
“then, what do you want? (lalu, kamu ingin bagaimana?)”
“Can I work in one of the hospitals here? there was one of my colleagues while studying in Germany recommended me to work in one of the hospitals here (Bolehkah aku bekerja pada salah satu rumah sakit di sini? ada salah seorang teman sejawatku saat kuliah di Jerman merekomendasikanku untuk bekerja di salah satu rumah sakit di sini)” ujar Sabrina yang teringat dengan email dari temannya di Jerman.
Walaupun Sabrina sudah kembali ke negara asalnya dia tetap menjalin silaturahmi dengan sahabat-sahabat satu profesinya, mereka semua terkejut saat Sabrina memberi tahu jika dia sudah menikah dan menetap di Australia.
Sahabatnya sangat mengenal dan mengagumi kegeniusan Sabrina, dia pun tidak segan- segan merekomendasikan Sabrina pada salah satu rumah sakit terbesar di Melbourne. Sebuah kesempatan emas bagi Sabrina untuknya bisa menambah pengalaman dan ilmu yang berguna nantinya.
Sabrina menatap ke arah Nicholas dengan penuh harap, tatapan itu lama kelamaan meluluhkan hati pria tampan itu yang sedikit berat hati menyetujuinya.
“hah... You really made me speechless Brina ... ok you can work (hah... Kamu benar-benar membuatku tidak bisa berkata tidak Brina (menghela nafas panjang) baiklah kamu boleh bekerja)” ujar Nicholas sedikit berat hati, senyuman bahagia tersungging di bibir cantik Sabrina.
“Really? (benarkah?)” Sabrina menatap Nicholas dengan tatapan berbinar-binar, Tubuhnya dan kedua tangannya berada di dada bidang Nicholas yang menganggukkan kepalanya. Sabrina segera berhamburan memeluk tubuh pria tampan itu,
“Thank you Nico.... Thank you... (Terima kasih Nicho.... Terima kasih...)” ujar Sabrina dengan wajahnya berada di pundak kanan Nicholas tepat di samping wajahnya, pria tampan itu tersenyum senang dengan tindakan spontan istrinya. Kemudian dia memegang lengan Sabrina melepaskan pelukan gadis cantik itu, dia menatap Sabrina dengan kening berkerut.
“Nicho?!” ujar Nicholas menatap dalam mata indah Sabrina yang membalas menatapnya. Pipi gadis itu merona merasa gugup,
“Hmm... sorry... I... I slipped... I... I... (Hmm ... maaf... Aku... Aku keceplosan... Aku... Aku....)” ucapan Sabrina terhenti saat jari telunjuk Nicholas menempel di bibir pink mungil itu.
“Dear Brina, you can call me by any name, because it brings me closer to you (Brina sayang, Kamu boleh memanggil ku dengan sebutan apa pun, karena hal itu membuat ku semakin dekat pada mu) ” ujar Nicholas membelai wajah Sabrina dengan punggung tangannya. Wajah cantik Sabrina tertunduk malu saat Nicholas tersenyum padanya, dia menyembunyikan wajah cantiknya di dada bidang Nicholas.
“o yes I have allowed you to work, then what reward do I get? (o ya aku sudah mengizinkanmu bekerja, lalu imbalan apa yang aku dapatkan?)” tanya Nicholas sambil memeluk tubuh Sabrina.
“reward.... what reward do you want? (imbalan.... imbalan apa yang kamu inginkan?)” tanya Sabrina membalas memeluk tubuh Nicholas yang diam-diam tersenyum nackal tanpa sepengetahuannya.
__ADS_1
“the reward i want.... (imbalan yang aku inginkan....)” Nicholas membelai lengan Sabrina yang kemudian melihat ke arahnya menunggu jawaban.
Senyuman dan mata nackal Nicholas menggoda dengan menatap ke arah pegunungan yang menjulang tinggi, seketika pipi Sabrina memerah seperti memakai blush on yang ketebalan. Senyuman kembali tersungging di bibir Nicholas, kedua tangan Nicholas mendorong tubuh Sabrina untuk lebih dekat ke arahnya.
Nicholas berbaring di atas sofa panjang itu dengan Sabrina yang berada dalam pelukan hangatnya, mata indah Sabrina menatap ke arah wajah tampan pria itu.
“I'm just kidding honey (aku hanya bercanda sayang)” ujar Nicholas sambil menowel hidung mancung Sabrina. Senyuman manis terhias di bibir mungil Sabrina yang memberanikan diri menatap ke arah Nicholas.
“Then what reward does Mr. Nicho want? (Lalu imbalan apa yang tuan Nicho inginkan?)” ujar Sabrina bercanda membuat Nicholas semakin gemas.
“hmmm... the reward I want, you are always by my side like now. Tell me anything that happened to you, be it a pleasant story or your complaint and I want me to take you to work too (hmmm... imbalan yang aku inginkan, kamu selalu berada di sisi ku seperti saat ini. Menceritakan apa saja yang terjadi pada mu, baik itu cerita yang menyenangkan atau keluhanmu dan aku ingin aku yang mengantar juga menjemputmu bekerja)” Nicholas menatap ke arah kedua mata indah itu, tangan kekar sebelah kirinya membelai punggung Sabrina penuh kasih sayang.
Sabrina menyetujui permintaan Nicholas dengan mengangguk senang, mata mereka saling menatap satu sama lain. Perlahan-lahan Sabrina mendekatkan wajahnya pada Nicholas lalu memberanikan diri mengecup lembut lembut bibirnya, Mata Nicholas terbuka lebar saat Sabrina menciumnya.
***
Sore hari di Jakarta, Dewi baru menyelesaikan shiftnya hendak akan kembali pulang ke kosan nya. Sepanjang gadis itu bekerja selalu ada yang mengawasi setiap gerak-geriknya, hal itul juga di rasakan Dewi. Dia pun sering berkumpul dengan staff pekerja yang lain dan terus memperhatikan ke arah tamu. Dewi yang berdiri di trotoar sedikit termenung mengingat apa yang terjadi saat dia bekerja,
“kenapa, Wi? Kok kamu kliatan ketakutan gitu” sapa salah seorang temannya saat mereka masih bekerja.
“Nggak tahu kenapa, aku ngerasa ada yang ngawasin” ujar Dewi kembali memperhatikan ke arah para tamu yang tengah makan siang. Teman Dewi ikut melihat ke arah yang sama dengannya,
“Perasaan kamu aja kali,” ujar temannya yang tidak menemukan keanehan. Dewi kembali menatap ke arah tamu dan memperhatikan mereka satu persatu yang terlihat tidak mencurigakan.
Dewi masih berdiri di trotoar tepat di halte pemberhentian bus trans, perasaannya kembali gelisah saat merasa ada yang mengawasinya. Gadis itu melihat ke samping kanannya terlihat dua orang pria berbadan besar memperhatikan dirinya sambil berbisik-bisik, Dewi semakin terlihat ketakutan dia bergerak mundur dan melangkah menelusuri trotoar.
__ADS_1
Kedua pria berbadan besar itu juga mengikutinya, tidak berapa lama sebuah mobil mendekati trotoar di depan Dewi. Beberapa pria juga turun dari mobil itu, langkah Dewi langsung terhenti sambil melihat ke depan dan ke belakangnya. Nafasnya terengah-engah ketakutan, salah seorang pria yang berada di samping mobil memberi kode pada kedua pria di belakang Dewi.
Secepat kilat kedua tangan Dewi di pegang erat,
“tol....mmppph..... Mmmmph....” Teriakan Dewi segera di bungkam oleh salah seorang pria itu, beberapa orang yang berada di sana melihat kejadian itu berniat membantu.
“Woi mau lu apa in tu cewek, lepas tu cewek” kata seorang pemuda yang di temani seorang temannya.
“Weits tenang bro, ini adik gua udah beberapa hampir dua minggu dia Kagak pulang ke rumah. Kami sekeluarga udah pada kuatir, berkat bantuan teman-teman gua akhirnya kita nemuin dia” jelas pria yang berada di samping kiri Dewi yang berusaha memberitahu dengan menggelengkan kepalanya.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1