Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 38


__ADS_3

Adrian menyuruh Wibisana untuk menyiapkan sebuah ruangan untuk mereka bisa berbicara tentang masa depan Anjani dan Bima. Mereka tidak ingin nantinya semuanya terlambat dan masalah semakin tidak terkendali.


Adiwijaya menyeka air matanya menatap haru sahabatnya yang sudah sangat lama tidak bertemu. Begitu juga Candra, masih teringat di ingatannya bagaimana nakalnya mereka dulu saat semasa sekolah. Mereka terpaksa berpisah, Candra harus mengikuti orang tuanya yang merantau ke kota besar untuk memperbesar bisnis mereka. Dengan tangan dingin dan keseriusan Candra membuat usaha keluarganya menjadi lebih berkembang, hingga akhirnya keluarga Wiguna menjadi salah satu keluarga sultan yang di segani dan di hormati.


Tidak beberapa lama datang seorang perawat yang di minta Adrian untuk membawakan peralatan pemeriksaan. Sabrina menerima stetoskop dari perawat itu yang terlihat gugup melihat Raka yang duduk di ranjang bawah kaki Candra. Sesekali perawat itu mencuri-curi pandang ke arah Raka, namun di abaikan oleh Raka yang terlihat sedang mencuri-curi pandang ke arah Sabrina.


Sabrina berdiri di samping Adiwijaya menatap eyangnya yang tampak sangat bahagia bertemu dengan teman lamanya.


“Eyang, tuan candra, maaf menganggu pertemuannya. Sabrina ingin memeriksa kondisi tuan...” perkataan Sabrina kembali terpotong oleh Candra.


“Adi, jadi dokter Sabrina ini cucumu?” Tanya Candra pada Adiwijaya tersenyum ke arahnya.


“iya, dia cucuku. Putri mendiang anak pertama ku, sudah sana Sabrina periksa kakek tua itu sebelum dia cerewet mananyai eyang” ujar Adiwijaya menyuruh Sabrina untuk melaksanakan tugasnya sebagai dokter.


“dasar kamu Adi, masih saja tidak berubah suka mencela aku” senyum Candra senang.


Sabrina kemudian memakai stetoskop di balik hijab syar’inya kemudian mulai memeriksa di bagian dada Candra. Mata tua Candra sesekali menatap ke arah Sabrina lalu ke arah Raka yang terlihat sedang menatap Sabrina. Sebuah senyuman terkembang di bibir Candra,


Ternyata itu bukan mimpi... Aku sudah menemukan jodoh yang baik untuk Raka guman Candra yang tersenyum dengan maksud tertentu.


“Alhamdulillah, semua hasilnya menunjukkan respon yang baik. Sekitar beberapa minggu ke depan tuan Candra sudah bisa kembali beraktifitas, tapi tuan...” Candra kembali memotong perkataan Sabrina,


“jangan panggil aku tuan, panggil saja opa. Opa sangat senang jika Sabrina memanggilku dengan sebutan opa” ujar Candra membuat Sabrina sedikit sungkan, tapi Adiwijaya menganggukkan kepalanya mengisyaratkan Sabrina untuk mengikuti kemauan Candra.


“baiklah opa, ke depannya opa harus menjaga kondisi opa dengan baik dengan menjaga pola makan, makan makanan yang sehat dan jangan lupa berolahraga sesuai dengan kemampuan opa tentunya” ucap Sabrina.


“ opa sudah dengar bukan apa yang di katakan Sabrina, jadi opa harus mematuhi setiap apa yang di larang oleh papi dan Wibi” ujar Raka tersenyum, sontak Sabrina termenung saat Raka memanggil namanya tanpa menggunakan embel-embel profesinya.


Dia menatap ke arah Raka begitu pun Raka menatapnya sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke Candra yang tersenyum senang ke arahnya. Sabrina melepaskan stetoskop dan memberikannya pada perawat, dia lalu memberitahu perawat obat-obatan dan cairan infus apa saja yang harus di berikan pada Candra.


Raka mengode dengan matanya saat Candra tersenyum dengan penuh maksud, Candra membalas dengan kode yang mata yang mengatakan jika dirinya setuju Sabrina menjadi pendamping hidupnya. Kode mata itu di ketahui oleh Adiwijaya, dia juga bisa melihat jika Raka juga memiliki perasaan yang berbeda pada Sabrina. Dia juga menangkap basah Raka memandang ke arah Sabrina,

__ADS_1


“he ehem,” Adiwijaya berdehem membuat Raka yang ketahuan segera mengalihkan pandangannya. Dia tersenyum melihat tingkah Raka,


“jika sudah suka di halalin saja, benarkan Adi” sindir Candra membuat Raka menatap ke arahnya.


“aku sih tidak masalah, semua tergantung pada anak muda ini. Aku hanya merestui dan mendoakan saja” ujar Adiwijaya memberi lampu hijau pada Raka.


Mendengar apa yang di ucapkan Adiwijaya membuat hati dan perasaan Raka berbunga-bunga. Sabrina mencuri dengar apa yang di ucapkan Candra dan Adiwijaya, dia menjadi salah tingkah membuat pipinya yang putih menjadi merah merona. Dia berusaha untuk mengontrol detak jantung yang berdebar-debar, perawat yang mendengar hal itu tampak galau dan sedih.


Perawat itu mohon diri keluar dari kamar Candra untuk melaksanakan perintah Sabrina. Adiwijaya melihat pipi Sabrina yang merona sadar jika cucu kesayangannya juga memiliki perasaan yang sama dengan Raka.


***


Sementara itu, di ruangan lain keluarga Adiwijaya dan keluarga Wiguna sedang duduk bersama, terlihat raut wajah bingung dari Cakra, Ningsih, Wiyasa, Araf dan Andhini. Helena dan Adrian tampak kebingungan harus mulai dari mana, Bima lalu berdiri dari tempat duduknya melangkah menghampiri Cakra dan Wulan.


Cakra semakin kebingungan saat Bima duduk bersimpuh di depannya dan Wulan,


“loh... loh... Bima kamu ngapain. Ayo berdiri, kenapa kamu duduk seperti ini” Cakra kebingungan.


“ada apa ini sebenarnya? Bima lebih baik kamu berdiri dulu, jangan seperti ini” ujar Cakra,


“Cakra, sebenarnya ada sesuatu hal yang harus aku beritahu kepadamu dan keluarga. Maksud ku mengundang seluruh keluarga besar mu kemari” Adrian ikut berbicara,


“sebenarnya ada apa ini?” tanya Cakra,


Anjani berdiri dari kursinya, ikut duduk bersimpuh di depan kedua orang tuanya,


“Jani, kamu ngapain?” Araf menatap bingung Adiknya.


“pa, mas...sebenarnya ada sesuatu yang harus Jani katakan pada Mas Araf dan papa. Se..... se... sebenarnya.... Anjani dan kak Bima, udah....uda.... me...me... melakukan i... i.. tu...” Sabrina takut hingga menjelaskan dengan terbata-bata.


“itu.... itu apa Anjani, katakan yang jelas Jani, jangan buat mas dan papa bingung begini” Araf tidak sabaran. Wulan dan Asmirah mulai menangis sedih, begitu pun Helena dan Elian membuat keluarga Adiwijaya yang lain menatap ke arah mereka.

__ADS_1


“sebenarnya saat kami pergi menghadiri acara pesta ulang tahu kolega opa...” Bima memberanikan diri untuk menceritakan apa yang terjadi antarannya dan Anjani.


Keluarga Adiwijaya kecuali Asmirah dan Wulan terkejut mendengar apa yang di ceritakan Bima, Araf terlihat marah dan emosi.


“breng**k berani-beraninya kamu menodai adikku” Araf melayangkan sebuah pukulan tepat di wajah Bima. Membuat yang hadir dan menyaksikan segera berhamburan menahan Araf yang sudah naik darah.


Sabrina, Adiwijaya dan Raka terkejut melihat pemandangan kacau balau di hadapan mereka. Raka segera membantu Bima yang tergeletak di lantai dengan pipi kanannya yang lebam.


“ADA APA INI” terdengar hardikan keras dari Adiwijaya sontak membuat semua diam terpaku. Araf masih terlihat sangat marah dan kesal,


“Araf... kontrol emosi kamu. Sebaiknya kalian menjelaskan apa yang sebenarnya terjdi di sini” Adiwijaya meminta kedua keluarga untuk duduk kembali ke kursi mereka masing-masing.


Wibisana pun berinisiatif menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sebelum Adiwijaya, Sabrina dan Raka datang.


“astagfirullah... “ Adiwijaya dan Sabrina mengucapkan istigfar mendengar cerita tentang Bima dan Anjani, Sabrina menghampiri Anjani memeluk dan menenangkannya. Anjani menangis sesegukan di pelukan Sabrina yang membelai lembut punggungnya.


Raka segera menelepon Thio menanyakan bagaimana tentang CCTV yang di mintanya dan menyuruhnya segera datang ke rumah sakit tepatnya ke ruangan mereka berkumpul saat ini.


*************


secepatnya author akan up lagi tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya...🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ all...


__ADS_2