Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 162


__ADS_3

“baik nyonya” ujar pembantu itu, dia lalu melangkah menuju dapur untuk meneruskan pekerjaan Indah yang belum selesai.


Indah menghela nafas panjang lalu melangkah pergi menuju kamar untuk mengambil dompetnya, pembantu itu mengikuti Indah dengan berjalan di belakangnya.


"Kamu tunggu saya di luar, sebentar lagi saya akan menyusul” ujar Indah pada pembantu itu yang segera mematuhi perintahnya.


Pembantu itu melangkah keluar rumah lalu berdiri di samping mobil milik Indah, Arman yang duduk di ruang tengah terus mengawasi pergerakan pembantu yang sedang menata meja makan. Indah keluar dari kamar lalu menghampiri Arman yang sibuk dengan laptop miliknya,


“Mas... aku akan ke supermarket terdekat, ada beberapa bahan juga keperluan yang sudah habis dan ada bahan yang tidak ada ” ujar Indah yang langsung di angguki oleh Arman. Indah hendak pergi menemui Adelia yang beristirahat di kamarnya,


Tidak.. tidak.... Adel saat ini pasti sedang beristirahat, aku seharusnya tidak mengganggu Adel. Lebih baik aku segera bergegas menyelesaikan semuanya agar aku bisa menemani Adel gumam Indah dalam benak mengurungkan niatnya untuk melihat Adelia di kamarnya.


Indah lalu melangkah ke pintu depan lalu menuju mobilnya, pembantu yang ikut bersama Indah lalu duduk di kursi penumpang samping kemudi.


Adelia yang berada di kamarnya merasakan rasa sakit pada bagian perutnya, kedua tangannya memegangi perut sambil meremas kuat. Matanya yang semula terpejam mendadak terbuka saat merasakan ada sesuatu yang keluar, dia berusaha bangkit dari rebahannya dan membuka selimut yang menyelimuti tubuhnya.


Mata Adelia terbuka lebar saat mendapati tempat tidurnya di bagian yang dia duduki sudah basah oleh darah segar, Adelia sama sekali tidak bisa mengeluarkan suaranya. Tubuhnya terasa tidak bertenaga dan lemah, dia lalu bangkit dari tempat tidur dan berjalan dengan perlahan menuju kamar mandi.


Lantai kamar Adelia tercetak jejak kaki yang terbentuk dari darah yang mengalir keluar, kedua tangan Adelia memegangi perutnya yang terasa sakit. Matanya berkunang-kunang dan tidak fokus, pintu kamar mandi terbuka Adelia masuk lalu menutup pintu.


Adelia berjalan dengan tertatih-tatih menuju ruangan shower, tangan kanannya terulur menarik tuas shower ke arah atas. Air hangat mengalir dari keran shower yang tergantung di atas kepala Adelia, air itu membasahi tubuh Adelia yang bersandar pada kaca tebal ruangan shower. Perlahan dia terduduk di lantai dengan wajah yang terlihat pucat, darah masih mengalir di antara ke dua kakinya.


Tubuh Adelia terasa lemah dan tidak bertenaga, matanya memandang lurus dinding ruangan shower itu. Perlahan pandangannya mengabur karena di terpa air dari keran shower yang sudah membasahinya, matanya tampak berkedip-kedip dengan bibir yang terlihat membiru.

__ADS_1


Mobil Indah baru saja keluar dari pekarangan rumah, kepergian Indah terlihat oleh Arman yang memantau dari CCTV di layar laptopnya. Sepeninggal Indah, grafik saham dan pekerjaan yang sedang di kerjakan Arman berganti dengan CCTV yang terpasang di rumah itu. Mata Arman mengawasi dan bersikap waspada agar tidak ada satu pun orang tahu atau curiga.


Pembantu lainnya sudah menyelesaikan pekerjaan menata meja dan peralatan makan malam, dia lalu pergi ke ruang Laundry untuk mencuci pakaian kotor dan melanjutkan pekerjaan lainnya. Arman menatap layar laptopnya memperhatikan setiap CCTV yang ada, dia mengecek setiap sudut ruangan tengah dan meja makan.


Merasa keadaan sepi Arman pun memanfaatkan kesempatan, laptop yang di pangkunya di letakkan di atas meja di hadapannya. Layar laptop di biarkan terbuka agar Arman mengetahui kapan Indah pulang atau kedatangan Roy, dia berdiri lalu melangkah menuju lemari pendingin.


Arman melihat water pitcher terbuat dari kaca tebal terisi dengan air putih yang berada di atas meja makan, dia melihat ke arah laptop yang layarnya masih menampilkan CCTV setiap ruangan. Tidak membuang waktu Arman merogoh sakunya mengambil botol kecil yang berada di sakunya, dia menuangkan seluruh cairan dari dalam botol kecil itu. Setelah pekerjaannya selesai Arman melangkah menuju kamarnya, dia masuk ke dalam kamar dan melangkah menuju lemari besar yang berada di kamar itu.


Arman memperhatikan setiap barang milik Indah yang tersimpan rapi di sana, tangannya terulur mengambil tas milik Indah. Botol kecil itu di masukkannya ke dalam tas Indah lebih tepatnya pada sudut tas yang tidak akan ada orang yang menyadarinya, setelah semuanya selesai Arman kembali ke ruang tengah untuk mengambil laptop yang masih terbuka.


Sudah saatnya untuk mengakhiri semuanya.... gumam Arman dalam hati menatap layar laptop yang terpasang foto Rianti dengannya.


Arman melangkah menuju ruang kerja dengan laptop di tangannya, kembali dia membuka semua CCTV yang terpasang di setiap sudut rumah. Dia kembali mengawasi ruang makan dan memastikan tidak ada yang menyentuh water pitcher di atas meja makan.


****


“Nichoo....” bisik Sabrina memegang kuat pergelangan tangan kekar itu berharap aktivitas yang sedang terjadi terhenti.


“Doctor Sabrina... are you okay? (dokter Sabrina... apa anda baik-baik saja?)” ujar asaisten Sabrina yang berada di seberang sana.


“yes... hmmm... a.. i'm fine... you... send... right... just... first.. hmmm... the file to... emaill.. (ya... hmmm... a.. aku baik-baik saja... kamu... kirim... kan... saja... dulu.. hmmm... filenya ke ... emaill... )” ucapan Sabrina terputus-putus saat perbukitan mendapat serangan kuat dari penjelajah yang masih mengeksplor perbukitan. Jari tangan Sabrina tidak sengaja menekan tombol merah pada layar ponsel miliknya, sambungan telepon itu langsung terputus.


Asisten Sabrina menatapi gagang telepon yang di pegangnya, keningnya berkerut saat telepon itu terputus begitu saja. Teman perawat yang duduk di sampingnya menatap heran ke arah asisten Sabrina,

__ADS_1


“Why are you staring pensively at the receiver? (kamu kenapa malah termenung menatapi gagang telepon itu?)”


“haaa.... oo that... I called Sabrina's doctor and now the phone just disconnects. Earlier when I was talking I heard the doctor sigh heavily (haaa.... oo itu... aku menghubungi dokter Sabrina dan sekarang teleponnya terputus begitu saja. Tadi saat berbicara aku sempat mendengar Dokter berkali-kali menghela nafas berat)” ujar asisten Sabrina meletakkan gagang telepon ke tempatnya. Perawat itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya membuat asisten Sabrina semakin kebingungan,


“why are you even smiling like that? (kamu kenapa malah tersenyum begitu?)”


“I smile with you who are innocent like this... oo yes I heard the nurses here talking about doctor Sabrina (aku tersenyum dengan kamu yang polos begini... oo iya aku mendengar para perawat di sini membicarakan dokter Sabrina)”


“talk about?! What are they talking about doctor Sabrina? (membicarakan?! Apa yang mereka bicarakan tentang dokter Sabrina?)” asisten Sabrina tampak tidak senang mendengar ada yang menggosipkan atasannya.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2