Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 48


__ADS_3

“hahaha.... Pak dokter bisa aja, sebentar tuan Raka dan pak dokter saya buka kan pintunya dulu” ujar satpam itu sambil membuka pintu untuk Wibisana dan Raka.


Raka dan Wibisana melewati gerbang yang baru saja di buka kan oleh satpam, mereka berjalan kaki menuju rumah mereka. Cuaca begitu terik dengan matahari yang sudah berada di atas kepala, rasa panas dan lelah membuat Raka juga Wibisana mengeluarkan keringat membasahi kemeja yang di pakai mereka.


Eliana sambil bersenandung senang masuk ke rumah lalu langsung menuju ruang makan, dia di tatap heran oleh Helena dan Candra yang duduk di meja makan.


“Kenapa kamu senang sekali sayang? Di mana kakak-kakak kamu? Kenapa kamu kembali sendirian?” tanya Helena penasaran. Candra juga penasaran di mana kedua cucu prianya pergi dan membiarkan Eliana kembali sendirian.


“Tunggu .... Tunggu mi, nanya nya satu-satu. Udah kayak maling aja Elia di tanyain begitu” Eliana meraih gelas berisi air putih dan meminumnya. Setelah puas minum Eliana menceritakan apa yang terjadi saat mereka akan pulang ke rumah, dia juga menceritakan saat Raka dan Wibisana meledekinya.


“.....terus ya Elia tinggallin aja tuh kak Raka dan Kak Wibisana di jalan. Siapa suruh ledekin Elia jadi sekarang mereka kena karmanya...” Eliana bercerita dengan bangganya tidak menyadari jika kini Raka juga Wibisana berada di belakang kursi yang di dudukinya, Helena dan Candra hanya tersenyum melihat sambil memberi kode kepada Eliana.


“Mi, ac nya rusak ya? Kok Elia merasa dingin dan merinding ya?” tanya Eliana merasa aura dingin di belakang punggungnya.


Helena hanya diam dan melemparkan senyum, matanya memberi kode pada Eliana jika para kakaknya sudah berada di belakangnya.


“Elia....” sapa Raka dengan penuh kelembutan, Wibisana memegang pundak Eliana dengan sesekali menepuknya.


Eliana merasakan sekujur tubuhnya menegang, kini dia menyadari penyebab rasa merinding di punggungnya. Keringat dingin mulai bermunculan di keningnya, rasa gugup menjalar di setiap inci tubuhnya.


“Eh... Kak Raka.... Ka kak Wibisana...” Eliana hanya bisa cengengesan menatap kedua kakaknya datang dengan penuh peluh keringat yang membasahi kemeja mereka. Rambut yang berantakan namun malah menambah daya ketampanan yang hakiki dari mereka berdua.


Jika saja saat ini para kaum hawa melihat mereka saat itu, mereka berdua yakin sesampai di rumah mereka sudah tidak perjaka lagi. Eliana berdiri dari bangkunya membalikkan tubuhnya menatap ke dua kakaknya yang menatap balik dirinya.


Kali ini Candra dan Helena sudah tidak bisa menyelamatkan Eliana, Raka juga Wibisana terlihat kesal namun masih menahan amarah mereka


“Ka... kakak baru nyampe ya. A a a apa perlu Elia ambilkan air minum?” Eliana tampak gugup perlahan-lahan memundurkan langkahnya,


“Wibi... Elia nawarin kita minuman, bagaimana menurut kamu?” Raka menatap Wibisana sambil sesekali mengawasi Eliana dari sudut matanya.

__ADS_1


“tentu saja niat baik Elia di sambut dengan baik, kak Raka dan aku tentunya akan memberikan hadiah yang sangat bagus juga paling di senangi Elia” ujar Wibisana mulai melangkah perlahan-lahan mendekat ke arah Elia yang masih mundur teratur.


“Kakak.. kakakku... Yang tampan, yang baik dan murah hati. Hari ini sepertinya E.. eliana nggak mau hadiah, sebaiknya kakak minum dulu. I i i itu mami udah menyediakan minum bu bu buat kakak” Eliana semakin gugup, bergerak mundur perlahan. Raka dan Wibisana mendekat terus mendekat ke arah Eliana yang terlihat cemas juga khawatir dengan apa yang akan di lakukan oleh mereka berdua padanya.


***


Sabrina dan Asmirah sedang membantu Andhini untuk menyusun barang-barang termasuk oleh-oleh yang sudah di beli oleh mereka berdua ke dalam beberapa kardus. Andhini menatap sebuah bungkusan asing,


“mirah... ini apa?” tanya Andhini pada Asmirah yang sedang membantu Sabrina.


“oooo itu barang-barang miliknya oppa Raka yang nggak sengaja ke ambil bu de, nanti sebelum berangkat ke bandara Mirah akan memberikannya pada kak Eliana” ujar Asmirah.


“barang apa mbak?” tanya Wulan ikut bergabung membantu Andhini,


“ini... Lan. Barang ini hampir saja terbawa oleh ku,” tunjuk Andhini pada barang milik Raka yang terbawa oleh Asmirah.


“punya oppa Raka ma, nggak sengaja kebawa turun ama Mirah sewaktu nurunin barang-barang di bagasi” Asmira duduk di samping Andhini dan meraih barang milik Raka.


“ ya sudah kamu antar ke sana nduk, mungkin saat ini nak Raka membutuhkannya” Wulan meminta Asmirah untuk mengembalikannya.


“mbak Sabrina, temenin Mirah ke rumah kak Elia dong” ajak Asmira, Sabrina baru saja menyelesaikan pekerjaannya.


Sabrina menganggukkan kepalanya mengulurkan tangannya, Asmirah berdiri lalu melangkah bersamaan dengan membawa barang milik Raka. Mereka berdua melangkah keluar rumah melewati perkarangan rumah Cakra, Araf baru saja kembali dari pangkalannya untuk melapor. Dia juga sempat meminjam kendaraan roda empat milik temannya yang satu angkatan untuk bisa mengantar semua keluarganya ke Bandara.


Araf juga mengajak temannya (pemilik mobil yang di pinjamnya) untuk ikut, teman Araf masih mengenakan seragam militernya. Di seragamnya tertulis nama Yusuf pada bagian dada sebelah kanan,


“Asmirah, Sabrina kalian mau ke mana?” tanya Araf turun dari mobil temannya yang terparkir di belakang mobil milik Cakra. Yusuf ikut turun melangkah mengikuti Araf, dia menatap ke arah perempuan yang di panggil Araf.


“mas Araf, ini mirah dan mbak Sabrina, Mirah itu.... mirah... mirah” Asmirah terpesona menatap pria yang berdiri di samping Araf. Dia heran melihat adiknya yang tergagap dan menatap lama ke arah sahabatnya.

__ADS_1


Pria yang tidak lain adalah Yusuf termenung juga terpesona saat melihat Sabrina, wajah cantik di hiasi hijab yang menutupi kepalanya. Cara berpakaian yang modis membuat Yusuf tidak bisa berhenti menatap Aisyah, Menyadari ada yang menatapnya Sabrina sempat melihat ke arah Yusuf dia tersenyum manis menyapa ramah. Senyuman juga tersungging di wajah tampannya, begitu berkarisma dan berwibawa membuat Asmirah dan beberapa perempuan yang lewat di depan perkarangan rumah Cakra meleleh.


“maksud Mirah mas, kita mau ke depan ke rumahnya tante Helena. Sewaktu berbelanja oleh-oleh kami tidak sengaja bertemu dengan mas Raka, jadi kami pulang bareng dengan mobilnya. Saat menuruni barang oleh-oleh barang milik mas Raka nggak sengaja ke bawa ama Mirah” jelas Sabrina, Araf menganggukkan kepalanya.


“udah jangan di liatin terus, ntar sahabat mas takut datang kesini” sindir Araf pada Asmirah yang segera menundukkan pandangannya malu-malu kucing.


“ o ya, kenalkan ini sahabat mas namanya Yusuf, kapten Yusuf. Suf kenalin ini adik-adikku, yang ini Asmirah dan yang ini Sabrina” ujar Araf sambil memperkenalkan adik-adiknya pada Yusuf.


*************


dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...


maaf pada semua reader🙏🏻


🙏🏻🙏🏻, karena beberapa hari ini author harus istirahat total jadi semua karya Author harus terlambat up. 😷😷😷


secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author 😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2