
Nicholas menatap ke arah Isaac yang sudah bersiap untuk menyerang, duel maut antara pria itu tidak terhindarkan. Pukulan kuat di padu dengan tendangan mengawali pertarungan itu, Nicholas bertahan dengan memosisikan tangan di bagian depan tubuh dan membalas setiap serangan.
Pukulan dan tendangan silih berganti mereka lancarkan, terkadang Isaac dan Nicholas menggunakan benda-benda di sekitar mereka untuk saling menyerang satu sama lain. Pertahanan dan serangan Isaac menurun di sebabkan oleh luka di tangannya berbeda dengan Nicholas yang sama sekali tidak mengendurkan serangannya, dia terus-menerus menyerang hingga Isaac tersudut.
Nicholas segera mengunci pergerakan Isaac dengan menekan tangan dan lehernya menggunakan kaki, Isaac merasakan sesak dan pandangannya mulai memblur. Perlahan Isaac tidak sadarkan diri dengan kedua tangan yang mulai mengendurkan pegangan kuat pada kaki Nicholas.
Merasa musuhnya sudah tidak bergerak Nicholas perlahan melepaskan kunciannya dengan sangat hati-hati, dia merasakan nyeri dan sakit pada bagian perut juga lengan yang sempat di lukai Isaac dengan pisau bayonet yang sengaja di sembunyikannya.
Tertatih-tatih langkah Nicholas menuju ke segala tempat di apartemen mencari keberadaan Sabrina, dia sejenak menyandarkan tubuhnya ke dinding untuk mengatur nafas. Lalu Nicholas melanjutkan mencari keberadaan istrinya,
"Brina... Brina.... uuuughhh... Sayang” panggil Nicholas dengan tangan kanan menekan luka di perutnya, Sabrina mendengar panggilan Nicholas segera keluar dan menghampiri suaminya.
Rasa lega dan bahagia di rasakan Sabrina saat melihat Nicholas di hadapannya, di segera memeluk suaminya dengan erat.
“AAARRKKH.... “ terdengar rintihan pelan Nicholas saat lukanya tertekan dengan cukup keras.
“So... so... sorry sayang, are you hurt? (ma... ma... maaf sayang, kamu terluka?)” ujar Sabrina menatap ke arah luka yang di tutupi oleh tangan Nicholas, pria bermata tajam itu tersenyum tangan kirinya membelai wajah cantik istrinya.
“it's okay sayang... it's just a small wound, we better get out of here now (tidak apa-apa sayang... ini hanya luka kecil, sebaiknya sekarang kita keluar dari sini)” ajak Nicholas menggandeng tangan Sabrina. Tangan kiri Nicholas segera di letakkan Sabrina ke pundaknya dan membantu memapah melangkah ke arah pintu apartemen, mereka berdua melewati ruangan di mana Isaac masih tergeletak di sana.
Sabrina melihat ke arah tubuh Isaac yang sama sekali tidak bergerak, Nicholas melihat ke arah Sabrina yang masih melihat ke arah Isaac. Raut wajah wanita cantik itu terlihat jelas rasa takut dan cemas,
“You take it easy, he won't bother us anymore (kamu tenang saja, dia tidak akan mengganggu kita lagi)” ujar Nicholas membuat Sabrina melihat ke arahnya dengan mata terbuka lebar.
“wh..wh..wh...did..he died? (ap..ap..ap...apa di..dia meinggal?)” tanya Sabrina terbata-bata.
__ADS_1
“he wasn't that weak Brina, he just fainted. We'd better leave this place immediately, your safety and that of our baby is more important now (dia tidak selemah itu Brina, dia hanya pingsan. Lebih baik kita tinggalkan tempat ini segera, keselamatanmu dan bayi kita lebih utama sekarang)” ujar Nicholas sambil memegang tangan Sabrina, dengan patuh perempuan cantik itu membantu Nicholas melangkah meninggalkan apartemen itu.
Tanpa di sadari mereka jari-jari tangan Isaac bergerak begitu juga anggota tubuh lainnya, tangan kanan Isaac memegang lehernya yang terasa ngilu juga sakit. Matanya melihat ke arah Sabrina dan Nicholas yang tengah sedang melewati tempat di mana dia berada saat itu, dia merasakan rasa sakit di bagian belakangnya.
Saat berduel dengan Nicholas bayonet miliknya terjatuh dan malah mengenai punggung bagian bawah, matanya melihat ke setiap sisi lantai dan menemukan senjata yang tidak jauh darinya. Senjata api itu sempat tertendang ke sana kemari oleh kaki mereka, dia segera meraih senjata itu.
Sabrina dan Nicholas berhenti sejenak saat mendengar suara di belakang mereka, perlahan mereka membalikkan tubuh dan menemukan Isaac tengah menodongkan senjata ke arah mereka.
"You think I've lost, give my regards to my brother (kamu pikir aku sudah kalah, sampaikan salam ku pada adikku)” ujar Isaac yang segera menekan pelatuk senjata itu ke arah Nicholas.
DOR...DOR....
Sabrina yang tidak ingin suaminya terluka lagi segera memeluk dan menjadi perisai untuk Nicholas, peluru itu sukses menembus punggung bagian bawah dan atas tubuhnya. Mata Sabrina terbuka lebar saat merasakan benda asing melesak masuk ke tubuhnya, Nicholas segera bertindak dengan memutar tubuh dan menerima setiap tembakan peluru yang di lepaskan Isaac dengan punggungnya.
Dalam kekacauan itu mata Nicholas tidak sengaja melihat senjata milik Isaac yang berada tepat di sampingnya berdiri, Isaac terus melepaskan tembakan hingga senjata itu kosong.
Pelatuk pada senjata itu terus di tekan Isaac dengan penuh amarah, dia menatap senjata kosong itu dan membantingnya dengan keras ke lantai. Mendapat kesempatan Nicholas segera mengambil itu lalu dengan tangan masih memeluk erat tubuh Sabrina.
Dor...dor...dor...
Nicholas membalikkan tubuhnya dan melepaskan tembakan ke arah Isaac, peluru-peluru yang di tembakkan itu melesak cepat menembus setiap titik vitalnya. Isaac pun roboh terlentang ke lantai dengan bersimbah darah, matanya terbuka lebar dan dadanya tampak naik turun seiring nafasnya yang cepat.
Sabrina merasakan sakit di tubuh bagian belakangnya, dia merasakan pakaiannya sudah basah oleh darah yang mengalir. Nicholas memperhatikan wajah Istrinya yang berada dalam pelukan, perlahan dia mendudukkan tubuh dan menyandarkan punggungnya pada bagian belakang sofa.
Nicholas berusaha tenang dan mengatur nafasnya, dia bisa merasakan setiap peluru yang bersarang di punggungnya. Darah segar sudah membasahi kemeja dan jas hitam yang di kenakan Nicholas, kedua tangan kekar itu menarik tubuh Sabrina untuk berada dalam pelukannya.
__ADS_1
“Bri... Brina... huh... huh... Wake up, baby (Bri... Brina... huh... huh... bangun sayang)” ujar Nicholas saat mendapati Sabrina sudah tidak sadarkan diri. Tangan kanannya meraba tubuh bagian belakang Sabrina, terlihat olehnya telapak tangan yang sudah di basahi darah istrinya.
Brak... braaak.... BRAAAK...
Pintu apartemen itu terbuka dengan paksa akibat tendangan kuat, Nicholas masih merasa sadar dan melihat ke arah pintu masuk. Ternyata dua orang anak buah Isaac berhasil mencapai dan mendobrak masuk ke apartemen, Nicholas segera mengarahkan senjata ke arah mereka dan langsung menembak. Walau pun penglihatannya sudah mengabur dan tidak fokus, Nicholas berhasil menembakkan peluru dari senjata itu tepat mengenai kedua musuhnya.
Nafas Nicholas terengah-engah dan dia merasa jika dirinya sudah tidak banyak waktu lagi, Sabrina yang berada dalam pelukannya sudah tidak sadarkan diri. Kepala Sabrina tersandar di pundak Nicholas dengan wajah cantik itu tersembunyi dalam ceruk leher Nicholas.
Pria tampan itu dapat merasakan hembusan nafas Sabrina yang mulai melemah,
“Bri... Brina... Hol... Hold on sayang, for the sake of our baby I beg... you hold on... you must... survive... take care of... grow up... and teach it... huh... huh. ..Brina.... (Bri... Brina... Ber... Bertahanlah sayang, demi bayi kita aku mohon... kamu bertahanlah... kamu harus... selamat... merawat.... membesar... dan mengajarkannya.... huh...huh... Brina....)” dengan sisa kekuatannya Nicholas berusaha membuat Sabrina sadar.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...