Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 172


__ADS_3

Jari jempol Isaac kembali menggeser layar ponsel canggih itu, dia mencari-cari nomor anak buah yang selalu setia kepadanya. Setelah menemui nomor yang di maksud dia segera mengetuk icon tombol untuk menghubunginya.


Tuuuut... tuuuut... tuuuut...


Terdengar nada sambung dari ponsel itu yang segera tersambung,


"DO IT NOW (LAKUKAN SEKARANG)” ujar Isaac tanpa membuang waktu segera memutuskan secara sepihak sambungan telepon itu.


Jack dengan cepat membawa Sabrina keluar dari apartemen itu, di temani Yohan dan seorang maid mereka menuruni anak tangga menuju lift. Saat melangkah melewati setiap kamar mata Sabrina menatap heran saat para anak buah Nicholas tampak sibuk, beberapa di antara mereka tampak menyimpan senjata api yakni pistol di balik jas hitam yang di kenakan. Sabrina memperlambat langkahnya tampak memikirkan sesuatu, raut wajahnya tampak khawatir dan cemas. Maid perempuan itu berdiri tepat di samping Sabrina, dia memegang lembut lengan Sabrina.


“madam... come on madam, we have to go now. Come on madam (nyonya... ayo nyonya, kita harus pergi sekarang juga. Ayo nyonya)” ujar maid mengajak Sabrina untuk pergi, mata bulat jernih itu masih menatap ke arah anak tangga. Perasaannya campur aduk melihat anak buah Nicholas yang tampak tengah bersiap siaga, Sabrina berdiri termenung di tengah ke sibukkan itu.


Jack menekan tombol lift pada dinding samping, mata Yohan menatap ke arah layar datar yang berada tepat di atas lift. Jack melihat ke belakang dan tidak menemukan keberadaan Sabrina,


“bro... where is madam boss? (bro... mana nyonya bos?)” tanya Jack pada Yohan yang langsung membalikkan tubuhnya.


“Wasn't the madam still behind us... (bukankah tadi nyonya berada di belakang kita...)” ujar Yohan terkejut saat menatap Sabrina yang berdiri termenung di lorong lantai, mereka juga melihat maid yang berusaha untuk membawa Sabrina pergi.


Hati Sabrina bergejolak dia melepaskan pegangan tangan maid dan hendak melangkah menuju anak tangga itu kembali, melihat hal itu Jack dan Yohan segera kembali menghampiri Sabrina berdiri tepat di hadapannya.


“madam.. there is no time, we have to go now (nyonya.. sudah tidak ada waktu, kita harus pergi sekarang juga)” ujar Jack menghalangi langkah Sabrina.


“no... i can't leave Nicho (tidak... aku tidak bisa meninggalkan Nicho,)” Sabrina hendak kembali melangkah menuju apartemennya, tapi Yohan dan Jack menghalanginya.


“no madam, we have to go right now. It's an Order from the Boss, come on madam (tidak nyonya, kita harus pergi sekarang juga. Itu Perintah dari Bos, ayo nyonya)” ujar Jack memaksa Sabrina, body guard bayangan suruhan ayah Nicholas telah bersiap dan berdiri di samping perempuan cantik itu.

__ADS_1


“I won't go without Nicho (aku tidak akan pergi tanpa Nicho)” ujar Sabrina berusaha menerobos blokade Jack dan Yohan.


“sorry madam... (maaf nyonya...)” Yohan nekat memegang tangan Sabrina dan menariknya melangkah menuju lift.


Ting....


Terdengar suara yang menandakan jika lift sudah berhenti di lantai di mana Jack dan lainnya berada, langkah mereka berhenti tepat beberapa langkah di depan lift yang pintunya masih tertutup. Sabrina melihat ke arah belakangnya kembali berharap suaminya sudah keluar dari apartemen mereka, pintu lift terbuka perlahan. Semua mata tertuju ke arah lift, body guard bayangan berada lebih depan memastikan jika tidak ada apa pun di dalam lift.


Salah seorang body guard bayangan memeriksa ke dalam Lift kosong itu, namun tiba-tiba


DUAAAR....


Terdengar suara ledakan di atas lift yang membuat lift itu meluncur cepat ke lantai dasar, mata Sabrina terbuka lebar saat melihat kejadian yang ada di hadapannya.


“BACK OFF (MUNDUR)” perintah Jack melangkah mundur, anak buah Nicholas bersiap siaga. Masing-masing dari mereka memegang senjata di tangan, Sabrina menatap ke arah para body guard yang sudah bersiap.


Pintu tangga darurat terbuka dengan cukup keras, terlihat beberapa orang bersetelan serba hitam mulai menembaki ke arah para anak buah Nicholas.


DOOORR.... DOOOR.... DOORRR...


Terdengar suara tembakan membuat Yohan dan Jack menarik Sabrina untuk mundur menuju ke anak tangga.


“Madam... go back to the apartment soon (Nyonya... kembali ke apartemen segera)” perintah Jack yang langsung mengeluarkan senjata miliknya membalas temakan dari musuh. Maid yang berada di samping Sabrina segera menariknya berlari ke arah tangga, sesekali Sabrina melihat ke arah Jack dan Yohan yang mulai menembaki musuh-musuh mereka.


Jantung Sabrina berdetak sangat kencang bahkan raut wajahnya di liputi ketakutan, tangan kiri Sabrina memegang perutnya yang masih datar dan tangan kanannya memegang erat tangan Maid yang menariknya berlari menuju tangga. Langkah maid berhenti tepat di depan anak tangga, dia langsung menarik dan mendorong Sabrina untuk melangkah lebih dulu kembali ke apartemen.

__ADS_1


“madam... save yourself madam, go back into the apartment right now...aaakhh... (nyonya... selamatkan diri nyonya, kembali masuk ke dalam apartemen sekarang juga...aaaakhh...)” ucapan maid itu terhenti saat tembakan dari musuh mengenai tepat punggungnya. Mata Sabrina semakin membesar saat maid itu tumbang tepat di hadapannya, dia hendak mendekati maid itu tapi langkahnya terhenti saat tembakan peluru dari musuh mengenai dinding tepat di samping kepala Sabrina.


Mau tidak mau Sabrina kembali ke lantai atas dan masuk ke dalam apartemennya kembali, dia menutup juga mengunci pintu itu. Tubuhnya bersandar pada pintu terlihat gemetaran, perlahan Sabrina terduduk di lantai dengan raut wajah yang ketakutan. Kedua tangannya memegangi perut itu berusaha melindungi dari ancaman apa pun, mata Sabrina terpejam sejenak berusaha mengatur nafasnya yang terasa sesak.


Kepala Sabrina menengadah ke atas dengan mata terpejam, dari sudut matanya mengalir air mata. Mendadak mata jernih Sabrina terbuka lebar saat merasakan sebuah sentuhan di wajahnya, dia melihat ke arah tangan yang menyentuhnya dan mendapati Nicholas tengah berjongkok di hadapannya.


Nicholas tengah mempersiapkan beberapa senjata miliknya, tidak lupa dia juga merakit Sniper canggih miliknya dan langsung menempatkannya ke tepi jendela yang pecah itu. Mata Nicholas mengintip ke teropong yang terpasang pada sniper itu, dia mencari-cari keberadaan Isaac yang masih berada di seberang gedung. Nicholas dapat melihat Isaac yang tersenyum smirk di lantai teratas, tidak membuang waktu jari telunjuk Nicholas menekan pelatuk membuat peluru yang ada di dalamnya melesat terbang menuju target.


Peluru yang melesat itu menyerempet bagian dahi Isaac, darah pun mulai membasahi keningnya. Dari teropong itu Nicholas dapat melihat raut wajah kesakitan, kesal dan amarah yang memuncak, dia tersenyum smirk saat peluru itu melukai Isaac.


Braaaak...


Terdengar oleh Nicholas suara pintu yang tertutup keras, tangannya segera meraih senjata yang tersimpan di balik jasnya. Nicholas mengira jika musuh sudah masuk ke kediamannya, dia lalu melangkah hati-hati keluar kamar.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2