Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 160


__ADS_3

Adelia dan Indah sampai di kediaman mereka, Indah tampak melihat ke arah kanan dan kiri memastikan tidak ada siapa pun. Hati-hati Indah membantu Adelia turun dari mobil dan memapahnya masuk ke dalam rumah, Adelia tampak memegangi perut bagian bawahnya yang terasa ngilu dan sakit.


“ma... sakit banget” ujar Adelia sambil berpegangan pada tepian tangga, Indah merangkul putrinya dengan hati-hati.


“tahan sebentar lagi ya sayang,” ujar Indah terus membantu Adelia menuju kamar miliknya.


Arman berada di ruang kerja terus memperhatikan tindak tanduk Indah melalui CCTV yang terpasang, dia menatap heran pada Adelia yang terlihat berjalan dengan perlahan dan hati-hati.


***


Beberapa saat yang lalu sewaktu Indah dan Adelia pergi, Arman menemui Indra di kamarnya. Arman mengetuk pintu kamar Indra lalu membuka dan masuk ke dalam kamar itu.


“Indra, papa boleh masuk?” tanya Arman pada Indra yang sedang duduk ddi meja belajarnya.


"papa, masuk saja pa”


“kamu sedang belajar? apa papa mengganggumu?”


“tidak pa, aku hanya iseng membaca buku tentang bisnis. Ada apa pa?” tanya Indra menatap ke arah Arman yang terlihat serius.


“ Indra, ada sesuatu hal ingin papa bicarakan dengan mu...” Arman pun membicara kan perihal tentang Adelia, Indah dan Roy. Indra tampak sangat terkejut dan tidak menyangka jika Indah terlibat dengan kematian Rianti ibu kandung Sabrina.


Arman pun meminta Indra untuk pergi menemui orang tua Arman yang berada di Korea Selatan, dengan alasan yang menurutnya masuk akal Arman terus membujuk Indra untuk pergi. Indra merasa ada sesuatu yang tidak beres di balik permintaan Arman, dia ingin bertanya lebih dalam lagi tapi di urungkannya.


Indra masih terlihat ragu-ragu dan merasa berat hati, namun desakan Arman membuatnya setuju untuk berangkat ke Korsel.


“baiklah pa, aku akan pergi menemui kakek dan nenek” ujar Indra, mendengar jawaban Indra membuat Arman bergegas membantu mengeluarkan koper besar milik Indra dari ruang penyimpanan, di bantu asisten kepercayaan Arman koper itu di geret masuk ke dalam kamar Indra.


“Loh pa.... Ini....” Indra terkejut dengan koper besar di depannya. Asisten kepercayaan Arman sedikit membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Arman dan Indra yang membalasnya dengan menganggukkan kepala.


“kamu tidak banyak waktu lagi, penerbangannya siang ini. Kamu harus berangkat sekarang dan satu hal lagi berikan ini pada kakek juga nenekmu” ujar Arman memberikan sebuah amplop surat pada Indra.


“Tapi pa, Indra belum berbicara dengan mama” ujar Indra memegangi tangan Arman yang tengah membantunya memasukkan semua pakaian ke koper besar itu.

__ADS_1


“Soal mama mu, kamu tidak usah pikirkan. Papa yang akan memberi tahu mama mu, sekarang sebaiknya kamu cepat berkemas” ujar Arman mengambil buku-buku tebal yang di baca Indra dan memasukkannya ke dalam tas ransel.


Indra semakin curiga dengan sikap Arman,


“pa... Sebenarnya ada apa pa? Kenapa papa memintaku untuk pergi ke tempat kakek dan nenek saat ini juga? Aku... Awww...ssshhhh...” belum selesai Indra berbicara mendadak dia merasa sakit di bagian leher lalu pusing dan akhirnya tidak sadarkan diri. Tanpa sepengetahuan Indra, Arman meminta bantuan asisten kepercayaannya untuk menyuntikkan obat bius pada Indra untuk memudahkan pekerjaan mereka.


“kamu lakukan sesuai dengan rencana” ujar Arman pada asisten kepercayaannya. Indra di dudukkan di kursi roda dan di samarkan oleh Asisten Arman sebagai pasien yang mengalami cedera serius, setelah semua beres kursi roda itu di dorong menuju keluar rumah di temani Arman yang menggeret koper besar milik Indra.


Saat ini Arman tengah memperhatikan ponsel miliknya, baru saja dia mendapat pesan dari asistennya jika mereka sudah menaiki pesawat dan sudah tinggal landas.


Sudah saatnya gumam Arman dalam hati menatap tajam layar monitor yang menampilkan kamar Adelia. Tidak lupa Arman mengambil sebuah botol kecil yang tersimpan di tempat tersembunyi, dalam botol itu terdapat cairan berwarna bening.


Adelia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, kedua tangannya masih memegangi perut di bagian bawah. Matanya terlihat terpejam dengan deru nafas yang teratur, Indah membelai wajah pucat Adelia lalu mengecup lembut kening putrinya.


Indah lalu keluar dari kamar Adelia, menuruni anak tangga menuju kamar Indra. Sedari tadi pagi Indah belum bertemu dengan Indra, dia bermaksud menyapa Indra untuk mengajaknya makan siang. Di saat bersamaan Arman keluar dari ruang kerja dan berpapasan dengan Adelia,


“Ma, jangan lupa nanti malam kita akan makan malam dengan Roy. Minta Adelia untuk tampil cantik malam ini” ujar Arman.


“kenapa?!”


“itu... Adel... dia.... itu... aaa... “ Indah tampak bingung harus memberikan alasan apa.


“ada apa dengan Adel, ma?”


“Adel... Adel masih mengalami morning sickness, pa. Jadi dia bilang nggak ikut makan malam bersama kita” ujar Indah menatap ke arah Arman, kening Arman tampak berkerut mendengar alasan yang di utarakan indah.


“ kalo begitu mau tidak mau, kita yang pergi menemui Roy. Semoga saja Roy mengerti jika Adel tidak bisa datang” ujar Arman akan melangkahkan kakinya menuju kamar utama.


“Pa... sebentar, “ Indah berdiri di hadapan Arman.


“hmmm” Arman berdehem menyahuti panggilan Indah.


“itu.... sepertinya mama juga nggak ikut makan malam, mas. Mama ingin menemani Adel di rumah” ujar Indah hati-hati.

__ADS_1


“jika kamu tidak ikut lantas aku sendiri yang menemui Roy? Tidak bisa begitu ma, ini demi masa depan putri kita. apa kamu mau anak yang ada di rahim Adel tumbuh tanpa seorang ayah? Akan taruh di mana wajah papa jika semua orang tahu Adelia hamil di luar nikah” ujar Arman,


“ Tapi pa....” ucapan Indah terpotong saat Arman berbicara lebih dulu.


“Ma, ada apa sebenarnya ini? Kenapa papa merasa kamu sengaja menunda-nunda pernikahan Adel dengan Roy?” pertanyaan Arman membuat Indah terdiam seketika, dia tampak bingung dan tidak tahu harus memberi alasan apa lagi.


“Bukan begitu pa... Mama.... Mama...itu... Oo” Indah kebingungan mencari alasan yang tepat.


“begini saja jika kamu tidak mau Adel sendirian di rumah kita makan malam di rumah saja, kamu minta maid untuk menyiapkan makanan mewah dan enak. Jangan lupa minuman yang nikmat untuk tuan Roy” ujar Arman membuat Indah mau tidak mau mematuhinya, Arman melangkah menuju kamarnya meninggalkan Indah yang masih berdiri termangu melihat punggung suaminya.


Indah hanya bisa menghela nafas panjang dengan keputusan Arman, dia lalu melangkah menuju dapur untuk memberi perintah pada maid membuat makanan enak. Tidak lupa Indah juga meminta maid untuk menyiapkan makanan untuk Adelia yang sedang beristirahat di kamarnya.


***


Sabrina sedang duduk di bangku panjang yang ada di kamarnya, dia tengah beristirahat sambil menunggu Nicholas membawakan makanan buatannya. Dia tengah memperhatikan ponsel dengan beberapa email d layarnya, laptop milik Sabrina terbuka dan di pangku di atas kakinya.


Nicholas masuk ke dalam kamar dan mendapati istrinya yang tengah sibuk memperhatikan layar laptop dan juga ponsel miliknya, dia menghela nafas panjang lalu mendekat ke arah Sabrina yang fokus dengan pekerjaannya.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Mohon maaf karena dalam beberapa hari ini author jarang update. Di karenakan sistem imun author yang semakin menurun membuat author harus istirahat total, mohon maaf pada para reader yang harus menunggu lama update dari karya-karya Author. Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2