
“please, don't you ever say those words again. All of this has become my decision and the way of Allah... I choose and accept you to be the priest in this marriage (tolong, jangan pernah anda mengucapkan kata-kata itu lagi. Semua ini sudah menjadi keputusan ku dan jalan dari Allah... aku memilih dan menerima mu menjadi imam dalam pernikahan ini)” ujar Sabrina menundukkan wajahnya.
“but what's the point of this marriage if you yourself are hurt because you can't unite with the man you love (tapi apa gunanya pernikahan ini jika kamu sendiri tersakiti karena tidak dapat bersatu dengan pria yang kamu cintai)” Nicholas menatap lurus ke depan, dia benar-benar tidak ingin Sabrina menderita dan bersedih.
Sabrina hanya terdiam dan tidak dapat berkata apa pun, dia tidak bisa berbohong jika perasaan dan hatinya masih ada untuk Raka mantan tunangannya. Namun kini dia sudah berstatus istri dari Nicholas dan dia harus bisa belajar untuk melupakan perasaannya pada Raka.
Terdiamnya Sabrina memberikan jawaban bagi Nicholas, dia tahu jika Sabrina masih mencintai Raka.
“I have decided tonight I will return to Australia, when I get there I will speak to a lawyer to take care of the annulment of this marriage (sudah aku putuskan malam ini aku akan kembali ke Australia, sesampainya di sana aku akan berbicara pada pengacara untuk mengurus pembatalan pernikahan ini)” ujar Nicholas membuat Sabrina termenung mendengar keputusannya. Dia ingin berbicara kembali terhenti saat Nicholas bangkit ari tempat duduknya meninggalkan dirinya sendiri di taman itu.
Ya Allah... apa yang harus ku lakukan? Tuan Nicholas telah menentukan keputusannya untuk membatalkan pernikahan ini, Engkau maha tahu dan maha Melihat berikanlah aku jalan kelur terbaik dari permasalahan yang ku hadapi saat ini... wajah Sabrina terlihat sedih dan kebingungan.
Tidak berapa lama terdengar suara panggilan adzan yang menandakan telah masuknya waktu shalat Ashar, Sabrina lalu bangkit dari tempat duduknya melangkah kembali menuju mushalla. Dia menuju ke toilet perempuan untuk mengambil wudu, setelahnya dia masuk ke mushalla duduk di dalamnya.
***
Adiwijaya dan Wiyasa sudah di pindahkan ke ruang perawatan, Wulan dan kedua putrinya menunggui mereka di dalam kamar. Ningsih dan Andhini pulang sebentar ke kediaman Adiwijaya dengan di antar Araf, Yusuf dan Cakra pergi menunaikan ibadah di mushalla yang sama dengan Sabrina juga Nicholas.
Cakra terkejut saat melihat Nicholas yang tengah duduk bersila di mushalla menunggu untuk pelaksanaan shalat berjamaah.
Jadi benar apa yang di katakan mbak Andhini, semoga kelaknya dia menjadi suami yang terbaik untuk Sabrina gumam Cakra dalam hati tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Saat masih berada di ruang perawatan bapak dan kakak iparnya, Andhini menceritakan perihal Nicholas yang seorang mualaf. Awalnya Cakra tidak percaya begitu saja, kini dia melihat sendiri dengan kedua matanya pria tampan itu tampak bersiap-siap untuk memulai kewajiban mereka.
Wulan dan Anjani terlebih dahulu sholat di dalam kamar perawatan Adiwijaya setelah itu mereka bergantian dengan Asmirah. Perlahan-lahan kedua mata Wiyasa terbuka, dia melihat ke sekeliling ruang menyadari jika dia sekarang ini berada di rumah Sakit.
Perlahan-lahan dia melihat ke samping tempat tidur melihat ayah mertuanya yang juga terbangun dari tidurnya,
“Bapak.... mas... “ Sapa Wulan bahagia saat melihat Adiwijaya dan Wiyasa sadar.
__ADS_1
“Eyang... pak de.... syukur alhamdulillah akhirnya eyang juga pak de sadar” ujar Asmirah senang dan terharu.
“di... mana... sabrina??” tanya Wiyasa teringat dengan putrinya, sewaktu dia masih di ruang IGD samar-samar dia melihat wajah putrinya yang terlihat sangat cemas dan panik.
“mbak Sabrina sedang pergi pak de... sebentar lagi dia akan kemari bersama...” Anjani terlihat kebingungan harus memberi tahu atau tidak tentang pernikahan Nicholas juga Sabrina. Wulan dan Asmirah juga dengan kondisi yang sama, mereka sama-sama bingung apakah haru memberi tahu kebenaran di saat kedua pria itu masih terlihat lemah.
“ada.. apa.... kenapa... pada... diam semuanya?” tanya Adiwijaya menatap Wulan dan lainnya satu persatu.
Mereka akan menjawab pertanyaan Adiwijaya seketika terhenti saat terdengar ketukan di pintu.
Tok..tok..tok...
“assalamualaikum” sapa Sabrina seraya membuka pintu. Anjani, Wulan dan Asmirah semakin sesak nafas saat melihat Sabrina yang masih mengenakan pakaian pernikahan.
"Waalaikum salam" ujar Wulan, Anjnani dan Asmirah menjawab salam dari Sabrina.
Mata Wiyasa dan Adiwijaya terbuka sangat lebar saat melihat pakaian yang di kenakan Sabrina,
“Sa...bri...naaa....” panggil Adiwijaya tercenung saat melihat pakaian yang di kenakannya. Mendengar suara yang sangat di kenalnya Sabrina segera mengalihkan pandangannya ke arah Adiwijaya,
“Eyang.... Bapak....” Sabrina segera menghampiri ranjang Adiwijaya, memegang tangan eyangnya dan menatap ke arah Wiyasa.
“Alhamdulillah... akhirnya eyang dan bapak bangun juga.... hikss....” setetes air mata jatuh di pipi putih Sabrina, dia merasa sangat lega.
Wiyasa menatap ke arah pakaian Sabrina yang berbeda, dia menyangka jika Sabrina sudah menikah dengan Raka.
“sudah... sudah... ini hari bahagia mu nduk. Jangan di sambut dengan tangisan, seharusnya kamu memberikan senyuman cantik untuk kami” ujar Wiyasa menyangka hal yang sama dengan Adiwijaya.
__ADS_1
Sabrina terdiam sejenak, mata indahnya menatap pada pakaian yang di kenakannya.
“ di ... ma...na... su..ami... nduk?” tanya Adiwijaya membuat Sabrina, Wulan , Anjani dan Asmirah kebingungan harus menjawab apa.
“mbak... eyang dan pak de pasti menyangka mbak nikahnya dengan mas Raka, bukan dengan tuan Nicholas” bisik Anjani berdiri di samping Sabrina. Wulan dan Asmirah juga dapat mendengar apa yang di bisikkan Anjani pada Sabrina, mereka terlihat kebingungan harus menjawab apa atas pertanyaan Adiwijaya.
Mereka tidak ingin kabar pernikahan Sabrina yang gagal dengan Raka membuat kondisi Adiwijaya dan Wiyasa semakin memburuk.
“itu... Eyang... itu...” Sabrina tampak kebingungan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Nicholas lebih memilih menunggu di ruang tunggu bersama dengan anak buahnya. beberapa menit setelah dia menunaikan kewajibannya, Nicholas mendapatkan telepon jika Jack dan lainnya sudah menunggu di bandara.
Jack juga melaporkan jika masalah yang terjadi di kediaman utama semakin besar dan Nicholas di minta untuk segera kembali. Pria tampan dan gagah itu ingin berpamitan dengan Sabrina dan keluarganya, namun Nicholas terdiam sesaat di depan pintu. Tidak sengaja dia mendengar suara bahagia Sabrina saat melihat kedua pria yang berarti di hidupnya terbangun dari tidur yang cukup lama.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...