Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 170


__ADS_3

Rasa dendam di hatinya berkecamuk dan membuatnya kehilangan akal sehat, di bantu oleh orang-orang kepercayaannya Isaac berhasil melacak markas dan keberadaan Nicholas.


Anak buah Isaac juga berhasil menyelidiki gedung yang berada di seberang gedung apartemen milik Nicholas, mereka bahkan berhasil menemukan tempat strategis untuk Isaac dapat membalaskan dendamnya. Isaac melangkah menuju sebuah ruangan yang kosong melompong, dia lalu meletakkan tas yang di sandangnya ke lantai ruangan itu. Sebelah tangannya mengeluarkan sebuah teropong canggih, teropong itu memperlihatkan suasana apartemen Nicholas atau lebih tepatnya pada kamar milik pria tampan itu.


Isaac merasa sangat beruntung karena saat itu kaca di kamar Nicholas terbuka, dengan pengaturan canggih teropong itu dia dengan mudah menemukan keberadaan musuhnya.


“jackpot” Isaac tersenyum smirk menatap ke arah apartemen Nicholas, dia merasa senang akhirnya dapat membalaskan dendam yang sudah mendarah daging di hatinya. Tangan Isaac segera bertindak cepat dengan mengeluarkan senjata sniper canggih dari dalam tas besar itu, teropong canggih terpasang pada senjata sniper itu.


Teropong canggih Isaac dapat menembus kaca hitam di gedung apartemen itu, Isaac menata peluru-peluru bermata tajam di tepian jendela sambil sesekali menatap ke arah jendela kamar Nicholas. Matanya menatap tajam dan penuh amarah saat melihat pria yang sangat dia inginkan nyawanya, tangan kiri Isaac mengambil satu peluru tajam yang di susunnya. Isaac memasukkan satu peluru itu ke dalam sniper yang di pegangnya, dengan lihai dia mengokang senjata hingga peluru dalam kondisi siap untuk d tembakkan.


Pada ujung senjata sniper itu terpasang peredam suara yang bertujuan untuk meredam suara tembakan, jari telunjuk Isaac berada pada pelatuk sniper. Tangannya yang lain tampak mengatur penglihatan dari teropong canggih itu, dia juga memperhatikan arah dan kekuatan angin.


Susu buatan Nicholas habis di minum oleh Sabrina, sebelah tangan Nicholas menyeka sisa susu yang ada di bibir pink natural itu. Sabrina beranjak dari ranjang bermaksud untuk meletakkan gelas yang sudah kosong, Nicholas memegangi tangan Sabrina lalu mengambil gelas itu. Pemandangan mesra itu di tatap nanar oleh Isaac yang masih melihat dari teropong sniper canggih itu, jarinya sudah bersiap untuk menekan pelatuk pada senjata mematikan itu.


Langkah Nicholas terhenti saat tangan Sabrina memegangi tangannya, dia melihat ke arah perempuan cantik itu yang tersenyum manis padanya. Perlahan Sabrina mendekat dan menyandarkan kepalanya ke dada bidang Nicholas, kedua tangannya memeluk tubuh pria tampan itu. Senyuman hangat menghiasi wajah Nicholas yang merasa bahagia,


Craaang... Craaaassh... jleb...


Terdengar keras suara kaca yang retak dengan sebuah lubang kecil di bagian tengah, Sabrina dan Nicholas terkejut langsung menatap ke arah kaca yang retak parah.


“ehh how can it crack like this?! (eehh kok bisa bisa retak begini?!)” Sabrina menatap heran ke arah kaca. Dia lalu mendekat ke arah kaca yang retak nyaris hampir pecah, Sabrina sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada kaca di kamar mereka.

__ADS_1


Mata tajam Nicholas menangkap sebuah lubang kecil dengan peluru tajam yang menancap kuat di kepala tempat tidur itu, dia mengalihkan pandangannya menatap ke arah Sabrina yang membelakangi ranjang mereka.


It's a good thing Brina didn't notice it (Untung saja Brina tidak memperhatikannya) gumam Nicholas dalam hati menatap tajam ke arah lubang kecil itu.


“Sayang why is the glass cracked like this? And it... (Sayang, kenapa kacanya bisa retak begini? Dan itu...)” Ucapan Sabrina terhenti saat Nicholas menarik tangannya hingga membuat perempuan cantik itu berada dalam pelukannya.


Insting mafia Nicholas merasakan ada bahaya yang mengancam mereka, dia segera bertindak menarik tangan istrinya untuk berada lebih dekat dengannya. Insting pria tampan itu benar, sebuah peluru kembali menancap tepat di kepala ranjang itu. Jarak antara peluru tidak begitu jauh, tatapan Nicholas tampak sangat tajam ke arah asal dari mana peluru itu datang.


Isaac tersenyum smirk saat melihat Nicholas begitu dekat dengan perempuan di dekatnya, dia menduga jika perempuan itu adalah istri dari musuhnya. Sebelum menjalankan aksinya Isaac memerintahkan anak buahnya untuk menyelidiki dan menggali informasi tentang orang terdekat Nicholas,


“An eye for an eye, a life for a life. My sister's death will be borne by your own wife (mata di balas mata, nyawa di balas nyawa. Kematian adikku akan di tanggung oleh istri mu sendiri)” ujar Isaac melihat dari teropong sniper itu. Tangannya sudah sangat gatal untuk menghabisi perempuan yang berada dekat dengan Nicholas yang tidak lain adalah Sabrina, Isaac menembakkan tembakkan pertama. Peluru tajam itu melesat menembus kaca apartemen itu hingga meninggalkan jejak lubang dan retak yang parah, raut wajah Isaac tampak kesal saat tembakan pertamanya meleset.


Isaac kembali mencoba peruntungannya dengan memasukkan peluru tajam lainnya ke dalam senjata sniper itu, dia merasa sangat beruntung saat melihat dari teropong jika Sabrina berada sangat dekat dengan jendela. Tidak membuang kesempatannya dia segera menembakkan peluru yang berada di dalam senjata itu dan lagi-lagi peluru itu meleset dari target.


BBBRRAAK...


Suara pintu kamar yang terbuka membuat sepasang sejoli yang masih berpelukan menatap ke arah pintu kamar,


“AAAAA....” Sabrina berteriak dan langsung menyembunyikan dirinya dalam pelukan Nicholas. Pria tampan itu segera membalikkan tubuh hingga dia memunggungi Jack dan lainnya, Nicholas memeluk erat tubuh Sabrina yang menyembunyikan wajahnya. Kedua tangan Sabrina menggenggam kemeja Nicholas yang terbuka dan menempelkan kepalanya ke dada bidang itu.


“Boss” ujar Jack yang terkejut saat melihat kaca jendela kamar Nicholas itu yang sudah berganti wujud. Nicholas memalingkan wajahnya ke arah kiri dengan tatapan tajam, Jack dan Yohan menatap ke arah Nicholas yang tampak mengode ke arah mereka untuk tetap di luar. Yohan tersadar jika Sabrina belum berpakaian seperti biasanya, rambutnya pun masih tergerai dan belum di tutupi dengan hijab yang selalu di kenakannya.

__ADS_1


Kedua tangan Yohan memegangi lengan Jack yang langsung membantu membalikkan tubuhnya, dia juga ikut membalikkan tubuhnya. Yohan mengode pada para maid untuk melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing, Kedua pria itu membelakangi Nicholas dan Sabrina yang mendekap tubuh kekar itu dengan erat. Setelah memastikan jika Yohan dan Jack tidak melihat ke arah mereka, kedua tangan kekar Nicholas perlahan melepaskan pelukan itu dan memegangi kedua lengan Sabrina.


“Brina sayang, You wait here (Brina sayang, kamu tunggu di sini)” ujar Nicholas mengecup kening Sabrina.


"but... (tapi...)"


“sayang, You take it easy they won't turn around. I will take your clothes and hijab hmm.. (sayang, kamu tenang saja mereka tidak akan berbalik. Aku akan mengambil baju dan hijab milikmu)” Nicholas akan beranjak menuju walk in closet, namun Sabrina memegangi tangan dan menahan langkahnya.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2