Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 82


__ADS_3

“di mana Sabrina?” tanya Adiwijaya pada Ningsih yang duduk di samping Andhini.


“sepertinya dia ke kamarnya pak” ujar Ningsih khawatir, Adiwijaya melangkah menuju kamar Sabrina lalu mengetuk pintu kamarnya.


Tok... tok... tok....


“nduk....” Panggil Adiwijaya. Sabrina yang tengah duduk di ranjangnya menoleh ke arah pintu kamar.


Adiwijaya masih berdiri di depan pintu menunggu pintu kamar itu di buka. Sabrina bangkit dari ranjangnya, dia lalu membuka pintu melihat eyangnya berdiri di sana.


“iya Eyang” Sabrina menatap eyangnya. Tatapan lembut, hangat dan meneduhkan itu membuat perasaan Sabrina sedikit tenang.


“ nduk.... Apa sampeyan pengin ngancani eyang sakwetara wektu, menyang papan sing biasane kita tindak (nduk... kamu mau temani eyang sebentar, ke tempat biasanya kita sering datangi)” Adiwijaya menatap cucunya, perlahan senyuman cantik terlukis di wajah Sabrina yang langsung keluar kamar berjalan beriringan bersama.


Ningsih dan Andhini merasa sedikit lega, rasa khawatir dan cemas yang sempat menghinggapi perlahan menghilang. Adiwijaya menatap istrinya, pernikahan mereka yang langgeng dan berjalan lama sudah membuat mereka saling mengerti. Seakan hanya melalui tatapan mata, Ningsih tahu keinginan suaminya.


Wulan, Helena, Eliana dan Asmirah menatap heran ke arah Ningsih yang tersenyum dan menganggukkan kepalanya ke Adiwijaya. Sabrina dan Adiwijaya melewati beranda rumah di mana para pria masih duduk di sana, tampak Wibisana tengah berbicara serius dengan Raka.


“Candra, maaf aku tinggal sebentar, ada sedikit urusan di pabrik” Ujar Adiwijaya merasa tidak enak pada sahabatnya.


“Biar Cakra saja yang ke pabrik Pak...” Ujar Cakra hendak bangkit dari tempat duduknya.


“ndak usah Cakra, Ada Sabrina yang akan membantuku” ujar Adiwijaya serius, Cakra hendak berbicara lagi langsung di cegah oleh Wiyasa yang tahu jika mertuanya ingin berbicara dengan Sabrina.


“ apakah begitu serius, Adi? Kalo begitu Biarkan Raka dan Wibi ikut, mereka pasti bisa membantumu” Ujar Candra, mendengar nama mereka di panggil Raka dan Wibisana melihat ke arah Adiwijaya.


Untuk beberapa saat, Raka Terpesona dengan gadis yang sebentar lagi akan menjadi nyonya Raka Candra Wiguna. Sabrina juga sempat melihat ke arah Raka, namun pandangannya tertunduk dengan pipi bersemu kemerahan.


“tidak terlalu serius Candra, biarkan Raka dan Bima beristirahat” tolak Adiwijaya secara halus. Candra mengangguk mengerti dengan keinginan sahabatnya. Setelah berpamitan, Adiwijaya dan Sabrina berjalan menuju ke arah pabrik batik miliknya.


***


Mata tua Adiwijaya menatap sebuah kotak kayu jati berbentuk persegi panjang, dia atas kotak itu terukir pola ukiran cantik.


Kotak itu sejenak di belainya, ada sebuah kerinduan terpancar di mata Adiwijaya.

__ADS_1


Tok...tok...tok...


Lamunan Adiwijaya menjadi buyar saat mendengar ketukan di pintu ruang kerjanya.


“eyang....” Panggil Sabrina, segera Adiwijaya membuka pintu itu. Sebelah tangannya membawa kotak batik berukuran sedang, mata indah Sabrina menatap kotak kayu jati yang di pegang Adiwijaya.


Adiwijaya tidak berbicara banyak, dia langsung mengajak cucu kesayangan menuju taman yang tidak jauh dari pabrik batik miliknya. Mereka duduk di sebuah bangku taman menatapi pemandangan di taman itu, Sabrina begitu penasaran dengan kotak yang di bawa eyangnya.


“nduk...”


“iya eyang”


“apa kamu kecewa dengan eyang dan yang lain?” tanya Adiwijaya menatap mata cucunya, dia bisa melihat jika saat ini Sabrina sangat sedih. Sabrina semula menatap ke arah Adiwijaya mengalihkan pandangannya ke arah taman itu.


“Sabrina, ndak kecewa dengan eyang dan yang lain. Sabrina tahu dan sadar jika apa yang eyang dan keluarga bahas tadi adalah yang terbaik untuk Sabrina dan mas Raka. Apa lagi pa...” ucapan Sabrina terhenti saat akan mengucapkan kata ‘papa’. Adiwijaya menatap wajah cucunya yang tampak tertunduk sedih.


Sebelah tangannya membelai kepala Sabrina yang dengan lembut dan penuh kasih sayang.


“nduk.... apa kamu ingin papa kamu menjadi walimu?” tanya Adiwijaya langsung mengetahui jawabannya saat melihat kepala Sabrina yang semula tertunduk menatap ke arahnya. Mata cantik itu kembali mengalihkan pandangannya.


Tangan Sabrina meraih kotak itu, membuka penutupnya dan termenung saat melihat isi di dalamnya. Dia melihat ke arah Adiwijaya menunggu jawaban dari eyangnya.


“ini....”


“ini... adalah kain batik yang di gunakan saat ibu mu menikah dulu. Eyang sengaja menyimpannya karena begitu banyak memory ibumu di kain ini, eyang sengaja menyimpannya agar eyang bisa memberikannya padamu saat akan menikah nanti” ujar Adiwijaya menatap Sabrina yang memegang kain batik dengan motif yang sangat indah.


Tangan kanan Sabrina membelai kain batik yang di pegangnya, seakan dia merasakan kehadiran Rianti yang sedang duduk bersama mereka di taman itu.


“walaupun papa mu tidak menyetujui dan merestui pernikahan ini, selalu ingat nduk... ada restu ibu mu yang menyertai mu...” ujar Adiwijaya, di sudut mata tuanya ada sebening kristal yang siap menetes ke pipinya.


Sabrina memeluk kain batik itu, menyandarkan kepalanya di pundak Adiwijaya. Air matanya perlahan menetes, dia sangat merindukan Rianti. Mereka berdua menikmati pemandangan siang itu di taman sambil berbicaradari hati kehati, beban di hati Sabrina mulai terasa ringan.


Tanpa mereka berdua sadari, di kejauhan tepatnya dari balik pohon gerak gerik mereka di perhatikan seseorang.


"nona Adel, perempuan di foto itu sekarang berada di taman bersama seorang pria. sepertinya pria itu kakeknya" Lapor pria yang bersembunyi itu pada Adelia. Saat itu di sedang menemani papanya yang masih di rawat, pria yang selalu mengikuti Sabrina dan Adiwijaya ternyata adalah orang suruhan Adelia.

__ADS_1


"terus kamu ikuti gadis itu dan terus kamu laporkan padaku apa saja dia lakukan dan pergi dengan siapa saja gadis itu" perintah Adelia pada orang suruhannya.


"baiklah nona," ujar Adelia memutuskan sambungan telepon secara sepihak, sembari menunggu kedatangan Indah dan Indra Adelia menyewa pengawal untuk memata-matai Sabrina.


lu udah bikin gue dan bokap menderita, sekarang gue bakalan balas setiap penghinaan dan sakit hati dengan merebut orang-orang yang lu sayangi gumam Adelia penuh kebencian menatap foto yang baru saja di terimanya.


***


Di suatu Pagi yang cerah di hotel Grand Surakarta...


Indah baru saja sampai di hotel itu, dia melangkahkan kakinya menuju resepsionis dan bertanaya di kamar maa Adelia juga Arman menginap. Adelia dan Arman sedang berada dalam lift menuju lobi untuk sarapan pagi.


ting...


Pintu lift terbuka saat sampai di tujuannya, Adelia dan Arman terkejut sekaligus senang saat melihat Indah yang berdiri di depan lift.


"mama.." panggil Adelia senang, segera memeluk Indah.


"adel sayang...mama kangen sama kamu" Ujar Indah sambil cipika dan cipiki dengan Adelia.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2