Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 40


__ADS_3

Berita kedatangan dokter baru di rumah sakit Arbecio, sudah menyebar seperti sambaran api yang terkena bensin. Para perawat dan dokter pembantu yang ikut mengoperasi Candra juga ikut membicarakan Sabrina.


Pembicaraan mereka membuat sebagian dokter muda dan perawat penasaran pada Sabrina. Mereka semakin tertarik saat tidak sengaja melihat Sabrina berjalan bersama Raka dan Adiwijaya menemui keluarga mereka.


“hei... itu dokter Sabrina... waaah cantik banget”


“yang di sebelah itu anaknya dokter Adrian bukan? Waaah mereka terlihat serasi sekali”


“cantik benar, pake hijab pula. Cocok ni jadi calon ibu dari anak-anak gua”


“mimpi jangan siang hari bos. Sholat aja hanya saat jumatan aja mo mimpi milikin bidadari”


Para perawat pria dan perempuan saling memberi komentar baik negatif juga positif, ada juga yang berkeinginan untuk menjadi seseorang yang spesial bagi Raka dan Sabrina.


Wibisana tersenyum saat melihat perubahan wajah Raka yang menunjukkan rasa cemburu.


“Raka Candra Wiguna, kenapa memalingkan wajah kamu dan tidak menjawab pertanyaan mami?” Helena menatap tajam Raka.


“ maaf mi, tadi ada sesuatu yang harus raka diskusikan dengan Wibi” ucap Raka, dia menatap ke arah keluarga Adiwijaya menanti jawaban dari Raka.


“jadi...” tanya Helena sangat penasaran. Raka menatap ke arah Sabrina yang tampak menundukkan pandangannya, dengan wajah merona merah menambah kecantikan hakiki pada Sabrina.


Panah cupid pun memanah tepat di hati Raka membuat hatinya menghangat, Helena dan kedua keluarga menunggu jawabannya.


“haaa” Raka menatap ibunya yang masih senantiasa menunggu jawabannya.


“Ya Allah, Raka... Mami kira kamu kuliah di luar negeri bisa lebih pintar dalam urusan hati. Tapi malah sekarang malah seperti orang linglung” Helena sangat gemas dengan Putra pertamanya.


Dalam hati Raka sebenarnya dia ingin mengungkapkan kebenaran dari perasaan yang di rasakannya, tapi dia masih merasa ragu. Dia merasa ragu dengan perasaan yang di miliki, Raka ingin memastikan perasaannya pada Sabrina. Dia tidak ingin kelak menyakiti sabrina dengan perasaan suka yang hanya sementara.


Raka memiliki prinsip menikah hanya sekali dan dia ingin memiliki satu-satunya istri yang benar-benar dia sayangi juga cintai.


“Raka....” Helena semakin tidak sabaran.


“mi.... Maaf lebih baik kita fokus dengan pernikahan Bima dan Anjani” ujar Raka membuat Helena dan lainnya kecewa. Sabrina menatap Raka, entah mengapa dia merasakan rasa sedih dan kecewa di hatinya.


“Tapi...” belum selesai Helena berbicara Adrian merangkul bahu istrinya mengajak istrinya untuk berbicara dengan keluarga Cakra.


Wiyasa menatap ke arah Raka, dia dapat mengerti ada keraguan di hati pemuda tampan di hadapannya. Dia menatap istrinya Andhini yang tampak murung.

__ADS_1


“Kenapa dek? Kenapa wajah kamu terlihat sedih dan khawatir?” bisik Wiyasa pada Andhini.


“Aku.... Aku sedih mas. Sabrina harus di langkahi oleh Anjani, aku takut jika nantinya kelak Sabrina nggak mendapatkan jodoh. sebenarnya aku sangat berharap jika Sabrina dapat menikah terlebih dahulu. Tapi....” Andhini terlihat sedih.


“Astagfirullah dek... Jangan seperti itu. Ingatlah dek, Allah itu maha Adil dan maha Tahu apa yang terbaik untuk umat-Nya. Ini bukanlah perlombaan siapa yang harus lebih dulu menikah, dek ingat rezeki, jodoh dan maut itu Allah yang mengatur” jelas Wiyasa pada Andhini.


“Astagfirullah.... Maafin adek mas. Adek takut jika Sabrina di langkahi dia akan jauh dari jodohnya” Andhini tersadar dari kekeliruannya.


“Dek ingatlah, setiap manusia itu sudah di atur jodohnya oleh Allah. Kalo sekarang Anjani yang menikah lebih dulu itu udah suratan. Kita tidak boleh merasa kecewa dengan apa yang sudah di tentukan oleh Allah” Wiyasa menasihati Andhini dengan tenang. Andhini menyadari kesalahannya, mengucapkan istigfar berkali-kali di dalam hatinya.


Eliana dan Asmirah tampak kecewa dengan apa yang di katakan oleh Raka, mereka sedih karena Raka tidak jujur dengan perasaannya. Wibisana, Bima dan Thio dapat melihat kekecewaan di wajah kedua gadis itu,


“Udah jangan kecewa. Kalian nggak gagal kok” ujar Wibisana.


“Nggak gagal gi mana kak Wibi. Maksud hati mau comblangin tu beruang es, eh malah si beruang esnya dingin gitu. Padahal udah sering juga curi-curi pandang ke mbak Sabrina” protes Eliana.


“kalian jangan menilai hanya dari sudut pandang kalian. Pernikahan itu bukanlah sebuah permainan, ada sebuah tanggung jawab dan komitmen yang harus di jalani. Banyak pertimbangan yang harus di pikirkan, apa lagi kak Raka dan dokter Sabrina baru bertemu sekarang. Jika perasaan kak Raka hanya sekedar suka dan tidak ada cinta di dalamnya, bukankah itu hanya akan menyakiti dan tidak adil bagi dokter Sabrina?” jelas Bima, wajahnya masih tampak lebam.


Asmirah dan Eliana tersadar saat Bima menjelaskan panjang lebar bagaimana posisi Raka saat ini. Mereka mengerti jika Raka ingin memastikan perasaannya, apakah nyata dan murni untuk Sabrina atau hanya sebatas rasa suka saja.


Kedua keluarga pun kembali ke pembicaraan Awal tentang pernikahan Anjani dan Bima. Keluarga Adiwijaya sepakat jika pernikahan anak mereka akan di laksanakan dua bulan ke depan saat Candra sudah sembuh total. Mereka hanya akan melaksanakan akad nikah secara sederhana dan hanya di hadiri keluarga juga sahabat.


Dalam perundingan, Raka berkali-kali memperhatikan Sabrina. Matanya tidak dapat berpaling dari perempuan berhijab Syar’i yang duduk di samping Anjani.


“siapa yang...” Raka menatap Thio yang tersenyum jahil.


“jadi, apa yang bikin bos ragu?” tanya Thio.


“Aku bukan ragu, aku hanya ingin memastikan perasaan di hatiku” Raka mencoba fokus dengan pembicaraan kedua keluarga


“ lalu bagaimana perasaanmu?” Tanya Thio penuh selidik.


“Aku....” Raka bingung, dia masih belum tahu bagaimana perasaannya pada Sabrina.


“Jika kamu ragu, berarti aku bisa maju dong buat mencalonkan diri menjadi calon suami dokter Sabrina” kata thio dengan sengaja.


Mendengar pernyataan mengejutkan dari Thio, membuat Raka menatap tajam ke arahnya. Thio segera tersenyum melihat tingkah sahabat sekaligus bosnya.


Kedua keluarga akhirnya keluar dari ruangan itu, keluarga Adiwijaya memutuskan kembali ke rumah Cakra untuk beristirahat. Adiwijaya masih ingin di rumah sakit bertemu dengan Candra, berbicara tentang masa lalu. Adiwijaya juga ingin berpamitan karena harus secepatnya kembali ke Surakarta.

__ADS_1


Adiwijaya duduk di samping Candra di temani Adrian, sementara itu keluarga Wiguna yang lain kembali pulang untuk beristirahat sejenak. Raka, Bima dan Thio pergi ke kantor untuk mengusut permasalahan penjebakan yang di lakukan Rani. Helena dan Eliana di antar pulang ke rumah oleh Wibisana.


Sabrina duduk di sofa ruangan Candra sambil membaca e-mail di ponsel miliknya. Sesekali mata indahnya menatap Candra dan Adiwijaya berbicara sambil tertawa senang mengingat masa lalu mereka. Adrian merasa terasingi oleh Adiwijaya dan Candra memilih duduk di sofa single berseberangan dengan Adrian.


“ Boleh saya ikut duduk di sini?” tanya Adrian pada Sabrina yang fokus dengan ponselnya.


“Silahkan dokter Adrian” Sabrina menatap Adrian yang duduk di depannya.


“maaf jika saya mengganggu anda, saya merasa seperti obat nyamuk jika masih duduk di sana” Adrian sedikit mengeluh di iringi senyuman yang terukir di bibirnya.


“begitulah Eyang kakong, jika sudah bertemu dengan teman lama beliau pasti akan lupa dengan sekitar” Sabrina menatap Eyangnya yang tertawa lepas.


“o ya Dokter Sabrina, Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih banyak anda sudah menyelamatkan papa dan anda sudi datang padahal seharusnya ini masih masa libur anda”


“anda jangan mengucapkan terima kasih Dokter Adrian, sudah menjadi kewajiban seorang dokter melakukan yang terbaik untuk pasiennya bukan?”


“Anda benar Dokter Sabrina. sungguh suatu keberuntungan anda mau bergabung di rumah sakit ini, selamat Datang dan selamat bergabung dokter Sabrina” sambut Adrian secara resmi pada Sabrina.


"terima kasih dokter Adrian, insya Allah saya akan berkerja dengan sebaik mungkin" Sabrina tersenyum hangat.


Setelah sholat Ashar Sabrina dan Adiwijaya berpamitan pulang ke rumah Cakra. Tidak lupa pula, Adiwijaya menyampaikan jika dia dan keluarganya akan kembali ke Surakarta. Walau terasa berat bagi Candra harus berpisah dengan sahabatnya, dia tetap menghormati keputusan Adiwijaya.


*************


dear para Reader yang paling baik hati...


mohon maaf jika "Cinta Sabrina" hanya up Satu episode...


karena musim penghujan, kondisi fisik author sedikit drop 🤒🤒🤒🤒 jadi sedikit agak kurang fokus...


secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author 😊😊😊


*dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss***🙏🏻🙏🏻🙏🏻**


*jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat***💪🏻💪🏻💪🏻 **buat nulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ all...


__ADS_2