Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 208


__ADS_3

“ndak apa – apa Bima, Jani. mbak ndak salah paham ( menatap ke arah Gendis) sayang cah ayu, bukan tante yang akan menikah dengan om Raka, tapi tante Mirah” ujar Sabrina, kening Gendis mengerut saat mendengar penuturannya. Tangan Bima yang ada di mulut Gendis di paksa lepas oleh gadis mungil itu, Bima menatap horor ke arah putrinya yang terlihat akan berbicara kembali.


“Capi, cance Milah bilang alo cance...” lagi bibir mungil Gendis di tutup, tapi kali ini yang menutup adalah Anjani. Dia merasa sangat tidak enak hati dengan penuturan Gendis putrinya, Sabrina kembali menatap ke arah Asmirah yang menundukkan kepalanya. Tatapan matanya pun bertemu pandang dengan Raka yang berdiri tidak jauh beberapa langkah dari mereka semua, dia kembali menatap ke arah Gendis.


“sayang.... Tante Brina sudah menikah dan memiliki adek Yusuf, jadi ndak mungkin tante menikah dengan om Raka ( menatap ke arah Asmirah) mereka berdua pasangan serasi” ujar Sabrina membuat Asmirah seketika menatap ke arahnya, begitu juga Raka. Dia terkejut dan menatap ke arah Sabrina, Raka dengan berani menghampiri Sabrina dan lainnya.


Asmirah duduk diam terpaku di tempatnya, hatinya terasa berdebar – debar seakan tidak siap dengan apa yang akan di dengarnya.


“Sabrina... “ panggil Raka berdiri di samping Bima dan Anjani, mereka berdua terdiam sambil menatap horor ke arah Raka.


Sabrina menatap ke arah Raka, Baby Yusuf yang berada di gendongannya hendak beralih tangan ke Anjani.


“Yusuf sayang, sini sama tante” ujar Anjani segera menggendong baby Yusuf, Sabrina tahu jika Raka ingin berbicara padanya. Dia lalu membiarkan Baby Yusuf di gendong oleh Anjani, namun baby Yusuf tidak bersedia dan memilih memegang erat hijab uminya.


“Waaaa... Aaaaa.... Waaaa.. Waaa...aaaaa....waaaa (Aku tidak mau umi, aku mau sama umi....) “ Baby Yusuf memegang kuat hijab Sabrina.


“Sayang ayo sini, sama tante.... “ ujar Anjani lagi namun masih mendapat penolakan dari baby Yusuf.


“Yusuf sayang (membelai lembut kepala baby Yusuf) kamu sama tante Jani sebentar ya... “ ujar Sabrina tersenyum hangat, Baby Yusuf malah mempererat pelukan dan menyembunyikan wajah imutnya di ceruk leher Sabrina yang tertutup hijab.


“hmmm mmm” baby Yusuf terlihat merajuk sambil bergumam seakan masih melayangkan protes, tangan mungilnya memegang erat hijab Sabrina.


Raka menatap baby Yusuf yang manja pada Sabrina, dia sudah tidak sabar untuk menanyakan pertanyaan yang ada dalam hati juga pikiran.


“ Sabrina, tentang apa yang aku dengar tadi.... “ ucapan Raka terhenti saat Bima dan Anjani memilih memberi mereka ruang untuk berbicara.

__ADS_1


Sabrina menatap ke Raka, sejenak dia menatap ke arah Asmirah yang masih duduk terdiam. Dia sama sekali tidak berani beranjak, kakinya ingin melangkah pergi namun terasa berat untuk berdiri.


“Sabrina, aku... “


“mas.... Saat Aku mendengar Mas akan menikah dengan Mirah, aku sangat senang dan bahagia. Akhirnya, adik bungsu ku menemukan pria yang kelak akan menuntun dan menjadi imam di keluarganya nanti. Aku selalu berdoa mas bisa menemukan kebahagiaan mas bersama Mirah” ujar Sabrina tersenyum hangat, Raka termangu mendengar ucapan Sabrina. Dia menatap dalam Sabrina seakan mencari jawaban dari pertanyaan di benaknya, jawaban itu sudah di dapatnya.


Mata Sabrina seakan memberi tahu Raka untuk menyadari perasaannya sendiri dan menerima Asmirah, Raka seakan di tampar dengan kenyataan jika selama ini ada cinta yang selalu menunggunya.


Dia menatap sejenak ke arah Asmirah yang masih duduk termenung di bangku taman, kepala Asmirah yang tertunduk langsung terangkat dan menatap ke arah Sabrina juga Raka.


“apakah... “ ucapan Raka terhenti saat ia kembali menatap ke arah Sabrina, perempuan cantik itu tersenyum manis sambil menganggukkan kepalanya. Raka kini merasa yakin dengan keputusannya, dia sempat merasa bimbang dengan perasaan dan bayangan masa lalu.


Wuuuuusssshh.......


Tiba – tiba saja angin di taman itu berembus kuat, daun – daun hijau dari pohon yang tumbuh subur di taman itu beterbangan. Sabrina memegangi kepala Baby Yusuf dan memeluknya semakin erat, Hee Na yang berdiri tidak jauh dari Sabrina segera menghampiri begitu juga dengan Yohan dan body guard lainnya.


Szwiiiing..... Sszzzwiiing..... Sszzwwiing....


Terdengar suara keras dari mesin helikopter yang terlihat mengudara di udara, angin yang di hasilkan helikopter itu sangat kuat. Perlahan – lahan helikopter itu turun dan mendarat di tengah – tengah taman yang terbuka dan luas, karena permukaan tanah di taman itu yang tidak rata membuat helikopter itu melayang dan hanya berjarak beberapa centi saja dari tanah. Keahlian dan skill hebat pilot membuat helikopter itu tampak stabil, semua mata tertuju ke arah helikopter itu.


Pintu helikopter terbuka lebar beberapa petugas memakai helm khusus tampak memegangi dan memberi aba – aba pada seseorang yang terlihat akan turun, Sabrina terlihat sedikit kepayahan melihat ke arah Helikopter itu.


Pria tampan bersetelan jas dan pria lainnya berseragam ala militer turun dari helikopter itu, mereka turun dengan sedikit melompat dan mendarat sempurna. Bak artor dalam drakor mereka berjalan dengan gagahnya menjauhi helikopter itu. Setelah menyelesaikan tugasnya, perlahan pilot mengarahkan helikopter untuk naik kembali.


Angin kencang yang di hasilkan oleh baling – baling helikopter sama sekali tidak menghalangi Sabrina menatap ke arah para pria tampan itu, matanya termenung menatap salah seorang pria itu. Mata indah dan jernih itu tampak berkaca – kaca seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, begitu juga dengan yang lainnya tampak terkejut saat melihat ke arah dua pria itu kecuali Hee Na, baby Yusuf dan Gendis yang terlihat kebingungan.

__ADS_1


Semuanya berdiri termenung di tempatnya masing – masing, baby Yusuf yang berada dalam gendongan Sabrina tampak gelisah dan tidak nyaman. Hee Na tampak keheranan saat menatap salah seorang pria yang melangkah menghampiri mereka,


그 남자.... 그 남자는 여자화장실에 있던 사진의 그 남자와 똑같았지만.... 그 남자는 2년 전에 죽지 않았어.... 이제 그는 어떻게.... (Pria itu.... Pria itu sama persis dengan pria yang fotonya terpajang di kamar nyonya, tapi.... Bukankah pria itu sudah meninggal dua tahun yang lalu.... Sekarang bagaimana dia bisa....) gumam Hee Na dalam hati terhenti saat kedua pria itu berdiri tidak jauh beberapa langkah dari mereka.


Beberapa jam sebelumnya di Surakarta...


Setelah Araf mengambil beberapa surat milik Ningsih, dia melihat ke arah Nicholas yang berjalan bolak balik menunggu kabar dari pilot pesawat jetnya.


Tidak berapa lama ponsel milik Jack berdering dan langsung di angkat olehnya, dia tampak berbicara dengan serius dan sesekali menatap ke arah Nicholas yang terlihat tidak tenang.


“Boss, our plane is still not ready. Earlier the pilot said there was a slight problem with the engine and it would take a few days to fix (Bos, pesawat kita masih belum siap. Tadi Pilot mengatakan ada sedikit kendala dalam mesinnya dan itu membutuhkan beberapa hari untuk memperbaiki) “ ujar Jack sukses membuat Nicholas kesal.


“d*mt it” kedua tangan Nicholas terkepal erat, memperlihatkan urat – urat tangannya yang kekar.


......................


Dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2