
Sabrina tengah duduk di dalam mobil sambil memeriksa ponsel miliknya, sesekali dia melihat keluar mobil lebih tepatnya ke arah Nicholas yang tengah berbicara dengan Yohan dan anak buahnya. Senyuman hangat tidak pudar dari wajah tampan Nicholas,
“.... don't forget to order coffee for all of them, if necessary rent a coffee truck and place it in front of the hospital so everyone can enjoy it (.... jangan lupa untuk memesan kopi untuk mereka semua, bila perlu sewa satu truk kopi dan tempatkan di depan rumah sakit ini agar semua dapat menikmatinya)” ujar Nicholas sambil masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Sabrina. Kening Sabrina tampak berkerut saat mendengar perintah Nicholas, dia langsung melihat ke arah suaminya dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Nico?! why did you order so much food and also rent a coffee car? (Nicho?! kenapa kamu memesan begitu banyak makanan dan juga menyewa mobil kopi?)” tanya Sabrina, sejenak Nicholas menatap istrinya lalu sebelah tangannya merangkul pinggang dan menarik tubuh Sabrina untuk duduk lebih dekat.
“sayang, this is not all a request from me. But it's an order from daddy, he wants to express his gratitude and gratitude for this good news (sayang, ini semua bukan permintaan dari ku. Melainkan perintah dari daddy, beliau ingin mengungkapkan rasa terima kasih dan syukur atas kabar gembira ini)” ujar Nicholas sambil membelai perut datar Sabrina.
Jack sudah duduk di belakang kemudi, dia lalu menyalakan mesin dan melajukan mobil dengan hati-hati. Dia pun sengaja memelankan laju mobil saat melewati polisi tidur, hal ini di lakukan Jack agar mobil tidak berguncang.
Nicholas tersenyum manis saat melihat pipi Sabrina bersemu merah, gadis cantik itu terlihat tersipu malu mendapat perlakuan lembut dari pria tampan di sampingnya.
“Thank you sayang, you have covered the shortcomings in my life. Now that he's going to complete our little family, I'm really very happy (terima kasih sayang, kamu sudah menutupi kekurangan dalam hidupku. Sekarang dia akan menyempurnakan keluarga kecil kita, aku benar-benar sangat bahagia)” ujar Nicholas menatap dalam ke arah mata Sabrina yang balik menatapnya.
***
Adelia dan Indah sedang berada dalam mobil mereka, baru saja beberapa meter mobil itu melaju dari kaca spion di depan dashboard indah melihat ada beberapa mobil datang ke klinik dokter itu. Indah tampak semakin terkejut saat beberapa polisi berseragam membawa dokter sekaligus asistennya ke dalam mobil polisi, tidak ingin berurusan dengan kepolisian Indah segera melajukan mobilnya dengan cepat.
“kenapa ma?” tanya Adelia melihat Indah yang terlihat sedikit panik.
“tidak apa-apa sayang, sebaiknya sekarang kamu beristirahat. Mama akan bangunkan kamu jika kita sudah sampai di rumah” ujar Indah yang terus melihat ke kaca spion mobil. Dia ingin memastikan jika mereka tidak di ikuti atau di kejar oleh pihak kepolisian, Adelia yang merasa sangat lelah mengikuti saran Indah dengan menyenderkan tubuh dan memejamkan matanya.
Raka dan Bima baru saja kembali dari rapat bersama client, mereka tengah menuju restoran untuk makan siang. Bima mengendarai mobil dengan kecepatan sedang di jalanan, dia menghentikan laju mobil saat berada di pertigaan jalan.
Keadaan jalanan sedikit padat tapi sama sekali tidak menyebabkan kemacetan, Raka terlihat sibuk dengan ponsel miliknya. Mobil kembali melaju di jalanan raya, Bima yang fokus menyetir tiba-tiba perhatiannya teralihkan oleh suara deringan ponsel miliknya.
Mata Bima terfokus pada jalanan, sebelah tangannya merogoh saku untuk mengambil ponsel.
“jangan cari penyakit Bim, lebih baik kita berhenti dulu baru kamu angkat telepon itu” Ujar Raka yang masih fokus dengan ponsel di pegangnya. Bima mengikuti perintah Raka dengan menepikan mobilnya sejenak, dia lalu melihat ke arah layar ponsel yang tertulis nama Anjani istrinya.
__ADS_1
“assalamualaikum Jani”
“Waalaikum salam mas, sedang keluar kantor ya mas?” tanya Anjani yang tengah duduk bersama Wulan, Asmirah dan Helena.
“iya Jani, mas dan Kak Raka baru selesai menemui klien. Ada apa Jani?”
“itu Jani mau ngasih tahu kalo sekarang Jani ada di rumah mama, jadi Jani ndak sempat masak. Mas makan di luar saja ndak pa-pa kan?” tanya Anjani malu-malu. Pipinya bersemu merah saat melihat Helena yang tersenyum dengan tingkah laku Menantunya, bukan lantaran malas Anjani yang rindu dengan masakan Wulan minta ijin pada Helena untuk pulang ke rumah.
Mendengar Anjani yang ingin menemui Wulan, Helena pun ingin ikut dan mereka pun bersama-sama pergi ke rumah Wulan.
Semenjak Raka keluar rumah dan memilih tinggal di Apartemen, Bima dan Anjani juga memutuskan untuk mandiri dengan tinggal di rumah sendiri. Keputusan Bima membuat Helena sedih, atas permintaan Candra Bima pun membeli rumah yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka.
“Ndak pa-pa Jani, mas sama Kak Raka juga akan makan siang di luar. Salam buat mama dan Asmirah ya”
“ Iya...”
Anjani Yang sedang berbicara dengan Bima mendadak terdiam, dia melihat ke arah Wulan yang tengah berseri-seri mendengar kabar dari keluarga besar mereka di Solo. Wulan yang tengah asyik berbincang dengan Helena mendapat telepon dari Andhini, dia menatap ke arah Helena.
“assalamualaikum mbak Andhini....”
“...............”
“opo mbak... beneran?! Sabrina wes hamil?!” ujar Wulan dengan wajah berseri-seri. Anjani yang masih berbicara dengan Bima segera menghampiri Wulan, dia tampak bahagia mendengar kabar baik dari Sabrina.
Helena yang duduk di samping Wulan tercenung mendengar kabar kehamilan Sabrina, ada rasa sedih di hatinya teringat dengan Raka yang masih sendiri.
Jika saja Sabrina jadi menikah dengan Raka, mungkin saja kabar gembira ini... Tidak.... Tidak Helen, kamu nggak boleh merasa sedih. Ini semua sudah suratan dari-Nya, aku harus ikhlas menerimanya... gumam Helena dalam hati berusaha untuk ikhlas.
“mbak Sabrina hamil, ma?” tanya Anjani pada Wulan, perkataan Anjani itu terdengar oleh Bima.
__ADS_1
“Mbak Sabrina Hamil?!” ujar Bima membuat Raka yang fokus dengan ponselnya langsung menatap ke arahnya. Bima tampak canggung dan merasa tidak enak hati pada Raka saat dia tanpa sadar mengeraskan suaranya, Raka terlihat tenang dan kembali fokus pada ponsel miliknya.
Bima pun mengakhiri pembicaraannya dengan Anjani, kemudian menyimpan kembali ponsel miliknya ke dalam saku.
“maaf kak,” ujar Bima, Raka menatap ke arah Bima dengan tatapan bingung.
“Maaf?! Maaf untuk apa?”
“maaf... karena itu.... aku... aku tidak sengaja... aaa... itu... hmmm”
“Bim, sudahlah jangan merasa canggung atau merasa tidak enak hati. Aku sangat senang mendengar Sabrina dan Nicholas sebentar lagi akan memiliki momongan”
“apa kak Raka sudah bisa move on dari mbak Sabrina?!” tanya Bima menatap Raka yang duduk di sampingnya.
Raka hanya diam, matanya kembali menatap ke arah ponsel yang di pegangnya.
Jujur Bim, aku sendiri tidak tahu apakah bisa melupakannya? Gumam Raka dalam hati matanya menatap ponsel tetapi pikiran dan hati pergi entah ke mana.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...