
Roy sempat melihat ke arah ular sanca yang terbangun dari masa hibernasinya,
Dalam makanan tadi pasti indah sudah mencampurkan sesuatu... aku tahu dia tidak akan bisa melupakannya. Indah... Indah... Kamu seharusnya tidak perlu menggunakan obat, hanya dengan melihat tampilan mu hari ini sudah cukup membangunkan ular sanca ini gumam Roy dalam hati sambil tersenyum smirk. Gelombang tsunami kembali bergejolak dalam dirinya, tanpa buang waktu Roy keluar dari kamar mandi lalu melangkah diam-diam keluar dari kamar tamu.
Roy perlahan membuka pintu kamar itu dan melihat sekitar memastikan tidak ada siapa pun, merasa mendapat celah dia segera melangkah cepat menuju kamar di mana Indah berada.
Arman yang berada di ruang makan tersenyum smirk menatapi gelas kosong yang sudah habis di minum oleh Indah dan Roy, keringat terlihat jelas di kening Arman yang ternyata mengalami efek yang sama. Gelombang tsunami dalam dirinya di tahan kuat, giginya menggigiti bibir bawah dengan sangat kuat.
Gejolak gelombang dahsyat itu perlahan menurun, Arman menghela nafas panjang berusaha untuk menguasai dirinya. Dia teringat dengan Adelia yang masih berada di kamarnya, walau dia sudah mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Arman tidak bisa memungkiri jika ada sedikit perasaan sayang dalam dirinya pada Adel,
“Kamu... cek keadaan Adel... uuugghh... (menghela nafas kembali setelah mendapat hempasan kuat dari gelombang tsunami) sigh.. kamu lihat keadaan Adel di kamarnya, sekarang” Arman menyuruh pembantu lain untuk mengecek keadaan Adelia.
Pembantu itu memberi hormat pada Arman lalu melangkah menuju tangga untuk naik ke atas lantai dua, Arman tampak berusaha menenang kan gejolak gelombang dahsyat dalam dirinya. Tangan kirinya segera meraih botol kecil yang berisi tablet, mengeluarkan satu tablet untuk segera di minumnya.
Pintu kamar Adelia di ketuk oleh pembantu itu,
Tok... tok... tok....
“non... non Adel” panggil pembantu itu memanggil Adelia. Pembantu itu menunggu tepat di depan pintu, menunggu Adelia menyahuti panggilannya.
Pembantu itu menunggu cukup lama di depan kamar Adelia sambil terus mengetuk pintu kamarnya, tapi tetap saja tidak ada yang menyahut dari dalam kamar Adelia. Merasa ada yang tidak beres pembantu itu memberanikan diri membuka pintu kamar Adelia, matanya menatap kamar yang gelap gulita.
Tangan pembantu itu meraba-raba ke dinding kamar mencari tombol lampu, dia langsung menekan tombol itu setelah menemukannya. Seketika saja kamar itu menjadi terang benderang, pembantu itu melihat ke arah ranjang yang kosong.
“non Adel... nooon... non.. “ panggil pembantu itu mencari keberadaan Adelia, mata pembantu itu mengarah ke lantai yang terdapat beberapa cairan merah seperti bercak darah di sana.
“ini.. darah atau cat kuku punya non Adel ya?” tangan pembantu memegang cairan merah yang terlihat sudah mengering. Dia melihat ke arah meja rias milik Adelia dan menemukan botol cat kuku berwarna merah yang masih dalam keadaan utuh.
Kening pembantu itu berkerut saat melihat cairan merah yang sudah mengering itu. Matanya mengikut cairan bercak darah yang semula hanya bercak kini terlihat ada bekas jejak kaki menuju kamar mandi, ada perasaan tidak enak di hati pembantu itu. Dia segera bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju ke arah pintu kamar mandi itu,
__ADS_1
Tok.... tok... tok...
“Non... non Adel” panggil pembantu itu kembali sambil mengetuk pintu kamar mandi, berkali-kali dia mengetuk pintu itu menunggu jawaban panggilan dari arah dalam kamar mandi.
Cukup lama pembantu itu menunggu panggilannya di jawab, namun hanya keheningan yang di dapatnya. pembantu itu memberanikan diri membuka pintu kamar mandi, dia sangat terkejut saat melihat bayangan tubuh Adelia yang duduk bersandar pada kaca ruangan shower.
Pembantu itu segera menghampiri Adelia,
"noooon... “ pembantu itu semakin terkejut dengan apa yang di lihatnya, dia jatuh terduduk sambil menatap ke arah Adelia.
“noooonnn... noooon Adelia” tangan pembantu itu menyentuh tubuh Adelia yang sudah dingin. Pembantu itu segera bangkit dan berlari keluar kamar untuk menemui Arman yang masih duduk di ruang makan,
“tuan... tuan... tuan...” panggil pembantu itu melangkah cepat menuruni anak tangga. Dia segera menuju ruang makan, pembantu itu semakin terkejut dengan temuannya.
Arman sudah dalam keadaan tidak sadar, asisten pribadi yang setia kepadanya mencoba membangunkannya.
"Tuan... tuan besar.... tuan besar” panggil asisten itu. Pembantu lain ikut datang menghampiri mencoba melihat kepanikan asisten itu,
“tuan... tuan Adrian” panggil pembantu itu pada Asisten Arman yang bernama Adrian.
“ ada apa?” tanya Adrian menyandarkan tubuh Arman pada sandaran kursi.
“itu tuan... nona.... non... nona Adelia... darah... darah... di lantai... ba... banyak...” ujar pembantu itu terbata-bata, wajahnya terlihat shock.
Kening Adrian tampak berkerut saat mendengar penjelasan dari pembantu itu,
“kenapa dengan nona Adel?” tanya Adrian dengan sedikit keras membuat pembantu itu sedikit tersadar.
“nona Adelia... saya melihat antara kedua kaki nona mengalir darah yang sangat banyak” ujar pembantu itu,
__ADS_1
“kamu jaga tuan besar, saya akan mengecek nona Adel” ujar Adrian segera melangkah cepat menuju tangga.
Saat akan menaiki anak tangga, samar-samar Adrian mendengar suara nyanyian merdu dari kamar utama. Dia tahu jika suara itu milik Indah dan juga Roy yang tengah bercocok tanam.
Mereka sudah terkena efek sampingnya, aku harus memastikan rencana tuan besar berjalan dengan baik sesuai dengan perintah tuan gumam Adrian dalam hati melangkah menaiki anak tangga menuju kamar Adelia.
Roy menemani ular sancanya yang sedang melakukan ekspedisi ke gua yang sudah di kenalnya, ular sanca itu bergerak sangat liar menguasai seluruh ruangan dalam gua gelap itu. Kedua tangan Indah berada di dada bidang Roy yang sudah tidak mengenakan kemejanya, kedua tubuh itu terlihat mengilat karena keringat yang membasahi.
Ular sanca merasakan perutnya sudah sangat penuh, dia merasa sangat mual dan ingin memuntahkan apa yang ada dalam perutnya. Di saat bersamaan Roy merasakan detakan jantungnya berdetak dengan sangat cepat, begitu juga dengan Indah yang mulai merasakan sakit di bagian dadanya.
“AAAAAARRRRRGGGHHH” kedua tangan Roy yang semula memeluk pinggang ramping Indah, memegang kuat ke arah dadanya. Dia berteriak kesakitan begitu juga dengan Indah
“aaaarrrrkhhhh...” Indah memegang kuat dadanya yang terasa sangat sakit, mata dan mulutnya terbuka lebar. Perlahan tubuh Indah sama sekali tidak bergerak, Roy juga merasakan hal yang sama jatuh melemah di samping tubuh Indah.
Mata Roy terbuka lebar, penglihatannya mulai mengabur dan perlahan pandangan itu mulai menggelap. Suara nafas dari mereka tidak lagi terdengar, mereka berdua pun menghembuskan nafas terakhir.
Adrian masuk ke dalam kamar Adelia, dia sempat melihat darah yang mengering di lantai. Dia segera menuju kamar mandi dan menemukan Adelia dalam kondisi sudah tidak bernyawa, matanya terbuka lebar menatap dinding kamar mandi.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...