Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 80


__ADS_3

“indra.... indra...kamu tenang dulu dia... dia... dia teman mama. Dia datang ke sini untuk berbicara bisnis baru yang akan mama mulai” alasan Indah agar Indra tidak curiga.


“loh kenapa dia datang ke rumah? Bukankah lebih bagus jika ke kantor kita langsung ma” Ujar Indra menatap Roy dari ujung kaki sampai wajahnya.


“ada... ada beberapa hal mesti kami rundingkan dulu, jika di kantor tidak akan leluasa. Kamu sendiri tahu bagaimana kantor papa akhir-akhir ini yang selalu kedatangan debt collector menagih uang-uang mereka. Lebih baik sekarang kamu berangkat duluan saja, mama akan menyusul setelah pembicaraan ini selesai” ujar Indah menatap Roy yang hanya tersenyum penuh maksud ke arahnya.


“tapi ma...” Indra tidak ingin pergi, dia merasa ada yang tidak beres.


“sudah lebih baik kamu berangkat sekarang, atau nanti terlambat. Ayo” ujar Indah memaksa Indra untuk berangkat ke perusahaan. Indra terpaksa mengikuti kemauan Indah, sesekali matanya menatap ke arah pintu rumah yang tertutup rapat dengan ribuan pertanyaan di benaknya.


Indah mengintip dari balik jendela, menatap Indra yang masuk ke dalam mobil lalu melajukan menuju ke jalanan. Dia menghela nafas panjang dengan tangan memegangi dadanya yang berdetak dengan sangat cepat.


Roy tersenyum smirk memeluk tubuh Indah dengan mesra dari belakang, Indah memberontak berusaha melepaskan diri. Dia membalikkan tubuhnya menatap ke arah Roy dengan penuh kebencian, tapi tidak bagi Roy yang sudah di butakan hawa *****.


Roy menyerang dengan ganas sehingga pagi itu terjadi sesuatu yang membuat dia dan Indah kelelahan, sedikit memaksa Roy akhirnya mendapatkan apa yang sudah lama dia tidak dapatkan semenjak Indah di boyong oleh Arman ke Australia.


Indah sangat sedih merasakan nyeri di tangan dan wajahnya, dia jatuh terduduk dengan punggung menempel ke dinding. Dia tidak pernah menyangka Roy akan kembali mencarinya dan memperlakukannya seperti seorang pela**r.


Tidak berlarut dalam kesedihan, Indah segera bangkit dan mulai mengemasi barang-barangnya. Tidak lupa dia memesan tiket untuk penerbangan ke Indonesia, sebelumnya dia menelepon Indra untuk memintanya pulang segera.


Indra menolak untuk ikut dengan Indah, perusahaan di ambang kejatuhan membuatnya tidak bisa pergi meninggalkan perusahaan begitu saja. Mendengar hal itu Indah hanya bisa mengikuti kemauan putranya, dia lalu menanyakan soal botol kecil yang dbutuhkan Adelia pada Indra yang segera memberi instruksi untuk mengambil di kamar Indra tepatnya di tempat tersembunyi sudut kamar itu. Setelah semua beres dia segera berangkat menuju bandara menunggu di ruang tunggu untuk penerbangannya.


***


Dua hari kemudian, Sabrina sudah pulang dari rumah sakit. Tangannya masih di pasangi perban, saat ini Sabrina dan Raka berada di sebuah butik ternama di Surakarta.


Mereka tampak sedang memilih gaun pernikahan untuk akad nikah yang seminggu lagi akan di laksanakan. Sesuai dengan rapat keluarga, pernikahan Sabrina dan Raka di majukan tepatnya seminggu lagi. Di temani Andhini, Helena, Eliana dan Asmirah mereka ke butik pilihan keluarga Adiwijaya.

__ADS_1


Raka dan Sabrina pasrah saat di jadikan manekin oleh para perempuan itu, begitu banyak pilihan yang begitu menarik dan cantik.


Eliana dan Asmirah begitu antusias mencarikan baju pengantin untuk Sabrina, begitu banyak pilihan membuat mereka kebingungan. Wajah Sabrina dan Raka memancarkan kebahagiaan saat melihat Eliana dan Asmirah yang beradu argumen dengan pilihan mereka. Andhini dan Helena ikut tertawa melihat tingkah kedua anak gadis itu.


“nggak yang ini lebih bagus” Eliana memperlihatkan pakaian pengantin yang terlihat cantik serta payet menawan yang menghiasi.


“nggak ini yang bagus buat mbak Sabrina” Asmirah tidak mau kalah memperlihatkan gaun pengantin pilihannya.


“loh..loh... kok kalian pada ribut, seperti kalian saja yang menikah” ujar Helena menengahi Eliana dan Asmirah.


“yang menikah saja terlihat adem ayem gitu, kalian malah seperti anjing dan kucing” Andhini tersenyum melihat Eliana dan Asmirah tidak ada yang mau mengalah.


“abisnya pilihan kak Elia tu kurang bagus, lihat itu ( Menunjuk gaun pilihan Eliana) masak mbak Sabrina harus make gaun itu. Yang lebih bagus dan cocok jika mbak make yang ini (menunjuk pilihannya) aura kecantikan mbak bakalan bertambah” Asmirah dengan pede menunjukkan gaun pilihannya.


Para ibu itu menggeleng-gelengkan kepala saat melihat pilihan mereka, pada dasarnya kedua pakaian itu sangat bagus tapi tidak sesuai dengan Sabrina yang memakai hijab.


“kenapa nggak tanya mbak dan mas mu suka yang mana?” ujar Andhini menengahi beda pendapat Eliana dan Asmirah.


“nggak... nggak... yang ini lebih bagus kan mbak?”


Asmirah dan Eliana menyodorkan pilihan mereka pada Sabrina yang hanya tersenyum melihat adik dan calon adik iparnya kembali beradu argumen. Raka pun di buat pusing tujuh keliling mendengar pertengkaran para gadis itu yang tidak ada mengalah satu orang pun.


Perhatian Raka teralihkan saat merasakan getaran ponsel di saku celanya. Dia mengeluarkan ponsel miliknya, pada layar ponsel itu tertulis nama Bima. Dia segera mengangkat telepon itu.


“assalamualaikum Bim, ada apa? Apakah ada masalah dengan surat-suratnya?” tanya Raka pada Bima yang kebagian tugas mengurus surat-surat bersama Cakra.


“waalaikum salam kak, sebaiknya Kakak dan lainnya balik ke rumah eyang. Ada hal penting yang terjadi” ujar Bima membuat kening Raka berkerut. Sabrina menatap heran saat melihat perubahan wajah Raka, entah mengapa jantungnya berdegup kencang merasa sesuatu yang pelik akan terjadi.

__ADS_1


Tatapan Sabrina di sadari Raka yang langsung tersenyum ke arah calon istrinya, dia tidak ingin Sabrina merasa khawatir atau cemas.


“baiklah, kami kembali sekarang” Ujar raka yang mengakhiri dengan mengucapkan salam.


“ada apa mas?” tanya Sabrina penasaran.


“eyang dan opa meminta kita pulang sekarang, ada sesuatu yang ingin beliau bicarakan pada kita. Sebaiknya kamu beritahu yang lain untuk pulang sekarang” ujar Raka bersikap tenang, jujur dia begitu penasaran dengan apa yang terjadi.


“baiklah mas” ujar Sabrina berdiri dari tempat duduk dan memberitahu pada Andhini dan lainnya.


***


DI kediaman Adiwijaya...


Adiwijaya, Cakra, Candra, Wiyasa dan Wibisana tampak diam larut dalam pikiran masing-masing. Wibisana menatap wajah para pria yang duduk mengelilingi meja, suasana begitu tenang dan mencengkam membuat Wibisana gugup.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2