
Pria yang dulunya terkenal dengan sifat dingin dan kejam itu mendadak meneteskan air matanya,
“Yusuf..... my son.... I'm your daddy (Yusuf..... putraku.... aku daddymu) “ ujar Nicholas, suaranya jelas terdengar bergetar. Perlahan tangannya menggendong baby Yusuf yang menatap intens pria tampan itu, baby Yusuf tampak nyaman dalam gendongan Nicholas. Kepala baby Yusuf tersandar di bahu Nicholas, wajah tampan baby itu berada tepat di ceruk leher Nicholas.
Pertemuan mengharukan itu tidak lepas dari tatapan para keluarga besar, para perempuan di keluarga itu kembali meneteskan air mata haru. Mereka sangat senang akhirnya Baby Yusuf dapat bertemu dengan ayah kandungnya, semua tersenyum hangat dan larut dalam suasana berbahagia.
***
Sabrina tengah tertidur pulas di ranjang ruang VVIP rumah sakit, tidak berapa lama setelah Nicholas keluar dari ruang perawatan dirinya tersadar. Dokter hendak memanggil dan memberitahu keluarga Sabrina di luar ruangan, namun tidak ada siapa pun di sana.
Dokter pun memberikan obat penenang pada Sabrina, dia juga menjelaskan pada Sabrina jika dia terlalu lelah dan shock. Mata Sabrina sejenak memejam, jari jemarinya mencubit batang hidung lalu melepaskannya. Araf baru kembali dari kamar kecil menghampiri ruang perawatan dan mendapati Sabrina sudah siuman,
“Dek... Kamu sadar, apa terasa pusing? “ ujar Araf.
“Mas Araf.... Iya mas, Kepala Sabrina terasa pusing banget. Saking pusingnya membuat Sabrina berhalusinasi” tangan kanan Sabrina memegangi kepalanya.
“Halusinasi?! “
“iya mas, tadi Sabrina merasa Nicho... “ ucapan Sabrina terhenti, matanya kembali berkaca – kaca. Dia begitu merindukan suami yang di sangka olehnya sudah di panggil oleh Yang Maha Kuasa, kepalanya terasa kembali pening dan berdenyut. Menatap adiknya yang kesakitan mengurungkan niat Araf untuk menjelaskan jika apa yang di lihatnya bukanlah halusinasi, dia merasa tidak tega.
“Sebaiknya kamu beristirahat dek, tenangkan dirimu, jangan kamu pikirkan apa pun saat ini” ujar Araf yang langsung di angguki oleh Sabrina, dia lalu memejamkan matanya dan tertidur pulas karena efek obat penenang yang di minumnya.
Para perawat kembali datang dan memindahkan Sabrina ke bankar yang di bawa oleh mereka, Sabrina segera di pindahkan ke ruang VVIP agar bisa beristirahat dengan tenang.
Di ruang VVIP, setelah Araf memberitahu kamar Sabrina. Nicholas segera bergegas menuju kamar VVIP itu, dia ingin berada di samping Sabrina di saat perempuan cantik itu terbangun.
Nicholas menatap wajah istrinya yang sesekali terlihat mengernyit, tangan kanannya menyentuh lembut pipi putih yang kemerahan itu. Keluarga lainnya ingin ikut melihat keadaan Sabrina, namun Adiwijaya mencegah mereka dan memberikan kesempatan untuk Nicholas. Pria berusia lanjut itu tahu jika Nicholas ingin berbicara banyak dengan Sabrina, kehadiran mereka akan mengganggu pertemuan Sabrina juga Nicholas.
Merasakan kehangatan dari tangan Nicholas membuat Sabrina semakin nyaman dan memegang seakan tidak ingin terlepas, senyuman tersungging di wajah tampan yang menatap penuh cinta. Perlahan dia ikut berbaring di samping Sabrina yang kini posisinya miring menghadap ke sebelah kanan, wajah mereka berhadapan satu sama lain.
Tangan Nicholas menggenggam tangan Sabrina, sebelah tangan lainnya membelai lembut wajah cantik yang terlihat damai. Kehangatan serta kelembutan sentuhan itu sangat di kenal oleh Sabrina, dia seakan bermimpi jika Nicholas berada di hadapannya.
__ADS_1
“Nicho... “
Sabrina memanggil nama Nicholas dalam mimpinya, senyuman dan tatapan lembut yang begitu di rindukan Olehnya. Tidak terasa Air mata Sabrina menetes di sudut matanya yang terpejam, perlahan ibu jari tangan Nicholas menyeka air mata itu. Perlahan wajahnya mendekat ke arah mata yang masih terpejam, bibirnya mengecup pelan mata itu. Setelah mengecup mata istrinya, Nicholas kembali memosisikan kepalanya sejajar dengan kepala Sabrina hingga wajah mereka saling berhadapan.
Sabrina merasakan setiap sentuhan dan belaian lembut itu nyata, perlahan dia membuka mata dan menatap lurus ke pria yang balik menatapnya. Dia termenung sejenak menatap lama ke arah pria yang menatapnya dengan lembut,
Mimpikah ini?! Tapi... Ini seperti nyata.... Gumam Sabrina dalam hati, matanya menatap tepat ke arah mata biru Nicholas. Tangan Nicholas kembali membelai wajah Sabrina, belaian itu terasa hangat. Tangan kiri Sabrina yang terpasang jarum infus membalas memegangi tangan Nicholas yang masih menempel di pipinya, perlahan tangan itu bergerak ke arah wajah tampan di hadapannya.
Jari jemari lentik Sabrina bergerak menelusuri wajah pria yang sangat di rindukannya, dari alis , mata, hidung mancung hingga kini jari itu menyentuh lembut bibir Nicholas. Jari jemari itu di pegang Nicholas dan di kecup perlahan,
“Nicho.... “ panggil Sabrina dengan mata yang kembali meneteskan cairan bening, dia seakan tidak percaya jika di hadapannya adalah suami yang di kabarkan telah meninggal dunia.
“Brina” ujar Nicholas membuat Sabrina yakin jika dirinya tidak bermimpi, tangisannya pun pecah.
“Nicho..... Nichooo....” Sabrina menangis sambil memegang erat tangan suaminya, dia sama sekali tidak melepaskan tangan Nicholas. Dalam hati Sabrina mengucapkan syukur yang teramat kepada Sang Pencipta atas kebahagiaannya, Nicholas perlahan menarik dan memeluk tubuh istrinya.
Tangan kekar Nicholas membelai lembut kepala yang tertutup hijab syar’i, dia juga membelai lembut punggung menenangkan Sabrina yang masih menangis. Senyuman tersungging di wajah tampan itu tatkala Sabrina membalas memeluk erat,
“ ya sayang ku”
“Nicho.... “
“yes my angel.... (Ya malaikatku) “
“Nicho... It's.... It's you.... I.... I.... Wasn't dreaming isn't it..... It's you right....(Nicho... Ini .... Ini benar dirimu .... Aku.... A.... Aaaku.... Tidak bermimpi bukan..... Ini kamu kan....) “ ujar Sabrina memastikan jika itu bukanlah mimpi.
“Yes Brina, it's me.... I've come back to you (Ya Brina, ini aku.... Aku telah kembali padamu) “ ujar Nicholas perlahan melepaskan pelukan erat, telapak tangannya kembali menempel di wajah Sabrina.
“Nicho....” telapak tangan Sabrina juga menempel di wajah tampan Nicholas, matanya tampak memerah.
Perlahan Nicholas kembali mengecup kedua mata Sabrina, kecupan itu berlanjut ke arah kedua pipi yang memerah. Sabrina memejamkan matanya saat mendapat kecupan lembut itu, mereka berdua saling berpandangan satu sama lain.
__ADS_1
Perlahan wajah Nicholas mendekat hingga bibir mereka saling menyentuh satu sama lain, ciuman hangat itu mengalir begitu saja. Mereka berdua seakan terbuai dengan suasana yang sangat mendukung, Nicholas lebih mendominasi mencium bibir mungil Sabrina.
Ciuman itu terhenti saat Sabrina merasakan kekurangan oksigen, kening Nicholas menempel di kening Sabrina yang berusaha mengatur nafasnya.
“We haven't seen each other in years. You still haven't changed, you still forget to breathe when we... (bertahun – tahun kita tidak berjumpa Kamu masih tidak berubah, masih saja lupa bernafas saat kita...) “ ucapan Nicholas terhenti saat Sabrina dengan sedikit berani mengecup lembut bibirnya, mata Nicholas menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Sabrina membalas menatap lembut ke arah pria yang di cintainya, perlahan Nicholas kembali mencium bibir istrinya dengan mencurahkan rasa rindu yang sudah di tahannya begitu lama.
****
Sabrina duduk bersandar di dada bidang Nicholas sambil menunggu cairan infus yang tergantung pada tiang khusus habis, Nicholas menceritakan segalanya panjang lebar. Wajah Sabrina terlihat sendu mendengar luka parah yang di alami suaminya, dia merasa sangat sedih harus meninggalkan Nicholas dalam keadaan sekarat.
“sayang... It's all for your safety as well as our son's, I can't imagine if anything happened to you(sayang.... Ini semua demi keselamatan mu dan juga putra kita, aku tidak bisa membayangkan jika sesuatu terjadi pada mu) “ ujar Nicholas menghibur Sabrina.
“But... Still I feel very sad, you have to die and while I...(Tapi... Tetap saja aku merasa sangat sedih, kamu harus merenggang nyawa dan sedangkan aku...) “ Sabrina menunduk sedih karena tidak bisa melakukan apa – apa, kedua tangan Nicholas mendorong tubuh Sabrina dengan lembut dan mengatur posisi mereka saling berhadapan sekarang.
......................
Dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1