
Wulan melihat ke arah Cakra yang duduk di temani oleh Wiyasa, Adiwijaya, Nicholas dan Bima, terlihat di pangkuan Nicholas baby Yusuf yang asyik memainkan mainan miliknya.
“Ma, Araf ke tempat Eyang dan lainnya ya” ujar Araf akan melangkah menuju ke tempat para pria keluarga Adiwijaya setelah mendapat jawaban iya dari Wulan.
“Gendis mau ikut oom apa oma?” tanya Araf pada Gendis yang masih di pegangi Wulan, mata bulat Gendis melihat ke arah Bima asyik mengobrol dan baby Yusuf yang duduk di pangku Nicholas.
“ndis kut om” ujar Gendis memegangi tangan Araf yang lalu mengajaknya ke meja para pria keluarga Adiwijaya, Wulan lalu melangkah menuju para perempuan keluarga Adiwijaya dan duduk di samping Andhini
“assalamualaikum.... “ sapa Wulan sambil tersenyum ramah.
“waalaikumsalam warrahmatullahi wabarakatu” balas mereka serempak tersenyum hangat.
“Mirah sudah selesai dandannya dek? “ tanya Andhini.
“udah mbak, sekarang dia lagi make gaun di tolong ama MUAnya ( melihat ke arah Sabrina) Sabrina, bu lek minta tolong kamu temani Mirah dengan Anjani ya” ujar Wulan.
“baik bu lek, Sabrina ke kamar Mirah dulu” ujar Sabrina yang lalu berdiri dari tempatnya duduk melangkah menuju ke dalam rumah Cakra, sebelum masuk ke rumah Sabrina menyempatkan diri menghampiri salah seorang petugas Wo yang menjadi mc acara akan nikah nanti. Dia lalu memberikan sesuatu pada petugas itu dan menginstruksikan untuk menyalakannya saat waktu yang tepat, MC itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Setelah memastikan semuanya beres dan berjalan sesuai dengan rencana, Sabrina melangkah masuk ke dalam rumah Cakra. Mata elang tajam terus memperhatikan pergerakan Sabrina yang berlalu ke dalam rumah Cakra, Nicholas terlihat tidak senang saat Mc dan beberapa kaum adam yang menghadiri acara akad Nikah terus memperhatikan Sabrina.
Aura dingin kental mencengkam sangat terasa di mana para pria keluarga Adiwijaya duduk di satu meja, bukan hanya Nicholas saja yang memancarkan aura tidak bersahabat. Baby Yusuf memperlihatkan raut wajah tidak senang, sikap cemburu kedua pria tampan itu menjadi perhatian bagi pria keluarga Adiwijaya yang hanya tersenyum melihatnya.
*****
Tok... tok.... tok...
__ADS_1
Sabrina mengetuk pintu kamar Asmirah,
“masuk aja, pintunya nggak di kunci” terdengar suara Anjani dari dalam kamar Asmirah.
“assalamualaikum” sapa Sabrina sambil membuka pintu.
“waalaikum salam” jawab Asmirah, Anjani dan petugas MUA serentak.
Sabrina masuk ke dalam kamar dan termenung melihat ke arah Asmirah yang tampil manis juga cantik,
“subhanallah dek... kamu cantik banget” puji Sabrina menghampiri Asmirah sambil memegangi pipi yang sudah terpoles blush on.
“hehehe iya dong mbak, hari ini Mirah harus tampil cetar membahana” ujar Asmirah yang kembali duduk di depan meja rias.
Anjani dan Mua membantu Asmirah mengenakan hijab yang di kreasikan sedemikian rupa, tidak lupa selendang yang di penuhi hiasan payet menambah daya tarik melekat di hijab yang di kenakan. Sabrina dan Anjani menatap takjub melihat pantulan bayangan Asmirah di cermin,
Setelah Mua menyelesaikan pekerjaannya, dia lalu mulai membereskan peralatan untuk di simpan dalam tas khusus. Kembali MUA itu menatap ke arah Asmirah yang sudah terlihat sempurna, dia memeriksa hasil pekerjaan untuk memastikan tidak ada yang kurang atau terlupakan.
“o ya mbak?! Gi mana hadiah kejutannya?” tanya Anjani teringat dengan kejutan yang sudah mereka persiapkan untuk Nicholas nanti.
“(tersenyum manis) aku udah memberikan sentuhan terakhirnya pada MC, semuanya sudah di atur dengan sangat baik... Hmmm (menatap ke arah Asmirah) Mirah... apa kamu ndak masalah jika nanti acara kamu terganggu dengan kejutan nanti? Hmmmm apa itu... Itu... apa mas Raka nantinya tersinggung atau marah karena acara kalian terganggu dengan kejutan ini?” ujar Sabrina merasa tidak enak hati.
“aduuuh mbak tenang aja... acara kejutan nanti udah aku dan mbak Jani ceritakan pada kedua keluarga besar. Mereka semua termasuk oppa Raka sangat setuju dan mendukung acara kejutan nanti, bahkan mami Helena juga ikut membantu dengan memesankan kue ultah buat mas Nicholas. Jadi mbak jangan segan gitu...” ujar Asmirah.
“Apa bener ndak apa-apa dek?! Seharusnya hari ini kan... “ raut wajah Sabrina terlihat muram, dia merasa semakin tidak enak hati juga canggung. Bagaimana pun juga dia pernah memiliki masa lalu dengan Raka, bahkan Sabrina harus memberikan luka hati pada Raka karena keputusannya.
__ADS_1
Asmirah dan Anjani mengerti dengan sikap canggung Sabrina, Asmirah menghampiri Sabrina seraya mengajaknya duduk di ranjang bagian bawah. Anjani ikut menghampiri dan merangkul pundak Sabrina, seketika perempuan cantik itu termenung dan sedikit menarik nafas juga membuangnya perlahan saat hidung mancung membaui parfum harum yang tersebar.
“mbak... Semua itu sudah berlalu. Sekarang mbak tenang, semuanya aman terkendali. Mas Raka dan keluarga Wiguna sangat mendukung acara kejutan nanti” ujar Anjani.
Asmirah dapat melihat perubahan dari raut wajah Sabrina, dia berpikir jika Mbaknya masih merasa tidak enak hati.
“aduuh mbak ku yang cantik jangan merasa canggung atau segan, semua sudah di urus dan mbak tenang aja” ujar Asmirah tersenyum, Anjani memperhatikan raut wajah Asmirah yang hampir sama dengan Sabrina.
“waduh.... Sepertinya yang harus Jani hibur ndak hanya mbak Sabrina aja” ujar Anjani tersenyum penuh maksud, Sabrina dan Asmirah tampak keheranan lalu serempak melihat ke arah Anjani.
“Maksudnya?!” tanya Asmirah dan Sabrina hampir bersamaan.
Anjani tidak langsung menjawab pertanyaan dari mereka berdua, dia lalu berpindah posisi duduk di samping Asmirah yang kini berada di antara Sabrina dan dirinya.
“hadeuh...Mirah... Mirah... raut wajah kamu itu dek, ndak bisa berbohong. Jujur aja deh, kamu juga gugup dan cemas kan?! (Memegangi tangan Asmirah) nih, saking gugupnya tangan kamu terasa dingin gini” ujar Anjani menggenggam tangan Asmirah untuk memberi kehangatan. Sabrina ikut memegangi tangan adik sepupunya, mata teduh itu menatap ke arah wajah Asmirah sambil tersenyum manis.
“tenang dek... Semuanya akan berjalan dengan lancar” Sabrina ikut menyemangati Asmirah.
".....huuuuf (sedikit merasa tenang) iya mbak.... Mirah.... Mirah akan berusaha untuk tenang“ ujar Asmirah menghirup nafas panjang dan menghembuskan dengan perlahan, tidak di pungkiri oleh Asmmirah jika dia merasa sangat gugup, kalut dan sekaligus takut.
Pikiran negatif mulai membayangi benak Asmirah,
Bagaimana ini... Aku gugup banget. Gi mana nanti jika mas Raka berubah pikiran dan.... Atau.... Saat ijab kabul nanti bukan nama ku yang di sebut olehnya... Gumam Asmirah semakin gugup dan kalut, Sabrina menyadari perubahan raut wajah Asmirah. Tangan hangat Sabrina memegangi dengan lembut tangan Asmirah yang langsung di tatap oleh gadis cantik itu,
"percayalah Mirah, semua akan baik - baik saja" ujar Sabrina menenangkan Asmirah yang di balas dengan senyuman canggung olehnya.
__ADS_1
Jantung Asmirah semakin berdegup kencang saat mendengar suara MC yang memulai acara Akad nikah, terdengar lantunan ayat suci yang mengalun merdu dan syahdu. Saat itu Raka tengah membaca ayat suci dengan fasih tanpa melihat Al quran, dia duduk di depan meja yang di hadapannya duduk Cakra di dampingi penghulu.