi, tampak jelas oleh Raka wajah ketakutan Sabrina saat itu juga.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
mohon maaf 🙏🏻🙏🏻🙏🏻 jika kedua karya Author "terjebak cinta CEO dingin" dan "Cinta Sabrina" mengalami keterlambatan updatenya. karena begitu banyaknya pekerjaan Author setelah pulang mudik 🛣️🛣️🛣️ juga tugas-tugasnya 📖📖📖 bocil yang musti kudu di bantu.
Termasuk juga persiapan karya terbaru Author yang akan rilis dalam waktu dekat ini.
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...