
Namun niat itu di urungkan mengingat bagaimana kejamnya Nicholas pada setiap orang-orang yang berkhianat padanya. Dengan patuh Arman dan Adelia duduk di mobil anak buah Nicholas, wajah Adelia tampak sangat takut.
“pa.... kita mau di apakan oleh mereka? Aku sangat takut pa” Adelia memegang tangan Arman mencari perlindungan.
“apa lagi papa, kita berdoa saja jika Tuan Nicholas bisa di bujuk kali ini” ujar Arman di terlihat cemas dan takut.
***
Bunga dan buah sudah terhias rapi dengan kartu ucapan yang di sematkan di antara keindahan bunga, Jack tampak puas dengan hasil pekerjaannya. Penuh percaya diri dia membawa bunga dan buah yang di pinta oleh Nicholas memasukkannya ke dalam mobil.
“take good care of these items like you would take care of valuables, lest anything be damaged. do you know how the boss behaves if only one is broken?!! (jaga barang-barang ini dengan baik seperti kalian menjaga barang berharga, jangan sampai ada yang rusak. kalian tahu bagaimana sikap Bos jika ada satu saja yang rusak?!!)” ujar Jack menatap ke arah anak buahnya.
“ok boss (baik bos)” ujar para anak buah serempak. Setelah menyusun dengan rapi di dalam mobil, mereka lalu menaiki mobil melajukan kembali ke kediaman Adiwijaya.
Di rumah Sakit tempat Wiyasa bekerja tepatnya di ruang IGD, para perawat tampak sibuk membantu Wiyasa merawat luka Sabrina. Infus dan kantung darah tergantung di tiang infus, Wiyasa segera melakukan tindakan pada lengan yang masih mengeluarkan darah segar. Raka dan Cakra duduk di ruang tunggu IGD, sesekali mereka mengintip dari balik kaca untuk melihat kondisi di dalam sana.
Andhini memegangi sebelah tangan Sabrina yang lain, memberikan kekuatan dan menenangkannya. Matanya sempat di pejamkannya saat melihat luka yang di sengaja oleh putrinya, dia menatap iba pada Sabrina yang terlihat sangat sedih dan terluka. Rasa sakit luka di lengan Sabrina tidaklah sebanding dengan rasa sakit di hatinya, Andhini tahu akan hal itu. Tangannya membelai lembut dan sedikit menepuk-nepuk, sesekali Andhini menghela nafas panjang mengatur jantungnya yang berdegup kencang.
Andhini mengeryitkan wajahnya takut dan ngeri saat jarum suntik menusuk di lengan putih Sabrina, seakan dialah yang terluka dan merasa sakit.
“nduk... apakah masih terasa sakit?” Tanya Wiyasa menekan-nekan samping luka di lengan Sabrina, dia baru saja menyuntikkan obat bius lokal agar memudahkan pekerjaannya menjahit luka yang menganga. Sabrina hanya menggelengkan kepalanya perlahan, dia merasa sangat lemah dan pusing.
Wiyasa segera melakukan tugasnya, dengan cekatan menjahit luka di lengan putrinya, sesekali mata Wiyasa melihat ke arah putrinya. Tampak dari mata indah itu berkaca-kaca menahan kesedihan di dalam hatinya, dia diam seribu bahasa seakan menangis dan menjerit dalam hati.
Wiyasa melihat ke arah Andhini yang juga melihat ke arahnya, mereka sangat sedih melihat keadaan Sabrina. Dia menganggukkan kepalanya memberi kode pada Andhini untuk berbicara pada Sabrina, selagi Wiyasa menyelesaikan pekerjaannya. Dia khawatir jika Sabrina memendam semua kesedihan di dalam hati akan berdampak buruk dengan kesehatannnya.
Andhini mengerti keinginan suaminya, dia membelai wajah Sabrina berusaha untuk menghiburnya.
__ADS_1
“Nduuuk.... kalo kamu mau menangis, menangislah nduk... jangan kamu simpan semuanya dalam hati” ujar Andhini membelai lembut wajah Sabrina.
Perlahan air mata itu jatuh, Sabrina menangis sedih mengeluarkan semua rasa sakit di hatinya. Teringat olehnya saat perkataan Arman yang begitu membekas di hatinya, tidak dipungkiri ada secercah harapan di Hatinya saat bertemu Arman. Harapan saat Arman datang memeluknya dan mengatakan dia merindukan putrinya, tapi semu itu hanya bayangan semu dan mimpi belaka.
Perasaan Sabrina kembali tercabik teringat setiap perkataan Arman dan tujuannya, Andhini memegangi tangan Sabrina memberi kehangatan dan kekuatan untuk putrinya. Wiyasa menyelesaikan pekerjaannya dengan cekatan para perawat membantu merapikan peralatan, dia menatap istri dan putrinya. Begitu sakit di hatinya saat melihat wajah pucat Sabrina, dia sangat marah dan ingin menghajar Arman saat itu juga.
“Sabrina...” Wiyasa membelai wajah dan ikut memegang tangan Sabrina yang juga di pegangi Andhini. Hati Sabrina yang tersakiti perlahan-lahan mulai menghangat menatap Andhini dan Wiyasa.
Walau status mereka sebenarnya adalah bibi dan keponakan, namun ketulusan dan cinta yang di inginkan Sabrina ada pada Andhini juga Wiyasa. Raka dan Cakra ikut masuk ke ruang IGD menatap pemandangan haru dan menghangatkan hati.
"Raka..." Cakra memanggil Raka yang berdiri di sampingnya.
"iya Om" Raka menatap wajah Cakra yang sedang melihat keluarga kecil mbaknya.
“Raka, kamu dapat melihat sendiri apa yang terjadi pada Sabrina. Om harap saat kamu menikah dengannya kelak, jangan pernah kamu menyakitinya. Cintai dia dengan tulus sehingga dia bisa melupakan rasa sakit atas perlakuan ayah kandungnya ” ujar Cakra mengalihkannya pandangannya ke Arah Raka yang berdiri di sampingnya. Raka balas menatap ke arah Cakra, tampak olehnya sebuah kesungguhan dan keteguhan hati di mata Raka.
Senyuman senang tersungging di bibir Cakra, dia merangkul pundak Raka dan sesekali menepuk lembut. Dia merasa tenang menyerahkan Sabrina pada Raka, calon imam yang tepat untuk keponakannya.
Wiyasa bangkit berdiri dari tempat duduknya, dia menatap ke arah Cakra dan Raka yang berdiri tidak jauh dari mereka. Wiyasa tahu jika saat ini Raka sangat mengkhawatirkan Sabrina, saat akan menghampiri Raka beberapa perawat masuk.
“dokter Wiyasa, kamar perawatan untuk nona Sabrina sudah di siapkan. Kami akan memindahkan nona Sabrina sekarang” ujar perawat itu pada Wiyasa.
“baiklah” Wiyasa mempersilahkan para perawat untuk menjalankan tugas mereka.
“dek, kamu dan Raka temenin Sabrina yo, Mas dan Cakra ke bagian administrasi dulu. Sekalian mau mengabari keluarga kita” Ujar Wiyasa pada Andhini.
“baik mas, “ Andhini mengikuti perawat yang mendorong bankar menuju kamar VVIP.
__ADS_1
“om, biar aku saja yang mengurus administrasinya. Om dan Tante yang temani Sabrina” tawar Raka pada Wiyasa.
“ndak apa-apa Raka, biar kami saja yang mengurusnya. Lebih baik kamu menemani Sabrina, om tahu kamu pasti sangat ingin berbicara dengan Sabrina saat ini” ujar Wiyasa tersenyum melihat Raka tersipu malu dan salah tingkah.
Terdengar deringan telepon milik Cakra, di layar ponselnya tertulis nama Araf di sana.
“mas duluan saja, aku angkat telepon dari Araf dulu” ujar Cakra memperlihatkan layar ponselnya pada Wiyasa.
“baiklah, nanti kamu langsung susul mas di bagian administrasi yo” ujar Wiyasa yang langsung di angguki oleh Cakra.
“kalo gitu kita sama-sama saja om, sekalian Raka ke ruangan Sabrina” Raka mengikuti Wiyasa.
“baiklah kalo maunya kamu” Wiyasa lalu berjalan menuju ke ruangan administrasi untuk mengurus semua surat—surat dan hal lainnya.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1