Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 188


__ADS_3

Sesuai dengan keputusan bersama para tetua dan kepala desa di ambillah kesimpulan untuk mengusir Asmirah, Raka, Thio dan Dewi dari desa. Tentu saja hal itu di tentang Thio dan Dewi begitu juga dengan Asmira juga Raka yang datang ke balai desa, mereka berdua memutuskan untuk menyusul Thio dan Dewi. Hal yang tidak terduga saat mereka mendengar pernyataan dari para penduduk desa yang tidak senang dan menuduh mereka yang tidak – tidak, Raka lalu menjelaskan bagaimana hubungan mereka.


Para penduduk desa tentu saja tidak bisa menerima apa yang di jelaskan Raka, mereka memiliki opini dan bukti yang sangat di yakini. Asmirah juga ikut menolak keputusan kepala desa yang mengusirnya karena masa pelatihannya yang masih belum selesai. Desakan dan tudingan dari para penduduk desa juga untuk menyelamatkan kehormatan Asmirah yang di pertanyakan, Raka pun melontarkan sebuah pernyataan yang membuat Asmirah, Thio dan Dewi termenung mendengarnya.


“Dia adalah calon istri saya, sebaiknya anda menghormati dan tidak mempertanyakan kehormatannya” ujar Raka lantang yang sudah merasa marah saat mendengar lontaran perkataan yang merendahkan Asmirah. Ucapan Raka sukses membuat Thio, Dewi dan Asmirah termenung mendengarnya, ada rasa bahagia yang menyelimuti hati Asmirah membuat pipinya merona merah.


Semua orang yang mendengar pernyataan Raka langsung terdiam, mereka saling berpandangan dan saling berkomentar mengutarakan pendapat mereka masing – masing. Para tetua dan kepala Desa tampak berunding kembali, mereka pun bermufakat untuk tidak memperpanjang masalah hal itu. Berbeda dengan para pemuda yang masih merasa dendam dan tidak bisa menerima keputusan yang di ambil, Raka dan lainnya lalu di perbolehkan kembal ke kediaman mereka.


Thio dan Dewi memilih melangkah lebih dulu meninggalkan Asmirah juga Raka, Thio sangat mengenal bagaimana dengan watak Raka. Pria tampan itu akan bertindak jika ada pria lain yang merendahkan perempuan, apa lagi jika perempuan itu d kenal dan sudah di anggapnya sebagai adik.


Mereka berempat melangkah menuju ke bungalaw Raka, sepanjang perjalanan Raka terlihat bingung dan tidak tahu harus mengatakan apa. Kedua tangan Asmirah tampak memegangi satu sama lain, jantungnya berdegup kencang saat melangkah beriringan bersama pria yang sudah mencuri hatinya.


Langkah Raka terhenti saat menatap ke arah bungalaw yang berada tidak beberapa langkah lagi di hadapannya,


“Mirah...” panggil Raka menghentikan langkah Asmirah yang berada beberapa langkah di depannya. Wajah berseri – seri Asmirah tampak terlihat jelas menatap dengan antusias ke arah Raka, pria tampan itu semula tidak terlalu memedulikan dan memilih untuk menyampaikan apa yang ada di benaknya.


“maaf Mirah, aku terpaksa membuat pernyataan seperti itu. Aku tahu kamu sangat tidak senang dan tidak setuju dengan hal ini dan... “ ucapan Raka terhenti saat Asmirah yang tersenyum manis ke arahnya.

__ADS_1


“aku nggak apa – apa oppa Raka, jujur aku sangat senang saat mendengar pernyataan tadi dan.... berharap hal itu akan terjadi” ujar Asmirah membuat Raka menatap ke arahnya. Pria tampan itu sama sekali tidak menyangka jika pernyataannya membuat Asmirah salah paham, Raka hendak menjelaskan maksud dari pernyataannya.


“Maaf Mirah... Tapi sepertinya kamu sudah salah paham, aku memberi pernyataan bahwa kamu tunangan ku semata – mata hanya....” ucapan Raka terhenti saat terdengar suara pria yang di kenalnya.


“Tunangan... Mirah?!” pria itu tidak lain adalah Araf yang datang bersama dengan Wulan untuk mengunjungi Asmirah. Mereka yang baru saja datang sempat bertanya pada penduduk desa keberadaan rumah tempat Asmirah menginap sementara, penduduk desa itu bertanya siapa mereka berdua. Araf dan Wulan lalu menjelaskan identitas mereka, mengetahui hal itu langsung saja warga itu memberi tahu perihal apa yang baru terjadi di balai desa.


Araf dan Wulan tentu saja tidak percaya begitu saja, atas petunjuk dari warga itu mereka berdua pergi menuju bungalaw milik Raka. Sesampainya mereka di jalanan setapak menuju bungalaw mereka melihat Asmirah dan Raka yang tampak sedang berbicara serius, Araf dan Wulan terkejut saat mendengar pernyataan Raka yang sama persis dengan apa yang di katakan oleh warga itu.


Kesalahpahaman itu membuat Raka semakin terjebak di dalamnya, dia ingin menjelaskan perkara sebenarnya tidak bisa saat melihat rona bahagia di wajah Asmirah.


“Jadi... Apa yang kami dengar dari orang tadi benar, Mirah?” tanya Araf pada Asmirah yang terlihat menundukkan kepalanya.


“ tante... Tante Wulan... Tante Helena mencoba menghubungi tante dan Araf tapi sama sekali tidak tersambung” ujar Thio yang berusaha mengatur nafasnya. Araf mengeluarkan ponsel miliknya begitu juga dengan Wulan, ponsel milik Wulan terlihat menggelap pada layarnya. Dia mencoba menghidupkan ternyata ponsel itu sudah kehabisan daya, berbeda dengan ponsel Araf yang terdapat banyak panggilan dari Cakra, Andhini dan Anjani.


Ponsel milik Araf kembali menyala dengan tulisan papa pada layar ponselnya, dia baru menyadari jika ponsel miliknya dalam kondisi mode silent. Segera ibu jari tangan Araf menggeser icon hijau di layar dan berbicara dengan Cakra,


“Apaa.... Oke pa... Kami segera balik sekarang” ujar Araf saat mendengar kabar tentang Ningsih eyangnya. Araf segera memberi tahu mereka semua, Wulan terkejut dan begitu juga Asmirah.

__ADS_1


Mereka semua lalu memutuskan untuk kembali ke Jakarta, Raka juga memutuskan ikut pulang karena ingin menjelaskan kesalahpahaman pada Asmirah dan keluarganya. Namun, niat itu terhenti saat Helena dan keluarga lainnya menyambut bahagia kabar tentang pernyataan hubungan Raka juga Asmirah.


Saat ini.....


Raka termenung dan larut dalam pemikirannya, dia tersadar saat merasakan tepukan di pundaknya.


“kak Raka... Kak....” panggil Eliana yang berdiri di sampingnya, dia langsung melihat ke arah adik perempuannya


“Apa?!” ujar Raka menatap bingung ke arahnya. Sabrina, Helena dan lainnya menatap ke arah Raka dengan raut wajah kebingungan,


“yeee... Malah nanya balik... Nggak dengar apa tuh mbak Sabrina ngundang kita untuk makan siang bersama” ujar Eliana sambil tersenyum ke arah Sabrina.


Raka akan menjawab undangan Sabrina langsung di dahului oleh Helena yang menolak secara halus, Sabrina sangat mengerti dengan sikap Helena padanya.


“maaf ya Sabrina... Tante dan sekeluarga ndak bisa memenuhi undangan dari mu” ujar Helena yang langsung di balas senyuman oleh Sabrina.


“Ndak apa – apa tante, Sabrina ngerti. Malahan Sabrina mengucapkan terima kasih banyak pada keluarga Tante terutama Mas Raka karena udah menemukan Yusuf” ujar Sabrina. Raka sangat ingin menyela perkataan Helena tapi hal itu segera di cegah oleh Eliana yang langsung memegangi lengan kekarnya, Eliana tahu jika maminya paling tidak senang saat pembicaraannya di sela.

__ADS_1


Raka merasa sangat tidak enak hati dengan sikap Helena yang terkesan dingin pada Sabrina, begitu juga Adrian, Wibisana, Eliana dan Bima merasakan hal yang sama dengan Raka. Mereka memilih diam dan tidak mencari masalah dengan Helena yang terlihat sangat sensitif, pernikahan Raka sudah sangat di nanti olehnya.


__ADS_2