
Melihat kedatangan Sabrina, Arman sudah berada di posisi yang tidak menguntungkan. Dia semakin terpojok dengan Nicholas yang menatapnya dingin, dia sempat menatap ke arah Adelia yang menggelengkan kepalanya untuk mencegah papanya berbuat ceroboh. Namun, Arman sudah tidak bisa lagi menahan diri.
“ Mr. Nicholas, you have seen that this young man is Sabrina's fiancé. Regarding your agreement with Arman, it's not our business at all, you'd better leave our residence right now. (tuan Nicholas, anda sudah melihat jika pemuda ini adalah tunangan dari Sabrina. perihal perjanjian anda bersama Arman itu sama sekali bukan urusan kami, lebih baik anda segera meninggalkan kediaman kami sekarang juga.)” ujar Cakra dengan sopan meminta Nicholas untuk pergi.
“and one more thing Mr. Nicholas. it is very clear that if he owes you of course the one who should be guaranteed is the daughter he loves very much, not my daughter Sabrina. (dan satu hal lagi tuan Nicholas. sudah sangat jelas jika dia berhutang kepada Anda tentunya yang seharusnya menjadi jaminan adalah putri yang sangat dia sayangi, bukan putriku Sabrina.)” Wiyasa memandang tajam ke arah Arman sambil menegaskan Sabrina adalah putrinya.
Kali ini pemilik mata tajam dan dingin menatap ke arah Adiwijaya, sangat terasa aura dingin menusuk tulang. Tatapan intimidasi seorang mafia yang paling di takuti di Australia, Adiwijaya merasakan ada bahaya menentang pria muda di hadapannya.
Hati Sabrina sempat terluka oleh ucapan Arman langsung terobati oleh pernyataan Wiyasa, dia yang sempat galau tingkat dewa perlahan merasa hangat dan senang. Dia ingin melangkah keluar untuk menghampiri Wiyasa langsung di hentikan Asmirah dan Eliana.
“Mbak.... Lebih baik kita di dalam saja dulu” pinta Asmirah, dia tampak gelisah dan tidak tenang. Diakui Asmirah Nicholas memiliki wajah yang tampan dan kepribadian yang berbeda, namun entah kenapa dia merasakan firasat yang tidak enak saat melihat pemilik mata harimau itu.
“kenapa dek?” tanya Sabrina heran melihat sikap Asmirah.
“Lebih baik....” perkataan Eliana terhenti mereka Bersamaan menatap ke arah pintu keluar. Mereka saling berpandangan saat mendengar suara kursi yang di geser dengan keras.
Greeet....
Nicholas berdiri dari tempat duduknya, ada kemarahan di hatinya. Dia sangat tidak senang dengan penolakan dari keluarga Adiwijaya, dia semakin kesal saat melihat Raka yang menatapnya dengan penuh kemenangan.
“wow... fantastic, I came here nicely to pick up Sabrina. I haven't said anything that offends you all this time, but you all treat me like this. ( wow... fantastis, aku datang kemari secara baik-baik untuk menjemput Sabrina. sedari tadi pun aku tidak melontarkan kata-kata yang menyinggung anda semua, tapi anda semua memperlakukan ku dengan seperti ini.)” Nicholas menatap dingin dan tajam ke arah Adiwijaya juga lainnya yang ikut berdiri dari kursi mereka.
Sabrina berada di ruang tamu merasakan debar jantungnya yang sangat cepat, dia sangat khawatir dengan Eyang, bapak juga lainnya.
“sorry, if you feel offended. but the arrival with your intention here at all we do not accept. ( Raka melangkah tepat di depan Nicholas, mereka saling bertatapan tajam satu sama lain) one more thing sir, Sabrina is my future wife and I won't let anyone hurt her. ( maaf, jika anda merasa tersinggung. tapi kedatangan dengan maksud anda di sini sama sekali tidak kami terima.... satu hal lagi pak, sabrina adalah calon istri saya dan saya tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya.)” ujar Raka tegas, senyuman smirk tersungging di wajah tampan Nicholas.
__ADS_1
“good luck with it, but remember Mr. Raka i always get what i really want (semoga beruntung dengan hal itu, tapi ingat tuan Raka aku selalu mendapatkan apa yang sangat aku inginkan)” Nicholas menatap lekat mata Raka.
Anak buah Nicholas tampak bersiaga, mereka perlahan-lahan memegang senjata api di balik jas hitam itu.
Arman tidak ingin kehilangan kesempatannya untuk menyelamatkan perusahaan dan Adelia. Dia juga ingin memberikan pelajaran kecil pada Raka yang sudah menolak kerja sama bersamanya.
“Mr. Nicholas you calm down, I will bring that damn woman in front of you. (tuan Nicholas anda tenang saja, saya akan membawa perempuan sialan itu ke hadapan anda.)” ujar Arman menunjukkan kebenaran dirinya. Nicholas menatap ke arah Arman, dia sangat tidak senang dengan apa yang di ucapkan Arman tentang Sabrina.
Keluarga Adiwijaya dan Wiguna merasa sangat geram dengan apa yang mereka dengar. Arman menatap ke arah Adiwijaya dengan tatapan kesal, dia bermaksud melangkah menuju pintu masuk kediaman Adiwijaya. Cakra, Adiwijaya termasuk para wanita berdiri menghalangi Arman.
"Mau ke mana kamu?” Adiwijaya menatap tajam Arman.
“minggir kalian semua, sudah seharusnya anak pembawa si*l itu membayar hutang darah yang mengalir di dalam tubuhnya dengan menjadi jaminan untuk putriku ” Ujar Arman memicu amarah para lelaki keluarga Adiwijaya dan Wiguna.
Sabrina mendengar apa yang di ucapkan ayah kandungnya sangat terpukul, hatinya terluka dan merasa sangat sakit. Asmirah dan Eliana segera memegangi kedua lengan Sabrina yang terlihat rapuh.
“mbak... mbak ndak apa-apa dek, kalian tunggu di sini yo” Ujar Sabrina meminta Asmirah dan Eliana tetap berada di ruang tamu. Sabrina melangkah masuk ke arah Dapur di mana mbok Darmi tidak tampak terlihat, mata indah itu menatap ke arah pisau yang tersusun rapi di rak pisau.
Tanpa pikir panjang Sabrina mengambil pisau itu dan langsung mengiris dengan kuat tepat di tangan kanan yang tertutupi lengan panjang baju syari. Darah segar mengalir menetes hingga membasahi lengan baju Sabrina, rasa sakit di tangannya tidak sebanding dengan rasa luka di hatinya atas ucapan Arman.
Mata Asmirah dan Eliana terbuka lebar saat melihat darah yang mengalir deras di tangan kanan Sabrina, mereka bergegas menghampiri Sabrina berusaha untuk menghentikan pendarahan di tangannya.
“Mbaaaak....” Eliana akan memegangi tangan Sabrina segera di hentikannya, dia melangkah mantap ke pintu kediaman Adiwijaya.
Wiyasa mencengkeram kuat kerah baju Arman, sebelah tangannya bersiap untuk melayangkan pukulan telak ke arah Arman.
__ADS_1
Braak...
Pukulan akan di layangkan Wiyasa seketika terhenti saat mendengar pintu di buka, semua mata melihat ke arah pintu di mana Sabrina berdiri menatap ke arah Arman.
“Sabrinaaa...” Andhini terkejut saat melihat darah di tangan kanan putrinya mengalir deras, menetes membasahi lantai marmer putih.
Wiyasa mendorong Arman hingga mundur beberapa langkah berdiri tepat di samping Nicholas. Semua tampak sangat khawatir dengan kondisi Sabrina, wajahnya sudah mulai tampak pucat. Andhini dan Wiyasa akan menghampiri Sabrina, tapi langkah mereka terhenti saat Sabrina berjalan mendekati Arman.
Sabrina menghampiri Arman yang menatap tidak senang ke arahnya, mata indah Sabrina sempat melihat ke arah Nicholas yang berdiri di samping Arman.
Nicholas dapat merasakan ada begitu banyak kupu-kupu yang beterbangan di dadanya, dia merasakan sebuah perasaan asing yang selama ini tidak pernah di rasakan menguasai dan menghangatkan hatinya.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ all...