
Di sisi lain Pembicaraan Nicholas dan Sabrina rupanya terdengar oleh Adiwijaya dan keluarganya, mata tua Adiwijaya menatap satu persatu ke arah keluarganya menunggu penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi di saat mereka berdua tidak sadarkan diri.
Mau tidak mau Ningsih dan lainnya menceritakan kebenaran tentang pernikahan Sabrina, Adiwijaya dan Wiyasa sangat terkejut saat mengetahui dalang di balik semua peristiwa yang terjadi adalah Arman dan keluarganya.
“Jadi, Sabrina sudah menikah dengan tuan Nicholas atas tekanan Arman. Cucu kita mengorbankan kebahagiaannya demi kesembuhan Bapak dan Wiyasa, seperti yang sama-sama kita dengar tadi pak. tuan Nicholas ikhlas Berpisah dengan Sabrina demi kebahagiaan cucu kita” jelas Ningsih, matanya tampak berkaca-kaca merasa kagum dengan kebesaran hati Nicholas.
Adiwijaya dan Wiyasa terdiam larut dalam pikiran mereka masing-masing, Araf yang berada dalam ruang perawatan segera berdiri dari duduknya. Matanya melihat ke arah Yusuf yang seakan mengerti oleh sahabatnya itu, dia juga ikut berdiri dan melangkah menuju pintu keluar.
"permisi tante" ujar Yusuf mengikuti Araf yang sudah bediri di depan pintu.
“Araf... kamu mau ke mana?” tanya Wulan heran. Semua orang di kamar itu melihat ke arah Araf dan Yusuf berdiri tepat di depan pintu masuk hendak membukanya.
“Araf mau keluar sebentar ma, ada hal yang penting harus Araf selesaikan” Ujar Araf berlalu pergi begitu saja, dia membuka pintu dan berpapasan dengan Sabrina yang akan masuk. Mata indahnya terlihat berkaca-kaca, sebelah tangan Sabrina menyeka air mata agar tidak terlihat oleh Araf.
“mas Araf....(menatap Araf dan Yusuf yang akan keluar) mas mau ke mana?” tanya Sabrina.
“mas ada perlu sebentar, mas pergi dulu ya” Araf melangkah keluar dari kamar itu di ikuti oleh Yusuf sahabatnya. Dia dan Yusuf pun melangkah terburu-buru, Yusuf yang berdiri sejenak di depan lift langsung di tarik Araf yang sudah tidak sabar. Mereka segera menuju tangga darurat, menuruni satu persatu anak tangga dengan cepat.
Sebelah tangan Araf memegang ponsel yang menempel di kuping, dengan terburu-buru dia meminta bantuan temannya. Mereka berdua merasa sangat beruntung Eyang da pak de nya tidak di rawat di lantai yang paling atas. Mereka kini setelah berlari membuka pinttu darurat yang langsung mengarah ke area parkir.
Yusuf segera meraih kunci di saku celananya segera membuka pintu mobil dan mengendarai menuju ke kediaman Adiwijaya.
Sabrina sejenak melihat ke dalam perawatan melihat ke arah Wulan yang hendak memanggil Araf kembali, namun dia langsung di cegah oleh Cakra yang berdiri di sampingnya.
“sudahlah ma, biarkan saja mungkin ada sesuatu yang harus di lakukannya” ujar Cakra memegang pundak Wulan.
Sabrina kembali masuk ke dalam kamar perawatan memaksa tersenyum ke arah semua keluarganya, Adiwijaya dapat melihat kesedihan di mata cucunya.
“Sabrina....” panggil Adiwijaya seraya memberi isyarat dengan menepuk ranjang sisi kirinya yang kosong. Dia meminta cucunya untuk duduk di samping,
__ADS_1
“ Eyang... ada apa eyang? Apa eyang membutuhkan sesuatu?!” tanya Sabrina patuh dan duduk di samping Adiwijaya, mata tua Adiwijaya melihat jelas mata indah itu sedikit membengkak.
“nduk.... eyang... sudah mengetahui cerita keseluruhannya” ujar Adiwijaya sambil memegang tangan kanan cucunya yang menunduk sedih.
“eyang... maafkan Sabrina sudah mengambil keputusan yang membuat eyang dan bapak sedih juga kecewa dengan Sabrina” ujarnya sambil menundukkan kepalanya sedih.
“nduk.... bapak dan eyang sama sekali ndak marah padamu. Malah kami sebaliknya merasa bangga pada mu” ujar Wiyasa membesarkan hati Sabrina yang sedih.
“benar apa yang di katakan bapakmu, nduk. Apa pun keputusan yang kamu ambil selama itu tidak merugikanmu, kami akan selalu mendukungnya. Eyang akui.... eyang sangat menyukai Raka dan berharap jika kelak kamu bersanding dengannya. Namun kita bisa merencanakan itu semuanya, tapi sebaik-baiknya rencana yang di rancang manusia tidak sebanding dan seindah rencana Allah” ujar Adiwijaya menghibur cucunya tampak sedih.
Sabrina mengangkat kepalanya perlahan menatap ke arah Adiwijaya yang tersenyum ke arahnya.
“nduk.... Raka memang pria yang baik, sopan dan santun. Namun pria seperti tuan Nicholas sangat jarang di temui” ujar Adiwijaya membuat Sabrina terkejut dan langsung menatap ke arah eyangnya. Tersungging senyuman di bibir eyangnya yang menyemangatinya,
“cah ayu... apa yang di katakan Eyang kakong benar nduk, tapi semuanya kami serahkan padamu. Apa pun keputusan yang kamu ambil bapak juga lainnya akan mendukung dengan sepenuh hati” ujar Wiyasa tersenyum ke arah putrinya.
“bapak... hikss...hikss...” air mata kembali jatuh dari mata indah Sabrina, dia merasa sangat beruntung berada dalam keluarga yang mencintai dan sangat menyayanginya.
“mbak....hiksss.... kami semua menyayangi mbak dan apa pun keputusan mbak... itulah jalan yang terbaik di berikan Allah pada mbak...” Anjani menangis terharu, begitu juga Asmirah. Sabrina merasa sangat bersyukur dapat hidup di antara keluarga yang selalu menyayanginya dengan sepenuh hati. Wiyasa dan lainnya tersenyum melihat ketiga bersaudara itu, di tengah keharuan itu pintu kamar perawatan kembali terbuka dengan kuat.
Semua yang berada di kamar perawatan itu terheran-heran saat melihat Araf yang datang dengan nafas memburu.
“hah... hah...assa... hah lamua...laikum hah.. hah...” sapa Araf dengan nafas masih tersengal-sengal. Dia datang tergopoh-gopoh dengan membawa paspor dan visa di tangannya, membuat semua keluarganya menatap ke arah tangan Araf.
“waalaikum salam, bagaimana Araf apakah urusan penting itu sudah terselesaikan?” tanya Cakra menatap ke arah Araf.
“ itu... it... hah.... hah...” Araf menarik nafasnya untuk menenangkan diri.
“ada apa sih mas? ayo ini mas minum dulu biar tenang” ujar Anjani memberi sebotol air mineral kecil pada Araf. Tangan Araf segera meraih botol minum kecil itu, membuka dan meminum isinya sampai habis.
__ADS_1
Andhini melihat ke arah pintu masuk dan menatap kembali pada Araf,
“Araf... di mana temanmu nak Yusuf?” tanya Andhini sama sekali tidak melihat keberadaannya.
“ itu ... buuk de... Yusuf menunggu ... hah... di mobil (menghampiri Sabrina langsung menggandeng tangan adiknya) Sabrina ayo kamu ikut dengan mas sekarang” ujar Araf langsung menarik tangan Sabrina dan menariknya untuk ikut bersama.
“loh.... loh... loh... Araf.... mau kamu bawa ke mana Sabrina?” tanya Andhini cemas.
“maaf buk de... nanti saja Araf menjelaskannya, sudah tidak ada waktu lagi” ujar Araf menarik Sabrina keluar dari kamar perawatan.
“tapi...” Andhini yang akan berbicara terhenti saat Asmirah dan Anjani mengikuti Araf dan Sabrina.
“buk de tenang saja, Mirah dan kak Jani akan ikut bersama mas Araf dan mbak Sabrina” ujar mereka bertiga yang segera berlari menyusul Araf dan Sabrina yang sudah melangkah keluar lebih dulu.
“sebenarnya mereka mau ke mana? apa lagi tadi kalo ndak salah lihat Araf memegang buku pasport dan visa, untuk apa?! ” Andhini heran dan bingung menatap ke arah Wulan juga Adiknya Cakra dengan raut wajah heran.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...