
“eyang!!! Raka, mohon tunggu sebentar, semua ini bukan kesalahan Anjani dan Bima. Aku sudah menyelidiki masalah ini, sebentar lagi asisten ku akan kemari membawa buktinya” jelas Raka, tangan Araf masih terkepal kuat.
“Araf, Cakra, kalian berdua tenang. Beri mereka kesempatan” pinta Adiwijaya bijak.
Tidak berapa lama Thio datang membawa bukti ke tidak bersalahan Anjani dan Bima. Thio meminta teknisi IT memutar video CCTV memperlihatkan di mana Anjani sedang di bawa sorang gadis menuju kamar Bima.
Raka mengenali siapa gadis yang membawa Anjani, tangannya terkepal erat hingga ujung jarinya memutih.
“Rani Adinata.... berani-beraninya dia” Raka dan Bima terlihat sangat marah.
“om, perempuan ini yang sudah menjebak Bima dan Anjani hingga terjadilah hal ‘itu’ aku harap om, dan Araf bisa bijak dalam mengambil keputusan” ujar Raka.
Adrian dan keluarganya bernafas sedikit lega mengetahui jika Bima dan Anjani hanyalah korban dari penjebakan keji Rani.
“masalah ini, lebih baik kita bicarakan baik-baik dengan kepala dingin” kata Ningsih menengahi. Wiyasa masih memegangi Araf menenangkan keponakannya, dia lalu mengajak Araf untuk duduk di kursi di sampingnya.
“Walau bagaimana pun semua ini sudah terlanjur terjadi, sebaiknya kita bicarakan dan selesaikan hal ini secara kekeluargaan” Adiwijaya melangkah menuju kursi kosong di samping Sabrina yang menenangkan Anjani. Thio juga berdiri di samping Wibisana, dia sempat menatap ke arah Sabrina, Anjani dan Asmirah.
“Bro” bisik Thio menyapa Wibisana sambil bersalaman.
“gua kagak nyangka, kalo si Rani bakalan bertindak ekstrim kayak gini” ujar Thio berbisik pada Wibisana yang masih memperhatikan suasana.
“itulah yang di namakan obsesi berlebihan, semoga polisi cepat bertindak cepat menangkap si Rani” ujar Wibisana.
“ Tenang saja, dalam perjalanan kemari gua udah meminta polisi untuk segera bertindak” kata Thio kembali mendengar pembicaraan kedua keluarga.
Bima lalu duduk kembali di kursi di dampingi Raka di samping kanan dan Wibisana di samping kiri. Mereka semua kembali duduk ke tempat masing-masing, berpikir jernih dan meredam emosi masing-masing.
“Anjani, eyang tahu kamu tidak bersalah dalam hal ini. Tapi, kalian sudah melakukannya, sekarang eyang menyerahkan pada kalian berdua. Kalian sudah dewasa sudah bisa mengambil keputusan” Adiwijaya dengan bijak memberi kesempatan pada Anjani dan Bima.
“eyang... Jika di perbolehkan aku ingin berbicara pada Jani di depan semua keluarga” Bima memegang pipinya yang sedikit bengkak. Adiwijaya melihat mata Bima yang menyiratkan kepercayaan diri dan rasa tanggung jawab di hatinya.
Dia menganggukkan kepalanya memberi kesempatan untuk Bima berbicara.
“terima kasih eyang,” Bima berdiri dari kursinya melangkah mendekati Anjani. Araf tampak kesal namun di cegah Cakra dan Wiyasa, mereka harus bisa berlaku adil dalam hal menyangkut masa Depan Anjani.
__ADS_1
“Tenang Araf, kita semua kenal bagaimana keluarga Wiguna. Beri mereka kesempatan” ujar Cakra.
Araf menghela nafas berat, dia tahu jika keluarga Wiguna keluarga dengan latar belakang pendidikan dan akhlak yang baik. araf juga mengenal bagaimana watak Raka, Bima dan Wibisana.
“Jani, kakak tahu kakak bukanlah sosok imam yang kamu ingin kan. Kakak minta maaf, tapi jujur dari lubuk hati terdalam. Kakak sudah menyimpan perasaan sayang padamu, perasaan sayang lebih dari kakak kepada adiknya. Berharap suatu hari bisa memberi tahu kepada mu perasaan kakak sebenarnya. Maaf jika kakak mengutarakan perasaan kakak pada waktu tidak tepat” ucap Bima membuat Anjani yang menangis di pelukan Sabrina menatap ke arahnya.
Dia termenung mendengar apa yang di utarakan Bima, dia berpikir jika perasaannya bertepuk sebelah tangan selama ini. Sabrina melepaskan perlahan tangannya yang merangkul pundak Anjani, dia memberi kesempatan untuk adiknya menyampaikan perasaannya.
“ ja.... Ja... Jadi maksud kak Bima?” Anjani menatap lekat kedua mata Bima.
“Anjani Adiwijaya, jika di perkenankan maukah kamu menjadi pendamping hidup di selama sisa hidupku, menjadi ibu dari anak-anakku. Selalu bersama dalam keadaan suka maupun duka” Bima melamar Anjani di depan ke dua keluarga. Mereka tersenyum senang mendengar Bima dengan tulus melamar Anjani.
tanpa pikir panjang, Anjani yang sudah lama menaruh hati pada Bima segera menjawab lamarannya.
“Anjani mau kak, Jani mau menjadi pendamping kakak, menjadi ibu bagi anak-anak kita kelak” Anjani tersenyum senang menata Bima yang juga sangat bahagia. Lamaran yang selalu di tunda-tundanya selama ini untuk mencari cara melamar Anjani di waktu yang baik.
Kini semuanya berubah gara-gara Rani yang menjebak mereka berdua, dia terpaksa melamar Anjani di keadaan yang bisa di bilang kacau. Namun keputusan ini adalah yang terbaik untuknya dan kedua belah pihak keluarga.
Cakra terlihat sudah mulai tenang begitu juga Araf, dia sempat salah paham mengira jika Bima akan lepas tangan begitu saja.
Araf menghampiri Bima mengucapkan kata maaf sambil memeluk.
"sorry bro udah mukulin kamu, aku sedikit terbawa emosi hinggga membuat mu terluka
seperti ini" Ujar Araf di sambut bik oleh Bima. mereka saling maaf memaafkan dan berpelukan.
setelahnya mereka mulai mendiskusikan langkah selanjutnya,
"sekarang Lebih baik kita membicarakan pernikahan Bima dan Anjani, masalah orang yang menjebak kalian?” Adiwijaya ingin turun tangan mengatasi masalah orang yang sudah berani menjebak.
“Eyang tidak usah khawatir, aku sudah melaporkan kasus ini ke pihak berwajib juga pengacara terbaik sudah aku tunjuk untuk menuntut Rani Adinata atas kasus ini” ujar Raka mantap.
"baiklah nak Raka. kami meyerahkan segalanya padamu" kata Adiwijaya. para keluarga besar mulai mendiskusikan tentang pernikahan Anjani dan Bima. Raka diam-diam kembali menatap ke arah Sabrina, tersenyum senang atas kabar baik adiknya.
Senyum itu mampu menghipnotis Raka yang terus menerus menatapnya, hal itu di sadari oleh Eliana dan Amirah. Mereka pun saling berpandangan satu sama lain dengan sebuah ide jahil muncul di benak mereka, saling memberi kode di mana keluarga mereka masih berbicara serius tentang rencana pernikahan mereka.
__ADS_1
“ehem...” Asmirah sengaja berdehem menarik perhatian kedua keluarga menatap ke arahnya.
“Ada apa mirah?” tanya Wulan menatap putri bungsunya.
“ eyang kakong, menurut mirah bukan hanya kak Jani saja yang akan di lamar. Benar nggak oppa Raka?” sindir Asmirah di bantu Eliana yang menyikut lengan kakaknya.
“papi, mami... sepertinya kakak ku ini juga sudah menemukan tambatan hatinya” ujar Eliana tersenyum penuh maksud. Semua yang hadir di sana menatap ke satu arah yaitu Raka yang berdiri bingung di tatap dengan pandangan menyelidik.
“udah kak, jujur saja jika kakak suka kan sama mbak Sabrina” Eliana memberi pukulan telak pada Raka. Mendengar namanya di singgung membuat Sabrina menatap ke arah Raka, mata indah Sabrina kembali tertunduk saat tidak sengaja pandangannya bertemu dengan pandangan Raka.
Helena segera menghampiri Raka, meminta jawaban pasti dari putra pertamanya.
“Benarkah itu Raka?” tanya Helena.
Raka bingung harus menjawab apa, tatapan semua keluarganya mengintimidasi berharap sebuah jawaban. Wibisana tersenyum diam-diam saat kakak sepupunya di interogasi oleh keluarga,
“udahlah kak Raka, katakan saja jika kakak memang ada rasa untuk dokter Sabrina. Lebih baik ngomong sekarang kak dari pada ntar kakak nyesal” bisik Wibisana berdiri di belakang Raka.
“maksud kamu?” Raka menatap ke arah Wibisana yang memberi kode pada Raka untuk melihat ke arah luar ruangan. Tampak beberapa pria dari perawat, dokter pengunjung untuk pasien berlalu lalang di luar ruangan sekedar mengintip di balik pintu yang terbuka sebagian saat mereka masuk.
*************
secepatnya author akan up lagi tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya...🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ all...
__ADS_1