Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 37


__ADS_3

Bima menghampiri Candra dengan menunduk sedih,


“opa....” sapa Bima tidak berani menatap Candra.


“kamu tidak senang opa sadar?” tanya Candra dengan wajah serius,


“nggak opa.... itu nggak benar... Bima sangat senang opa akhirnya sadar” Bima menatap Candra.


“jika kamu senang opa sadar, kenapa kamu berdiri jauh dari kami. Kemarilah... “ Candra mengisyaratkan Bima untuk mendekat dengan senyuman ramah tersungging di bibirnya.


“opa maafkan Bima, karena kejadian di hotel itu, opa harus seperti ini” Bima sangat menyesal dengan apa yang terjadi.


“Sudahlah, semua sudah terjadi. Opa yakin kamu tidak bersalah dalam hal ini, sekarang yang lebih penting masa depan Anjani” Candra menyadari jika Bima dan Anjani sudah di jebak oleh orang lain.


“opa tenang saja, sekarang kami sedang menyelidiki siapa yang sudah menjebak Bima” Raka sudah mulai bergerak dengan mengutus Thio untuk mencari kebenaran.


“Raka...” panggil Candra


“iya opa” Raka kini berdiri di samping Bima,


“sebaiknya kamu katakan sebenarnya bagaimana hubungan mu sebenarnya dengan Anjani?” Candra menatap serius semua anggota keluarganya. Mau tidak mau Raka menceritakan kejadian yang sebenarnya dan ke salah pahaman Helena, mendengar hal itu Candra hanya diam.


Wajahnya menyiratkan kesedihan, Candra kini mengerti demi melindungi dirinya seluruh keluarga terpaksa melanjutkan sandiwara yang mereka buat.


***


Di sebelah ruangan Candra, Wiyasa memberi tahu keluarganya jika Sabrina pingsan akibat kelelahan dan di rawat di rumah sakit. Mendengar kabar cucunya terbaring kelelahan di rumah sakit, Adiwijaya meminta putranya Cakra untuk mengantar ke rumah sakit.


Para perempuan di keluarga Adiwijaya juga ingin melihat Sabrina, begitu pun Araf yang sudah rindu pada adik sepupunya. Adiwijaya tidak banyak bicara saat mereka semua ingin ikut, untuk mencegah dan memberi pengertian pada para perempuan di keluarganya lebih sulit dari pada menghadapi ujian di sekolah.


Alhasil mereka berbondong-bondong datang ke rumah sakit di mana Sabrina melakukan operasi. Mobil milik Cakra tidak dapat menampung seluruh keluarganya, Asmirah pun memesan taksi online untuk mengantar mereka ke rumah sakit.


Semula Anjani tidak ingin ikut, namun dia juga mengkhawatirkan keadaan Candra opa Eliana. Wulan yang semobil dengan Anjani dan Asmirah tahu jika putrinya gelisah, dia memegang tangan Anjani berusaha untuk menenangkannya.


Wulan memaksakan dirinya untuk tersenyum dan memberi semangat pada Anjani, walaupun sebenarnya kini hatinya juga gelisah. Dia masih belum memberitahukan keadaan Anjani pada Cakra suaminya, saat akan menyampaikan apa yang terjadi pada putrinya ada saja yang menghalanginya.


Mobil yang di kendarai Araf memasuki parkiran mobil di rumah sakit, begitu juga mobil taksi online yang di tumpangi Wulan dan kedua putrinya memasuki pelataran rumah sakit.


Wulan dan kedua putrinya menunggu Cakra dan yang lainnya di pusat informasi. Mereka juga sudah menanyai di mana ruang Sabrina yang juga bersebelahan dengan kamar Candra.


Cakra dan lainnya segera menghampiri Wulan, lalu bersama-sama menuju ke ruangan Sabrina. Mereka menaiki lift menuju lantai VVIP lalu bergegas menuju kamar Sabrina


Keluarga Wiguna terheran-heran saat mendengar sedikit keributan di lorong lantai VVIP. Wibisana berinsiatif melihat keluar kamar Candra,

__ADS_1


“eh... om Cakra, tante Wulan, semuanya ada di sini?” Wibisana terkejut saat melihat mereka berbondong-bondong datang ke rumah sakit.


“Iya, Wibi. Semuanya pengen ikut, sebentar ya Wibi kami ke sebelah dulu” Cakra dan yang lainnya menuju kamar Sabrina meninggalkan Wibisana menatap ke arah kamar Sabrina.


“kenapa Wibi?” tanya Adrian dengan menepuk lembut pundak Wibisana.


Mereka berdua kembali menghampiri Candra dan yang lainnya,


“opa, Tante, om. Keluarga Adiwijaya ada di sini, menurut Wibi sebaiknya masalah antara Anjani dan Bima segera di bicarakan. Aku takutnya jika keluarga Adiwijaya mengetahui dari orang lain akan menambah masalah ini semakin runyam” jelas Wibisana,


“benar kata Wibi, pi. Sebaiknya kita segera membicarakan masalah ini secepatnya agar tidak ada pihak ketiga yang mencoba mencari keuntungan dengan musibah yang kita hadapi” kata Helena.


Candra menganggukkan kepalanya pada Adrian untuk segera mengambil keputusan masa depan Anjani dan Bima. Sementara itu di kamar Sabrina yang baru terbangun dari tidurnya, terkejut dengan kedatangan seluruh keluarganya.


“kenapa semuanya bisa ada di sini?” tanya Sabrina kebingungan.


“kami terkejut saat mendengar kamu pingsan dan segera datang ke sini, bagaimana keadaan mu sekarang nduk?” tanya Andhini membelai kepala Sabrina yang tertutup hijab miliknya, dia masih memakai pakaian operasi.


“alhamdulillah, Sabrina baik-baik saja bu. Setelah habis infus ini Sabrina juga akan segera pulang ke rumah pak lek bu” Sabrina berusaha tersenyum walaupun bibirnya tampak pucat.


“kamu yakin nduk? Liat wajah kamu saja masih pucat begini” kata Wulan, duduk di samping Andhini.


“Iya bu lek, Sabrina udah baik-baik aja kok. (Mengedarkan pandangannya ke pada saudara-saudari sepupunya) mas Araf, Anjani, Asmirah” Sabrina tersenyum manis pada saudara dan saudarinya menambah kecantikan hakiki di wajah yang masih terlihat pucat.


Sejenak Anjani dapat melupakan kesedihannya, dia turut senang berkumpul dengan keluarga besarnya. Selang infus di tangan Sabrina sudah di lepas, keadaannya sudah membaik. Mereka lalu memutuskan untuk kembali ke rumah Cakra, sebelum kembali Sabrina ingin mengecek kondisi Candra.


***


Sabrina melangkahkan kakinya menuju ke ruang perawatan Candra yang tepat berada di sebelah kamarnya. Dia melangkah dengan di bantu Anjani dan Asmirah, keluarga Adiwijaya yang lain juga ikut melihat keadaan tetangga Cakra.


“Assalamualaikum” sapa Sabrina masuk ke dalam ruangan Candra. Semua yang ada dalam kamar menyahut sapaan Sabrina, Candra termangu menatap seorang gadis cantik yang kini berdiri di depannya.


Gadis ini....dia gadis yang aku lihat dalam mimpiku guman Candra dalam hati terkejut melihat Sabrina.


Raka kembali merasakan debaran di hatinya saat melihat Sabrina, dia merasakan begitu banyak bunga dan kupu-kupu yang beterbangan di dalam dadanya. Hal serupa yang juga di rasakan Sabrina, namun perasaan itu langsung di kontrol olehnya.


Sabrina tersenyum manis pada semua yang ada di kamar Candra,


“selamat siang tuan Candra, bagaimana keada....” Perkataan Sabrina terpotong saat Adiwijaya menatap Candra.


“Adi..” panggil Candra terkejut melihat Adiwijaya di samping Sabrina.


“Candra, Candra Wiguna” Adiwijaya tidak kalah terkejutnya saat melihat Candra yang terbari di Ranjang rumah sakit.

__ADS_1


Semua yang hadir di sana kebingungan melihat Candra dan Adiwijaya yang terlihat saling mengenal. Setetes cairan bening menitik dari mata Candra dan Adiwijaya membuat semua yang hadir di ruangan itu semakin kebingungan.


“Sudah begitu lama kita tidak bersua. Aku tidak pernah menyangka jika kita bertemu dalam keadaan seperti ini” Adiwijaya terlihat begitu sedih.


“tidak pernah terbayang oleh ku, dapat bertemu dengan sahabat lama yang begitu aku rindukan” candra menangis sedih.


Kini semua yang ada di ruang perawatan Candra tahu jika Adiwijaya dan Candra bersahabat. Mereka pun memilih keluar dari ruang perawatan meninggalkan Sabrina, Raka dan Adiwijaya.


Sebelum keluar dari ruangan Candra, Raka memberi tahu Adrian jika mereka sudah mendapatkan bukti tentang penjebakan Bima dan Anjani. Raka juga memberi tahu jika Thio dalam perjalanan menuju rumah sakit membawa bukti itu.


*************


secepatnya author akan up lagi tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya...🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ all...


author halu check....



Sabrina Zalfa kusumo atau Sabrina Zalfa Adiwijaya



Raka Candra Wiguna



Anjani



Bima

__ADS_1


__ADS_2