Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 150


__ADS_3

“ you take it easy here, I won't be long (kamu tenang saja di sini, aku tidak akan lama)” ujar Nicholas yang langsung beranjak dari samping ranjang berjalan menuju kamar mandi sambil membuka satu persatu kancing kemejanya.


Tepat di depan pintu kamar mandi Nicholas melepaskan kemeja yang di kenakannya, memperlihatkan tubuh dengan pahatan sempurna yang menggoda setiap iman kaum hawa. Nicholas masuk ke dalam kamar mandi dan melaksanakan ritual mandinya, sambil menunggu Nicholas Sabrina mengambil ponselnya.


Tidak butuh waktu lama Nicholas menyelesaikan mandinya, handuk terpasang melingkar menutupi daerah pinggang hingga lutut. Tangan kanannya memegang handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah, dada bidangnya masih terlihat bulir-bulir air yang belum di sekanya.


(waduuuuh... babang Nicho bikin author auto gagal fokus dah, Sungguh pemandangan yang bakalan amat sangat di sayang untuk kagak di liat)


Mata elang pria tampan itu menatap ke arah ranjang, dia menatap penuh cinta istrinya yang ternyata sudah jatuh tertidur dan memasuki alam mimpi. Dia melangkah mendekati ranjang meletakkan handuk yang di pegangnya di tepian ujung ranjang bagian bawah. Nicholas duduk di samping tubuh istrinya, sebelah tangannya membelai lembut pipi gadis yang tampak sudah terlelap.


“ good night my angel (selamat tidur, malaikatku)” ujar Nicholas mengecup lembut kening Sabrina, membuat gadis cantik itu menggeliat sejenak. Senyuman bahagia terlukis di wajah tampan Nicholas menatap Sabrina yang terlihat nyaman saat telapak tangannya jadi penopang pipinya, Sabrina tanpa sadar memegang tangan Nicholas dan meraihnya ke dalam pelukan.


Kini Nicholas menatap dengan kebingungan ke arah Sabrina, keadaannya masih memakai handuk. Sabrina sudah tampak nyaman dan nyenyak, Pria tampan itu mencoba menarik tangannya dengan perlahan agar tidak membangunkannya. Gerakan Nicholas terhenti saat Sabrina menggeliat dengan wajah yang terlihat tidak nyaman, tidak butuh waktu lama Sabrina kembali terlelap nyenyak dalam dunia mimpinya.


Nicholas kembali menggerakkan tangannya hingga tangan terbebas dari pegangan Sabrina, dia perlahan bangkit dari tempatnya duduk dan melangkah menuju walk in closet untuk mengenakan pakaiannya.


***


Raka tampak duduk termenung dengan punggung bersandar di kepala ranjangnya, malam itu dia tidak dapat tidur. Jantungnya terasa berdebar cepat dengan firasat tidak enak menghampiri, pikirannya mendadak teringat ke pada Sabrina.


Sabrina.... kenapa perasaan ku terasa tidak tenang? Seakan... astagfirulllah... tidak Raka, ingatlah... Sabrina sudah menjadi istri Nicholas. Kamu tidak berhak untuk memikirkannya lagi, tapi kenapa hatiku merasa jika dia... gumam Raka dalam hati. Dia turun dari ranjangnya, melangkah menuju balkon kamar apartemennya.


Semenjak pertunangannya dengan Sabrina gagal, Raka memutuskan untuk tinggal di apartemen sendirian. Keputusan Raka tentu saja tidak mendapat persetujuan dari Helena dan lainnya, Candra juga mengutarakan keberatannya. Namun dengan beralasan untuk mencari ketenangan dan suasana yang baru, Helena dan lainnya dengan berat hati menyetujui keinginan Raka.


Candra juga akhirnya menyetujui keinginan Raka dengan memberikan syarat pada cucu pertamanya,


“baiklah opa setuju kamu tinggal di apartemen, tapi dengan syarat kamu satu gedung apartemen dengan Thio”


Ucapan Candra teriang di benak Raka yang kini berdiri di balkon menikmati pemandangan malam kota Jakarta. Dia menghela nafas panjang sambil memandangi langit malam, kedua tangannya berada dalam saku celana.


Tercium bau asap rokok dengan asap yang melayang ke arahnya, membuat Raka mengalihkan pandangannya ke arah balkon tepat di samping apartemennya. Raka melihat Thio yang tengah merokok,

__ADS_1


"ehem..." Raka berdehem membuat Thio tersadar dan melihat ke balkon sampingnya.


“eh Bos... belum tidur?” sapa Thio yang tengah duduk di tepian pagar balkon sambil menghisap rokok.


“kamu juga belum tidur?” tanya Raka pada Thio menghampiri tepian pagar yang berjarak dekat dengan pagar samping balkon Raka.


“sebenarnya gua udah mau tidur, tapi...” ujar Thio yang menggantungkan ucapannya membuat Raka penasaran.


“tapi...”


“kagak usah di pikirin, kagak penting juga. Ngemeng-ngemeng lu juga, kenapa belon tidur?” Thio menatap Raka yang memandang pemandangan malam.


“Aku.... entah kenapa perasaan aku nggak tenang malam ini. Mendadak saja pikiran tertuju pada...” Ucapan Raka terhenti kembali teringat dengan wajah cantik Sabrina yang tengah tersenyum manis. Thio melihat wajah Raka yang termenung menatap langit,


“pada Dewi?” tebak Thio menyebut nama perempuan yang sudah mengisi mimpi dan hatinya. Dia menyangka jika Raka sudah memiliki perasaan pada Dewi, hal itu di simpulkan olehnya sendiri saat dia melihat Dewi dan Raka terlihat dekat.


Raka tersenyum lalu melihat ke arah Thio,


“ kamu jangan termakan omongan mami, aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun pada gadis itu, hubungan kami murni secara profesional” ujar Raka tersenyum penuh arti. Dia menyadari jika Thio memiliki perasaan lebih pada Dewi, hal itu terlihat saat Thio mencuri-curi pandang pada Dewi.


Thio menatap Raka yang menerawang menatap langit,


Fiks... si bos pasti lagi ke ingat ama mantan tunangannya gumam Thio dalam hati menatap prihatin pada bos sekaligus sahabatnya.


“apa bos masih belum bisa melupakan Sabrina?” tanya Thio to the point membuat Raka menatap ke arahnya sejenak. Pandangannya kembali melihat langit malam yang di selimuti dengan bintang-bintang yang berkerlap-kerlip,


“jujur... aku masih belum bisa melupakannya. Aku tahu ini salah memiliki perasaan pada perempuan yang sudah bersuami, tapi... aku tidak bisa membohongi perasaan ini” ujar Raka.


“ayolah bos... udah saatnya move on, jangan terpaku pada cerita cinta yang udah berakhir. Masih banyak cewek-cewek cantik dan mungkin lebih baik dari Sabrina, gua yakin bos bisa menemukannya” ujar Thio menyemangati Raka.


“huuuh... entahlah Yo” ujar Raka sambil menghela nafas berat , dia kembali melamun memikirkan perkataan Thio.

__ADS_1


Aku juga ingin terbebas dari perasaan ini, tapi aku benar-benar tidak bisa melupakan perasaanku kepada Sabrina gumam Raka dalam hati sambil menghela nafas panjang.


Australia waktu setempat..


Sabrina tengah tertidur nyaman di samping Nicholas yang duduk bersandar di kepala ranjang, dia memangku laptop di atas pahanya dan sibuk dengan beberapa pekerjaan yang harus segera di selesaikan.


Sabrina yang tertidur nyenyak tengah berada di dunia alam mimpi, dia tengah berada di sebuah pantai dengan air biru yang indah. Wangi air laut begitu terasa sangat nyata, Sabrina menikmati keindahan pemandangan laut yang di suguhi oleh alam.


Tiba-tiba dari belakang Sabrina ada sesuatu yang memegang kakinya,


“waaa...aaa...waaa...mmmmp... aaa” terdengar suara khas bayi yang tengah berdiri dengan menopang pada kaki Sabrina.


"hei.... (tersenyum senang sambil duduk memegangi tangan mungil bayi itu) kamu siapa? Di mana ayah dan ibumu?” sapa Sabrina sambil menggendong bayi yang terlihat baru pandai berdiri. Mata cantik Sabrina menatap bayi itu yang memiliki warna mata biru mirip dengan warna mata Nicholas,


“warna matamu begitu indah, sama persis dengan milik suami ku Nicho,” ujar Sabrina menatap bayi dalam gendongannya.


“Brinaa...” terdengar suara panggilan Nicholas, Sabrina mencari ke sana kemari pemilik suara itu.


“Nicho... “panggil Sabrina kembali, dia menemukan Nicholas yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2