
Semua barang-barang milik Sabrina dan Asmirah di bantu Raka juga Wibisana memasukkan ke dalam bagasi mobil. Asmirah, Eliana dan Sabrina sudah duduk di bangku penumpang belakang. Mereka terlibat pembicaraan perempuan yang tidak di mengerti Raka dan Wibisana, setelah menyusun barang-barang mereka berdua masuk ke dalam mobil.
Raka duduk di belakang setir, sedikit mengatur kaca spion agar dapat melihat bayangan Sabrina di sana. Eliana mengetahui langsung menyindirnya
“Kak Raka, nyetirnya itu liat ke depan. Bukan liat ke belakang, ntar yang ada kakak bukan mengantar kami ke rumah tapi malah ke alam baka” Sindir Eliana.
“Iiih.... Amit amit jabang baby kak. Mirah masih banyak dosa yang belum ke tebus” ujar Asmirah sambil mengetuk-ngetuk kepalanya dengan lembut.
Sabrina hanya tersenyum melihat tingkah ajaib Asmirah dan Eliana, senyuman yang kini membuat Raka terpesona. Wibisana tersenyum melihat tingkah kakaknya,
“Kak Raka, bisa-bisa eyangnya dokter Sabrina udah balik ke Surakarta tanpa membawa buah tangan yang sudah di beli tadi” Wibisana ikut menyindir Raka yang tersadar dari terpesonanya.
“eheem... I... Iya ini juga mau jalan” ujar Raka menyalakan mesin mobil. Asmirah dan Eliana tertawa melihat Raka yang salah tingkah, mobil yang mereka tumpangi segera meluncur menuju rumah mereka.
Sepanjang perjalanan Raka sama sekali tidak bisa berkonsentrasi, sesekali matanya masih menatap ke arah Sabrina yang sedang mengobrol dengan Eliana dan Asmirah.
“kak Raka... berhenti kak.. berhenti” ujar Wibisana menyuruh Raka untuk berhenti.
Jika Wibisana tidak mengingatkan Raka untuk berhenti mobil mereka hampir saja mencium belakang sebuah mobil truck yang berhenti karena lampu merah.
“astagfirullah... syukur alhamdulillah bisa berhenti tepat waktu” ujar Wibisana mengurut-urut dadanya.
“alhamdulillah....” ketiga perempuan itu segera mengucapkan syukur karena masih di beri keselamatan.
Raka juga mengucapkan syukur masih di beri keselamatan, dia memukul-mukul lembut dadanya menenangkan jantung yang berdegup kencang. Sabrina menatap ke arah Raka, dari tatapan mata itu Dia mengerti jika Sabrina meminta untuknya berhati-hati.
“kak kalo mau ketemu malaikat maut jangan ngajak-ngajak kami dong” ujar Eliana kesal,
“ siapa yang mo ngajak kamu ketemu malaikat maut. Yang ada malaikat maut itu udah takut duluan ketemu ama kamu” Raka kembali melajukan mobilnya.
“maksudnya?” tanya Eliana bingung, Wibisana menahan tawa mengerti dengan maksud dari Raka.
“ maksud kak Raka, kalo kamu ketemu malaikat maut kakak yakin bukannya bertanya tentang agama ntu malaikat pasti kamu ajak collabs atau kamu buat content tentang pekerjaannya” Wibisana tertawa terbahak-bahak begitu juga Raka sambil tos kepalan tangan ala pria.
Mendadak atmosfer di belakang para pria itu menjadi dingin, Eliana menatap tajam pada kedua pria di depan mereka bertiga. Asmirah dan Sabrina menatap diam ke arah Eliana, dia terlihat sangat kesal dengan tingkah kedua kakaknya. Timbul ide jahil dari benak Eliana untuk mengerjai kedua kakaknya, dia mengedipkan matanya pada Asmirah dan Sabrina meminta kerja sama dengannya.
Sabrina hanya pasrah dengan tingkah kedua gadis di sampingnya, dia pun ikut kerja sama dengan para Gadis itu untuk mengerjai Raka dan Wibisana yang masih meledek Eliana.
“ kak, Elia pikir ada yang salah dengan ban mobil di sebelah sini” ujar Eliana sambil mengedipkan matanya pada Asmirah dan Sabrina yang menghela nafasnya.
“benarkah?” tanya Raka kembali sambil menghidupkan lampu sen untuk memberi tahu pada mobil di belakang mereka jika mobil akan menepi.
Setelah mobil benar-benar berhenti, Raka turun dari mobil di ikuti Wibisana yang juga penasaran.
“Mas Raka” panggil Sabrina sambil menurunkan kacanya, Raka menghampirinya.
__ADS_1
“iya Sabrina” Raka menghampiri Sabrina yang terlihat sedang mencari sesuatu di dalam tasnya. Dia menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu pada Raka, membuat keningnya berkerut,
“untuk apa Sabrina” tanya Raka kebingungan.
“ nanti akan mas perlukan kok” kata Sabrina, mendadak kaca yang di buka Sabrina tadi kembali menutup. Raka kebingungan menatap uang ratusan ribu di tangannya,
“kak, ban mana yang bermasalah kata Elia? Udah aku periksa yang di sini nggak ada apa-apa” ujar Wibisana menyadarkan Raka dari lamunan panjang.
Mereka pun bersama-sama memeriksa ban mobil yang di bicarakan Eliana, mereka sama sekali tidak menyadari jika saat itu Eliana sudah berada di belakang stir mobil. Semua pintu sudah di kunci Eliana, dia pun menyalakan mesin mobil.
Raka dan Wibisana saling menatap mendengar mesin mobil menyala, dia akan melangkahkan kakinya ke samping mobil tempat mengemudi. Eliana membuka jendela sambil sebelah tangannya memegang setir mobil,
“para kakak ku yang tampan, silah kan naik angkutan umum atau jalan kaki saja ke rumah ya” Eliana tersenyum dengan tatapan iblis sambil melambaikan tangannya meninggalkan Raka dan Wibisana di pinggir jalan.
“Elia..... Elia....” panggil mereka berdua pada Eliana yang sudah menjalankan mobil menjauh.
Raka dan Wibisana berlari berusaha mengikuti mobil yang sudah menjauh pergi, akhirnya mereka menyerah duduk di samping jalan.
Eliana dan Asmirah tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengerjai para kakak yang sudah meledeknya. Sabrina menatap prihatin ke arah belakang di mana Raka dan Wibisana setengah membungkuk seperti rukuk dalam sholat, nafas mereka terengah-engah.
“Elia... apa mereka tidak apa-apa di tinggal begitu saja?” Sabrina masih melihat ke arah belakang dengan khawatir.
“nggak apa-apa mbak, sekali-kali ntu para cowok di kasih pelajaran udah. Sukanya meledek dan mengerjai Elia” ujar Elia sambil menatap ke arah kaca spion.
***
“kenapa kak?” tanya Wibisana pada Raka yang termenung menatap jalan,
“ponselku ada di dalam mobil” Raka menatap Wibisana.
“trus... sekarang kita gi mana kak?” tanya Wibisana.
“ponsel kamu bagaimana?” tanya Raka, Wibisana memperlihatkan ponselnya yang dalam keadaan mati. Dia lupa untuk mencharger ponselnya, Raka benar-benar kesal saat itu.
“tidak ada cara lain lagi kak” ujar Wibisana sambil mencegat sebuah angkutan umum yang menuju jalan kawasan perumahan mereka.
"mau gi mana lagi, terpaksa” ujar Raka hanya bisa pasrah dengan keadaan.
Mereka berdiri di tepi jalan, sebuah angkutan umum lewat langsung di cegat mereka. Di dalam mobil angkutan umum Raka dan Wibisana menjadi sorotan penumpang lainnya.
Terdengar oleh mereka bisik-bisik dari para penumpang itu yang kebanyakan ibu-ibu dan para perempuan muda.
“eh.. eh liat dech cowoknya ganteng banget. Kelihatannya tajir deh”
“masak iya, nggak mungkin orang tajir naik angkutan umum kayak gini. Palingan penipu ato gigo** kali”
__ADS_1
“ato simpenannya tante-tante di tinggal gitu aja karena takut ketahuan dengan suami mereka”
Komentar-komentar negatif terdengar oleh mereka yang hanya bisa didiamkan oleh mereka.
Siapa yang berani melawan para emak-emak, yang ada kita di bully dan di lempar turun dari angkot ini guman Wibisana dalam hati sambil menghela nafasnya.
Para perempuan dan emak bar-bar masih sibuk dengan ghibahan mereka, Raka sesekali menatap tajam ke arah mereka agar berhenti dan tidak mengurusi urusan mereka.
“eh... cowok itu kan sering muncul di televisi, kalo nggak salah dia kan pemilik perusahaan Arbecio”
“nggak mungkin lah, masak iya cowok setajir dia mau naik angkot desak-desakan kayak gini. Mirip dia kali”
Raka dan Wibisana hanya diam memilih memberhentikan mobil angkot yang di tumpangi mereka saat mobil itu melewati kawasan perumahan elit.
Para perempuan dan emak bar-bar di dalam angkot semakin riuh menggosipkan Raka juga Wibisana saat mereka berdua melangkah masuk melewati portal yang di jaga satpam komplek kawasan elit itu.
“tuan Raka?” petugas satpam yang mengenal Raka menatap heran saat melihat mereka turun dari angkot dan jalan kaki masuk ke dalam.
“assalamualaikum pak” sapa Raka dan Wibisana,
“waalaikum salam tuan Raka, pak dokter” menatap heran Raka dan Wibisana dengan penampilan kacau.
“apa bapak lihat mobil saya yang di bawa Eliana?” tanya Raka memastikan Eliana, Asmirah dan Sabrina sudah sampai di rumah.
“oooo.... iya tuan Raka, beberapa menit yang lalu nona Eliana sudah lewat dengan mobil tuan Raka. Tapi kenapa tuan Raka bisa naik Angkot dan jalan kaki sedangkan nona Eliana membawa mobil anda? Seingat saya bukannya anda tadi berangkat bersama-sama ya” Tanya satpam komplek penasaran.
“ lagi pengen olahraga siang pak satpam, buat ngurusin perut yang mulai buncit” alasan Wibisana menunjuk ke arah perut mereka yang rata.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ all...
__ADS_1