Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 204


__ADS_3

Mata Raka sempat bertemu tatap dengan Indra juga Park Joon, dengan santun dan ramah Raka menyapa mereka sambil tersenyum. Park Joon membalas dengan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, Indra sejenak menatap ke arah Raka lalu mengalihkan pandangannya pada Rian yang berdiri di sampingnya.


Raka dan Bima tampak berbicara terkait tentang bisnis mereka, pembicaraan itu sempat di simak oleh Rian juga Park Joon. Lift itu pun berhenti pada lantai yang mereka tuju, Park Joon dan lainnya lebih dulu keluar dari dalam lift di ikuti Bima juga Raka.


Mata Park Joon tercenung saat melihat Adiwijaya dan Wiyasa masuk ke dalam ruang perawatan Arman,


“ Tuan Adiwijaya?!” ujar Park Joon membuat Indra menatap ke arah kamar perawatan Arman.


“siapa, haraboji?” tanya Indra yang tidak mengenal dua orang pria yang masuk ke dalam kamar perawatan Arman, Park Joon menatap ke arah Indra.


“beliau... Beliau kakek Sabrina, bapak mertua dari papa mu” ujar Park Joon yang bergegas menuju kamar perawatan Arman, Indra sejenak termenung saat Park Joon menyinggung nama Sabrina. Dia dan juga Rian segera mengikuti Park Joon yang sudah berada di depan pintu kamar rawat itu, Raka juga Bima mendengar nama sahabat opanya di panggil ikut menatap ke arah kamar perawatan itu.


“Eyang?! “ ujar Bima.


Rasa penasaran langsung menghinggapi perasaan mereka, Bima dan Raka saling berpandangan lalu memutuskan untuk tidak ikut campur. Mereka memilih melangkah menuju kamar rawat Ningsih, namun kembali langkah mereka terhenti saat melihat Adiwijaya dan Wiyasa berdiri di samping ranjang pasien.


“ma...u...apa .... kalian.... datang kemari? Apa.... kalian .... mau mener....tawakan.... aku yang .... sud...ah sek...karat seperti.... ini...?!” ujar Arman yang melemah, Adiwijaya menatap prihatin dengan sikap Arman yang tidak berubah.


“tuan Wijaya?! “ ujar Park Joon yang terkejut dengan kedatangan Adiwijaya dan Wiyasa, mereka sejenak menatap ke arah Park Joon dan lainnya.


Raka dan Bima berpandangan satu sama lain, mereka tidak ingin ikut campur dengan masalah keluarga Adiwijaya. Namun saat mereka mendengar suara yang di kenal, mereka memilih untuk berdiri di depan kamar perawatan Arman untuk berjaga – jaga.


Adiwijaya menatap lama ke arah pria muda yakni Indra yang berdiri di samping Rian, wajah tampan Indra mirip dengan Arman tatkala masih muda.


Wiyasa menghela nafas dan menggelengkan kepalanya menatap sikap Arman yang tidak berubah, dia kini tahu apa yang membuat Sabrina pergi begitu saja menuju kamar Ningsih.


“mas, Kami kemari bermaksud hanya untuk menjenguk mu. Tak ada niatan lainnya” ujar Wiyasa bersikap tenang.


“ ti....dak.... us...sah.... kamu... “ucapan Arman terhenti saat kepalanya terasa pening dengan pandangan mengabur, tubuhnya terasa begitu lemah.


“Arman, apa terasa sakit?! “ ujar Shu Kye berdiri di samping ranjang putranya, raut wajahnya terlihat sangat khawatir. Tangan Shu Kye dengan lembut menyentuh pundak serta tangan kanan Arman, dengan perlahan Arman menggerakkan bahunya berusaha untuk melepaskan sentuhan lembut itu.

__ADS_1


Hati Shu Kye sangat sedih saat mendapat penolakan dari Arman, Park Joon yang melihat hal itu sangat tidak senang dan tersulut emosinya.


“Arman?! Sampai kapan, sampai kapan kamu akan keras kepala seperti ini?! Appa dan eomma mu sudah datang jauh – jauh berharap kita bisa berkumpul bersama, tapi kamu... “ ucapan Park Joon terhenti saat Shu Kye memegang tangannya.


Mata Shu Kye memberi isyarat untuk tenang dan mengode ke arah Adiwijaya juga Wiyasa yang memperhatikan sedari tadi, perlahan emosi Park Joon menurun. Dia merasa sedikit tidak enak dengan Adiwijaya karena sudah berkata keras, Adiwijaya mengerti dengan sikap Park Joon menganggukkan kepalanya perlahan.


Adiwijaya mendekat ke arah kursi yang ada di samping ranjang dan duduk, mata Arman kembali terbuka dan perlahan mengalihkan pandangannya pada mantan mertuanya. Siratan dalam mata itu memperlihatkan sorot kebencian dan amarah, senyuman tersungging di wajah Adiwijaya membuat semua orang di ruangan itu kebingungan.


Buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya, sifat papa dan putrinya sama ... Pandai menyimpan perasaan yang sebenarnya... Gumam Adiwijaya dalam hati, mata tua pria yang sudah melalui asam, manis dan pahit kehidupan itu tidak mudah di tipu. Dia bisa melihat dari mata Arman rasa penyesalan dan juga bersalah, Arman menatap penuh arti pada Adiwijaya.


“sudahlah Arman... Hentikan semua ini, kamu bisa membohongi semua orang tapi tidak dengan ku” ujar Adiwijaya. Semua yang ada di ruangan itu memandang ke satu arah yakni Arman, matanya sejenak terpejam lalu terbuka dan terlihat berkaca – kaca.


“a... A.... Aa... Aku.... “ Arman tampak berusaha untuk berbicara, namun tubuhnya sudah kehilangan tenaga akibat dia yang selalu menolak untuk makan dan minum.


“kamu jangan memaksakan diri lagi dengan menghukum diri mu sendiri seperti ini, apa menurut mu putriku yang ada di sana akan senang melihat kamu seperti ini? Tidakkah terpikirkan oleh mu, betapa sedihnya dia? “ ujar Adiwijaya, raut wajahnya terlihat sedih. Tidak bisa dia bohongi jika putrinya almarhumah Rianti mencintai Arman dengan setulus hati, Adiwijaya teringat saat betapa bahagianya Rianti di hari pernikahan dulu.


Air mata perlahan menetes dari sudut mata Arman, air mata penyesalan saat teringat akan dosa dan kesalahannya. Bayangan Rianti saat tersenyum manis tergambar jelas di relung mata Arman, Shu Kye ikut meneteskan air mata saat melihat putranya yang terlihat rapuh.


Arman kembali di ingatkan dengan keberanian Sabrina yang memutuskan mengakhiri hubungan anak dan ayah, sebuah keputusan berat yang harus di ambil Sabrina karena tindakan dan perbuatan Arman.


Adiwijaya mengerti dengan apa yang di rasakan Arman, dia seakan bisa dapat membaca isi pikiran mantan menantunya.


“Apa yang sudah terjadi di masa lalu tidak bisa mengubah kenyataan dan memutuskan ikatan, bagaimana pun juga kamu adalah ayah kandung dari cucu ku, Sabrina. Kenangan yang berlalu biarkanlah berlalu,” ujar Adiwijaya, mata Arman menatap penuh arti ke arah pria tua di sampingnya. Matanya perlahan beralih ke arah Wiyasa yang berdiri tepat di samping Adiwijaya,


“Ap....pa... D... Dia... Akan.... Mema... Afkan... Ku? Ak...ku.... Su.... Dah.... Ter... La... Lu... Me... “ Arman terlalu lelah untuk berbicara, tenaganya seakan terkuras habis.


“dia... (Tersenyum) Dia selalu menunggu mu Arman, selalu dengan harapan kamu datang untuk memeluk dan menyayanginya” ujar Wiyasa.


Sikap dan perilaku yang di tunjukkan Adiwijaya serta Wiyasa membuat Arman semakin merasa canggung, dia semakin merasa tidak enak hati atas sikapnya pada keluarga Adiwijaya.


“mmmm... Mmma.... Aaf..... Kan.... “ ujar Arman melemah, tubuhnya seakan sudah kehabisan tenaga.

__ADS_1


“kami sudah memaafkanmu dari sejak dulu, sekarang lebih baik kamu berusaha untuk sembuh terlebih dahulu. Apakah kamu tidak ingin bertemu dengan cucu mu?” ujar Adiwijaya saat teringat dengan baby Yusuf.


“cucu?!!!” Park Joon dan Shu Kye terkejut saat mendengar ucapan Adiwijaya, mereka mengetahui jika Sabrina sudah menikah namun mereka sama sekali tidak mengetahui jika Sabrina sudah memiliki putra.


Wiyasa memberi tahu tentang baby Yusuf dan memperlihatkan foto baby mungil itu setelah Adiwijaya memberi isyarat padanya, mereka sekeluarga menatap ke arah ponsel Wiyasa yang terpajang foto baby Yusuf yang terlihat menggemaskan.


“omo... Omo... aigooo.... Cicitku?!!” ujar Shu Kye sangat senang melihat foto baby Yusuf, dia menghampiri Park Joon sambil memperlihatkan foto yang ada di ponsel itu.


“suamiku lihatlah... Dia sangat tampan... Aigoo matanya... “ ujar Shu Kye terpana dengan mata biru Baby Yusuf. Park Joon menggerakkan jari jemarinya di ponsel itu dan memperhatikan dengan seksama foto itu. Mereka berdua semakin penasaran dengan suami Sabrina menatap penuh arti pada Wiyasa juga Adiwijaya, Wiyasa lalu memperlihatkan foto Sabrina bersama Nicholas.


Pada foto itu tergambar rona bahagia terlihat jelas dari raut wajah Sabrina yang tersenyum bahagia, begitu juga Nicholas yang menatap penuh kasih sayang. Indra terlihat semakin merasa bersalah, perasaannya semakin tidak menentu dan tergambar jelas di wajahnya.


“ dia adalah Nicholas, suami Sabrina dan... “ Wiyasa terdiam sejenak membuat ke dua orang tua Arman semakin penasaran, dengan berat hati Wiyasa menjelaskan jika Nicholas sudah meninggalkan mereka semua.


Shu Kye sangat terkejut mendengar apa yang di sampaikan oleh Wiyasa, kedua tangannya serempak menutup mulut merasa sedih dengan nasib cicitnya.


...................


...


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2