
“hold up.... I think this can all be discussed calmly, where is your hospitality towards guests? ( Tahan... aku pikir ini semua bisa dibicarakan dengan tenang, di mana keramah tamahan kalian terhadap tamu?)” ujar Nicholas menyindir halus keluarga Adiwijaya. Tatapan mata tajam itu memandang rendah ke arah Arman, dia lalu mengalihkan pandangannya pada keluarga Adiwijaya dan Wiguna.
Wiyasa sangat geram dan ingin sekali dia melayangkan pukulan tepat di wajah Arman.
“ there's nothing to talk about with a lowly human like him, you better get out of here. (tidak ada yang perlu di bicarakan pada manusia rendahan seperti dia, sebaiknya kalian angkat kaki dari sini)” ujar Wiyasa pada Nicholas dengan pandangan tidak senang.
Adiwijaya menatap ke arah Nicholas yang menatapnya sedari tadi, seolah-olah mereka melakukan telepati satu sama lain. Tatapan Nicholas sangat tajam, Dalam dan begitu dingin, membuat siapa pun tidak merasa nyaman.
“Wiyasa.... biarkan dia masuk” Ujar Adiwijaya yang tidak melepaskan pandangannya.
“Tapi pak...” Wiyasa masih tetap menolak.
“ Mas...” Andhini mendekati dan memegangi lengan suaminya, dia merasa sangat tidak nyaman dengan orang-orang yang datang bersama mantan kakak iparnya.
“ of course we have hospitality, please sir to sit with us (tentu saja kami memiliki keramahtamahan, silahkan tuan untuk duduk bersama kami)” ujar Cakra waspada.
Nicholas tersenyum smirk berjalan masuk duduk bersama Arman, Adiwijaya, Cakra, Candra dan Wiyasa. Tampak terlihat dua kubu di beranda kediaman Adiwijaya. Suasana terasa mencekam, orang-orang berpakaian hitam termasuk Jack tangan kanan Nicholas tampak siap siaga berdiri di belakang bos mereka.
Sabrina merasakan debaran jantung yang begitu kuat, dia merasa perasaan yang tidak enak. Kain batik yang di lukisnya tampak sangat indah dengan corak yang ukiran buatannya, perasaan Sabrina tidak menentu, dia termenung sejenak hingga membuat lilin malam pada canting mulai mengering.
“wah mbak Sabrina... Lukisan bathik iku ayu banget, iki cocog kanggo upacara manten mbak ( wah mbak Sabrina... lukisan batiknya cantik sekali, cocok ini buat acara akad nikahannya mbak)” komentar salah seorang karyawan melihat kain batik yang masih di lukis Sabrina. Lamunannya seketika buyar saat mendengar sapaan ramah itu, Sabrina tersenyum sekena nya pada karyawan itu.
“i.... Iya mbak, ada apa yo?” Sabrina terbata-bata membalas sapaan itu. Karyawan itu tersenyum pada Sabrina, dia tahu jika Sabrina tidak mendengar perkataannya.
“Aku bilang lukisan batik mbak ayu banget, sangat bagus di pake saat mbak nikah nanti” ujar karyawan itu kembali, dia menatap mata Sabrina dan raut wajahnya menggambarkan ke khawatiran.
“Biasane Mbak, sing digawe luwih apik tinimbang Sabrina (biasa aja kok mbak, buatan mbak lebih bagus dari punya Sabrina)” ujar Sabrina merendah.
“mbak kenapa? napa sampeyan katon kuwatir banget lan ora inspirasi? (mbak kenapa? kok kelihatan cemas dan tidak bersemangat begitu?)” tanya karyawan itu menatap bingung Sabrina.
__ADS_1
“Ndak apa-apa mbak? Cuman perasaan Sabrina ndak enak mbak, rasanya terjadi sesuatu” Sabrina merasakan debaran jantungnya berdetak cepat.
“sudah siang lebih baik aku balik sekarang saja mbak, ntar orang-orang di rumah pada kuatir karena Sabrina belum pulang” ujar Sabrina menyudahi pekerjaannya, batik tulisnya di biarkan begitu saja untuk di keringkan.
Karyawan itu mengikuti Sabrina menuju parkiran sepeda dan motor.
“Mbak Sabrina, aku antar yo. Kebetulan searah mbak” tawar karyawan itu.
“Ndak usah mbak, Sabrina pakai sepeda saja, kangen jalan-jalan dengan sepeda ini” Sabrina menatap sepeda tua miliknya yang terawat dengan baik. Tangannya memegangi stang sepeda, terkenang olehnya masa saat dia sekolah dan mendapat hadiah sepeda dari Wiyasa karena meraih juara umum di sekolahnya dulu.
“Yo wes, aku duluan yo mbak” ujar Karyawan itu menaiki motor matic miliknya. Senyuman ramah dan anggukan di balas Sabrina pada karyawan itu yang mengendarai motornya menuju jalan utama.
Sabrina menaiki sepeda mengayuhnya menuju jalan utama, dia sedikit merasa kurang lancar karena sudah begitu lama tidak mengendarai sepeda. Lama kelamaan Sabrina mulai terbiasa dengan sepeda miliknya, angin sepoi-sepoi berhembus seiring dengan kayuhan kakinya. Perjalanan penuh kenangan begitu di nikmati Sabrina sambil menyapa orang-orang yang di kenalnya.
Sementara itu akuntan kepercayaan Adiwijaya tampak terburu-buru melangkah menuju ruangan di mana Sabrina dan karyawan lain melukis batik. Matanya menatap ke sekeliling ruangan mencari keberadaan sosok Sabrina. Dia juga bertanya pada karyawan lain yang menggeleng tidak tahu keberadaan Sabrina.
Beberapa menit yang lalu akuntan itu mendapat telepon dari Andhini yang memintanya untuk mencegah Sabrina pulang ke kediaman Adiwijaya.
“kenapa pak? Kok kelihatan panik?” tanya karyawan yang menemani Sabrina di parkiran. Dia terpaksa harus kembali ke pabrik untuk mengambil barangnya yang tertinggal.
“kamu lihat mbak Sabrina ndak?” Tanya akuntan itu.
“mbak Sabrina.... mbak Sabrina kan udah pulang dari tadi pak” ujar karyawan itu.
“APA?!!! (akuntan tampak bingung, kembali bertanya pada karyawan itu) Sudah berapa lama mbak Sabrina balik pulang?” tanya Akuntan itu pun sedikit panik, dia segera merogoh smartphone miliknya untuk menghubungi ponsel Sabrina.
“mungkin udah sekitar lima belas menitan pak,” ujar karyawan itu.
Terdengar nada sambung oleh akuntan itu, nada itu langsung terputus membuat akuntan itu semakin kebingungan. Dia kembali mencoba menghubungi hingga terdengar nada yang menyatakan jika ponsel milik Sabrina tidak bisa di hubungi.
__ADS_1
Sabrina menghentikan sepedanya saat mendengar nada notifikasi di ponsel pintar miliknya, mata indahnya menatap layar ponsel hitam.
“ aduuh... ponselku mati. Lebih baik aku balik ke rumah secepatnya” ujar Sabrina mengayuh kembali sepedanya menuju kediaman Adiwijaya.
Akuntan itu terus menerus mencoba menghubungi Sabrina, tapi masih tetap tidak tersambung. Dia lalu menghubungi Andhini untuk memberi tahu jika Sabrina dalam perjalanan pulang kembali ke kediaman Adiwijaya.
Berkali-kali dia terus mencoba menghubungi Andhini, terdengar nada sambung tapi tidak seorang pun yang mengangkat. Ponsel Andhini yang sedang di charger terus bergetar di atas nakas, hingga tertulis beberapa panggilan dari nomor yang sama.
***
Aura tidak menyenangkan terasa begitu kenal di ruang beranda itu, semua tampak begitu tegang. Nicholas meraih cangkir gelas berisi teh yang di hidangkan oleh mbok Darmi.
Walaupun Adiwijaya tidak senang dengan kehadiran Nicholas dan Arman di rumahnya, dia harus tetap memperlakukan tamu dengan baik.
“As you can see, I came here only to meet the woman that Mr. Arman would give me. you better not make it difficult....( seperti yang anda lihat, kedatangan ku kemari hanya untuk bertemu dengan perempuan yang akan di berikan tuan Arman pada ku. sebaiknya anda tidak mempersulitnya....” Nicholas belum menyelesaikan pembicaraannya langsung di sela oleh Raka yang tidak terima tunangannya di rendahkan.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
mohon maaf 🙏🙏🙏 karya Author akhir-akhir ini jarang update, di karenakan Author yang masih belum bisa fokus. Bulan ini terasa sangat berat bagi author karena kakek serta tante Author yang sudah pergi untuk selamanya 😭😭😭. Shock, sedih membuat author sempat ngeblank dan tidak tahu harus menulis apa, semua terjadi begitu mendadak.
Tapi berkat dukungan dan support para reader Author kembali mengupdate karya author walaupun tidak semuanya. Mohon maaf jika ceritanya sedikit membosankan dan membingungkan karena kondisi author yang masih belum fokus.
insyaallah secepatnya author akan update karya-karyanya. tetap terus dukung Author 🙏🙏🙏🙏 dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 😭😭😭
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...