Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 118


__ADS_3

Sabrina tersenyum canggung pada Nicholas, dia benar-benar sangat malu saat itu. Dia semakin gelisah saat merasakan sesuatu yang telah keluar dengan lancarnya membasahi tempat duduk yang di dudukinya, keringat dingin menghiasi keningnya. Ada rasa sakit di rasakannya di perut bagian bawah, tangan Nicholas di genggam kuat oleh gadis cantik itu.


Jack dan anak buah lainnya menatap heran pada Sabrina yang terlihat pucat dan sakit.


“miss, are you okay? You look so pale (nona, apa anda baik-baik saja? Anda telihat sangat pucat)” tanya Jack heran, Nicholas melayangkan tatapan tajam setajam belati yang siap untuk menikam musuhnya.


“if you still want to see the beauty of this world, you better take your eyes off and enjoy your food (jika kalian masih ingin melihat keindahan dunia ini, sebaiknya kalian mengalihkan pandangan dan nikmati makanan kalian)” perintah Nicholas membuat semmua yang ada di dalam pesawat merasa sangat gugup.


Salah seorang pramugari datang bersama Yohan menghampiri Nicholas dan Sabrina.


“Yes young master, what can I help you with? (ya tuan muda,apa yang bisa saya bantu?)” tanya pramugari yang berdiri di samping Yohan. Mata Nicholas menatap ke arah kepala pelayannya dan mengode padanya untuk pergi. Yohan membungkukkan tubuhnya sedikit memberi hormat lalu melangkah menuju ke bagian pesawat lainnya.


“you get something to help cover my wife's body (kamu ambilkan sesuatu untuk membantu menutupi tubuh istriku)” ujar Nicholas membuat kening pramugari itu berkerut. Jack dan ank buah lainnya termangu saat mendengar perintah rancu bos mereka, pikiran mereka pun berkelana menjelajah entah mengapa. Pramugari itu melihat ke arah Sabrina yang langsung menganggukkan kepalanya.


Pramugari itu menyadari saat Sabrina yang melihat ke bagian bangkunya, dia pun mengerti apa yang dibutuhkan oleh gadis cantik itu.


“please wait a moment miss, i will get what you need (mohon tunggu sebentar nona, saya akan mengambilkan apa yang anda butuhkan)” ujar Pramugari kembali ke bagian pramugari mengambil sesuatu dalam tasnya, tidak lupa sebuah selimut untuk menutupi tubuh Sabrina.


Pramugari itu kembali membawa barang-barang yang di butuhkan Sabrina, Nicholas dengan cekatan membantu Sabrina. Pramugari itu menemani Sabrina menuju toilet di pesawat, sedangkan Nicholas meminta Yohan untuk mengambil tisu dan air bersih.


Pada bangku yang di duduki Sabrina terlihat noda darah yang begitu banyak dan jelas. Rupanya saat itu Sabrina sedang kedatangan tamu bulanan, karena banyak yang terjadi Sabrina benar-benar lupa dengan jadwal bulanannya. Beruntung kursi yang di duduki Sabrina beralaskan bahan kulit berkualitas tinggi, tidak ada rasa jijik sekalipun bagi Nicholas yang langsung turun tangan membersihkan bangku Sabrina.


Yohan termenung melihat Nicholas yang langsung membuka jas, menggulung lengan kemejanya lalu menyiramkan air ke atas kursi itu. Tidak lupa dia menyemprotkan cairan pembersih untuk membersihkan noda darah itu sebersih mungkin.

__ADS_1


“young master, why did you clean it? Let me do it (tuan muda, mengapa anda yang membersihkannya? Biarkan saya yang mengerjakannya)” ujar Yohan hendak mengambil alih pekerjaan Nicholas.


“no... i'll do it. It's my responsibility, if I leave it to someone else Sabrina will feel very uncomfortable (tidak... aku yang akan melakukannya. Ini sudah menjadi tanggung jawabku, jika aku menyerahkan pada orang lain Sabrina akan merasa sangat tidak nyaman)” ujar Nicholas membuat Yohan tersenyum bangga. Ucapan Nicholas terdengar oleh Sabrina yang berada di toilet, dia sudah selesai mengenakan pakaian bersih yang di belinya sebelum mereka berangkat.


Sabrina sama sekali tidak bisa mengemasi pakaiannya karena mereka terburu-buru, alhasil dia pun terpaksa membeli pakaian baru di toko oleh-oleh karena sudah tidak nyaman dengan pakaian yang di kenakannya. Dia keluar dari toilet dan menyimpan pakaian pernikahan itu dalam kantung bekas belanjaannya tadi.


Nicholas kini sudah pindah duduk di tempat lain, dia tengah memperhatikan sesuatu di ponsel pintar miliknya. Dia lalu mengalihkan pandangannya pada Sabrina yang melangkah menuju ke arahnya, Nicholas berdiri dari tempat duduknya mempersilahkan Sabrina untuk duduk di sampingnya.


“how about your stomach? Does it still hur (bagaimana dengan perutmu? Apakah masih terasa sakit?)” tanya Nicholas sambil duduk bersamaan dengan Sabrina. Perempuan cantik itu menganggukkan kepalanya, dia benar-benar merasa sangat canggung. Kecanggungan Sabrina dapat di rasakan oleh Nicholas yang lalu meraih tangan perempuan cantik di sampingnya dan menggenggamnya.


“You don't have to feel awkward with me, I am your husband, it's my duty to look after and protect you (kamu tidak usah merasa canggung kepadaku, aku adalah suamimu sudah menjadi tugasku untuk menjaga dan melindungimu)” ujar Nicholas sambil mencium lembut punggung tangan Sabrina.


“thank you .... (terima kasih...)” ujar Sabrina menundukkan pandangannya, dia merasakan sakit yang teramat pada perutnya,


“does it still hurt? (apa masih terasa sakit?)” Nicholas menatap tangan kiri Sabrina yang memegangi perutnya yang datar. Perlahan tangan sebelah kiri Nicholas memegangi perut Sabrina dan mulai mengusapnya lembut.


Mereka pun kembali mengalihkan pandangan, ada yang memilih beristirahat dengan memejamkan mata, ada yang sibuk dengan ponsel dan ada yang lebih memilih menonton televisi salah satu fasilitas yang di miliki oleh pesawat pribadi milik Nicholas.


“NIc....” Sabrina mengalihkan pandangannya menatap semua yang ada dalam pesawat.


“Hmmm” Nicholas berdehem menyahuti panggilan Sabrina, dia masih memberi pijatan lembut pada perut gadis yang kini telah menjadi istrinya.


“(Nic....)” panggil Sabrina sekali lagi, dia benar-benar merasa gugup karena di perlakukan lembut oleh Nicholas.

__ADS_1


mata elang itu melihat ke arah Sabrina, wajahnya terlihat pucat dan keningnya telah di basahi oleh keringat.


“just a moment (sebentar)” Nicholas mengatur kursi Sabrina yang kemudian berubah menjadi tempat tidur mini. Memberikan kenyamanan untuk Sabrina, tidak lupa Nicholas meletakkan bantal untuk membuat Sabrina semakin nyaman dalam perjalanan menuju Australia.


“do you still not feel uncomfortable? (apakah kamu masih tidak merasa tidak nyaman?)” tanya Nicholas dengan tangan kiri yang masih mengelus lembut perut Sabrina, jujur dari hati gadis itu merasa sangat nyaman dan rasa sakit di perutnya mulai berkurang.


Sabrina memiringkan tubuhnya menatap Nicholas tengah fokus dengan tablet yang baru saja di berikan oleh Yohan, mata indah itu menatap lama ke arah Nicholas yang menyadari jika sedari tadi Sabrina menatapnya.


“is there something you want to ask that you don't stop looking at me (apakah ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan sampai-sampai kamu tidak berhenti menatapku)” Nicholas melemparkan senyumannya pada Sabrina yang segera menundukkan pandangannya.


“that... i... may i know about you? How can you become a... (itu... aku... apakah aku boleh tahu tentang kamu? Bagaimana kamu bisa menjadi seorang...)” Sabrina terdiam merasa sungkan untuk bertanya lebih dalam tentang Nicholas. Pemuda tampan itu menatap ke arah Sabrina, tablet yang di pegangnya di letakkan di atas meja.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2