Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 113


__ADS_3

Di luar kamar perawatan Sabrina dan Araf akan memasuki lift yang kebetulan berhenti di lantai itu. Araf masih memegang tangan Sabrina menariknya ikut masuk ke dalam lift.


“mas... sebenarnya ini ada apa? Memangnya Kita mau ke mana sih, mas?” tanya Sabrina bingung.


“Kamu ikutin saja ke mana mas akan membawamu” ujar Araf menekan tombol untuk menutup pintu lift.


“mas Araaaaf... tungguin...” ujar Asmirah dan Anjani berlari secepat mungkin ke depan lift.


“memangnya kalian berdua mau ke mana?” tanya Araf menekan tombol untuk menahan pintu lift menutup. Para gadis cantik itu segera masuk ke dalam lift, setelahnya Araf menekan tombol untuk menutup pintu itu kembali.


“ kami mau ikut sama mas dan mbak Sabrina” ujar Anjani memilih berdiri di antara Araf dan Sabrina,


“Jani, Mirah... mas ini sedang terburu-buru. Kalian berdua tunggu di rumah sakit saja, nanti saat semuanya sudah beres mas akan ceritakan semuanya pada kalian dan keluarga kita” ujar Araf menolak kedua adiknya untuk ikut.


“ndak mau.... kami juga mau ikut” ujar Asmirah bersikeras, dia langsung berdiri di samping Sabrina dan menggandeng tangan perempuan berhijab itu. Araf tidak memiliki waktu untuk berdebat dengan adik-adiknya. Tangannya segera merogoh ponsel di saku celana, jari jemarinya bergerak cepat menulis pesan yang langsung di kirim ke nomor tujuan. Tidak lupa sebelumnya Dia menyimpan buku pasport ke dalam jacket yang di kenakannya.


“sebenarnya mas Araf mau membawa mbak Sabrina ke mana?” tanya Anjani kepo tingkat dewa.


“nanti juga kalian tahu,” ujar Araf menatap layar kecil di lift itu yang kemudian berhenti di lobi. Pintu lift terbuka lebar, Tangan Araf menggandeng tangan Sabrina melangkah cepat melewati lobi rumah sakit dan keluar dari pintu keluar.


Mobil milik Yusuf sudah menunggu di pelataran rumah sakit, Araf segera membuka pintu belakang mempersilahkan para adik-adiknya untuk masuk ke dalam mobil itu.


Yusuf terheran-heran menatap ketiga bersaudari itu masuk ke dalam mobil.


“Suf kita berangkat sekarang” ujar Araf meminta Yusuf bergegas melajukan mobilnya. Dia sudah tahu ke mana tujuan Araf sebenarnya,


“Raf... kenapa adik-adik mu yang lain juga ikut? Bukannya kamu hanya ingin mengajak...” Yusuf menghentikan ucapannya merasa tidak enak dengan Asmirah dan Anjani.


“terpaksa di angkut semuanya, kalo ndak gagal rencana ini, sebentar...” ujar Araf penuh teka teki membuat Sabrina, Anjani dan Asmirah semakin penasaran. Ponsel Araf kembali berdering, sejenak dia menatap ke arah layar ponselnya lalu jarinya menggeser icon tombol hijau untuk mengangkat telepon itu.


Mobil yang di kendarai Yusuf melaju cepat di jalanan Raya, Sabrina melihat pemandangan di luar jendela memperhatikan setiap petunjuk jalan yang ada.

__ADS_1


Jalanan ini.... jalanan ini kan menuju ke bandara.... kenapa mas malah bawa aku ke mari? Guman Sabrina dalam hati terus menatapi pemandangan jalanan. Dia menatap ke arah Araf yang berbicara di telepon,


“tahan saja... beri alasan yang tepat...” ujar Araf menatap Yusuf mengode untuk mempercepat laju kendaraan.


“Mas Araf... jalanan ini kan menuju bandara?” ujar Asmirah melihat papan petunjuk jalan yang bertuliskan arah bandara yang tidak berapa jauh lagi. Araf hanya diam tidak menjawab pertanyaan Asmirah, tangannya sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.


“mas Araf... si Mirah nanya kok nggak di jawab? Malah asyik terus ma ponselnya” ujar Anjani penasaran dan sangat kepo.


Araf masih tidak menjawab pertanyaan kedua adiknya, sampai pada akhirnya mobil yang di kendarai Yusuf memasuki pelataran Bandara.


“kalian duluan saja, sebentar lagi aku akan menyusul” ujar Yusuf melihat Araf yang bergegas membuka pintu mobil. Dia segera turun di ikuti Asmirah, Anjani dan Sabrina yang terlihat bingung.


“ayo dek...” ajak Araf dengan memegang tangan Sabrina lalu menariknya masuk ke dalam lobi bandara, di ikuti Asmirah juga Anjani yang melangkah cepat mengikuti mereka.


“mas Araaaf.... tungguin...” ujar Sabrina yang kepayahan mengikuti langkah Araf, sepatu high heels yang di kenakan membuatnya sulit melangkah. Araf melihat Sabrina yang kesulitan melangkah, dia segera menunduk membuat mata ketiga adiknya terbuka lebar.


Sepatu yang di kenakan Sabrina segera di lepaskannya lalu memberikannya pada Asmirah.


“kamu pegang dek, “ ujar Araf memberikan sepatu Sabrina padanya,


***


Kamar perawatan Adiwijaya dan Wiyasa, seluruh keluarga tampak khawatir. Mereka semua sama sekali belum mendapatkan kabar apa pun dari Araf dan lainnya, wulan terus berusaha menghubungi ponsel Araf, Anjani dan Asmirah. Namun, masing-masing dari mereka tidak ada yang menjawab dan mengabaikan panggilannya.


“gi mana ma? Apakah sudah tersambung?” tanya Cakra pada Wulan yang masih mencoba menghubungi.


“belum pa” ujar Wulan melihat ke arah Andhini yang juga tampak sedang menghubungi.


“gi mana mbak?” tanya Wulan pada Andhini yang masih tampak menunggu panggilannya terangkat. Dia langsung meloudspeker ponselnya agar mereka yang ada di ruangan itu dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. tidak menunggu lama tellepon Andhini terangkat


“assalamualaikum buk de... hah... hah... ha...” terdengar suara Anjani yang terengah-engah seperti sedang berlari.

__ADS_1


“waalaikum salam Jani, kalian ke mana? Kenapa ndak satu pun mengabari kami”


“maaf buk de...hah... hah.... hah... kami sedang di bandara. Mas Araf...” ucapan Asmirah terhenti saat melihat Araf melangkah cepat menuju ke arah rombongan pria berpakaian jas rapi.


“Mirah... Mirah.... ada apa? Kenapa kamu berhenti bicara... mana mbak mu Sabrina” tanya Andhini khawatir, semua orang yang berada dalam ruang perawatan merasa sangat penasaran.


Adiwijaya terdiam dan larut dalam pikirannya, senyuman hangat tersungging di wajah tuanya yang sadar dan tahu apa yang di rencanakan Araf.


Asmirah dan Anjani termenung saat melihat pemandangan di depan mereka, ponselnya masih berada di telinganya.


“Mirah...mirah...” panggil Andhini pada ponakannya.


“ Buk de.... sebentar...” Asmirah menatap layar ponselnya, mengalihkan sambungan telepon menjadi video call. Dia segera mengarahkan ponselnya ke arah Araf dan Sabrina yang tengah berhadapan dengan beberapa pria bersetelan Rapi.


Araf melihat beberapa orang asing tengah di halangi oleh teman seperjuangan nya, terjadi sedikit percekcokan di antara mereka. Teman Araf melihat kedatangannya langsung mengode kepada teman mereka yang lain untuk memberi jarak.


Sabrina termenung saat melihat pria tampan yang di kenalnya berdiri di antara para pria bersetelan rapi, Araf masih memegang tangan Sabrina berjalan menghampiri beberapa orang itu.


“Tuan Nicholas” panggil Araf ke arah para pria itu, Pemilik mata tajam itu langsung membalikkan tubuhnya ke belakang. Mata Sabrina bertemu pandang dengan Nicholas yang tampak tercenung menatap gadis cantik itu.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2