
“ini saja sudah cukup bagi saya untuk bertemu dengan pu... putri yang sudah lama sangat saya rindukan dan satu lagi pak... pertemuan kita jangan sampai diketahui keluarga mendiang istri pertama say. Bisa... bisa mereka...” Arman menghentikan pembicaraan dengan memasang wajah sedih yang meyakinkan.
“bapak tenang saja... saya akan mengaturnya dengan sebaik-baiknya” ujar Petugas itu dengan ramah, matanya sudah tidak konsentrasi melihat tebalnya amplop itu.
Sebuah kesempatan bagi Arman cs untuk menjebak Sabrina dan menghancurkannya, senyuman licik tersungging di bibir Indah di balik tisu yang di pegangnya. Setelah menyelesaikan urusan mereka, Indah dan lainnya mohon diri untuk kembali ke hotel.
Mereka tidak jadi kembali ke hotel dan memilih mengawasi kantor KUA untuk kelancaran rencana yang di buat matang. Saat menanti itu mereka menyadari ada sebuah mobil yang ikut berhenti tidak jauh dari mobil Indah cs.
“pa dari tadi mama merasa mobil itu mengawasi kita” ujar Indah merasa aneh dengan mobil itu.
“Mobil itu...” Arman mengenal mobil itu yang tidak lain adalah mobil anak buah Nicholas.
“mobil itu bukankah mobil anak buahnya tuan Nicholas, pa?” tanya Adelia juga mengenali Mobil itu.
“lebih baik sekarang kita kembali ke hotel pa, dari pada rencana kita di hancurkan dengan orang-orangnya Nicholas” Indah bertindak dengan hati-hati, Adelia segera menyalakan mobil lalu melajukannya kembali ke hotel tempat mereka menginap.
Tidak beberapa menit mobil Indah cs pergi, mobil di tumpangi Bima dan Wibisana baru saja keluar dari kantor KUA. Wibisana melajukan mobilnya menuju ke kediaman Adiwijaya dengan surat pernyataan yang di berikan petugas itu, semula Bima merasa ragu dengan surat yang di berikan petugas itu. Tapi mendengar penjelasan panjang lebar yang sangat masuk akal dari petugas itu, Wibisana dan Bima memutuskan mengantar surat itu ke kediaman Adiwijaya.
Bima diam-diam tersenyum senang, dia memiliki kesempatan untuk mengobati rasa rindunya dengan Anjani.
“udah kagak usah senyum-senyum, kita di sana juga kagak lama-lama. Banyak pekerjaan yang harus kita lakukan di rumah opa” sindir Wibisana tahu dengan niat Bima.
“haa... siapa yang senyum? Trus kenapa juga musti cepat-cepat, toh semua pekerjaan udah kelar semua” ujar Bima yang tak rela bertemu sebentar dengan pujaan hatinya.
“malam ini kita adain pesta bujangan dengan kak Raka, kita makan-makan trus jalan-jalan seputaran kota Surakarta. Tentunya semua itu yang bayar kak Raka, gi mana?”
“gua ikut-ikut aja. Tapi sekarang cepetan nih mobil lu bawa ke kediaman eyang”
“lu udah kayak anak ABG aja, baru beberapa hari kagak ketemu udah kek begini. Gi mana kalo nggak ketemu setahun”
“lu mah jomblo, belum merasakan betapa beratnya kagak ketemu pujaan hati selama beberapa hari. Di saat lu udah ketemu seseorang yang lu sayang, gue yakin lu merasakan apa yang gue rasakan saat ini”
Mobil Wibisana memasuki halaman kediaman Adiwijaya, beberapa orang sudah mulai berdatangan untuk pengajian di rumah itu. Wibisana dan Bima turun dari mobil langsung di sambut Araf juga Wiyasa yang sedang menyambut tamu yang datang.
__ADS_1
“Assalamualaikum om, kak Araf” sapa Wibisana sambil menyalami dengan santun. Begitu juga Bima, setelah menyalami Araf juga Wiyasa mata Bima melihat ke sana kemari berharap bisa bertemu dengan istrinya.
Wiyasa tersenyum melihat tingkah laku Bima dan mengerti dengan keinginannya, Araf melirik Bima yang seperti terlihat mencari seseorang.
“Anjani sedang di dalam bersama keluarga lainnya, kalo mau ketemu kamu masuk saja” ujar Wiyasa sambil menepuk pundak Bima.
“ benaran pak de.... kalo gitu Bima masuk dulu ya pak de!!” ujar Bima akan melangkah masuk ke rumah, tapi langkahnya terhenti saat Wibisana menarik kerah bajunya.
“nggak usah om, kami juga sebentar masih banyak pekerjaan yang musti kami selesaikan di rumah. Apalagi Kalo ni romeo ketemu ama julietnya, bakalan lama dan bisa-bisa kagak mau pulang dia nya” ujar Wibisana yang langsung mendapat hadiah tatapan tajam dari Bima. Wiyasa dan Araf tersenyum mendengar candaan Wibisana yang menyindir telak Bima.
“o ya bagaimana dengan di kantor KUA, apa ada yang kurang dari suratnya?" tanya Araf.
“ orang KUA menelepon, kapan?” Wiyasa terkejut saat mendengar ucapan keponakannya.
“ itu pak de, sewaktu pak de , papa dan eyang pergi. Orang KUA menelepon ke rumah, katanya ada beberapa surat yang harus di urus” jelas Araf pada Wiyasa.
“surat?!! Surat apa? Perasaan Semua pengurusan surat sudah selesai” ujar Wiyasa yang sudah melengkapi surat-surat hingga tidak ada yang kurang suatu apa pun.
“ om bisa membaca surat ini, petugas itu juga memberi tahu jika surat ini secepatnya harus di antar kembali ke KUA agar pengurusan surat yang lain selesai tepat waktu” ujar Wibisana memberikan surat itu ke tangan Wiyasa.
“benar itu yang di katakan petugas Bima? Kenapa kok baru sekarang surat ini di berikan? Kenapa tidak sewaktu papa dan pak de ke kantor KUA menyerahkan surat -surat ini? ” tanya Araf merasa curiga.
“ itu juga yang kami tanyakan kak Araf, petugas itu meminta maaf karena surat ini baru selesai di buat hari ini dan bawahannya lupa menyerahkan karena surat ini terselip di antara surat yang berbeda” Wibisana mengulang kembali penjelasan yang di berikan petugas itu.
Ada sesuatu hal yang aneh dan terasa mencurigakan bagi mereka, pembicaraan mereka terdengar oleh Adiwijaya yang akan menghampiri mereka. Terbayang oleh Adiwijaya wajah Sabrina yang teringin jika Arman menyerahkannya pada Raka.
Keinginan itu memang tidak terucap di bibirnya, tapi kesedihan dan keinginan terlihat jelas di mata Sabrina.
“ehem... tidak usah berpikir yang macam-macam, yang penting semua urusan dengan Dia selesai. Bapak yang akan pergi menemuinya” ujar Adiwijaya.
“ndak usah pak, biar aku saja yang pergi. Ini kesempatan ku untuk menunaikan kewajibanku sebagai bapaknya Sabrina” ujar Wiyasa menatap lembaran kertas di tangannya.
Saat tengah berdiskusi tiba-tiba telepon milik Wibisana berbunyi, pada layar ponselnya tertulis nama tante Helena di sana.
__ADS_1
“assalamualaikum tan,”
“..................”
“baik tan, sebelum pulang kami akan mampir ke sana. Baik tan... waalaikum salam”
Adiwijaya dan yang lain menatap ke Wibisana yang baru menyelesaikan pembicaraannya.
“maaf eyang, sepertinya kami harus kembali sekarang. Begitu banyak pekerjaan yang harus kami selesai” ujar Wibisana dengan sopan, Bima yang sama sekali belum bertemu dengan Anjani enggan unntuk pulang.
“lu duluan saja, gua masih mau di sini, eyang tentunya butuh bantuan gua” ujar Bima masih melihat ke arah kediaman.
“ kagak bisa, lu di minta balik juga sama tante. Kata Tante Helen kalo lu kagak mau pulang, tante bakalan bikin lu selama sebulan kagak bisa bobok bareng bini lu” ujar Wibisana menyampaikan ancaman yang sangat mengerikan bagi Bima.
************
dear para reader yang baik, budiman, rajin menabung dan murah hati....
sebelumnya Author meminta maaf 🙇🏻♀️🙇🏻♀️🙇🏻♀️ jika ada tulisan ✍️✍️✍️author yang menyinggung instasi terkait dalam karya novel ini. Cerita ini hanya karangan author semata dan tidak pernah terjadi di dunia nyata.
Author harap para pembaca bisa bijak membaca, Author juga menyadari kemampuan author dalam menulis masih kurang. Namun, author terus berusaha untuk belajar dan memberi cerita novel yang lebih baik lagi agar para penggemar menyukai karya author.
Sekali lagi author mengucapkan maaf 🙇🏻♀️🙇🏻♀️🙇🏻♀️🙇🏻♀️dan terima kasih karena sudah mendukung 🙏🏻🙏🏻🙏🏻karya author.
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...