
“In that prison I met an immigrant man who was accused of murdering his master. One time I saw him worshiping and heard him reciting the holy verses of the Qur'an. There is an impulse that makes me feel calm and at peace, for some reason when he talks about Islam I seem to be at peace with myself (di dalam penjara itu aku berkenalan dengan seorang pria Imigran yang di tuduh membunuh tuannya. Suatu saat aku melihatnya beribadah dan mendengar dia melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an. Ada suatu dorongan yang membuatku merasa tenang dan damai, entah mengapa saat dia membicarakan tentang agama Islam aku seakan bisa berdamai dengan diri sendiri)” ujar Nicholas menatap ke arah Sabrina yang mulai rileks. Rasa sakit di perut Sabrina perlahan mulai berkurang berganti dengan rasa nyaman,
“Then.... what happens next? (lalu.... apa yang terjadi selanjutnya?)” Sabrina masih memiringkan tubuhnya melihat wajah tampan Nicholas.
“I finally learned about Islam from him until I decided to embrace that religion. With the help of the prisoner, I recited the creed, but not long ago I learned religion from him, the man had to undergo the punishment that had been determined by the court (aku akhirnya belajar tentang agama islam darinya hingga aku memutuskan untuk memeluk agama itu. Dengan di bantu oleh tahanan itu aku melafazkan syahadat, namun tidak berselang lama aku belajar agama darinya pria itu harus menjalani hukuman yang sudah di tetapkan oleh pengadilan)” ujar Nicholas mengingat masa lalunya saat di penjara. Sabrina menatap Nicholas yang menerawang jauh mengingat momen di mana dia merasakan dingin dan kejamnya kehidupan penjara.
“Then...( lalu....)” mata Sabrina pelan-pelan mulai terasa berat, namun dia terus berusaha untuk terjaga mendengar cerita masa lalu tentang Nicholas.
“I had felt down and lost my way when the man I considered a teacher who taught me about Islam, left forever. My knowledge of Islam is still so shallow and the influence of a mafia family background made me return to this black road. After that I was released due to insufficient evidence and...... (aku sempat merasa down dan kehilangan arah saat pria yang ku anggap sebagai guru yang mengajarkanku tentang islam, pergi untuk selamanya. ilmu pengetahuan ku tentang islam masih begitu dangkal dan pengaruh latar belakang keluarga mafia membuatku kembali ke jalan hitam ini. Setelah itu aku di bebaskan karena bukti yang tidak cukup kuat dan......)” ujar Nicholas menatap ke arah Sabrina yang ternyata sudah terlelap. Dia pun tersenyum bahagia menatap lama Wajah Sabrina yang terlihat sangat kelelahan.
Nafasnya tampak teratur dan tenang wajah Sabrina terlihat begitu cantik di mata Nicholas, tangannya membelai lembut kepala istrinya yang tertutup hijab. Perlahan di mendekatkan wajahnya pada gadis cantik itu, lalu bibirnya mengecup lembut kening Sabrina. Setelahnya dia menarik selimut menutupi tubuh istrinya agar tidak kedinginan.
Para anak buah Nicholas termasuk Jack tidak sengaja melihat perlakuan dan sikap Lembut Nicholas pada Sabrina, semua mata itu terbuka lebar saat dan segera mengalihkan perhatian mereka ke tempat lain. Ada perasaan haru, simpati dan prihatin saat mereka semua mendengar kisah masa lalu bos mereka.
Mereka semua bertekad dalam hati untuk selalu setia pada bos mereka, setelah menyelimuti istrinya Nicholas merasa sangat haus. Dia lalu berdiri dari tempat duduknya melangkah menuju dapur kecil di bagian depan pesawat, mata elangnya menatap ke arah anak buah yang membalas menatapnya dengan respect mendalam.
Nicholas hanya menanggapi dingin lalu melangkah terus menuju ke arah bagian depan pesawat jet pribadi miliknya.
our boss will always be loyal to you, even we are ready to be a shield for you (bos kami akan selalu setia padamu, bahkan kami siap menjadi perisai untuk mu) gumam mereka serentak dalam hati mengucapkan atau mengikrarkan janji setianya pada Nicholas.
***
Candra dan para pria di keluarganya kembali ke kediaman mendapati Helena yang duduk termenung di beranda kediaman Wiguna.
“assalamualaikum” Candra dan lainnya mengucapkan salam secara serentak. Helena yang melamun segera tersadar melihat ke arah Candra dan lainnya.
__ADS_1
“Waalaikum salam, pa... papi...” Helena bangkit dari tempat duduknya segera menghampiri dan menyalami suami dan mertuanya. Raka dan Wibisana menyalami Helena secara bergantian,
“Di mana Bima dan Jani pi?” tanya Helena tidak mendapati putra kedua dan menantunya di antara mereka.
“ Mereka masih di rumah sakit, Bima juga ngasih tahu kalo mereka akan menginap di kediaman pak Adi” jelas Adrian sambil melangkah duduk di teras sejenak. Begitu juga dengan Candra, Raka dan Wibisana.
Helena duduk di samping suaminya, wajahnya masih terlihat sangat sedih atas batalnya pernikahan Raka. Adrian menatap ke arah dalam rumah di mana pintunya terbuka lebar, dia mencari-cari sosok putri bungsunya Eliana.
“di mana Elia, Mi?” tanya Adrian.
“Elia sedang ke dapur membuatkan minuman hangat untuk kami,” ujar Helena dengan raut wajah sedih. Adrian menatap ke arah istrinya yang melihat sedih ke arah putra pertamanya,
“Sudahlah mi, jangan berlarut dalam kesedihan. Bagaimana pun juga ini semua sudah suratan dari-Nya, ini adalah ujian untuk Raka” ujar Adrian mengerti dengan kesedihan istrinya, sebelah tangannya merangkul pundak Helena.
“mami tahu pi. Tapi bagaimana dengan keluarga besar, sanak famili dan rekan kerja yang sudah tahu, mereka pasti akan bertanya macam-macam dan akan menyudutkan kita...” ucapan Helena terhenti saat di potong oleh Candra.
“benar kata papa mi, Lihatlah Raka mi. dia berusaha untuk ikhlas dengan apa yang menimpanya, kita seharusnya menghibur agar dia tidak bersedih” Ujar Adrian menatap Raka yang hanya diam sedari tadi.
Eliana yang selesai membuat minuman hangat untuknya dan Helena, terkejut saat mendapati opa dan keluarga lainnya tengah berbincang-bincang di beranda rumah.
“Eyang, papi, kak Raka, kak Wibi?! Kapan sampainya? Opa ama papi mau di buatkan minuman?” tanya Eliana seraya menaruh minuman yang di buatnya di atas meja.
“tidak usah Elia, kami sudah minum saat di rumah sakit tadi“ ujar Adrian.
"kami baru saja sampai” ujar Candra menutup mulutnya dan menguap, dia memperhatikan jam pergelangan tangannya.
__ADS_1
“ternyata sudah jam sembilan malam, Raka beritahu pilot persiapkan pesawat untuk penerbangan Kita besok pagi Ke Jakarta” ujar Candra mulai merasakan kantuk.
“Baik opa,” ujar Raka meraih ponsel di saku celananya.
“Wibi.... tolong antarkan opa ke kamar, mata opa sudah terasa sangat berat sekali" pinta Candra yang langsung di bantu Adrian untuk berdiri. Wibisana ikut membantu memapah Candra masuk ke dalam kediaman menuju kamar miliknya.
Raka dan Helena masih duduk di beranda kediaman Wiguna, Helena menatap sedih ke arah putra pertamanya. Mata mereka bertemu saat Raka menatap ke arah ibundanya,
“Raka?!” Helena menatap lama putranya, dia dapat melihat ada kesedihan di mata Raka.
“ Mi.... (menatap mata ibunya) Raka sudah mengikhlaskan semua yang terjadi, bohong jika Raka tidak merasa sakit dan sedih. Tapi, aku percaya dan yakin Allah memberi cobaan pada hamba-Nya tidak akan melebihi kemampuan umat-Nya” mata Raka tampak berkaca-kaca saat melihat Helena yang mulai menitikkan air matanya.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...