Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep.74


__ADS_3

Di kediaman Adiwijaya


Adiwijaya dan lainnya tengah duduk di ruang makan, mereka saat ini sedang makan siang bersama. Namun, tidak ada satu pun yang berselera untuk makan. Ningsih menatapi bangku tepat di samping suaminya duduk, bangku itu tempat biasanya Sabrin duduk. Masih segar di ingatan mereka saat Sabrina mengambil sebuah keputusan yang sangat besar.


Candra tampak iba melihat sahabatnya yang hanya mengaduk-aduk makanan di depannya, tidak sekali pun makanan itu masuk ke dalam mulut Adiwijaya.


“Adi, setidaknya kamu makanlah dulu,” Candra menatap sahabatnya. Adiwijaya meletakkan sendoknya di piring menatap balik ke arah Sahabatnya, ada rasa segan di dalam dirinya saat Candra dan keluarganya harus menyaksikan permasalahan keluarganya.


"maaf Candra... sekalinya kamu datang kemari, malah di suguhkan dengan masalah keluarga kami” Ujar Adiwijaya sedih.


“kamu ini bicara apa Adi? kita ini sudah satu keluarga, masalah kamu juga masalahku. Kita akan menyelesaikan masalah ini bersama-sama” ujar Candra menghibur Adiwijaya.


“terima kasih Candra, aku merasa malu dengan tingkah mantan menantuku” Adiwijaya tampak geram mengingat tingkah Arman.


“ pa... menurut ku sebaiknya pernikahan Raka dan Sabrina di percepat saja. Bagaimana menurut papa?” usul Helena, jujur dalam hatinya dia sudah jatuh hati dengan Sabrina dan ingin secepatnya menjadikannya menantu.


“ betul opa, kalo kak Sabrina udah jadi istrinya kak Raka, papanya kak Sabrina nggak bakalan bisa berbuat apa-apa lagi” Eliana setuju dengan usul maminya.


Candra menatap ke arah menantunya dan berpikir jika itu adalah ide yang lebih baik saat ini, di saat dia menatap Arman dan melihat caranya memperlakukan Adiwijaya juga keluarganya. Dia menyimpulkan jika Arman tidak akan menyerah begitu saja sampai dia berhasil dengan tujuannya.


“bagaimana menurutmu Adi? Aku rasa ide dari Helena tidaklah buruk juga” Tanya Candra pada Adiwijaya yang sedang berpikir.


Jika Sabrina menikah dengan Raka, tentunya Arman tidak akan mengganggu kehidupannya. Aku percaya Raka dan keluarga Wiguna akan menjaganya dengan sangat baik juga ada Cakra serta keluarganya, aku bisa merasa tenang sekarang gumam Adiwijaya dalam hati.


Dia menatap ke arah istrinya Ningsih yang tampak setuju dengan ide dari keluarga besan, begitu juga Wulan dan Asmirah mengangguk setuju.


“ aku setuju setuju saja dengan ide ini, tapi alangkah baiknya kita juga membicarakan hal ini pada Wiyasa dan lainnya” Adiwijaya ingin meminta pendapat anggota keluarganya yang lain.


***


Mbok Darmi tampak sedang mengepel lantai dengan bersih, dia merasa merinding saat melihat darah yang berceceran. Saat tengah asyik membersihkan lantai pak Slamet datang menghampiri dengan wajah kebingungan.

__ADS_1


“ada apa pak? Kenapa kok wajahnya kayak orang bingung begitu?” Tanya mbok Darmi menghentikan sejenak pekerjaannya.


“itu... tadi sewaktu mau nutup pagar, orang yang sebelumnya datang bersama den Arman datang lagi”


“trus, pak” Mbok Darmi tampak was-was.


“dia Cuma nanya apa mbak Sabrina ada di rumah apa ndak. Ya aku bilang saja kalo mbak Sabrina udah pergi sama Den Wiyasa ke rumah sakit, anehnya orang itu Cuma...” Pak Slamet belum menyelesaikan ucapannya terkejut saat melihat Adiwijaya di depan pintu rumah bersama Candra.


“kamu bilang siapa yang datang tadi?” Tanya Adiwijaya tampak khawatir.


“itu tuan besar, tamu yang sebelumnya datang bersama tuan Arman. Kalo ndak salah orang itu berdiri di belakang pemuda gagah yang duduk di samping tuan Arman” ujar Slamet mengingat pria yang tidak lain adalah Jack datang kembali ke kediaman Adiwijaya.


Saat akan masuk dia terlebih dahulu bertanya pada Pak Slamet tentang Sabrina, mendapat informasi jika Sabrina tidak di rumah. Jack menaiki mobilnya kembali lalu melajukan segera menuju ke jalan besar.


“trus dia tanya apa saja padamu?” tanya Adiwijaya kembali.


“ dia Cuma bertanya apa mbak Sabrina ada di rumah apa tidak, trus saya bilang saja kalo mbak Sabrina udah pergi bersama tuan Wiyasa dan lainnya ke rumah sakit” jelas Slamet kembali.


“apa kamu memberitahu alamat rumah sakitnya?” tanya Candra.


“aku yakin, orang itu pasti pergi ke rumah sakit tempat Wiyasa membawa Sabrina” ujar Candra mengeluarkan ponsel mencari kontak cucunya Raka.


“kenapa kamu bisa seyakin itu Candra? Slamet juga tidak menyebutkan alamat rumah sakit di mana cucuku di rawat, apalagi Rumah sakit di Surakarta ini banyak. tidak mungkin mereka akan memeriksa setiap rumah sakit yang ada di sini” ujar Adiwijaya menatap sahabatnya.


“Adi, aku sangat mengenal bagaimana tabiat orang-orang yang di bawa oleh Arman itu. Aku yakin sebelum mereka ke sini, mereka sudah lebih dulu menyelidiki tentang keluarga ini, termasuk di mana menantumu bekerja” ujar Candra membuat Adiwijaya terdiam.


Raka tengah menemani Wiyasa di ruang administrasi, ada beberapa surat yang harus di urus oleh Wiyasa. Cakra sudah selesai berbicara dengan Araf segera menyusul ke ruang Administrasi, dia pun duduk di samping Wiyasa.


“Raka... om Cakra sudah datang, kamu duluan saja ke ruang perawatan Sabrina” ujar Wiyasa,


“tidak usah om, aku bareng om Wiyasa dan Om Cakra saja ke ruangan Sabrina” Tolak halus Raka.

__ADS_1


“baiklah kalau begitu” Wiyasa melanjutkan menanda tangani beberapa kertas. Ponsel Raka berbunyi dan langsung di angkatnya setelah mengucapkan maaf karena ponselnya yang berbunyi cukup keras. Mata Raka menatap layar ponsel tertulis nama Opa di sana, dia segera mengangkatnya.


“assalamualaikum opa”


“waalaikum salam Raka, kamu sekarang ada di mana?” tanya Candra terdengar gusar oleh Raka.


“ aku sedang di ruang administrasi bersama om Wiyasa dan om Cakra”


“kamu sekarang secepatnya ke ruang perawatan Sabrina”


“ada apa opa? Kenapa opa terdengar khawatir?” Tanya Raka bingung saat mendengar nada bicara Candra yang terdengar khawatir. Candra pun menceritakan perihal orang suruhan Nicholas kini sedang menuju ke rumah sakit tempat Sabrina di rawat. Raka pun segera berdiri dari tempat duduknya membuat Wiyasa dan cakra penasaran dengan apa yang di bicarakan Candra.


Mereka berdua ikut berdiri menatap ke arah Raka untuk menunggu penjelasan darinya.


“om sebaiknya kita sekarang ke ruangan Sabrina. Tadi opa ngasih tahu kalo orang yang datang bersama tuan Arman mencari Sabrina di rumah...” Raka segera keluar dari ruangan itu menyadari jika orang suruhan itu pasti sudah berada di rumah sakit itu.


Wiyasa dan cakra ikut menyusul Raka yang segera menuju ke ruangan Sabrina, Wiyasa meraih ponselnya untuk menelepon Andhini. Terdengar nada terhubung di ponsel Wiyasa menunggu untuk di angkat oleh istrinya, mereka bertiga berdiri di depan lift.


Raka segera menekan tombol lift, matanya menatap layar dia tas pintu lift. Pada layar itu terlihat jika lift tengah beroperasi membawa penumpangnya ke lantai tujuan.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2