
“Waduh.... Bule, gi mana ini bicaranya. Aku ora iso bahasa ne, mister... Anu.... Itu.... Opo yo” pak Slamet semakin kebingungan menjelaskan pada Nicholas, dia bahkan menggunakan bahasa tubuh yang semakin membuat Nicholas tidak mengerti. Jack segera menghampiri untuk menengahi mereka,
“pak.... Bapak bicara kamu saja dengan saya, sedikit bisa saya mengerti bahasa kamu” ujar Jack yang berbelit – belit, semakin membuat pak Slamet tidak mengerti.
“ mister ni omong opo toh, aku semakin ndak ngerti” ujar pak Slamet.
Jack menghela nafas panjang, dia langsung mengeluarkan ponsel miliknya dan mulai membuka aplikasi penerjemah.
“ Do you know why Mr Adiwijaya's residence looks deserted? (kamu tahu kenapa kediaman tuan Adiwijaya terlihat sepi?) “ tanya Jack yang langsung di terjemahkan oleh aplikasi itu.
“Ooo.... Mister nanyain tuan besar Adiwijaya?! “ tanya pak Slamet yang langsung di terjemahkan oleh aplikasi itu kembali, Nicholas dan Jack serentak menganggukkan kepalanya.
Pak Slamet menatap curiga pada kedua pria asing itu,
“Sampeyan iki, siapa ya? Kok rasa – rasa ne.... Pernah nge liat di mana yo?! “ tanya Pak Slamet berusaha mengingat.
“He is the son-in-law of his grandson, Mr. Adiwijaya. Young Lady Sabrina's husband (Dia ini menantu cucu, tuan Adiwijaya. Suami Nyonya muda Sabrina) “ ujar Jack menjelaskan status Nicholas, kembali aplikasi penerjemah itu menerjemahkan setiap ucapannya. Kening pak Slamet mengerut saat mendengar mesin penerjemah itu,
“ lah setahu aku, suami dari non Sabrina udah meninggal dua tahun yang lalu. Sampeyan jangan bohong, aku bisa laporin ke polisi” ujar Pak Slamet yang tidak percaya begitu saja, Nicholas dan Jack saling berpandangan lalu kembali menatap ke arah pak Slamet. Nicholas meraih ponsel Jack,
“If I died, could I possibly stand before you now?! (jika aku sudah meninggal, apa mungkin aku bisa berdiri di hadapan anda sekarang?!) “ ujar Nicholas, dia segera mengeluarkan ponsel miliknya dan memperlihatkan fotonya bersama Sabrina.
Mata pak Slamet terbuka lebar dan kembali menatap ke arah Nicholas,
“ja... Jadi.... Jadi.... “ ucapan pak Slamet terhenti saat Jack langsung memotong perkataannya.
“I'll be surprised later, is Mr Adiwijaya now at home? (terkejutnya nanti saja, sekarang tuan Adiwijaya apakah ada di rumah?) “ tanya Jack.
“tuan besar... Tuan besar saat ini ada di Jakarta untuk pengobatan nyonya besar” ujar Pak Slamet yang langsung menjelaskan apa yang terjadi.
“So, Brina and her family are in Jakarta?! Jack immediately ordered the pilot to get ready we will fly to Jakarta (jadi, Brina dan keluarganya ada di Jakarta?! Jack segera perintahkan pilot untuk bersiap-siap kita akan terbang ke Jakarta) “ujar Nicholas tidak ingin membuang waktu.
__ADS_1
“boss.... Boss... Wait a minute. Please calm down, I know the boss has a strong physique and determination. But please understand our condition too boss (bos.... Bos... Tunggu sebentar. Tolong tenanglah, aku tahu bos memiliki fisik dan tekad yang kuat. Tapi tolong mengerti dengan kondisi kami juga bos) “ ujar Jack dengan wajah yang terlihat lelah, Nicholas menatap pada semua bawahannya yang sudah terlihat kacau.
“And again boss, it will take some time for the plane to be ready for flight. Better boss take a break and... (dan lagi bos, perlu beberapa waktu untuk pesawat siap melakukan penerbangan. Lebih baik bos istirahat sejenak dan...) “ ujar Jack lagi.
“no... I can't wait anymore... You all can rest, I'm leaving on another plane (tidak... Aku sudah tidak bisa menunggu lagi... Kalian semua bisa beristirahat, aku akan berangkat memakai pesawat lain) “ ujar Nicholas hendak beranjak pergi, langkahnya terhenti saat matanya bertemu pandang dengan pria berseragam militer.
Pria yang tidak lain adalah Araf yang baru saja datang dari Jakarta, dia di minta Wulan pulang ke rumah eyangnya untuk mengambil beberapa surat penting yang tertinggal. Alangkah terkejutnya Araf saat mendapati di depan rumah Eyangnya beberapa mobil terparkir di sana, dia pun semakin terkejut saat mendapati Nicholas yang berdiri tepat di depan gerbang itu.
“Araf?! “
“Nicholas... Is that you?! (Nicholas... Apa itu kamu?!)” ujar Araf sambil mengucek matanya memastikan jika dia tidak salah lihat.
“ho... how... How come..... yo... You... Aren't you?! We.... The news... (Ba... Ba... Bagaimana bisa..... Kam.. Kamu.... Bukannya?! Kami.... Kabar itu...) “ ujar Araf lagi dengan terbata – bata.
“I'll explain later, how's grandma, Sabrina and the others?! ( nanti saja aku menjelaskannya, bagaimana keadaan nenek, Sabrina dan lainnya?! ) “ tanya Nicholas, Araf sama sekali tidak mendengar pertanyaan pria tampan itu. Dia sangat terkejut dengan kemunculan Nicholas,
“how.... How? Your news is gone everywhere, how come you now?! (ba.... Bagaimana? Berita kamu sudah tiada tersebar di mana – mana, bagaimana bisa sekarang kamu?!) “
“Grandma.... Grandma... Grandma has had surgery and thank God the operation was successful, I'm here to pick up some of Grandma's letters that were left behind. Wait a minute.... Did Sabrina already know?! ( nenek.... Nenek.... Nenek sudah menjalani operasi dan alhamdulillah operasinya berhasil, aku kemari untuk mengambil beberapa surat nenek yang tertinggal. Tunggu Sebentar.... Apa Sabrina sudah tahu?!) “
“Not yet... Brina doesn't know yet, I purposely didn't tell her so that when we meet later I can explain what really happened (Belum... Brina belum mengetahui, sengaja aku tidak memberi tahunya agar saat bertemu nanti aku bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi) “ ujar Nicholas, Araf diam dan terus menatap ke arah pria tampan itu.
Araf mengedip – kedipkan matanya memastikan jika pria di hadapannya adalah nyata, dia masih terkejut dan berkali – kali melihat ke arah Nicholas dari kepala hingga ujung kakinya. Jack paham dengan apa yang di lakukan Araf,
I really understand how you feel, Mr. Araf (Aku sangat memahami dengan apa yang di rasakan oleh mu, tuan Araf) gumam Jack dalam hati sambil mengangguk – anggukkan kepalanya.
***
Sabrina dan Hee Na tengah berjalan – jalan di taman rumah sakit bersama dengan baby Yusuf yang terlihat nyaman dalam gendongan uminya, mata Sabrina bertemu tatap dengan Asmirah yang sempat mengalihkan matanya ke arah lain. Anjani yang duduk di samping Asmirah ikut menatap ke arah Sabrina.
“mbak Sabrina.... “ panggil Anjani dengan senyuman hangatnya, tangannya melambai – lambai memanggil Sabrina untuk bergabung bersama mereka. Gendis di temani Bima asyik berlarian langsung berhenti dan menatap ke arah Sabrina, begitu juga dengan Bima menyapanya dengan tersenyum.
__ADS_1
Asmirah terlihat canggung dan tersenyum seadanya, perasaannya kembali tidak menentu. Sabrina sudah akan hampir mendekat ke arah Asmirah dan Anjani, langkahnya terhenti saat Gendis berdiri tepat di hadapannya. Matanya yang polos menatap antusias pada Sabrina,
“Gendis, ada apa sayang?! “ tanya Sabrina membalas menatap ke arah gadis mungil itu, tangan Gendis memegangi baju syar’i Sabrina bagian bawah.
“Cance.... Cance..... Pa benal cance kan cama cepelti mama papa?” tanya Gendis membuat semua kebingungan tidak mengerti, Bima menghampiri Gendis lalu menggendongnya.
“Sayang, kamu bicara apa?” tanya Bima.
“ tu cance milah bilang, alo cance ini kan nicah cama oom Laka” ujar Gendis polos sukses membuat Sabrina dan lainnya terkejut, Asmirah sangat terkejut dengan penuturan polos Gendis.
Sabrina seketika menatap ke arah Asmirah dan Anjani yang terlihat shock, Bima segera menutup mulut mungil Gendis yang langsung melayangkan tatapan bingung.
Jadi, hal ini kah membuat Mirah bersikap berbeda padaku?! Gumam Sabrina dalam hati, matanya menatap ke arah Asmirah yang mengalihkan pandangannya. Matanya tidak sengaja melihat Raka yang berdiri tidak jauh dari sana, dia bisa mendengar pertanyaan polos Gendis ada Sabrina.
Asmirah dapat melihat wajah Raka yang memancarkan aura berbeda saat mendengar ucapan Gendis, dia semakin merasa sedih dan memilih menundukkan kepalanya. Sabrina dapat melihat kesedihan di wajah adik sepupunya, mata sabrina kembali beralih ke arah Gendis dan Bima. Anjani terkejut segera bangkit dari tempat duduknya, dia menghampiri Bima dan Gendis.
“mbak.... Jangan di hiraukan pertanyaan Gendis mbak, ini mungkin karena Gendis ke seringan nonton acara tv yang nggak jelas” ujar Bima berusaha menjelaskan, Anjani ikut menganggukkan kepalanya meyakinkan Sabrina.
......................
Dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...