Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 70


__ADS_3

Mata Sabrina menatap ke arah Arman dengan nanar, ada luka yang tergambar sangat jelas di mata indah itu. Secepat kilat Sabrina mengibaskan tangannya yang terluka dengan darah masih mengalir deras. Percikan darahnya mengenai tepat baju, jas , dasi hingga wajah Arman.


Nicholas yang berdiri di sampingnya tidak luput terkena percikan darah itu walaupun tidak banyak. Setetes darah merah itu melekat di bibir seksi Nicholas, tangan kanan terangkat dengan ibu jari menghapus darah yang tertempel di bibirnya. Tatapan matanya menatap lekat Sabrina dengan senyuman smirk penuh arti, Raka melihat apa yang di lakukan Nicholas merasa sangat terganggu.


“anak sialan apa kamu lakukan, breng**k?” hardik keras Arman pada Sabrina yang sama sekali tidak gentar. Tangannya terangkat dan langsung melayang dengan cepat hendak memukul Sabrina.


Sabrina menatap lekat Arman seakan bersiap menunggu tamparan yang akan di layangkan olehnya. Semua orang termenung saat melihat tangan Arman yang di tahan langsung oleh Nicholas, mata tajam itu sama sekali tidak berpaling terus menatap lekat Sabrina yang tidak menghiraukannya sama sekali.


“anda mengatakan ingin meminta bayaran atas darah yang mengalir di tubuhku bukan? (tangan kanan Sabrina terangkat hingga darah terus menetes) aku mengembalikan setiap tetesan darah yang anda minta. Darah di bayar dengan darah, disaat darah ini mengalir keluar dari tubuhku saat itu juga hubungan kita sudah tidak ada” Ujar Sabrina, matanya tampak berkaca-kaca namun di tahannya sekuat mungkin. Pandangannya sedikit mengabur tapi di tahannya, dia tidak ingin memperlihatkan kelemahannya di depan semua orang.


Arman sangat kesal mendengar ucapan Sabrina hendak akan melayangkan tangannya kembali, tapi Nicholas masih memeganginya. Pegangan Nicholas semakin lama semakin kuat di rasakan Arman, membuat wajahnya meringis kesakitan.


Adelia segera menghampiri papanya, membantu melepaskan tangan Nicholas. Susah payah Adelia berusaha membantu melepaskan tangan papanaya sampai pada akhirnya Cengkeraman tangan Nicholas terlepas, matanya menatap dingin Arman dan Adelia. Jack segera mengeluarkan beberapa tisu basah yang selalu di bawanya, Nicholas membersihkan tangannya sambil terus menatap Sabrina.


Kali ini tatapan mata Sabrina beralih ke arah Nicholas, diakui oleh pria tampan itu jika Sabrina memiliki sesuatu yang berbeda dari semua perempuan yang di kenalnya.


Wiyasa segera berdiri di depan Sabrina memasang badan melindungi putrinya. Sebelah tangannya merogoh saku mengeluarkan sapu tangan yang selalu di bawanya.


“you already got the answer from my daughter, you should all leave this residence right now (anda sudah mendapatkan jawaban dari putriku, sebaiknya anda semua meninggalkan kediaman ini sekarang juga)” ujar Wiyasa dia segera meraih tangan Sabrina yang terluka, membalutkan sapu tangan itu pada luka yang masih mengeluarkan darah.


Wiyasa sangat tahu jika luka di tangan putrinya sangat dalam dan harus segera mendapat perawatan.


“Pa.... Situasi sudah sangat kacau, sebaiknya kita mundur dan kembali menyusun rencana” bisik Adelia menenangkan Arman yang sedang menatap penuh kebencian ke arah Sabrina tampak mulai lemas.


“we are back now ( kita kembali sekarang)” ujar Nicholas memberikan bekas tisu basah itu pada anak buahnya yang lain.


Pemilik mata tajam itu melangkah keluar dari beranda kediaman Adiwijaya di iringi Jack dan anak buah lainnya. Arman dan Adelia juga ikut meninggalkan kediaman Adiwijaya, Arman sempat melihat dengan penuh kebencian ke arah Sabrina yang sudah di kerumuni oleh keluarganya dan keluarga Wiguna.

__ADS_1


Anak pembawa si*l, kamu sudah merenggut nyawa perempuan yang sangat aku cintai kini kamu membuat semua rencanaku berantakan. Aku akan membalas ini semua lihat saja nanti gumam Arman sambil masuk ke dalam mobil miliknya. Satu persatu mobil itu mulai keluar dari pekarangan Kediaman Adiwijaya, para perempuan segera mengerumuni Sabrina yang mulai tampak pucat.


"om sebaiknya kita bawa mbak Sabrina ke rumah sakit sekarang" ujar Wibisana pada Wiyasa. Sabrina hanya diam seribu bahasa, Raka tampak khawatir. Ingin dia mendekati namun semua orang sudah mengerumuni dan tidak memberi kesempatan untuknya.


"Dek Cakra tolong kamu bawa mobil, sekarang, tolong ambil kuncinya di saku jas ku” pinta Wiyasa pada adik iparnya.


“baik mas” ujar Cakra segera mengambil kunci dalam saku jas dokter milik Wiyasa.


Adiwijaya sangat mencemaskan keadaan Sabrina, dia menghampiri segera merangkul pundak cucunya.


Mata Sabrina menatap ke arah Eyang kakongnya, setetes bening air mata jatuh membasahi pipinya. Wajah cantiknya bersembunyi dalam pelukan hangat Adiwijaya, membuat semua orang melihatnya ikut meneteskan air mata. Tangan kiri Wiyasa masih memegangi tangan Sabrina yang terluka, sebelah tangannya lagi membelai lembut kepala sabrina yang tertutup hijab.


Helena merasa sangat kasihan dengan calon menantunya,


pertama kalinya aku melihat ayah kandung yang begitu breng**k seperti Arman, tega-teganya dia meminta bayaran yang seharusnya sudah menjadi hak bagi Sabrina gumam Helena menyeka air matanya yang menetes. Dia melihat ke arah Raka, sangat terlihat di wajah putranya rasa khawatir untuk Sabrina.


Helena menghampiri Raka memegang tangan putranya,


"Raka janji mi, tidak akan membiarkan satu tetespun air mata Sabrina jatuh" Raka berjanji pada Helena dan dirinya sendiri.


Cakra sudah memakirkan mobil di depan beranda kediaman Adiwijaya.


“mas, ayo kita bawa Sabrina sekarang” ujar Cakra menghampiri. Wiyasa memegang pundak Sabrina dengan penuh kelembutan.


“Nduk.... Ayo kita ke rumah sakit sekarang” bujuk Wiyasa, di bantu oleh Adiwijaya masih memeluknya.


Sabrina mencoba berdiri dengan di bantu oleh Andhini dan Wiyasa, namun badannya terasa sangat lemah. Raka tidak tinggal diam, dia memaksa masuk dan segera maju menahan tubuh Sabrina.

__ADS_1


Merasa ada yang memeganginya wajah pucat Sabrina segera Melihat ke arah Raka, Tangan kekar itu merangkul pinggangnya dengan gagah.


“maaf kalo mas lancang, tapi biar Mas bantu gendong kamu” ujarnya merasa iba dan sedih melihat tunangannya. Wiyasa, Adiwijaya dan lainnya berdiri termenung melihat Raka membopong Sabrina yang tampak lemah.


Andhini dan perempuan yang lainnya ingin ikut menemani Sabrina langsung di cegah oleh Candra.


“Sudah kita semua sebaiknya menunggu di rumah saja. Biar Wiyasa, Cakra dan Raka yang membawa Sabrina” Candra meminta para perempuan untuk tenang dan tidak panik. Sejujurnya dalam hatinya merasa Khawatir juga prihatin pada sahabatnya.


“Benar kata mu Candra, sebaiknya biar mereka saja yang pergi. Kalo kita semua ikut pergi yang ada malah kita membuat Para dokter tidak bisa bekerja” ujar Adiwijaya menatap Wiyasa membuka pintu untuk memudahkan Raka.


“Tapi pak, Aku merasa ndak tenang. Aku ikut mereka yo” ujar Andhini bergegas menghampiri mobil Wiyasa.


Adiwijaya akan mencegah Andhini tapi di urungkannya, dia sadar jika saat ini Andhini menjalankan perannya sebagai ibu Sabrina. Dia tahu jika Sabrina sangat membutuhkan Andhini saat ini, Adiwijaya mendoakan cucunya dalam hati agar bisa berbesar hati menghadapi semua ujian yang di berikan Maha Kuasa.


*************


dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...


secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author 😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ all...


__ADS_2