Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 167


__ADS_3

Tangan Adrian mematikan air shower yang sedari tadi hidup, di lantai ruangan shower itu dia masih melihat darah yang mengalir terbawa oleh aliran air ke saluran pembuangan air. Dia kembali menatap wajah Adelia yang sudah tampak memucat dan bibir membiru, Sebelah tangan Adrian terulur ke arah mata Adelia dan menutupnya.


“sigh.... semoga anda tenang di sana, Nona Adelia” ujar Adrian menghela nafas berat, dia tampak prihatin. Matanya memperhatikan setiap bagian tubuh Adelia, memastikan jika tidak ada luka atau tindakan kekerasan lainnya. Setelah memastikannya, Dia lalu bangkit dan melangkah keluar dari kamar Adelia menuju ke lantai bawah.


Pembantu itu tampak khawatir dan cemas, berkali-kali matanya menatap ke arah tangga menunggu Adrian turun dari lantai dua. Pembantu itu langsung menatap ke arah Adrian yang melangkah ke ruang makan, dia menatap lama Adrian dengan berbagai pertanyaan di benaknya. Adrian mengerti dengan arti tatapan dari pembantu itu, Dia lalu menggeleng perlahan memberi tahu jika Adelia sudah tidak tertolong lagi.


Pembantu itu bergegas menuju kamar utama di mana Indah berada, dengan tidak sabaran dia mengetuk pintu kamar utama itu.


Tok... tok... tok... tok.... tok...


Pembantu itu menunggu panggilannya di sahut oleh Indah dari dalam, namun sama sekali tidak ada sahutan yang terdengar. Adrian menatap Arman sejenak lalu dia melangkah menghampiri pembantu yang masih mengetuk kamar utama itu,


“bagaimana?” tanya Adrian.


“ndak ada jawaban dari nyonya Indah, tuan Adrian” ujar pembantu itu, raut wajahnya terlihat cemas dan khawatir. Adrian lalu mencoba membuka pintu kamar utama itu, tapi pintu itu tidak terbuka karena terkunci.


“apa ada kunci cadangan?” tanya Adrian masih mencoba memutar handle pintu itu.


“ada tuan... sebentar tak cari in dulu” pembantu itu bergegas menuju lemari kecil yang berada di samping kamar utama, dia membuka setiap laci lalu menemukan kumpulan kunci.


Pembantu itu segera memberikan kunci itu pada Adrian yang segera mengambilnya, dia dengan cepat mencoba satu persatu kunci yang ada hingga salah satunya berhasil membuka pintu itu.


Adrian segera membuka pintu dan masuk ke dalam kamar itu, langkahnya terhenti saat matanya menatap ke arah ranjang. Pembantu itu juga ikut masuk ke dalam kamar,


“astagfirullah....” pembantu itu segera mengalihkan pandangannya dengan menunduk, Adrian menatap ke arah ranjang di mana Indah dan Roy terbaring di sana tanpa mengenakan satu helai benang pun. Adrian memberanikan diri mendekat ke arah ranjang memperhatikan keadaan Indah dan Roy, pembantu itu memilih menunggu di depan pintu.


“nyonya... nyonya besar...” panggil Adrian sambil terus menghampiri ranjang itu, dia melihat keadaan Indah dan Roy yang sudah tidak bernyawa. Mata mereka terbuka lebar dengan tangan mereka masing-masing memegangi dada, pembantu itu ingin melihat ke dalam kamar tapi dia merasa canggung saat melihat kondisi Indah. Adrian memegang pergelangan tangan Indah untuk memastikan, tapi dia sama sekali tidak merasakan denyut nadi.

__ADS_1


Adrian berpindah ke arah Roy dan melakukan hal yang sama, tidak ada denyut nadi yang di rasakannya. Dia menghela nafas panjang lalu melangkah keluar dari kamar itu, pembantu yang menunggu di depan kamar menatap ke arahnya. Lagi-lagi Adrian menggelengkan kepala memberi tahu jika Indah dan Roy juga dalam kondisi yang sama dengan Adelia.


***


Thio membuka pintu apartemen miliknya dengan rasa malas dan kesal, dia melangkah menuju apartemen milik Raka yang satu lantai dengannya. Kening Thio berkerut saat melihat depan apartemen Raka, dia langsung di sambut dan di suguhi dengan pemandangan dua perempuan yang membelakanginya. Thio melihat salah satu dari perempuan yang berdiri tidak stabil hingga harus di pegangi oleh perempuan lainnya,


Ni cewek kayaknya mabuk berat... wah si Raka... di tinggal nikah ama Sabrina sekarang udah bisa main ama cewek, bukan hanya satu tapi dua sekaligus gumam Thio dalam hati sambil menggelengkan kepalanya. Dia lalu berdiri di belakang cewek melihat ke arah Raka yang tampak memijit kepalanya,


“waaah... bos. ternyata bos nackal juga ya” ujar Thio yang langsung di hadiahi tatapan tajam oleh Raka. Senyuman jahil tersungging di wajah tampan Thio, tangan kanannya terangkat dengan dua jari mengisyaratkan tanda ‘peace’.


Dewi menolehkan wajahnya menatap ke arah Thio yang terkejut saat melihat bidadari pencuri hatinya,


“Dewi”


“Pak Thio”


Masing-masing mereka tampak terkejut dengan pertemuan yang tidak terduga, Raka menghela nafas panjang.


Tangan Thio terulur memegangi tangan Angel, dia segera membantu memegangi agar gadis itu tidak jatuh.


“biar aku bantu” ujar Thio dengan sigap mengangkat tubuh Angel dan membopongnya. Dewi merasa terbantu dengan bantuan dari Thio, tangan kirinya memegangi tangan kanan yang sudah sedikit merasa lelah. Batuan dari Thio sangat berarti bagi Dewi yang teringat bagaimana payahnya dia nanti saat membawa Angel kembali ke apartemen mereka.


“terima kasih banyak pak Thio atas bantuan anda, maaf kami sudah merepotkan anda” ujar Dewi terlihat tidak enak hati.


“udah nggak usah minta maaf segala, di bawa santai aja Wi. O ya, kamu kenapa bisa ada di depan apartemennya Raka?” tanya Thio penasaran dengan kehadiran Dewi dan temannya,


“itu... aku dan temanku menyewa apartemen di gedung ini juga. Kami ada di lantai bawah, karena mabuk berat Angel sudah salah mengetuk dan masuk ke apartemen pak Raka” ujar Dewi menceritakan apa yang terjadi.

__ADS_1


Thio melihat ke arah Raka yang terlihat menatap ke arah mereka bertiga, kedua tangannya masuk ke dalam saku celana.


“kamu antar mereka” ujar Raka dingin, Thio yang hendak protes langsung terdiam saat ponsel milik Raka berbunyi. Dia langsung mengangkat ponselnya dan tampak berbicara serius dengan orang yang menelepon dari seberang sana, Thio dan dewi saling berpandangan satu sama lain.


“sebaiknya sekarang kita ke apartemen kamu, biar tema kamu ini bisa istirahat dengan nyaman” ujar Thio pada Dewi yang langsung menganggukkan kepalanya. Mereka akan melangkah menuju lift, namun Thio menghentikan sejenak langkahnya menatap ke arah Dewi.


“kenapa pak?” tanya Dewi bingung.


“sorry Wi, tapi bisakah kamu membantu aku untuk menutupi pintu kamarnya Raka?” tanya Thio melihat ke arah pintu apartemen Raka yang masih terbuka. Dewi tersenyum manis lalu melangkah menuju ke pintu apartemen Raka dan menutupnya, sejenak dia melihat Raka yang membelakanginya.


Dewi... kamu harus move on dari cinta bertepuk sebelah tangan ini, hati pak Raka tidak akan bisa kamu miliki lagi karena hati itu sudah di miliki orang lain gumam Dewi dalam hati menatap sendu lalu perlahan menutup pintu apartemen itu. Thio membopong Angel berdiri tepat di depan pintu lift, tangannya hendak menekan tombol lift tapi tidak bisa. Dewi yang melangka ke arah lift menatap Thio yang tampak kepayahan, dia bergegas menghampiri dan membantu Thio menekan tombol lift.


Weeooo.... weeoooo.... weeooo...


Terdengar sirine khas mobil ambulance yang memasuki perkarangan kediaman Arman, pembantu lain segera membuka pintu dan mempersilahkan para petugas untuk melaksanakan pekerjaan mereka. Adrian ikut membantu para petugas mengangkat tubuh Arman ke atas emergency stretcher, dengan hati-hati mereka membaringkan dan mendorongnya menuju ambulance yang menunggu di luar.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2