
Tanpa siapa pun yang tahu diam-diam Nicholas mendekatkan wajahnya pada Sabrina yang melihat ke arah Nicholas, bibir mereka saling menempel di balik majalah itu. Ciuman itu sukses membuat mata indah Sabrina membesar dan pipinya merona merah,
“Don't be angry anymore, because my heart only belongs to you (jangan marah lagi, karena hatiku hanya milikmu)” bisik Nicholas ditelinga sabrina yang tertutup Hijab, mata biru Nicholas menatap sejenak pipi Sabrina yang memerah dan mengecupnya perlahan.
Nicholas lalu menurunkan majalah yang di pegangnya lalu bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi apa pun. Kedua tangan Sabrina memegangi pipinya yang memerah dan juga panas, rasa malu juga berbunga-bunga terasa penuh di hatinya.
Apa yang di perbuat oleh Nicholas pada Sabrina sempat terlihat oleh Yohan yang berdiri di samping tuan mudanya, wajahnya juga ikut memerah saat tidak sengaja melihat perlakuan manis Nicholas pada Sabrina. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain dan berpura-pura tidak tahu apa pun.
Sabrina juga Nicholas menanti dengan sabar nomor antrean mereka terpanggil, tak jarang banyak suster dan dokter yang mengenal Sabrina menyapa dengan ramah.
“Dokter Sabrina!!”
“hi doctor Sabrina, we heard you got permission today. But it turns out you came in, are you sick? (hai dokter Sabrina, kami dengar anda izin hari ini. Tapi ternyata anda masuk, apa anda sakit?)”
Para perawat dan teman sejawat Sabrina segera mengerubungi layaknya sebuah gula yang jatuh di sarang semut. Nicholas pun menjadi tersingkir saat perawat perempuan tampak senang dan tertawa bersama dengan Sabrina. Tidak hanya perawat perempuan saja ada juga perawat pria dan juga dokter yang menjalani masa Koas menyapa Sabrina dengan ramah.
Kesabaran Nicholas kali ini benar-benar di uji saat melihat beberapa dokter dan perawat pria yang bekerja di sana memiliki paras tampan dan gagah, dari gelagat mereka Nicholas bisa melihat beberapa Dokter tampak menaruh hati pada Sabrina.
“doctor Sabrina, are you pregnant?(dokter Sabrina apa anda hamil?)” cetus seorang perawat perempuan lainnya yang baru menyadari jika Sabrina tengah mengantre di bagian kandungan.
“Is it true? So the rumor you're married is true? (apakah benar? Jadi gosip anda sudah menikah itu benar?)” tanya perawat pria penasaran. Senyuman manis tersungging di wajah cantik Sabrina, senyuman itu bagai penyejuk bagi para jomblowan yang ibarat musafir di gurun yang gersang.
“the gossip is true and this is my husband (gosip itu memang benar dan ini suami saya)” ujar Sabrina memegang lengan Nicholas dan memperkenalkan pada para staff, perawat juga dokter di sana.
Para kaum adam tampak kecewa dan patah hati saat melihat Nicholas yang menatap Sabrina penuh cinta, tak ayal mereka tampak sedikit ketakutan dan tidak nyaman saat tatapan mengintimidasi di layangkan Nicholas pada mereka. Hal itu sengaja di lakukan Nicholas agar mereka tidak berani mendekati Sabrina.
“All right, Doctor Sabrina. We won't bother anymore, we're excuses to continue our work (baiklah, Dokter Sabrina. Kami tidak akan mengganggu lagi, kami permisi melanjutkan pekerjaan kami)” ujar perawat lainnya yang memohon diri.
Para perawat dan dokter mulai membubarkan diri dan melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing, Sabrina dan Nicholas masih menunggu untuk giliran masuk ke ruangan dokter kandungan.
__ADS_1
***
Indah dan Adelia tengah berada di sebuah klinik seorang dokter kandungan kenalan Indah, agar tidak di kenali siapa pun Indah juga Adelia tampak menutupi wajah mereka dengan masker dan kaca mata hitam.
Indah merasa mereka seperti di awasi, Sesekali dia melihat ke sekeliling memastikan tidak ada siapa pun yang mengikuti atau mengenali mereka. Adelia dan Indah memasuki ruangan dokter kandungan yang tengah menunggu mereka,
“selamat siang, dokter Rudi” sapa Indah pada Dokter Rudi yang tengah menunggu di ruang praktiknya.
“selamat siang nyonya Indah, apa kabar, nyonya?” sapa dokter Rudi ramah sambil menyalami Indah dan Adelia, dia juga mempersilahkan Indah dan Adelia untuk duduk di kursi yang tersedia.
“langsung saja Dok, sesuai dengan apa yang saya bicarakan tadi pagi dengan anda. Ini putri saya yang akan melakukan operasi ‘Itu’, saya harap dokter bisa melakukannya” ujar Indah, dokter Rudi melihat ke arah Adelia yang balas menatapnya balik.
“ apakah anda mempunyai surat keterangan yang menegaskan jika putri anda tidak bisa mempertahankan kehamilannya? Atau riwayat kesehatan lainnya?” tanya dokter Rudi.
“maaf dokter, saya tidak memiliki surat itu. Saya hanya ingin bayi ini di singkirkan dengan secepatnya” ujar Adelia merasa tidak sabaran. Dokter Rudi tampak terkejut saat mendengar pernyataan Adelia, dia kembali menatap ke arah Indah yang hanya bisa menghela nafas dengan sikap putrinya.
“Dokter tidak usah tahu terlalu dalam, lebih baik cepat lakukan operasi ini. Saya akan bayar berapa pun biayanya” ujar Adelia.
Dokter Rudi yang mendengar hal itu tampak tersenyum senang,
“baiklah kalau begitu. Sebelumnya kita harus melakukan pemeriksaan untuk melihat berapa usia janin anda” ujar Dokter Rudi.
“ apa tidak bisa langsung saja, Dokter?” tanya Adelia.
“ maaf nona, kita harus memastikan dulu usia kandungan anda. Jika kandungan sudah melebihi 24 minggu akan sangat berbahaya, anda akan mengalami pendarahan atau infeksi pada Rahim...” penjelasan Dokter Rudi kembali di potong oleh Adelia yang sudah tidak bisa lagi bersabar.
“Dokter.... lakukan operasinya SEKARANG” ujar Adelia yang sudah tampak tidak bisa mengontrol emosinya. Dokter Rudi mengalihkan tatapannya pada Indah yang berusaha menenangkan Adelia, dengan kodean mata Indah meminta Dokter Rudi untuk mengikuti keinginan Adelia.
“Baiklah, saya akan melakukan operasi ini. Tetapi apa bila terjadi masalah apa pun atau kesalahan dalam operasi ini, saya tidak akan bertanggung jawab karena anda dengan kesadaran anda sendiri yang meminta hal ini” tegas Dokter Rudi yang tidak ingin di tuntut nantinya jika terjadi sesuatu dengan Adelia.
__ADS_1
“oke fine, what ever” ujar Adelia sudah tampak kesal.
“Kalau begitu, silahkan anda tanda tangani berkas ini” ujar dokter Rudi yang tidak ingin mengambil resiko. Tanpa membacanya Adelia telah dulu menanda tangani berkas itu, juga Indah yang di minta sebagai saksi. Dokter Rudi menatap ke arah Adelia dengan sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya, dia lalu meminta perawat sekaligus asisten yang bekerja dengannya untuk mempersiapkan ruangan dan peralatan yang dibutuhkan.
***
Sabrina dan Nicholas berada di ruangan dokter kandungan yang juga teman sejawat Sabrina, mereka di sambut ramah oleh dokter yang pada papan namanya bertuliskan nama Maria.
“hi Brina, come in... come in... (hai Brina, masuk... masuk...)” sapa Dokter Maria ramah penuh senyuman.
“halo dokter Maria” sapa Sabrina ramah sambil berpelukan dan cipika cipiki. Dokter Maria lalu mempersilahkan mereka untuk duduk di kursi yang berada tepat di depan meja kerjanya,
“I heard that today is your day off, what is this? And he... (aku mendengar jika hari ini kamu cuti, ada gerangan apa ini? Dan dia... )“ Dokter Maria melihat ke arah pria yang menemani Sabrina masuk ke ruangannya.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1