
“Nicholas, your wife is your rib, she is not a woman you can hurt and do as you please. Treat Sabrina with tenderness, I entrust my daughter to you (Nicholas, Istri adalah tulang rusukmu, ia bukanlah perempuan yang bisa kamu sakiti dan berbuat seenaknya. Perlakukanlah sabrina dengan kelembutan, aku percayakan putriku pada mu)” Wiyasa menatap dalam ke arah Nicholas, dari mata tajam itu Wiyasa dapat melihat sebuah tekad dan keyakinan yang tidak tergoyahkan.
“I promise sir.... I mean father (aku berjanji tuan.... maksud ku bapak)” ujar Nicholas yang ragu-ragu memanggil Wiyasa, dia segera mengganti panggilannya pada Wiyasa. Dia sadar jika statusnya kini adalah menantu dari Wiyasa, sudah sepantasnya dia memanggil bapak.
Salah seorang anak buah Nicholas menghampirinya sambil berbisik jika sudah waktunya mereka berangkat. Laporan dari anak buah Nicholas terdengar oleh Araf, sebelah tangannya merogoh saku jaket untuk mengambil passport dan visa milik Sabrina.
“Sabrina, jangan lupa ini” Araf memberikan buku kecil itu pada tangan Sabrina, matanya masih tampak berkaca-kaca. Mereka berempat pun berpelukan sekali lagi seolah berpamitan, Nicholas lalu menghampiri mereka berempat.
Anjani dan Asmirah perlahan menyingkir sambil berpelukan, Araf masih memegang tangan Sabrina menatap lembut pada adiknya. Tangan kekar Nicholas terulur ke arah Sabrina, Araf dan Sabrina menatap tangan itu.
Perlahan Araf yang menggenggam tangan Sabrina meletakkan tangannya di tangan Nicholas, matanya kembali menatap wajah Sabrina yang basah oleh air mata. Tangannya yang kekar membelai lembut kepala adiknya sambil mengangguk perlahan, Nicholas menggenggam tangan Sabrina.
Mata tajam itu menatap ke arah Araf yang seolah berbicara padanya, Nicholas lalu mengajak Sabrina untuk masuk ke ruang keberangkatan. Para anak buah Nicholas segera mengawal bos mereka seperti tameng yang tidak bisa di tembus. Sesekali Sabrina menatap ke arah belakangnya menatap Mas dan kedua adik perempuannya hingga mereka berlalu pergi menuju ruang khusus.
***
Asmirah dan Anjani masih tampak sangat sedih, air mata mengalir membasahi pipi mereka. Araf membalikkan tubuhnya menatap kedua adiknya yang saling berpelukan, dia melihat ke arah Yusuf yang berdiri tidak jauh dari mereka bersama teman-teman yang menolong Araf untuk menunda keberangkatan Nicholas.
Araf mendekati kedua adiknya, membelai lembut kepala Asmirah yang langsung menatapnya dan segera berhamburan memeluknya. Begitu juga dengan Anjani,
“Mirah mengira mas bakalan maksa mbak Sabrina untuk berpisah... ternyata...huhuhuhu” Asmirah menangis sedih di pelukan masnya.
“ya nggaklah dek, mana mungkin mas akan berbuat seperti itu. Ini sudah jalan yang di atur Allah untuk Sabrina, apa lagi mas bisa melihat Nicholas benar-benar tulus mencintainya dan bahkan rela berkorban untuk kebahagiaan mbak mu” ujar Araf menatap ke arah Anjani yang ikut menangis.
__ADS_1
"mbak Sabrina sangat beruntung, di cintai oleh dua pria yang sangat hebat" ujar Asmirah menyandarkan kepalanya di dada bidang Araf.
"tapi dia sangat tidak beruntung harus memiliki bapak seperti Arman yang sama sekali tidak memiliki hati" ujar Araf menerawang jauh menatap ke arah pintu keberangkatan.
"sekarang kita bisa tenang, ada tuan nicholas yang melindungi dan menjaga mbak Sabrina dari tangan papanya" ujar Asmirah yang berdiri di samping kiri Araf ikut menyandarkan kepalanya di pundak pria gagah itu.
Araf tersenyum melihat tingkah ke dua adiknya yang berlaku manja di depan umum, Yusuf melihat ke arah Sabrina yang sudah menghilang dari balik pintu keberangkatan.
Ada rasa kagum terbesit di hati Yusuf saat melihat betapa tulusnya hati Nicholas.
Pria itu memang layak mendapatkanmu Sabrina, dia sama sekali tidak egois dan juga tidak mementingkan dirinya sendiri. Aku belum tentu bisa seperti pria itu berbesar hati untuk berpisah agar bisa melihat perempuan yang di cintainya berbahagia, dari lubuk hati ku yang paling dalam aku mendoakan semoga kamu selalu berbahagia gumam Yusuf tersenyum ke arah Araf dan merasa bangga atas apa yang di lakukan sahabatnya.
Asmirah perlahan melepaskan pelukannya dengan Anjani dan Araf, matanya termenung sesaat melihat sepatu high hells yang di pegangnya.
“mas.... Mbak Jani....”Mata Asmirah membulat sempurna saat melihat sepatu milik Sabrina masih di pegangnya.
“astagfirullah Mirah, jadi sekarang mbak Sabrina nyeker dong?” tanya Jani meraih sepatu yang di pegang Asmirah. Mereka bertiga saling berpandangan, mereka ingin menyusul masuk namun terhalang oleh sistem peraturan bandara. mereka bertiga hanya terdiam di depan pintu menatap jauh kedalam ruangan bandara yang sangat luas.
***
Nicholas dan Sabrina melangkah melewati pintu keberangkatan untuk menuju pesawat pribadi miliknya, dengan pengawalan ketat dari anak buah. Jack memperhatikan ke sekeliling bandara, pelayan setia Nicholas yakni Yohan berjalan di belakang pasangan itu, Langkah Nicholas sejenak terhenti karena ada yang berbeda dengan penampilan Sabrina.
Dia menatap ke arah perempuan Cantik itu yang terheran melihat ke arahnya, tanpa aba-aba Nicholas segera membopong Sabrina yang langsung terkejut dengan apa yang di lakukannya.
__ADS_1
“Mr. Nicholas... what are you doing? (Tuan Nicholas... apa yang anda lakukan?)” tanya Sabrina dengan mata yang terbuka lebar.
“I can't let my girl walk barefoot, are you not cold or feeling sick at all? Look at your legs already looking red like that (aku tidak mungkin membiarkan perempuanku berjalan tanpa menggunakan alas kakinya, apa kamu sama sekali tidak kedinginan atau merasa sakit? Lihat kaki mu sudah terlihat memerah seperti itu)” ujar Nicholas tahu Sabrina tidak memakai sepatunya. Gadis cantik itu juga baru menyadari jika sepatunya tadi di lepas paksa oleh Araf dan meminta Asmirah untuk memegangnya.
Wajah Sabrina merona merah atas perlakuan Nicholas, dia ingin sekali menyembunyikan wajah cantiknya yang menahan malu saat para anak buah Nicholas menatap heran pada mereka berdua. Untuk pertama kali bagi anak buah Nicholas melihat bos mereka yang terkenal dengan tangan dingin juga kejam memperlakukan Sabrina dengan sangat lembut.
boss... where is your authority and cruelty? You are now completely beyond our expectations, love is indeed very dangerous. Able to turn someone as savage as a wild lion into an adorable tame cat (bos... ke mana wibawa dan sikap kejam mu itu? Kamu yang sekarang benar-benar di luar ekspetasi kami, cinta memang sangat berbahaya. Mampu membuat seseorang yang buas seperti singa liar menjadi kucing jinak yang menggemaskan) gumam Jack menepuk jidatnya sendiri dan menggeleng—gelengkan kepalanya tersenyum melihat ke arah sepasang sejoli itu.
“but... i... (tapi.... aku...)” Sabrina sama sekali tidak melanjutkan ucapannya, di benar-benar merasa tidak enak hati.
“just ignore them. How about your feet? and...(teringat saat Sabrina tidak sengaja memanggilnya tuan) I told you to just call my name, but you still... (acuhkan saja mereka. Bagaimana dengan kaki mu? dan... (teringat saat Sabrina tidak sengaja memanggilnya tuan) aku sudah mengatakan padamu untuk memanggil nama ku saja, tapi kamu masih saja... )” ujar Nicholas masih membopong Sabrina melangkah menuju ruang pengurusan surat-surat sebelum mereka berangkat.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...