
Arman dengan kekuatannya berhasil mengganti nama calon suami Sabrina dari Raka menjadi Nicholas. Dia juga meminta pada petugas itu untuk mempersiapkan segala sesuatu menyangkut pernikahan yang sesuai dengan Aqidah agama.
“pa... aku dan Adelia akan ke butik mencari gaun pernikahan untuk perempuan sial*n itu. Jika dia hanya memakai pakaian itu, Nicholas akan curiga dan membatalkan semuanya” ujar Indah mengajak Adelia.
“baiklah, jangan terlalu lama. Waktu pernikahan hampir” ujar Arman.
“baik pa” ujar Adelia sambil menggandeng tangan Indah. Mereka berjalan beriringan menuju lift, pintu lift terbuka. Mereka berdua masuk ke dalam Lift lalu turun ke lobi, Indah sempat bertanya pada pegawai hotel di mana butik pernikahan terdekat dengan hotel. Setelah mendapat informasi mereka segera pergi melangkah menuju butik yang di tunjuk.
Raka masih mencoba menghubungi Sabrina, tapi sama sekali tidak terhubung. Dia sama sekali tidak menemukan Sabrina di sekitar rumah sakit, CCTV yang di periksa Araf dan Yusuf sama sekali tidak menunjukkan ke mana Sabrina pergi.
Araf dan Yusuf berjam-jam menatapi layar monitor, masih saja tidak menampakkan sosok Sabrina. Mereka pun bertanya pada petugas keamanan yang memonitor CCTV rumah sakit itu, perihal CCTV yang berada di depan IGD tidak menayangkan apa pun. Petugas itu pun menjelaskan jika sudah beberapa hari CCTV di sana mengalami kerusakan dan sedang dalam perbaikan. Mereka sama sekali tidak mendapatkan informasi apapun.
Andhini dan keluarganya yang tahu Sabrina menghilang tampak sangat cemas dan khawatir. Malam di mana Sabrina menghilang Andhini juga Ningsih mulai sadar, mereka berdua terkejut saat mendengar Asmirah berbicara tentang Sabrina yang menghilang.
Kedua keluarga itu tampak cemas dan khawatir dengan Sabrina yang menghilang juga kondisi Adiwijaya serta Wiyasa yang makin melemah. Araf sudah mencoba mencari dengan menggunakan signal GPS, tapi nihil. Semula signal GPs Sabrina terdeteksi tapi di area yang berbeda dan melenceng dari signal GPS, kini mereka semua benar-benar tidak bisa menghubungi dan melacak keberadaan Sabrina.
Nicholas tampak gagah dengan setelan jas yang selalu di kenakannya, dia dan anak buahnya kini sedang bersiap di villa. Nicholas masih tampak berpikir di meja makan, dia merasa Sabrina menutupi sesuatu.
“Jack... Investigate deeply, what made Sabrina ask me to marry her. Do it carefully, don't let Arman or his family find out (Jack... Selidiki secara mendalam, hal apa yang membuat Sabrina meminta ku untuk menikahinya. Lakukan dengan hati-hati, jangan sampai Arman atau keluarga mengetahuinya)” perintah Nicholas pada Jack yang baru saja menyelesaikan sarapannya.
“Okay Boss (baik bos)” ujar Jack segera menyudahi sarapan dan bergerak cepak melaksanakan perintah Nicholas.
Nicholas meraih ponsel miliknya, menatapi layar datar itu yang terpasang wajah Cantik Sabrina yang di ambilnya secara diam-diam. Dia lalu berdiri dari tempat duduknya saat melihat jam sudah hampir menunjukkan pukul delapan pagi waktu Indonesia, dia melangkah pergi di temani dengan kepala Pelayan yang sangat setia padanya.
Indah dan Adelia berada di toko langganan Adiwijaya, Adelia mengetahui jika Sabrina juga Raka memesan baju di toko itu.
“sayang, kenapa kita ke sini?” Indah melihat ke sekeliling toko.
“mama tahu, gadis sial*n itu memesan pakaian pernikahannya bersama Raka di sini. Jadi menurut aku....” Adelia tersenyum penuh arti yang langsung di mengerti oleh Indah.
__ADS_1
“that’s my girl.... Sekarang sebaiknya kita nyari baju pernikahan buat gadis sial*n itu, sudah hampir waktunya” ujar Indah memilih secara asal baju yang akan di kenakan Sabrina.
Setelah mendapat apa yang di cari mereka, Indah dan Adelia lalu kembali ke mobil mereka untuk bergegas menuju ke hotel. Tidak lupa pula mereka menyewa seorang MUA yang akan make over Sabrina dan persiapan hal lainnya.
Arman tengah duduk menunggu kedatangan Indah dan Adelia, tidak berapa lama terdengar bunyi bel kamarnya. Dia menatap ke arah orang bayarannya dan mengode untuk membuka pintu melihat gerangan siapakah yang datang.
Pria itu menuruti perintah Arman membuka pintu, tampak seorang pria berparas cantik menatap pria yang membuka pintu.
“hayo... om, kenari akika Maya. Akika di tele-tele suruh ke sindang buat make over perempewi yang mo nikahan hari ini” ujar pria tampan setengah jadi yang bernama Maya.
Pria itu memiringkan kepalanya ke kiri tidak mengerti dengan bahasa yang di gunakan Maya, seorang perempuan cantik dengan rambut terkuncir berdiri di samping Maya segera membantu menerjemahkan bahasa Maya pada pria itu.
“ maaf sebelumnya, maksud teman saya kami di minta datang kemari oleh nona Adelia untuk membantu make over pengantin perempuan yang mau menikah hari ini. O ya perkenalkan nama saya Arinda” ujar gadis itu memperkenalkan dirinya. Arman berdiri dari tempat duduknya melangkah menuju pintu kamar.
“ kenapa kamu lama sekali? Siapa yang datang?” tanya Arman menatap ke arah pria yang sedang berbicara.
Tatapan penuh kecurigaan di layangkan Arman pada Arinda dan Maya, tangannya segera meraih ponsel yang tersimpan di saku celananya dan menghubungi Adelia.
Maya langsung berwajah cemberut saat melihat Arman menatapnya.
“isss si oom, organda kita dataran bye-bye love buat kerajaan malah di curigain, empang kita ******* apipa? ” bisik Maya pada Arinda yang berdiri di sampingnya yang langsung mendapat tatapan tajam dari Arman.
“shuuuss, May jangan berisik. Nggak liat apa itu tuan udah perhatiin kita,” bisik Arinda pada Maya sambil tersenyum canggung pada Arman dan pria yang masih berdiri di depan pintu.
Arman menunggu panggilan teleponnya di angkat sambil terus melihat ke arah tamu yang datang, panggilan itu langsung di angkat oleh Adelia.
“apa kamu menyuruh dua orang ini datang?” tanya Arman langsung tanpa menunggu sapaan dari putrinya.
“dua orang? (mengingat-ingat, Indah langsung mengode tentang MUA yang mereka suruh datang) o ya pa, aku yang nyuruh mereka datang. apa mereka sudah ada di sana?” tanya Adelia kembali.
__ADS_1
“ hmm”
“ biarkan mereka bekerja sekarang pa” ujar Adelia melajukan mobilnya menuju hotel.
“ kenapa kamu harus menyewa mereka untuk datang?” tanya Arman menatap ke arah Arinda dan Maya.
“ papa nggak ingat dengan hasil penyelidikan orang kita, salah satu di antaranya kedua MUA itu di undang keluarga rendahan itu untuk gadis sial*n itu. Hari ini..” Adelia menjelaskan pada Arman tentang rencananya, senyuman licik tersungging di bibirnya.
“kerja bagus” ujar Arman mengode dengan dua jarinya menyuruh Arinda dan Maya untuk masuk ke kamar. Panggilan itu segera di putuskan secara sepihak oleh Arman, dia lalu memerintahkan pada orangnya untuk mengantar kedua tamu menemui Sabrina yang sengaja di kurung dalam salah satu kamar.
Pria itu membuka salah satu pintu kamar, dengan sopan Maya dan Arinda masuk ke kamar itu.
“permisi” ujar Maya, kedua matanya membulat sempurna saat melihat perempuan yang akan di make over oleh mereka, Begitu juga dengan Arinda.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1