
Koper milik Andhini di geret oleh Sabrina dengan menenteng sebuah paperbag di sebelah tangan lainnya, dia melangkah mendekati mobil Cakra mencoba memasukkan koper itu ke dalam bagasi mobil. Yusuf mengulurkan tangannya untuk membantu,
“biar saya bantu,” ujar Yusuf saat Sabrina sedikit kesusahan mengangkat koper. Raka dapat melihat dari mata dan cara pria itu memperlakukan Sabrina,
Jangan-jangan dia... ini tidak bisa di biarkan... Guman Raka dalam hati, kakinya yang panjang segera menghampiri Sabrina yang berdiri di samping mobil menatap barang-barang yang ada di bagasi mobil.
“Assalamualaikum sayang” sapa Raka dengan sengaja,
“Wa.... Wa waalaikum salam mas Raka,” sapa Sabrina gugup saat Raka memanggil sayang padanya. Araf juga ikut terkejut sampai-sampai koper milik Eyang mereka terjatuh dan menimpa kaki Asmirah.
“Awww mas Aaaraaaaf saaakiiiiit....” pekik Asmirah merasa kesakitan.
“Eh... Maaf dek.... Mas nggak sengaja” Araf segera membantu Asmirah, begitu juga Sabrina yang langsung mengecek kaki Adiknya.
“Lebih baik, kita bawa saja ke rumah sakit. Biar bisa di tangani lebih baik di sana” ujar Yusuf,
“nggak apa-apa suf, biar Sabrina saja yang memeriksa. Dia ini seorang dokter, jadi dia sudah tahu harus melakukan apa” ujar Araf membantu menyangga tubuh adiknya.
“Alhamdulillah, nggak apa-apa kok dek. Hanya nanti memerah saja, kamu masih bisa jalan kan?” tanya Sabrina.
Asmirah mencoba berdiri di kakinya yang terasa sakit, walaupun masih terasa ngilu namun masih bisa di tahannya.
“hanya ngilu saja mbak, tapi udah nggak sesakit tadi. Ini semua gara-gara mas Araf, bikin kaki mirah kesakitan gini” Asmirah mendelik kesal pada Araf yang memasang wajah tanpa berdosa.
“Jangan salahkan mas dek, itu salahnya Raka”
“Salahku?” wajah Raka tampak bingung mendengar alasan Araf.
“Iya salah kamu, tiba-tiba memanggil Sabrina begitu” alasan Araf.
“apa salah aku memanggil tunanganku dengan kata sayang?” tanya Raka berdiri di samping Sabrina,
Blush....
Wajah cantiknya merona merah menambah kecantikan hakiki, seketika Sabrina menundukkan wajahnya malu-malu.
Tunangan.... Jadi dia sudah bertunangan??? Guman Yusuf shock mendengar hal itu. Dia terdiam sejenak menatap ke arah Raka yang menatap Sabrina dengan sesekali menggodanya.
Mata Raka kemudian melihat ke arah Yusuf yang masih berdiri termenung, Araf tahu jika saat ini Raka merasa jealous pada Yusuf.
__ADS_1
“o ya Raka... Perkenalkan ini sahabat saya kapten Yusuf, suf kenalkan ini Raka tunangan Sabrina” Araf memperkenalkan Yusuf pada Raka.
Tangan terulur dari Raka untuk berjabat tangan dengan Yusuf yang masih berdiri termenung. Matanya menatap tangan Raka lalu menjabat tangan sambil tersenyum ramah pada Raka.
Sakit tapi tidak berdarah itu yang di rasakan Yusuf, namun perasaan itu dapat di sembunyikan rapat-rapat olehnya.
Adiwijaya dan yang lainnya keluar rumah menuju ke mobil yang terparkir, Raka dengan sopan menyalami mereka satu persatu. Setelahnya mereka menaiki mobil yang terparkir di halaman rumah Cakra, Raka mengambil mobilnya dan mengajak Sabrina juga Asmirah untuk berada satu mobil dengannya.
Satu-persatu mobil melaju menuju Bandara international di Jakarta, Raka juga sudah mempersiapkan pesawat pribadi milik keluarga Wiguna untuk mengantar keluarga Adiwijaya ke Surakarta.
Tidak lupa pula dia memberitahu pada keluarga Adiwijaya, Raka membuka pintu mobil miliknya mempersilahkan Sabrina untuk duduk di samping kemudi. Gugup, Sabrina masuk lalu duduk dengan manis di bangku penumpang samping kemudi. Raka memutari mobilnya, lalu membuka pintu samping kemudi duduk di sana dengan memakai sabuk kemudi.
Raka menyalakan mobilnya dan bersiap untuk pergi, namun dia belum bisa berangkat saat pintu mobil bagian belakang di buka oleh Asmirah. Sabrina menatap heran ke arah adik sepupunya, wajahnya tampak kesal.
“Loh Mirah, bukannya tadi mau naik mobil temannya mas Araf?” tanya Sabrina.
“batal mbak, mas Araf ngeselin banget. Masak Mirah yang cantik paripurna di suruh duduk di bagasi berdesakkan ama koper dan barang-barang eyang” Asmirah sangat kesal. Raka dan Sabrina tersenyum melihat tingkah laku Asmirah, dia lalu mulai menghidupkan mobilnya. Mereka semua berangkat menuju bandara.
Sesampainya di bandara, Raka membantu Araf dan Yusuf menurunkan barang-barang milik keluarga Adiwijaya. Sabrina memeluk Andhini, sebelah tangan Andhini membelai kepala Sabrina yang di tutupi hijab.
“hati-hati kamu di sini ya nduk. Nurut apa kata pak le dan buk le mu, sering-sering kirim kabar pada ibu, bapak dan eyang yo” pesan Andhini mencium pipi putrinya.
“Iya ibu dokter. Ada bapak yang akan mengingatkan semuanya, kalo perlu bapak akan menghubungi mu saat eyang tidak mendengarkan apa nasehat bapak” ujar Wiyasa sambil menggoda bapak mertuanya. Adiwijaya tertawa lalu merangkul Raka yang berdiri di sampingnya.
“Lihat nak Raka, ini akibatnya jika dalam keluarga berprofesi sebagai dokter. Kita jadi tidak bisa menikmati makanan enak dan lezat di luaran sana” Adiwijaya tersenyum menatap cucu kesayangannya.
Semua yang mendengar kelakar Adiwijaya ikut tertawa, Raka melihat jam di tangannya sudah menunjukkan jam keberangkatan.
“Eyang kakung dan semuanya sudah saatnya untuk berangkat” ujar Raka.
“Bapak, ibu hati-hati di jalan. Selalu jaga kesehatan bapak, ibu, mbak Andhini dan mas Wiyasa” ujar Cakra sambil menyalami kedua orang tua dan kakak juga kakak iparnya.
“titip Sabrina ya Wulan, jangan sungkan untuk memarahi dan menasehatinya jika dia melakukan kesalahan” ujar Andhini sambil memeluk Wulan.
“iya mbak” Wulan menganggukkan kepalanya. Sabrina, Raka, Araf, Asmirah dan yusuf bergantian menyalami Adiwijaya, tidak lupa pula Adiwijaya mengingatkan Raka untuk selalu menjaga Sabrina. Dia juga meminta mereka untuk bisa menjaga diri dan terhindar dari perbuatan yang di benci Allah.
Sabrina melambaikan tangan kepada keluarga besarnya yang sudah memasuki ruang keberangkatan. Raka tidak lupa memberi tahu pilot dan pramugari pesawat untuk melayani keluarga calon mertuanya.
Setelah pesawat jet pribadi milik keluarga Candra Wiguna mengudara meninggalkan landasan pacu. Cakra dan wulan memutuskan untuk pulang ke rumah, Araf juga Yusuf memutuskan kembali ke markas militer untuk melanjutkan latihan mereka. Raka pun mengajak Sabrina untuk pergi menonton atau sekedar jalan-jalan menghibur suasana hati calon istrinya yang tengah sedih.
__ADS_1
“gi mana Sabrina kamu mau pergi nonton atau jalan-jalan di mall?” tanya Raka pada Sabrina. Tentunya Raka sudah meminta izin wulan juga Cakra mengajak Sabrina pergi, Asmirah mendengar kakaknya akan pergi nonton bersemangat untuk ikut bersama mereka.
Raka tidak mempermasalahkan Amirah ingin ikut bersama mereka, dia malah senang melihat Asmirah yang mencairkan suasana yang terasa sedikit canggung baginya. Walaupun mereka sudah bertunangan, Raka masih belum mengenal bagaimana sifat dan tabiat Sabrina.
“Sabrina ikut mas Raka aja, kalo kamu gi mana Mirah?” Tanya Sabrina menolehkan wajahnya ke arah Asmirah.
“ Hmmm... gi mana kalo kita nonton film aja. Kebetulan ada film baru yang tayang saat ini, gi mana oppa?” ujar Asmirah memberi ide.
“aku sih nggak masalah, kalo kamu gi mana Sabrina?” tanya Raka menatap Sabrina sesekali.
“ aku nggak masalah mas” Sabrina tersenyum manis, membuat jantung Raka berdegup kencang. Jujur jika saat ini Sabrina sudah sah dan halal baginya, ingin dia mencium pipi dan bibir Sabrina yang menggoda imannya.
Astagfirullah... Raka... kamu harus bisa menahan diri. Bersabar sampai kondisi opa membaik, setelah itu kamu bisa menghalalkan perempuan secantik bidadari ini hanya untuk mu gumam Raka berusaha mengontrol dirinya.
Mobil Raka melaju menuju ke bioskop yang berada di salah satu mall terbesar di Jakarta, tidak lupa pula Asmirah membeli popcorn juga minuman untuk mereka nikmati bersama. Raka sudah memesan tiket, lalu menyerahkan tiket itu pada Sabrina dan Asmirah. Mereka lalu masuk ke bioskop, Raka membantu Asmirah membawakan popcorn dan minuman.
***
Sementara itu, di belahan Australia sana tampak Arman duduk di kursi kebesarannya. Matanya menatap tajam pada beberapa anak buah yang berdiri menunggu instruksi darinya. Arman memberikan secarik kertas yang berisi alamat pada anak buahnya.
“kalian selidiki alamat rumah ini, kalian harus bisa menyelidiki gadis bernama Sabrina. Kalian harus bisa mendapatkan foto juga informasi terkait tentang gadis ini. Jika berhasil aku akan memberikan bonus besar untuk kalian” ujar Arman, sudah sangat lama dia melupakan Sabrina yang di buangnya. Untuk menyelamatkan perusahaan dan putrinya dari mafia di negara itu, mau tidak mau dia harus mencari Sabrina kembali.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
maaf pada semua reader🙏🏻
🙏🏻🙏🏻, terlambat up secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...