
“ Asmirah, mas bisa manggil Mirah” ujarnya malu-malu sambil berjabat tangan. Sabrina juga ikut memperkenalkan dirinya sambil berjabat tangan Yusuf,
“mas kami ke depan sebentar ya” ajak Sabrina menarik tangan Asmirah untuk ikut dengannya ke rumah Helena. Araf menganggukkan kepalanya lalu mengajak Yusuf untuk masuk ke rumahnya. Sesekali Yusuf melihat ke arah Sabrina yang melangkah menjauh menuju ke depan rumah, Araf masuk ke rumahnya terlebih dahulu memberi tahu Wulan dan keluarganya jika mereka akan menggunakan mobil milik temannya.
Subhanallah, akhirnya aku menemukan gadis yang tepat yang akan aku perkenalkan pada umi dan abi. Sabrina.... Namanya juga cantik, secantik wajahnya... Guman Yusuf dalam hati, matanya masih menatap ke arah Sabrina yang berjalan menjauh bersama dengan Asmirah.
“suf, kenapa kamu berdiri mematung di sana? Ayo masuk” ajak Araf sambil merangkul pundak sahabatnya.
“ Eh iya...” yusuf melangkah beriringan dengan Araf masuk ke dalam rumah lalu duduk di ruang tamu.
“kamu lihat siapa sih dari tadi?” tanya Araf duduk di sofa single di sebelah Yusuf.
“hah... apa?” Yusuf menjawab pertanyaan Araf seperti orang linglung membuat sahabatnya menatap heran.
“ saya nanya, kamu lagi perhatiin siapa kok serius sekali?” tanya Araf kembali tersenyum melihat Yusuf yang salah tingkah.
“itu .... hari ini cuacanya panas ya” Yusuf lalu mengalihkan pembicaraannya.
“udah, kamu nggak usah mengalihkan pembicaraan. Saya tahu kok kalo kamu memperhatikan mereka berdua,” ujar Araf membuat telinga Yusuf memerah, dia tersipu malu.
Wulan datang membawakan minuman dan cemilan ke ruang tamu. Menghidangkannya di atas meja, Adiwijaya juga ikut bergabung duduk bersama Araf dan Yusuf.
“ma , Eyang kakong, kenalin ini sahabat satu angkatan dengan Araf kapten Yusuf. Tadi sebelum ke sini Yusuf nawarin ke Araf untuk pakai mobilnya buat nganterin eyang dan ang lainnya ke bandara” jelas Araf kepada keluarganya.
“makasih ya nak Yusuf, atas bantuannya” ujar Wulan. Mereka mengobrol dengan hangat, sesekali Araf menggoda Yusuf sehingga membuatnya tersenyum dan tersipu malu.
***
Sabrina dan Asmirah akan mengetuk pintu rumah Helena, heran melihat kondisi pintu yang terbuka. Asmirah yang sudah terbiasa masuk ke kediaman Wiguna santai masuk ke dalam rumah Helena,
“Mirah, nggak baik kalo kita main masuk saja. Nggak sopan dek” ujar Sabrina merasa sungkan masuk ke rumah calon mertuanya begitu saja tanpa di persilahkan masuk.
“nggak apa-apa kok mbak. Mirah udah biasa berkunjung dan main di sini, tante Helen juga bilang kalo main ke rumahnya jangan sungkan langsung masuk saja. Apa lagi mbak kan sebentar lagi jadi menantu keluarga Wiguna” goda Asmirah membuat wajah Sabrina merah merona.
Asmirah menarik tangan Sabrina menuju ke dalam rumah Helena, dengan keberatan dan canggung Sabrina terpaksa mengikutinya. Mereka berdua terheran saat melihat Eliana berhadapan dengan Raka dan Wibisana yang perlahan-lahan mendekatinya, Raka juga Wibisana tampak sangat kesal.
__ADS_1
“Sabrinaaa” sapa Helena yang langsung mendekatinya. Raka yang mendengar nama tunangannya langsung melihat ke belakangnya, Eliana segera memanfaatkan keadaan menerobos mereka berdua menghampiri Sabrina.
“mbak Sabrina, Elia mau di tindas sama kak Raka dan Kak Wibisana” adu Eliana dengan wajah memelas.
“eh... nggak benar itu mbak Sabrina, jangan percaya dengan Elia mbak” Wibisana membela diri.
Dengan tangisan buaya betina Eliana menarik simpati Sabrina, Candra mulai menengahi para cucu mereka yang bersikap ke kanak-kanakan.
“sudah... sudah..... sekarang kalian bersih-bersih sana. Bau kalian sudah seperti bau matahari” perintah Candra pada mereka berdua. Raka menatap Sabrina lama dan tidak menyadari dengan ucapan kakeknya.
Matanya menatap lama ke arah Sabrina, senyuman tersungging di bibirnya tatkala Sabrina menatap ke arahnya. Helena berdiri dari tempat duduknya menghampiri Sabrina yang sedang mendengar aduan dari Eliana.
“sabrina sayang, maaf ya mami nggak hadir saat Raka mengkhitbah kamu. Ini semua gara-gara gunung es itu yang datang ke rumah Wulan tanpa memberi tahu mami maksud dan tujuannya ke sana” Memicingkan matanya ke arah Raka yang langsung mengalihkan pandangannya pura-pura tidak mengerti dengan maksud Helena.
“nggak apa -apa tante, justru Sabrina seharusnya mendatangi tante. Tapi karena sibuk dengan persiapan kepulangan eyang, Sabrina jadi lupa datang menemui tante” ujar Sabrina,
“mbak Sabrina... sebentar lagi akan menjadi menantu keluarga Wiguna. Mulai dari sekarang harusnya manggil mami Helena bukan tante” Eliana mengingatkan Sabrina.
“iya sayang, Elia benar. Mulai sekarang kamu manggil Mami” ujar Helena membenarkan perkataan Eliana.
“i iya ta... eh maksud Sabrina mami,” Ujar Sabrina gugup, Raka menatap kemejanya yang penuh dengan peluh dan bau.
Sabrina akan berbicara terhenti saat Raka sudah berada di lantai dua Wibisana masih tampak kesal, dia sangat ingin membalas Eliana namun tidak ke sampaian karena ada Sabrina dan Asmirah. Dia memilih menaiki tangga menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri.
“maaf Ta... eh mi Kami nggak bisa lama-lama, maksud kedatangan kami kemari mau mengembalikan barang milik mas Raka yang nggak sengaja ke bawa turun oleh kami” ujar Sabrina sambil menyerahkan paper bag berisi barang-barang milik Raka.
“ makasih ya sayang, nanti mami akan mengembalikannya ke Raka” Helena meraih barang yang di berikan Sabrina.
“terima kasih mi, kami harus kembali sekarang. Takutnya nanti semua pada semua menunggu kami, Titip salam sama oppa Raka dan Kak Wibisana” ujar Asmirah pamit pada Helena dan yang lainnya.
“iya Mirah, sampaikan maaf opa pada eyang kalian karena tidak bisa ikut mengantar” ujar Candra,
“iya opa, nanti akan kami sampaikan pada eyang kakong” Sabrina menyalami Candra, menyalami juga cipika cipiki dengan Helena dan Asmirah.
“beres opa... “ Asmirah mengangkat ibu jarinya dan melakukan hal yang sama dengan Sabrina.
__ADS_1
Mereka berdua melangkah bersamaan pulang kembali ke rumah, Helena ikut mengantar mereka.
Raka telah selesai mandi, handuk putih melingkar di bagian bawah tubuhnya. Dada bidang, perut sixs pack, punggung kekar serta rambut basah menambahkan ke seksian Raka. Masih terlihat jelas titik-titik air mandi tersisa di badannya, matanya sempat melihat ke arah jendela walk in closet di mana terlihat di pekarangan rumah Wulan mobil Cakra dan satu mobil yang tidak di kenal Raka sudah terparkir.
Keluarga Adiwijaya tampak sibuk mengatur barang-barang yang di simpan di bagasi,
Mereka sudah mau berangkat, aku harus bergegas guman Raka segera memakai bajunya. Dia sudah berniat ikut mengantar Adiwijaya dan keluarganya ke bandara. Tidak lupa rambutnya di atur sedemikian rupa dan mengenakan parfum dengan wangi yang enak.
Dia segera turun ke lantai bawah menemui Helena dan Candra yang sedang duduk di ruang keluarga bersama Eliana,
“mi, Raka mengantar Sabrina dan eyangnya ke bandara. Elia mana kunci mobil kakak” ujar Raka sambil meminta kunci mobilnya.
Eliana meraih kunci di atas meja lalu menyerahkannya ke Raka,
“Hati-hati di jalan ya sayang, jangan ngebut” ujar Helena pada Raka yang menyalaminya dan juga Candra.
“Iya mi, assalamualaikum” Raka mengucapkan salam lalu melangkah keluar menuju mobilnya. Saat dia akan menuju mobilnya, Raka melihat Sabrina sedang membawa barang berat. Dia akan menghampiri calon istrinya, namun langkahnya terhenti saat seorang pria dengan memakai pakaian militer mencoba membantu Sabrina.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
maaf pada semua reader🙏🏻
🙏🏻🙏🏻, karena beberapa hari ini author harus istirahat total jadi semua karya Author harus terlambat up. 😷😷😷
secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...