
“what interesting information?( informasi menarik apa?)” Nicholas tampak tertarik menatap ke arah Jack.
“looks like the goddess of fortune is with us boss, I heard that the girl returned to this town yesterday (sepertinya dewi keberuntungan bersama kita bos, saya mendengar jika gadis itu kembali ke kota ini kemarin)” ujar Jack. Nicholas tersenyum smirk, anak buah lainnya membukakan pintu mobil lalu dia masuk dan duduk dengan tenang di bangku penumpang.
Jack menyuruh anak buah untuk menyimpan paperback di bagasi mobil, dia kemudian membuka pintu tepat di samping kemudi lalu duduk.
“Call Mr. Arman now, tell him to go to his ex-in-law's residence and wait for us there. Also don't forget to prepare everything you need (telepon tuan Arman sekarang, suruh dia ke kediaman mantan mertuanya dan menunggu kita di sana. juga jangan lupa kamu persiapkan semua yang di perlukan)” perintah Nicholas.
“okay boss (baik bos)” Jack segera melaksanakan perintah Nicholas. Dia tampak sibuk berbicara melalui ponselnya, tidak lupa di juga menyuruh sekretaris Nicholas untuk mengirim sesuatu melalui Email.
Nicholas kembali menatap layar ponsel di mana foto Sabrina terpampang di sana, sekilas wajah perempuan yang tidak sengaja di lihatnya tergambar di foto wallpaper ponselnya. Senyuman smirk kembali terlukis di wajah dinginnya, membuat Jack dan supir yang sempat menatap melalui kaca spion depan bergidik ngeri.
Sabrina tengah ikut melakukan kegiatan canting pada kain batik yang tersedia, dia larut dengan canting yang di pegangnya. Melukis dengan alat canting yang berisi cairan lilin malam, mengikuti motif tergambar indah di kain putih itu.
Setelah mendengar laporan dari akuntannya, Adiwijaya mulai berkeliling memperhatikan para pekerja yang rajin mengerjakan pekerjaannya. Mata tuanya melihat ke arah cucunya fokus melakukan canting pada kain yang di pegangnya. Adiwijaya berdiri di belakang Sabrina tengah duduk meniup cairan lilin (malam) yang tertempel d kain putih itu.
“Nduk...Eyang arep bali menyang omah, kowe gelem teka karo eyang, apa kowe isih pengin nginep ing kene?( nduk... eyang akan balik kekediaman, kamu mau ikut eyang apa masih ingin di sini?)” tanya Adiwijaya, kepala Sabrina menengadah menatap Adiwijaya.
“ Sabrina masih ingin di sini dulu eyang, ntar kalo udah selesai Sabrina nanti akan pulang. Apa sepeda Sabrina masih di sini eyang?” Sabrina teringat dengan sepeda tua miliknya yang tertinggal di pabrik batik Adiwijaya.
“ Masih mbak Sabrina, Aku isih nyimpen ing garasi pabrik” ujar akuntan kepercayaan Adiwijaya.
“yo wes kalo gitu, eyang balik dulu. Ntar kalo sudah selesai kamu cepetan balik, kamu tahu gimana eyang uti kamu toh” ujar Adiwijaya mengingatkan Sabrina bagaimana sifat istrinya yang mudah cemas.
“iya eyang” ujar Sabrina tersenyum manis.
“ Ya udah, Eyang balik dulu assalamualaikum” ujar Adiwijaya, Sabrina meraih tangan eyang mencium santun punggung tangannya.
“waalaikum salam eyang” Sabrina menatap punggung Adiwijaya yang melangkah pergi meninggalkannya. Mata indah itu menatap kain batik yang sedang di kerjakan nya, kembali dia melanjutkan melukis batik.
Adiwijaya di temani akuntannya berdiri di depan pabrik, mata tuanya sempat melihat iringan mobil hitam mewah yang menjauh pergi.
Sepertinya ada yang datang membeli batik, tapi kenapa perasaanku ndak tenang melihat mobil itu gumam Adiwijaya menatap mobil hitam yang sudah menjauh pergi.
__ADS_1
“Tuan besar.... tuan besar Lagi ngopo? (tuan besar....tuan besar sedang apa?” Tanya akuntan itu menatap ke arah yang sama dengan Adiwijaya.
“tidak, tadi aku seperti mengenal mobil yang baru saja pergi dari sini. Ah... mungkin mobilnya saja yang sama, Baiklah aku kembali ke rumah sekarang jika ada apa-apa segera beritahu aku” Ujar Adiwijaya, mata tuanya menatap tukang ojek yang sudah dari dulu menjadi langganannya.
“Baik tuan besar” akuntan itu undur diri untuk melanjutkan pekerjaannya.
“silahkan tuan besar” sapa tukang ojek itu sambil menyerahkan helm untuk di pakai Adiwijaya.
“makasih... antar ke rumah yo” ujar Adiwijaya menaiki motor ojek. Tongkat yang biasa di gunakan nya di apit di ketiak sebelah kiri dengan kedua tangan berpegangan fi bahu tukang ojek itu
“Baik tuan besar” tukang ojek itu mulai menstater motornya, Motor itu lalu berjalan menuju ke arah kediaman Adiwijaya.
***
Kediaman Adiwijaya tampak sangat asri, tanaman hijau tumbuh dengan subur sedang di sirami pak Slamet. Terdengar siulan dari pak Slamet yang bersenandung salah satu tembang milik penyanyi lawas dengan julukan Father of broken heart.
Tiiin.... Tiiin.... Tiiin....
“oalah.... Aden Cakra, kok ya ndak ngomong toh kalo mau dateng. Kan saya bisa jemput” ujar pak Slamet membukakan pintu pagar.
“hahaha... Sengaja ndak bilang pak Slamet, mau ngasih kejutan sama bapak dan ibu” ujar Cakra,
“Monggo.... Monggo.... Silahkan masuk” ujar pak Slamet. Cakra kembali masuk ke dalam mobil lalu membawa masuk mobilnya ke halaman kediaman Adiwijaya. Beberapa mobil mewah lainnya tampak mengikuti mobil Cakra.
Timbul tanda tanya di hati pak Slamet saat melihat beberapa mobil yang tidak di kenalnya, mobil-mobil itu terparkir berjejer di halaman kediaman yang luas. Mobil Cakra langsung di parkir di garasi rumah, semua orang yang berada di dalam mobil itu turun.
Pak Slamet menatap ke arah pria tua yang seakan dia kenal, namun dia tidak berani untuk menyapanya takut jika nanti salah orang. Pria tua yang tidak lain adalah Candra Wiguna tersenyum hangat menyapa pak Slamet.
“assalamualaikum Slamet” Sapa Candra ramah, dia masih mengingat Slamet yang sudah bekerja sangat lama pada keluarga Adiwijaya. Pak Slamet menatap bingung ke arah Candra yang memanggil namanya.
“waalaikum salam tuan... Tuan....” ujar pak Slamet ragu-ragu menyapa Candra tersenyum ramah ke arahnya.
“kamu sudah lupa dengan aku Slamet? Aku Candra sahabat Adi saat masih sekolah dulu” Ujar Candra mengingatkan pak Slamet pada sahabat dekat Adiwijaya.
__ADS_1
“Tuan Candra...” pak Slamet ragu-ragu memanggil nama Candra.
“iya ini aku Candra, sudah bertahun-tahun lamanya aku meninggalkan kota ini, ternyata sudah banyak perubahan di sini” ujar Candra. Pak Slamet tersenyum dan menyalami santun Candra.
“oalaaah... tuan Candra. Wah tuan Candra ndak banyak berubah masih ganteng seperti dulu” puji pak Slamet.
“berubah kok Slamet, dulu aku masih kuat dan gagah sekarang aku sudah tua juga sudah punya cucu. O ya Adi mana, kenapa kok sepi?” Candra menatap kediaman Adiwijaya yang sepi.
“tuan besar sedang ke pabrik batik Tuan” ujar Pak Slamet.
Andhini dan Ningsih berada di ruang keluarga heran mendengar suara gaduh dan mobil di halaman rumah. Terlintas dalam pikiran mereka jika Arman datang kembali untuk membuat kekacauan, tergambar jelas di wajah mereka rasa khawatir dan cemas.
“Assalamualaikum ibu... Mbak....” terdengar suara Cakra dan Wulan menyapa mereka. Helaan nafas berbarengan terdengar dari Andhini dan Ningsih, mereka segera bangkit dari tempat duduk untuk menghampiri Cakra dan Wulan.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
mohon maaf 🙏🙏🙏 kedua karya Author akhir-akhir ini jarang update, di karenakan Author yang tidak fokus dan dalam masa bersedih atas berpulangnya kakek author 😭😭😭.
berkat dukungan dan support para reader akhirnya bisa kembali update karya author walaupun tidak semuanya. insyaallah secepatnya author akan update karya-karyanya.
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1