
“Jadi dia akan menikah dalam waktu dekat ini?!!” ujar Arman semakin kesal.
“Ya.... dan tentunya dia akan menikah dengan pria pilihan kami. Jika kamu manusia berilah sedikit rasa belas kasih sayangmu pada putri yang kamu buang, walau pun kamu dan keluargamu membuangnya tapi dia masih berharap kelak bertemu denganmu ada pelukan hangat yang akan...” pembicaraan Adiwijaya terhenti saat Arman sudah tidak bisa menahan amarahnya.
“kau memintaku untuk memberi kasih sayangku pada anak sial*n itu, lalu di mana hati nuraninya saat merenggut nyawa ibunya sendiri. Putri kandungmu” ujar Arman penuh amarah. Wiyasa tidak bisa menerima saat Adiwijaya di bentak di depan matanya.
“Arman.... Hidup mati seseorang itu hanya Dia (menunjuk ke atas langit Allah SWT) yang menentukan. Jika mbak Rianti meninggal saat melahirkan Sabrina itu adalah takdir yang tidak akan ada siapa pun yang bisa mengubahnya, termasuk Kamu...” Wiyasa tampak sangat marah.
“Wiyasa.... Tenang!!! Tidak ada yang bisa membuka mata hati seseorang yang sudah di butakan dengan dendam dan amarah, tenangkan dirimu sekarang” ujar Adiwijaya bijaksana.
“Pa....” Indah tampak mengode untuk menenangkan diri, dia pun menurut dan kembali duduk di sofa itu. Tangannya yang terluka membuat Arman kepayahan untuk menulis, dia pun menyuruh Adelia untuk menulis kelengkapan data milik dirinya.
Indah pun berbasa-basi mempersilahkan Adiwijaya dan Wiyasa untuk meminum teh hangat yang mereka buat tadi. Wiyasa awalnya Ragu dan menatap ke arah cangkir gelas itu, demi menghargai tuan rumah mereka pun meminum sedikit minuman itu. Dalam hati mereka berteriak senang karena Adiwijaya dan Wiyasa sudah masuk dalam jebakan mereka, hanya menunggu obat itu bereaksi maka rencana menekan Sabrina akan sangat mudah.
Tanda tangan Arman tampak bergetar karena dia tidak terbiasa menggunakan tangan kiri, setelah Arman selesai menanda tangani surat itu lalu di serahkan pada Adiwijaya. Dia memperhatikan setiap detail surat itu yang sudah terisi, Wiyasa melihat jam di tangannya yang sudah memasuki waktu sholat ashar.
Tidak ingin ada keributan lagi, Wiyasa dan Adiwijaya memilih untuk pulang kembali ke kediaman. Mereka lalu keluar dari kamar melangkah menuju lift, Arman dan keluarganya tersenyum smirk rencana mereka berjalan mulus.
Entah mengapa Wiyasa merasa ada yang salah dan mencurigakan, dia mengendarai Mobilnya menuju mesjid terdekat untuk menunaikan ibadah sholat Ashar sebelum kembali ke rumah.
Setelah menunaikan kewajiban mereka saat menuju ke mobil Wiyasa merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya, tapi dia mengabaikan dan melangkah hampir bersamaan dengan Adiwijaya.
“hari sudah sore, kemungkinan kantor KUAnya sudah tutup, lebih baik besok saja sebelum acara siraman antar surat ini segera” ujar Adiwijaya duduk di samping pengemudi, dia merasa sedikit sakit di perutnya. Kedua tangan Adiwijaya berada di perut dan sedikit mengurut agar rasa sakit itu berkurang.
“kenapa pak? Apa bapak sakit?” tanya Wiyasa cemas,
“mungkin karena tidak ****** makan, mag bapak kambuh. Sebaiknya kita kembali ke rumah, semuanya pasti sudah merasa khawatir” ujar Adiwijaya pada Wiyasa yang lalu menyalakan mesin mobil melajukannya ke rumah.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu mobil Wiyasa memasuki perkarangan rumahnya, beberapa tamu suda tampak membubarkan diri. Wiyasa membuka pintu mobil, saat menurunkan kakinya mendadak seluruh tubuhnya merasakan rasa sakit yang sangat hebat.
“AAAARRRGGGGGHH....” secara bersamaan Adiwijaya juga merasakan hal yang sama. Beberapa tamu yang melihat kejadian itu segera menghampiri Wiyasa yang sudah terkapar di tanah, Adiwijaya belum sempat turun dari mobil sudah tidak sadarkan diri.
“bapaaaaaaak...” teriak Cakra yang melihat beberapa tamu mengerumuni mobil dan ada yang sebagian membantu mengangkat tubuh Wiyasa.
“Mas Wiyasaaa.... bapaaaak” seluruh keluarga Adiwijaya panik melihat Wiyasa dan Adiwijaya pingsan bersamaan.
“sabrina....” andhini segera memanggil Sabrina yang baru saja menyelesaikan sholat Ashar, mendengar panggilan ibunya dia segera mengenakan hijabnya dan keluar kamar.
Sabrina terkejut saat melihat kondisi bapak dan Eyangnya.
”kenapa bapak dan eyang buk...” Sabrina segera memeriksa denyut nadi, terasa denyutnya sangat lemah.
“kita harus bawa bapak dan eyang ke rumah sakit sekarang” ujar Sabrina panik. Araf, Yusuf dan Cakra segera bertindak dengan cepat, Araf menggunakan mobil Wiyasa melarikan Adiwijaya menuju rumah sakit secepatnya. Cakra duduk di samping Araf yang mengemudikan mobil, Ningsih memangku kepala Wiyasa mulai menangis dan khawatir dengan keadaan suaminya.
Anjani dan Wulan segera menyusul dengan mobil Bima setelah Anjani menghubungi dan mengabari jika terjadi sesuatu di rumahnya. Keluarga opa Candra terkejut dan segera menuju rumah sakit.
***
Adelia tengah tersenyum-senyum senang begitu juga dengan Arman dan Indah, mereka segera menyingkirkan gelas bekas minuman Adiwijaya dan Wiyasa. Teringat oleh Arman sesaat sebelum kedatangan mereka, Adelia dan Indah sudah mengoleskan racun dengan hati-hati pada cangkir yang akan di gunakannya.
“papa yakin jika sekarang si tua bangka dan menantunya yang sok alim itu sudah merasakan kehebatan racun itu” ujar Arman sambil meminum minuman yang di pesannya dari bar hotel.
“ tentu saja pa, dan Adel yakin sekarang mereka sudah di bawa ke rumah sakit dengan seperti ini (memperagakan seperti orang tercekik dengan kedua tangan di leher) Adel sangat ingin melihat mereka sekarang...” ujar Adelia bahagia.
Perawat segera mendorong dua bankar dimana Adiwijaya dan Wiyasa terbaring, dengan sigap Sabrina memeriksa keadaan bapak dan eyangnya.
__ADS_1
Di bantu dengan dokter jaga rumah sakit, Sabrina memeriksa secara intensif kondisi Adiwijaya dan Wiyasa. Tapi mereka sama sekali tidak mendapati penyakit apa yang di derita oleh keduanya, Adiwijaya tidak sadarkan diri dengan nafas yang tidak teratur. Wiyasa merasakan rasa sakit di seluruh tubuhnya dengan nafas yang juga tidak beraturan
Walaupun merasa sakit di sekujur tubuhnya, dia masih berusaha untuk sadar. Para dokter meminta perawat untuk mengambil darah dan segera memeriksakan ke laboratorium.
Keluarga Candra segera menemui Araf dan lainnya yang tengah menunggu di ruang tunggu dengan cemas. Andhini dan Ningsih tampak sangat sedih sesekali terus menatap ke arah ruang IGD. Beberapa perawat tampak berlalu lalang masuk membawa alat-alat kedokteran.
Candra mencemaskan kondisi sahabatnya, dia begitu teringin masuk ke dalam ruang IGD itu. Adrian memapah Candra untuk duduk di bangku ruang tunggu, dia tahu jika saat ini papanya sangat cemas dan khawatir.
“papa tenang saja, Adrian akan ke dalam untuk ikut membantu” ujar Adrian, dia lalu berdiri dari tempat duduk sejenak menatap ke arah Raka juga Bima. Mereka mengangguk mengerti dengan keinginan Adrian, Wibisana hendak ikut masuk tapi langsung di cegah oleh Adrian.
Adrian meminta Wibi untuk menemani keluarga yang lain dengan berat hati Wibisana menunggu dan duduk di samping Helena. Para perawat tampak sibuk dengan pekerjaan mereka, dokter jaga yang sedang membantu Sabrina mengenal Adrian dan langsung menyapanya.
“dokter Adrian....” sapa dokter itu yang langsung menghampirinya. Sabrina sempat menatap Adrian , tapi dia kembali fokus pada Wiyasa yang terlihat sangat menderita.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...