Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 177


__ADS_3

John tengah bersiap-siap dengan senjata di tangannya, begitu juga anak buahnya yang sedang mempersiapkan senjata dari yang laras panjang hingga laras pendek. Raut wajah John terlihat sedih menatap ke arah putra satu-satunya, dari sudut matanya terlihat kilatan bening air mata yang di tahannya.


“grand Master, we are ready?!(tuan besar, kami sudah siap?!)” Ujar tangan kanan John, di tangannya ada senjata api laras panjang tipe AK- 74 M yang sudah siap untuk beraksi. Kilatan tatapan mata John berubah dingin dan kejam, salah seorang anak buah menyerahkan senjata ke tangannya. John dan anak buahnya bersiap-siap untuk melangkah keluar apartemen, tapi tiba-tiba saja langkah mereka terhenti.


PRAAANGGGG....


Mereka semua serentak melihat ke arah belakang menatap setiap sudut ruangan itu, Mata mereka terbuka lebar menatap ke satu arah dengan raut wajah panik dan cemas.


****


Jakarta waktu setempat...


Adrian tengah menatap ke arah kaca yang membatasi ruang ICU dengan ruang tunggu, Arman tengah terbaring dengan peralatan medis menempel pada bagian dada. Bagian Hidung terpasang alat bantu pernapasan, jarum infus dan peralatan lainnya juga terpasang pada tangan Arman.


Mata Adrian menatapi layar yang menunjukkan sebuah grafik yang terlihat naik turun, dia menghela nafas panjang teringat dengan apa yang di ucapkan oleh Dokter tentang keadaan Arman.


“tuan Arman berada dalam fase koma akibat racun yang di minumnya, walaupun beliau sudah meminum obat penawar...” dokter itu tampak terdiam sejenak menatap ke arah Arman yang terbaring, begitu juga dengan Adrian. Dia kembali mengalihkan pandangan ke arah dokter yang berdiri di hadapannya,


“karena beliau menolak untuk di selamatkan, kami tidak bisa berbuat banyak. Sebaiknya anda segera memberi tahu keluarga tuan Arman” ujar dokter yang menyayangkan sikap Arman.


Adrian berdiri dari kursi ruang tunggu melangkah ke arah kaca ruang ICU, matanya kembali menerawang teringat dengan kejadian di ambulance saat dalam perjalanan menuju rumah sakit. Arman sempat tersadar, matanya terlihat tidak fokus dan tangannya terlihat menggapai di udara. Adrian memegangi tangan Arman,


“Ka... kita... ada di.... mana...?!” ujar Arman terbata-bata dan melemah.


“tuan Arman kita ada di ambulance, sebentar lagi kita akan sampai di rmah sakit” ujar Adrian dengan raut wajah sedih. Arman yang sekarat dapat merasakan rasa sakit di tangannya yang terpasang jarum infus, tangan lainnya menggapai-gapai tangan yang terpasang infus dan hendak mencabutnya.


“jangan tuan.... jangan anda cabut, jika anda cabut kemungkinan anda untuk sembuh seperti sediakala sangat tipis” ujar petugas ambulance yang duduk di samping Adrian.


“tidak... ti... dak.... biar... kan .... aku... mati.... ini adalah.... hukuman.... yang.... harus... aku....” ujar Arman terbata-bata menahan rasa sakit yang di rasakannya, kesadarannya pun mulai turun hingga kembali tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Kedua tangan Adrian masuk ke dalam saku celana yang di kenakannya, dia terus memperhatikan dan memonitor keadaan Arman.


Maafkan aku tuan, karena aku tidak bisa melaksanakan apa yang anda perintahkan. Aku siap menerima hukuman apa pun saat anda siuman nanti gumam Adrian dalam hati.


Ti ti ti ti ti ti ti ti ti ti ti ti ti ti ti ti ti


Terdengar suara cepat dari mesin yang mendukung kehidupan Arman, pada layar monitor grafik di sana menjadi garis lurus. Adrian tampak cemas saat dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam ruang ICU, defibrilator atau alat kejut jantung segera di pegang oleh dokter itu. Bagian dada Arman segera di buka dan di bersihkan dari alat-alat medis lainnya oleh dokter, perawat mempersiapkan defibrilator tidak lupa pada bagian alatnya di olesi gel.


“150... Clear... shock...”


“Naikkan 200”


“200, clear.... shock....”


Terdengar oleh Adrian yang berada di luar ruangan ICU aba-aba dokter yang melakukan upaya penyelamatan, dia terlihat sangat cemas dan khawatir. Dia lalu berdoa dalam hati untuk keselamatan dan kesehatan Arman, tangannya segera merogoh ponsel yang berada di saku celana. Adrian segera mencari-cari nomor ponsel milik keluarga Arman yang berada di Korea dan langsung menghubungi.


Rumah sakit besar di Australia...


“oh my god... Doktor Sabrina?!! (ya Tuhan.... Dokter Sabrina?!!)” ujar perawat mengenal Sabrina.


Mereka terkejut saat melihat kondisi Sabrina dengan dua luka tembak di punggungnya, Hati-hati mereka meletakkan Sabrina di atas brankar yang langsung di dorong menuju ruang gawat darurat. Saat dalam perjalanan ke rumah sakit, Jack sudah meminta pihak rumah sakit untuk mendatangkan dokter-dokter yang ahli di bidangnya. Sabrina segera di tangani oleh para dokter berpengalaman, mereka harus berpacu dengan waktu dan bertindak cepat untuk menyelamatkan Sabrina dan juga bayinya.


Para Dokter itu sempat terkejut saat melihat kondisi Sabrina, dengan segala upaya merek berusaha untuk menyelamatkan mereka berdua. Para dokter segera memerintahkan para perawat untuk menyiapkan beberapa kantong darah dengan tipe golongan darah A, Dokter Maria melakukan pekerjaannya dengan memeriksa kandungan Sabrina menggunakan alat USG.


“what about the results of the MRI? (bagaimana dengan hasil dari MRI?)” tanya dokter Maria masih memeriksa kondisi janin Sabrina.


“is being examined by doctor Jeremy, he also asks you to continue to pay attention to the condition of the fetus (sedang diperiksa oleh dokter Jeremy, beliau juga meminta anda untuk terus memperhatikan kondisi janin)” ujar salah satu perawat. Tidak berapa lama dokter Jeremy masuk ke dalam ruangan itu dan berbicara serius dengan dokter Maria.


“how is the condition of the fetus, doctor Maria? (bagaimana kondisi janinnya, dokter Maria?)” tanya Dokter Jeremy.

__ADS_1


“not good, we have to do surgery immediately or both will not survive (tidak baik, kita harus segera melakukan operasi atau keduanya tidak akan selamat)” ujar Dokter Maria.


“prepare the operating room now and transfer the patient there immediately!!! (persiapkan ruang operasi sekarang dan pindahkan segera pasien ke sana!!!)” ujar Dokter Jeremy.


“the operating room is ready doctor (ruang operasi sudah siap dokter)” ujar salah seorang perawat.


“take the patient there immediately (segera bawa pasien ke sana)” ujar Dokter Jeremy melangkah keluar ruangan untuk bersiap-siap, di bantu dengan dokter Maria yang bertugas mengawasi keadaan janin dalam kandungan Sabrina.


Yohan dan Jack tengah duduk di ruang tunggu tepat berada di depan ruang emergency, mereka serentak berdiri saat melihat brankar Sabrina di dorong menuju ruang operasi.


“how is our young lady doing? (bagaimana keadaan nyonya muda kami?)” tanya Yohan pada salah seorang perawat yang membawa beberapa file di tangannya.


“Doctor Sabrina's condition is not good, now she is being taken to the operating room for further treatment. excuse me (keadaan Dokter Sabrina tidak baik, sekarang beliau di bawa ke ruang operasi untuk penanganan selanjutnya. permisi)” ujar perawat itu bergegas menuju ruang operasi. Yohan, Jack dan salah seorang anak buah John mengikuti menuju ruang operasi, langkah mereka langsung terhenti saat beberapa petugas medis melarang mereka masuk.


“where are you all going? You can't enter here (anda sekalian mau ke mana? Anda tidak bisa masuk ke sini)” ujar petugas itu.


“we want to see the state of the young madam (kami ingin melihat keadaan nyonya muda)” ujar Jack memaksa masuk, namun petugas sama sekali tidak mengizinkan.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2