
Nicholas sedikit penasaran dengan Sabrina, dia menatap angkuh pada Arman yang duduk di kursi kebesarannya dengan wajah yang terlihat ketakutan.
“Sir, take it easy, in a few weeks I'm going to Indonesia to collaborate with the Arbecio company. Give us some time, as soon as possible we will bring Sabrina to see you. (tuan tenang saja, beberapa minggu lagi saya akan ke indonesia untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan Arbecio. beri kami waktu, secepatnya kami akan membawa Sabrina menemui anda)” ujar Arman menenangkan Nicholas tampak berpikir dengan tawaran Arman.
Sudah sangat lama dia tidak bermain dengan perempuan, setiap perempuan yang di temuinya kebanyakan sangat membosankan baginya. kucing mana yang tidak akan tergoda jika di tawari ikan yang menjadi makanan kesukaannya, Nicholas menyetujui usulan Arman. Dia memberi waktu pada Arman untuk membawa Sabrina yang akan di jadikan penjamin, senyuman kelegaan terpancar di wajah Arman.
Mendadak pintu terbuka, dari balik pintu itu muncul Indra dengan gaya angkuhnya masuk ke dalam ruangan Arman.
“pa, aku minta uang dong. Buat jajan” pinta Indra cuek, dia memandang rendah ke arah Nicholas dan kedua anak buahnya. Arman kembali tampak sangat ketakutan dan gugup, dia dapat melihat perubahan raut wajah penuh emosi pada Nicholas.
“mereka siapa pa? Apa mereka kemari meminta sumbangan?” tanya Indra dengan santai merendahkan Nicholas. Dia sengaja berbicara dengan bahasa Indonesia, mengira jika Nicholas tidak akan mengerti. Senyuman dingin dan kilatan kemarahan tergambar jelas di wajah Nicholas.
“sir...” Arman bergetar hebat begitu juga Indah dan Adelia. Anak buah Nicholas akan mengambil tindakan segera berhenti saat tangan Nicholas mengodekan untuk tidak bertindak.
“anak ingusan dengan nyali yang begitu besar... huh (tersenyum smirk berdiri dengan angkuh di depan Indra. Mata birunya menatap tajam) aku datang kemari ingin mengambil uang milikku yang sudah di pinjam oleh papamu. Jangan kamu mengira aku tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan” ujar Nicholas membuat Indra termenung. Dia tidak menyangka jika Nicholas, pria tampan berambut panjang lurus berwarna blonde dengan mata biru dapat mengerti dan bisa berbahasa sepertinya.
“anak kecil, apa kamu tahu kamu berurusan dengan siapa sekarang” dengan Angkuh Nicholas mencengkeram baju Indra yang terlihat sangat ketakutan. Anak buah Nicholas berdiri di samping Nicholas dengan menunjukkan tato penanda kelompok mafia yang terkenal di Australia. Salah satu anak buah Nicholas juga memperlihatkan senjata yang tersimpan di balik jas hitam mereka.
“tu... tu..... tuan, tolong jangan sakiti dia. saya mohon maafkan dia karena sudah merendahkan Anda” Arman dengan terbata-bata meminta pengampunan untuk Indra. Begitu juga Indah yang langsung bersimpuh di bawah kaki Nicholas,
“tuan saya mohon jangan sakiti, dia masih kecil tidak mengerti apa pun” ujar indah meminta pengampunan. Nicholas menatap dingin Indah yang dengan beraninya menyentuh kakinya, indah semakin ketakutan melihat mata biru Nicholas yang mengintimidasinya.
“ma...ma...maaf tuan Nicholas” ujar Indah segera melepaskan tangannya. Nicholas melepaskan cengkeramnya dari leher Indra, dia memanggil anak buahnya dan membisikkan sesuatu padanya.
__ADS_1
Nicholas kembali duduk di kursi tepat depan meja kerja, Arman dan keluarganya duduk bersimpuh di lantai di jaga oleh anak buah Nicholas lainnya. Mereka menunggu pengampunan dari Nicholas yang sedang membersihkan tangannya. Tidak berapa lama anak buah Nicholas datang membawa celana yang sama dengan yang di gunakannya. Indah dan Adelia menatap bingung pada Nicholas yang melangkah masuk ke toilet di ruangan Arman.
"bakar celana ini” perintah Nicholas membuat terkejut Indah dan Adelia. Mereka tidak menyangka akan tindakan dari Nicholas yang memandang rendah pada Indah.
“ jangan lupa dengan janji dan jaminan mu. Ingat aku bisa menghabisimu di mana pun kamu berada, jangan pernah kamu mengkhianatiku. Atau kamu bisa berakhir seperti ini...” Nicholas menarik sepucuk senjata dari balik kemeja anak buahnya lalu menembak ke arah lantai, menyerempet tangan Indah yang menyentuh kakinya.
“aaaaaah....” pekikan nyaring terdengar dari Indah yang menahan rasa sakit luar biasa di lengannya. Darah segar mengucur keluar dari bekas serempetan peluru yang terbenam membuat lubang kecil di lantai kayu kantor Arman.
Wajah Arman memucat dan ketakutan, dia bergetar hebat melihat peringatan yang di berikan Nicholas. Para mafia lalu pergi meninggalkan kantor Arman setelah dirinya menanda tangani surat perjanjian. Arman segera membawa istrinya ke rumah sakit di ikuti Adelia dan Indra dengan wajah yang terlihat pucat pasi.
Nicholas masuk ke dalam lift menuju ke lantai bawah, anak buahnya segera menekan tombol pada lift itu.
“Send spies to keep an eye on Arman, if he messes up and breaks the agreement. you know what to do. (kirim mata-mata untuk mengawasi Arman, jika dia bertindak macam-macam dan mengikari perjanjian. kalian tentunya tahu harus melakukan apa)” perintah Arman dengan wajah sangat dingin.
***
Satu minggu setelah acara akan nikah Anjani dan Bima, sudah saatnya Adiwijaya dan keluarganya kembali ke Surakarta. Pagi itu Adiwijaya dan seluruh keluarga besarnya berkumpul di ruang tamu rumah Cakra, mereka bercengkerama sambil bersenda gurau. Sabrina dan Asmirah datang dengan nampan berisi minuman juga makanan kecil untuk menemani mereka mengobrol.
Barang-barang mereka sudah terkemas begitu rapi, mereka sengaja mengambil penerbangan pagi agar secepatnya sampai di Surakarta. Pagi itu Candra mengunjungi kediaman Cakra di temani Adrian dan Raka, berkat perawatan terbaik yang di berikan oleh Sabrina membuat Candra bisa pulang lebih awal walau masih harus menggunakan kursi roda. Dia tahu jika hari ini sahabatnya akan pulang ke Surakarta,
“assalamualaikum” sapa mereka bertiga serempak,
“waalaikum salam” terdengar sapaan ramah dari dalam rumah Cakra. Mereka bertiga di sambut baik oleh keluarga Adiwijaya. Cakra mempersilahkan Adrian dan Raka duduk di sofa yang tersedia. Raka duduk di samping Raka mencari-cari sosok Sabrina yang tidak ada di antara keluarga besar Adiwijaya, Asmirah menyadari hal itu segera menebak langsung Raka.
__ADS_1
“oppa Raka pasti lagi nyari mbak Sabrina ya?” goda Asmirah membuat Raka diam seribu bahasa. Mendengar namanya di sebut Sabrina muncul dan berdiri di samping Asmirah.
“kamu manggil mbak dek” tanya Sabrina, mata Raka terpaku padanya yang terlihat sangat cantik menggunakan pakaian syar’i berwarna hijau dengan motif bunga. Di padu dengan hijab lebar yang menutup bagian tubuh atasnya.
Subhanallah guman Raka dalam hati terpesona pada Sabrina. Detakan jantung Sabrina terasa sangat cepat, dia sendiri dapat merasakan detakan jantung saat dia bertemu dengan Raka. Asmirah senyum-senyum melihat perubahan pada sikap Sabrina, senyuman manis tersungging di bibir berwarna pink menyambut kedatangan Raka, Adrian dan Candra.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ all...
__ADS_1