Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 84


__ADS_3

“ loh kok kamu gitu Elia...putri mami kan sekarang ini cuma ada kamu. Kakak iparmu Anjani udah pulang ke rumah eyangnya, masak iya mami tega nyuruh di ke sini lagi buat nemenin mami belanja” Protes Helena yang duduk di sofa single tepat di Samping Raka, wajahnya tampak sedikit cemberut mendengar protes putrinya.


“ memangnya kenapa putri cantik papi ini nggak mau nemenin mami?” Tanya Adrian merangkul pundak putrinya.


“Elia bukannya nggak suka ikut mami belanja pi, tapi jujur tadi Elia tengsin abis. Masa iya mami nawar barang ke penjualnya dengan harga murah, tentu aja tu penjualnya nggak mau...” Eliana terus menceritakan kejadian saat berbelanja tadi.


“ya harus di tawar dong sayang, kalo bisa dapat dengan harga yang murah kenapa kita musti bayar mahal” kilah Helena sambil menghitung-hitung jumlah kantung belanjaannya.


“ya di kira-kira juga dong mi nawarnya, jangan langsung di tawar dengan harga rendah, yang ada kita mengalami kejadian seperti tadi” Eliana masih teringat dengan Helena yang bersikeras untuk di beri diskon. Penjual itu sudah mengutarakan semu alasan kenapa barang itu di harga mahal, tapi Helena tetap dengan keputusannya.


Alhasil mereka sedikit ribut membuat Eliana dan Wibisana hanya bisa melongo melihat Helena. Adrian lalu menatap ke arah Wibisana yang seperti orang linglung.


“kamu baik-baik saja Wibi?” Tanya Adrian, Wibisana melihat ke arah omnya yang tampak heran.


“wibi nyerah om pergi belanja dengan Elia dan tante” ujar Wibisana mengangkat kedua tangannya.


“loh kenapa?” Tanya Helena dan Eliana serempak.


“ Wibi baru tahu, jika perempuan udah belanja sifat alami mereka langsung keluar” Ujar Wibisana menatap horor Adrian, dapat terbayang oleh Adrian hal apa yang telah berlaku pada ponakannya saat ini.


“Om juga seperti kamu Wibi” ujar Adrian menyetujui ucapan Wibisana.


“Apa Papi bilang?” Helena dan Eliana serempak menatap ke arah Adrian yang langsung mengalihkan pandangan.


Raka dan Bima masih berada dalam dunia mereka, pembicaraan keluarga mereka sama sekali tidak di tanggapi mereka. Eliana dan Wibisana baru menyadari jika sedari tadi Raka juga Bima menatapi layar ponsel mereka masing-masing.


“Pi... kak Raka sama kak Bima masih seperti ini dari tadi?” tanya Eliana menatap para kakak prianya yang terlihat galau tingkat dewa.


“Iya.. karenanya papi di cueki sama dua anak ini” ujar Adrian menatap ke dua pria itu yang galau maksimal.


Eliana mengode pada Wibisana untuk mengintip ponsel Raka dan memberitahu apa yang sedari tadi dia pandangi. Dengan menganggukkan kepalanya Wibisana perlahan menggeser duduknya perlahan-lahan, kini dia tahu jika Raka sedari tadi memandangi foto Sabrina.


“sepertinya kak Raka dan Bima sedang galau karena nggak bisa bertemu dengan pujaan hati mereka” bisik Wibisana pada Eliana.

__ADS_1


“Ah masak, dari mana kak Wibi tahu jika Kak Bima lagi kangen sama Jani. Tadi aja aku lihat kak Wibi hanya mengintip ponselnya kak Raka” Bisik Eliana sambil melihat ke arah Bima.


“kalo kagak percaya kita buktiin aja. Kita kerjai mereka sekarang” bisik Wibisana yang langsung mendapat dukungan dari Helena dan Adrian.


“apa yang akan kita lakuin?” Bisik Adrian tertarik untuk mengerjai kedua putranya.


Senyuman licik tersungging di bibir Wibisana yang langsung mengode ke arah Eliana. Gadis itu mengerti dengan keinginan kakak sepupunya, dia lalu duduk dengan baik dan...


“eh mbak Sabrina, Anjani kapan kalian datang?” Sapa Eliana ke arah pintu masuk yang tertutup. Raka dan Bima yang mendengar Eliana memanggil nama pujaan hati mereka, segera mengangkat kepalanya dan berdiri serentak dari tempat mereka duduk.


“Anjani..” “Sabrina....”


Raka dan Bima serentak memanggil ke arah pintu yang tertutup, sontak Helena , Eliana, Wibisana dan Adrian tertawa terbahak-bahak saat melihat Raka juga Bima berwajah kecewa dan kesal.


“hahahahaha dapet nggak kak Wibi foto wajah mupeng kak Raka dan Kak Bima?” Tanya Eliana tertawa sambil melihat ponsel Wibi yang merekam tingkah laku memalukan mereka.


“absolutely” ujar Wibisana sambil memperlihatkan ponsel miliknya pada Adrian dan lainnya.


Mereka kembali tertawa terbahak-bahak melihat ponsel Wibisana, foto Raka juga Bima yang sudah di permak di sana sini. Di sudut foto tertulis sebuah kalimat “aku ketagihan sama perasaan, saat aku memikirkanmu”.


Saat akan mendekati Eliana dan Wibisana, ponsel yang ada di tangan Bima berdering menggagalkan niatnya untuk membantu Raka. Mata Bima melihat ke layar ponsel, tertulis nama Anjani di sana.


“bentaran kak ( Bima menggeser icon hijau untuk mengangkat telepon dari istrinya) Assalamualaikum dek”


“.............”


“sekarang dek” wajah Bima tampak serius berbicara dengan Anjani, membuat mereka yang ada di ruang keluarga ikut penasaran.


“Bima ada apa?” tanya Helena penasaran.


“ Baiklah mas dengan Wibi akan ke sana sekarang, waalaikum salam” ujar Bima mengakhiri sambungan teleponnya.


“ada apa Bima? Apakah terjadi sesuatu?” Raka menghampiri Bima dengan wajah penasaran.

__ADS_1


“tadi Anjani bilang orang kantor KUA menghubungi memberi tahu ada sedikit masalah dengan surat-suratnya, karena di rumah Eyang sedang sibuk jadi Anjani meminta Bima ke sana untuk mengeceknya” Jelas Bima memasuki ponselnya ke dalam saku celana.


“ masalah apalagi? Bukankah semua persyaratan sudah di lengkapi semua?” tanya Adrian merasa heran.


“mungkin ada beberapa prosedur yang harus di lengkapi pi, untuk lebih jelasnya Bima dan Wibi harus ke kantor KUA setempat. Jika ada apa-apa Bima akan menguhubungi kak Raka atau papi” ujar Bima bersiap-siap, begitu juga Wibisana yang langsung meraih kunci mobil.


“ aku juga ikut” ujar Raka hendak mengikuti Bima dan Wibisana.


“eh eh eh kamu nggak boleh ke mana-mana Raka. Sekarang kamu ini sedang di pingit, jadi harus diam di rumah” Helena menahan tangan Raka.


“ Tapi mi...” Raka tentu saja menolak.


“tidak ada tapi-tapian, Bima... Wibi kalian hati-hati ya menyetirnya” ujar Helena pada Wibi dan Bima.


“ kalau gitu kami berangkat pi, mi, Assalamualaikum” ujar Bima sambil menyalami tangan orang tuanya dengan santu. Mereka melangkah pergi keluar rumah menuju garasi dan masuk ke dalam mobil yang di kendarai Wibisana.


***


Seluruh keluarga Adiwijaya tampak sangat sibuk untuk pengajian yang akan di adakan siang nanti, Araf yang semalam baru saja datang dari Jakarta bersama temannya Yusuf tidak luput kebagian tugas. Seluruh keluarga Adiwijaya mendapat tugas masing-masing, Asmirah, Anjani, Wulan dan Andhini kebagian menyiapkan makanan kecil hingga makanan berat untuk para tamu.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2